
...Ibukota Kerajaan Farna...
...Forgia...
...Reruntuhan Istana Kerajaan...
...Tengah Malam...
‘Duaaarrrr!!!’
Di balik reruntuhan suatu bangunan, nampak sosok seorang Ksatria dengan zirah berwarna perak terlempar jauh.
‘Bruk! Bruk!!’
Tubuhnya terguling-guling di puing-puing bangunan yang memenuhi tempat ini.
Seketika, terdengar suara teriakan para Ksatria dan Prajurit.
“Tuan Arlond!”
“Kami akan ikut….”
Sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, sebuah dinding api muncul dari bawah tanah.
‘Wuuooossshh!!!’
“Arrrgghh!!!”
“Cepat, pergi dari sini!!!”
Prajurit dan Ksatria yang ada nampak mulai panik. Ratusan orang tewas seketika setelah menerima semburan api panas dari bawah tanah. Sebuah skill tingkat Epic [Flame Wall] yang seharusnya cukup lemah dan kecil, kini menjadi sangat mematikan karena berada di tangan orang yang kuat.
“Fufufu…. Apakah segini saja kemampuan seorang pahlawan yang ramai dibicarakan itu?! Sebagai pembalasan atas penghinaanmu, aku akan membunuh semua prajurit yang ada disini!” Teriak Lucien dengan keras.
Kini penampilannya cukup buruk karena telah kehilangan lengan kirinya. Pakaian ala bangsawan yang Ia kenakan nampak robek di beberapa bagian dan dipenuhi dengan debu. Meski begitu, Ia masih nampak begitu elegan dan mengerikan di saat yang bersamaan.
“Fire Blast!” Teriak Lucien sambil mengangkat lengan kanannya. Tujuannya sangat jelas, yaitu kerumunan prajurit yang sedang berlari.
‘Duuuuuaaarr!!!’
Terjadi ledakan yang cukup besar di pusat serangannya, seharusnya ratusan prajurit mati seketika. Tapi sayangnya, ada hal yang diluar dugaan.
Di balik ledakan itu, terlihat sosok seorang Ksatria berzirah perak dengan perisai besar di tangan kirinya. Arlond.
Ia berhasil menahan hampir seluruh ledakan itu dengan berdiri tepat di depan pusat ledakan. Dengan memanfaatkan Epic Skill [Iron Wall] dan juga [Fortitude] miliknya, Ia berhasil menahan hampir seluruh potensi damage yang seharusnya Ia terima.
Di hadapannya, nampak jendela notifikasi yang dapat membuat semua orang keheranan.
[Anda telah menerima 31 damage!]
“Iblis! Kau takkan mampu mengalahkanku! Dan aku, akan membunuhmu saat ini juga! Semua pasukan, maju! Aku akan melindungi kalian!!!” Teriak Arlond dengan sangat lantang.
“Wuooohh!!!”
“Tuan Arlond benar!!!”
“Untuk Yang Mulia Raja!!!”
Arlond kemudian segera berlari dengan berlindung di balik perisai besarnya itu. Di belakangnya, nampak ribuan pasukan berlari mengikuti langkah kakinya. Tak hanya itu….
‘Syuuuttt!! Syuutt!!’
Ribuan anak panah melesat tepat ke arah Lucien. Sebagian besar meleset, tapi beberapa anak panah nampak mengenai Lucien.
Tapi sayangnya, Lucien mampu menahannya dengan sangat mudah menggunakan skill [Wind Aura] yang menyelimuti seluruh tubuh pengguna dengan tekanan angin yang cukup kuat.
Seluruh panah yang mendekati tubuhnya? Segera terpental dan jatuh ke tanah.
“Sebanyak apapun kau mengumpulkan sampah, mereka takkan bisa menandingiku wahai pahlawan manusia!!!” Teriak Lucien berusaha untuk memprovokasi para prajurit.
Tapi efek yang ditimbulkan justru sebaliknya. Seluruh prajurit yang mendengarnya justru menjadi semakin bersemangat dan ingin sesegera mungkin membunuhnya!
Tapi tanpa seorangpun yang menyadarinya, sebilah pedang telah menancap di tubuh Lucien.
Berkat sebuah skill tingkat Rare yang sederhana yaitu [Dash] membuat Arlond mampu memotong jarak yang sejauh 10 meter dalam sekejap. Ia mengarahkan pedangnya tepat di dada Lucien.
[Anda telah mengenai titik vital target!]
[Anda telah memberikan ‘Critical Hit!’]
[Anda telah memberikan 114.269 damage!]
“Kughh!!!” Teriak Lucien sambil memuntahkan darah.
‘Apa-apaan ini?! Kenapa dia bisa menjadi begitu kuat? Bukankah aku sudah memperoleh berkat dari bintang yang meningkatkan pertahananku?!’ Teriak Lucien dalam hati.
“Matilah kau, Iblis!!!” Teriak Arlond sambil bersiap mengayunkan pedangnya ke arah leher Lucien. Para Ksatria yang Prajurit yang masih berjarak 10 meter lebih nampak mulai memperlampat langkah mereka.
Pada saat itulah, Lucien nampak sedikit kehilangan dirinya sendiri. Ia terlarut dalam suasana pertarungan menegangkan yang telah lama Ia nantikan.
Sebuah pertarungan dengan nyawa sebagai taruhannya.
Dengan tatapan yang tajam, Lucien mengucapkan sebuah nama skill yang seharusnya tak pernah Ia gunakan kepada rekan kerjanya yaitu Arlond.
“Blood…. Exchange…”
‘Deg! Deg!!’
Arlond merasakan sebuah sensasi yang aneh dalam dirinya. Pandangannya yang sebelumnya nampak begitu jelas dan tubuhnya yang begitu bugar kini….
Seakan tak memiliki tenaga sama sekali.
Health Point miliknya yang sebelumnya masih berada pada kisaran 95% lebih kini telah berubah menjadi 12%.
Seluruh Prajurit dan Ksatria yang berada di belakang Arlond terkejut bukan main hingga menghentikan langkah mereka.
“Demi para Dewi…. Apa yang sebenarnya kita lawan? Apakah Ia utusan dari Dewa Kematian?” Tanya seorang Ksatria sambil menjatuhkan pedang dan perisainya.
Di hadapan mereka, nampak sosok Lucien dan Arlond yang seakan bertukar darah. Darah dari seluruh tubuh Arlond dan Lucien keluar dan bertukar tempat.
Kini, Health Point Lucien kembali penuh dan telah siap untuk melanjutkan ronde ke dua dari pertarungan itu. Sedangkan Arlond? Ia nampak terjatuh di tanah karena terkejut atas apa yang sebenarnya terjadi.
Tak hanya itu, Arlond juga merasakan rasa sakit yang luarbiasa di sekujur tubuhnya.
“K-kau….” Ucap Arlond sambil membelalakkan matanya.
“Jangan salah sangka, Arlond. Aku hanya ingin menunjukkan perbedaan kekuatan kita yang sebenarnya.” Ucap Lucien tanpa sedikitpun senyum di wajahnya.
...***...
Sedangkan di sisi lain….
Nampak seorang gadis dengan pakaian yang telah compang-camping berlari dengan sangat cepat. Nampak sebilah belati berwarna merah di kedua tangannya.
‘Lucien…. Bagaimana keadaan di sana? Kuharap kau baik-baik saja.’ Ucap Wanita bernama Elin itu dalam hatinya.
Ia sadar bahwa lawan yang dihadapi oleh Lucien adalah sang Raja Trias yang tentunya sangat kuat. Tak hanya itu, suara ledakan yang cukup besar nampak terdengar di arah Istana Kerajaan.
Tapi pada saat Elin telah tiba di reruntuhan Istana Kerajaan, hal yang Ia lihat justru melampaui imajinasi terliar miliknya.
‘Si Arlond itu mampu mengimbangi Lucien?!’ Teriak Elin dalam hati.
Ia telah tiba pada saat Lucien melempar Arlond keluar dari reruntuhan bangunan.
Beberapa menit berlalu, kondisi semakin memanas. Terlihat sosok Lucien yang terpojokkan oleh Arlond. Elin berencana untuk segera menyelamatkan Lucien jika situasi memburuk dan kabur. Tentu saja, itu semua sudah termasuk dalam skenario.
Tapi yang justru terjadi….
‘Lucien?! Apa yang kau lakukan?! Kau tidak boleh membunuh Arlond disini!!!’
Dengan segera, Elin berlari ke arah Lucien untuk menghentikannya.
Tapi sayangnya, semua itu sudah terlambat.
‘Sraaattt!!!’
Tangan Lucien dengan kuku yang sangat tajam itu menembus dada Arlond. Segera setelah itu, Ia menarik tangannya keluar.
Darah bercucuran dari dada Arlond.
Tak hanya itu, Lucien kembali mengayunkan lengan kanannya sekali lagi. Targetnya? Kepala Arlond.
“Lucien!!!” Teriak Elin secara refleks.
Seketika, Lucien tersadar akan apa yang sedang Ia lakukan.
“A-aku….” Ucap Lucien dengan terpatah-patah.
Tapi nampaknya, Arlond tak memberikan waktu untuk Lucien beristirahat. Kini, pedangnya nampak diselimuti oleh cahaya putih. Luka-luka di tubuhnya nampak mulai sembuh secara perlahan. Bahkan, Status miliknya meningkat hingga hampir 4x lipat berkat dukungan pasukan di belakang punggungnya.
“Aku akan membunuhmu disini! Iblis!!!” Teriak Arlond sambil mengayunkan pedangnya ke arah leher Lucien.
‘Zraaaattt!!!’
Pedang itu terlihat berhasil memenggal kepala Lucien. Tapi kini, kepala yang tertebas nampak berubah warna menjadi sedikit gelap dan mulai menggelinding di tanah. Hanya dalam sekejap, gumpalan itu berubah menjadi cahaya putih.
Elin yang melihat hal ini nampak sangat terkejut. Ia segera membawa tubuh Lucien dan pergi dari tempat ini secepat mungkin.
Sedangkan Arlond?
Ia mengangkat pedangnya setinggi mungkin dan meneriakkan kemenangan.
“Kita telah berhasil membunuh Iblis tingkat tinggi! Kemenangan berada di pihak kita!!!” Teriak Arlond dengan keras.
“Tuan Arlond!!!”
“Wooooaaahh!!!”
“Seperti yang diharapkan dari seorang pahlawan!!!”
“Hidup Tuan Arlond!!!”
Meski dipenuhi dengan sorakan yang sangat meriah, Arlond tetap memasang wajah yang serius. Itu semua karena notifikasi sistem yang ada di hadapannya.
[Anda telah memberikan 0 damage!]
‘Aku mengayunkan pedang itu hanya untuk sedikit menggores lehernya. Tapi kenapa bisa terpotong? Apa yang sebenarnya terjadi?’ Tanya Arlond pada dirinya sendiri dengan penuh kebingungan.
...***...
...Di luar dinding Kota Forgia...
“Lucien, kau tidak apa-apa?” Tanya Elin kepada Lucien yang kini telah tak memiliki kepala.
Tubuh Lucien kini mulai hancur dan berubah menjadi ratusan kelelawar. Kerumunan kelelawar itu mulai membentuk sosok seorang Pria. Setelah seluruh kelelawar kembali bergabung, nampak sosok Lucien yang terlihat begitu sehat.
Bahkan, tangan kirinya telah kembali seperti semula.
“Tentu saja, Nona Elin. Mohon maafkan aku karena terlalu terbawa suasana. Bagaimana lagi, pertarungan barusan terlalu seru bagiku.” Balas Lucien sambil tersenyum.
“Baguslah kalau begitu, kita akan segera melaporkannya kepada Eric. Dan juga, apa-apaan yang barusan terjadi?” Tanya Elin kebingungan.
“Aku melepaskan kepalaku sendiri. Yang sebelumnya tergores oleh Arlond dan terjatuh di tanah hanyalah beberapa kelelawarku saja. Tentu saja, aku tak bisa melakukannya jika musuh terus menyerangku secara bertubi-tubi!”
Mendengar jawabannya, Elin nampak membuat ekspresi wajah yang rumit.