The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 36 - Prajurit Pertahanan


Ibukota Kerajaan Rena, Reinard.


Dinding yang menjulang tinggi mengelilingi kota besar ini. Kekuatan pertahanan dari sebuah Ibukota memang berbeda jika dibandingkan dengan kota biasa.


Jumlah populasi penduduk di kota ini diperkirakan mencapai angka 1 juta lebih. Belum lagi menghitung para pengungsi dan prajurit yang ada.


Jumlah besar ini didukung oleh pertanian yang terbentang mulai dari luar dinding pertahanan hingga wilayah perbukitan di Timur.


Lokasi kota yang dekat dengan lautan juga memberi penduduk pasokan ikan segar setiap harinya.


Dengan kata lain, Reinard berada di posisi strategis yang mampu menyuplai kebutuhan pangan seluruh penduduknya tanpa melupakan posisi pertahanan yang hanya bisa diserang melalui arah Selatan atau Timur.


Hanya saja....


"Total pasukan yang ada disini hanya 8 ribu?!" Teriak Elin terhadap komandan pasukan yang bertugas di Reinard.


"Maafkan kami, Nona. Tapi karena perang besar yang dilakukan oleh pemberontakan Guild Salvation mengakibatkan banyaknya prajurit yang mati. Sisanya hanyalah ini...." Jawab komandan pasukan itu sambil menundukkan kepalanya.


"Haaah.... Apa boleh buat jika begitu. Chris sialan, aku akan menagih sebanyak mungkin darimu ya! Ayo pergi dari sini Eric!"


Kami berdua kemudian meninggalkan barak prajurit dan menuju ke sisi dinding.


"Dindingnya sangat kokoh, mungkin akan sulit bagi mereka untuk menembus pertahanan ini." Gumam Elin.


Ia kemudian segera menghubungi Chris untuk menjelaskan situasinya.


Jujur saja aku merasa sangat tidak berguna disini. Bagaimana tidak? Mana ku dan Elin sudah habis setelah memanggil goblin dan kini kami berdua berkeliling sambil menunggu Mana terisi kembali.


Tanpa skill pemanggilan, aku hanyalah orang yang tidak bisa melakukan apapun. Itulah yang kupikirkan sejak tadi.


"Eric, aku minta tolong padamu untuk kembali ke Barak dan mempersiapkan pasukan." Ucap Elin tiba-tiba.


"Apa maksudmu dengan mempersiapkan?"


"Ya, latih mereka sedikit serta beri orang-orang pesimis itu semangat untuk menghadapi serangan musuh. Aku mengandalkanmu Eric." Jelas Elin.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?"


"Aku ada sedikit urusan dengan Chris mengenai pertahanan kota ini. Tunggu saja aku akan segera menyusulmu." Jawab Elin sambil melangkahkan kakinya pergi dari dinding pertahanan ini.


Aku pun segera kembali ke barak untuk menemui seluruh pasukan.


Berbekal informasi yang telah dibagikan Elin kepadaku, nampaknya Ia berencana untuk menjadikan mereka sebagai pemanah.


"Kumpulkan semua pasukan di sini!" Teriakku lantang kepada komandan pasukan..


"Baik, Tuan! Dengan segera!"


Ia bergegas lari dan memanggil seluruh pasukan yang ada di barak.


Jumlahnya saat ini sekitar 5 ribu dan semua berkumpul di lapangan latihan yang luas ini.


Sisanya?


Mereka berpatroli di seluruh penjuru kota untuk memastikan keamanan dan ketertiban.


"Ka-kalian se-semua akan be-berlatih...."


Meski pada awalnya aku mampu berlagak keren, nampaknya aku tidak bisa menghentikan rasa grogi di hadapan semua orang ini.


'Sialan, rasanya sangat berbeda jika dibandingkan dengan menghdapi goblin!' Teriakku dalam hati.


"Apa ada masalah, Tuan Eric?" Tanya komandan pasukan itu.


Aku pun segera melambaikan tanganku untuk memintanya mendekat.


"Tolong latih mereka untuk bertarung di atas dinding pertahanan dan menggunakan panah, Elin akan mencarikan senjata untuk kalian semua." Bisikku pada komandan pasukan itu.


"Baiklah, Tuan Eric. Lalu apa yang akan Anda lakukan?" Tanya komandan itu sambil berbisik.


"A-aku akan memanggil bala bantuan haha...." Jawabku grogi.


"Baiklah. Semoga beruntung, Tuan Eric!" Jawab komandan itu dengan lantang sambil berlari menuju pasukannya.


Ia dengan cepat melatih mereka untuk pertarungan di atas dinding yang sempit dan tinggi serta menggunakan busur dan panah dengan baik.


Aku pun segera menuju ke luar dinding dan melanjutkan pemanggilan goblin tanpa Elin. Jujur saja aku masih sangat malu menghadapi orang sebanyak itu.


...***...


"Apa kau yakin dengan hal itu?" Tanya seorang pria bertubuh kurus.


"Ya, ada orang bodoh yang pekerjaannya hanya menempa besi setiap hari tanpa istirahat. Aku tidak tahu apakah itu orang yang kau maksud tapi kurasa kau bisa mencobanya." Jawab seorang pria tua yang duduk di dalam sebuah Tavern sambil meneguk minuman di tangan kanannya.


"Terimakasih atas informasinya." Balas pria yang tak lain adalah Neo. Ia juga melemparkan beberapa koin emas pada pria tua itu.


Mereka berdua telah mengunjungi ratusan bahkan ribuan tempat dalam beberapa hari ini. Semua itu berkat kemampuan teleportasi milik Alice. Tak hanya itu, kemampuan Truth Seeker milik Neo mampu mengetahui kebenaran dari setiap perkataan orang.


"Kita akan segera menuju ke tempat pandai besi itu, Alice." Ucap Neo.


"Ya, ayo kita segera selesaikan ini dan kembali ke Kerajaan Rena."


Sesaat kemudian, mereka sampai di toko pandai besi yang disebutkan oleh pria tua barusan.


Kali ini mereka pergi berjalan kaki karena tidak mengetahui koordinat yang tepat dari toko pandai besi itu.


Jaraknya juga tidak terlalu jauh, hanya beberapa puluh menit dari Tavern sebelumnya.


"Bukankah tempat ini terlalu sepi? Lagipula bangunannya nampak sangat kuno." Ucap Neo setelah melihat kondisi bangunan toko pandai besi ini.


Toko ini memiliki ukuran yang cukup kecil, dengan warna bangunan yang sedikit gelap. Di atas pintu masuknya terdapat tulisan 'Smithy' yang berarti toko pandai besi.


Semuanya sangat sederhana.


Neo dan Alice mulai meragukan perkataan pria tua itu.


Meskipun apa yang dikatakan oleh pria tua itu adalah suatu kejujuran, bukan berarti apa yang dicari oleh Neo benar-benar berada di sini.


Setelah melihat-lihat sejenak, kedua orang itu menganggukkan kepalanya secara bersamaan dan memasuki toko pandai besi itu.


"Permisi...." Ucap Neo sambil membuka pintu itu secara perlahan.


Suasana yang ada di dalam cukup sepi, mungkin hanya terdengar suara pukulan palu dari beberapa orang saja.


Tapi yang mengagetkan Alice dan Neo adalah adanya 3 orang pria berbadan cukup besar di hadapan mereka. Ketiga pria itu menyilangkan kedua lengannya sambil menghadangi Neo dan Alice.


"Aku minta kalian berdua segera keluar dari sini. Bos kami sedang bekerja dan Ia tidak ingin diganggu sama sekali." Ucap salah seorang pria itu dengan tegas namun dengan suara yang agak pelan.


Nampaknya benar bahwa Ia tidak ingin mengganggu bosnya saat sedang bekerja.


"Kapan kami bisa menemui bosmu itu?" Tanya Neo dengan singkat.


"Bos mungkin akan menyelesaikan karyanya 2 atau 3 hari lagi, kembalilah setelah itu." Jawab pria itu.



"Apa yang sedang dia buat? Bukankah 2 atau 3 hari terlalu lama bagi seorang pandai besi untuk menyelesaikan karyanya?" Tanya Neo keheranan.


Ya, dalam dunia game Re:Life ini, sebagian besar skill dibantu oleh sistem.


Sebagai contoh sederhananya yaitu penggunaan mantra sihir. Player hanya perlu memikirkan mengenai sihir yang akan digunakan dan sistem akan mengaktifkannya secara otomatis. Bahkan waktu animasi skill pun tidak begitu lama.


Hal yang sama juga berlaku pada skill pandai besi. Player hanya perlu memilih resep dari item yang akan dibuatnya kemudian menyiapkan seluruh bahan-bahan yang dibutuhkan. Jika semua telah siap, player cukup menekan tombol di jendela menu dihadapannya dan pengerjaan akan berjalan dengan otomatis.


Ya, tubuh player akan digerakkan oleh sistem dan player hanya perlu melihatnya saja. Meskipun player juga dapat melakukan penempaan secara manual, tapi karena tingkat kesulitan yang tinggi membuat semua orang menggunakan fitus otomatis.


Tentu saja dunia ini merupakan dunia game. Jika seseorang dipaksa melihat tanpa melakukan apapun pasti akan menjadi bosan. Oleh karena itu pembuatan item seperti pandai besi hanya membutuhkan waktu selama beberapa jam saja, bahkan paling lama hanya 8 jam.


Tapi ini? 3 hari? Karya apa yang mengharuskan pembuatan item selama 3 hari?


Jika dihitung dengan waktu dunia nyata, 3 hari sama dengan 7 jam dunia nyata. Sungguh waktu yang tidak singkat.


Tapi Neo berpikir positif. Mungkin bos mereka sedang membuat puluhan Armor atau zirah besi. Tak heran jika waktu yang dibutuhkan cukup lama.


"Bos sedang membuat sebuah pisau. Sekarang segera pergi dari sini."


Mereka berdua pun diusir dari tempat itu. Tak lupa para pandai besi itu juga mengunci pintu toko untuk mencegah orang lain masuk.


"Hahaha... sungguh kebohongan yang sangat jelas ya Neo. Mana mungkin membuat sebuah pisau butuh waktu 3 hari. 1 jam pun seharusnya sudah selesai, apalagi bagi seorang pandai besi legendaris. Kurasa Ia tidak ada disini." Ucap Alice sambil tertawa mengingat kebohongan para pandai besi itu.


Akan tetapi Alice segera terkejut melihat wajah Neo. Ya, Neo mampu mengetahui kebenaran dari perkataan seseorang.



"Neo, ada apa? Kenapa kau memasang muka seperti itu?" Tanya Alice sambil menepuk pundak Neo.


"Mereka sama sekali tidak berbohong...." Jawab Neo dengan wajah yang sedikit ketakutan.


...___________________________________...


...[Sebelum lanjut membaca]...


...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...


...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...


...[Tak ada ruginya bagi kalian]...


...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...