
“Uugh….”
Akemi membuka matanya secara perlahan. Ia melihat sekelilingnya dengan segera.
Ia nampak berada dalam sebuah ruangan dengan dinding putih serta banyak layar hologram yang menunjukkan berbagai grafik dan data.
‘Niit! Niit! Niit!’
Suara suatu mesin terdengar cukup nyaring di telinganya. Ia pun menoleh dan melihat bahwa kini tubuhnya dipenuhi dengan perban dan sensor yang terhubung ke suatu mesin. Termasuk juga selang yang masuk melalui rongga hidungnya dan selang lain yang menancap di tangan kanannya.
Semua itu tak terlalu mengejutkannya. Tapi yang menjadikannya sangat terkejut adalah ketika Ia melihat sebuah layar hologram kecil yang menunjukkan tanggal.
“E-empat April?!” Teriak Akemi dengan suara yang cukup keras.
‘Jangan katakan bahwa aku tertidur di tempat ini selama berhari-hari?! Kalau Pria tua itu tahu maka adi….’
Sebelum menyelesaikan perkataan dalam hatinya, Akemi dikejutkan dengan pintu yang terbuka.
‘Greeek!’
Telihat sosok seorang pemuda yang merupakan dokter, bersama dengan perawat. Mereka mengenakan pakaian serba putih yang terlihat begitu bersih.
“Nampaknya kau sudah sadarkan diri? Syukurlah. Seluruh luka di tubuhmu sangat mengerikan, tapi untungnya seorang dokter menemukanmu terlebih dahulu dan memberikan perawatan pertama dengan sangay baik.” Jelas dokter itu sambil berjalan mendekati ranjang Akemi.
Sedangkan perawat yang ada di sebelahnya nampak mencatat berbagai hal yang terlihat di layar hologram itu.
“Do-dokter…. Aku harus segera pulang! A-adikku…. Dia….” Ucap Akemi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Hmm? Adikmu sedang makan bersama dengan 5 orang yang menyelamatkanmu.” Balas dokter itu.
“Li-lima orang? Kapan mereka akan kembali?!” Teriak Akemi.
Dokter itu pun menggelengkan kepalanya dengan ringan seakan tak mengetahui jawaban pastinya. Tapi Ia segera berbicara untuk menenangkan Akemi.
“Tenang saja. Mereka adalah orang-orang yang baik. Mereka berlima telah merawat adik perempuanmu selama 5 hari ini.” Ucap dokter itu sambil memeriksa keadaan tubuh pasiennya.
“Ja-jadi begitu. Syukurlah….”
Setelah beberapa saat dokter dan perawat itu memeriksa kondisi Akemi, mereka berdua akhirnya mengucapkan kalimat yang membuatnya lega.
“Kondisi tubuhmu telah membaik. Kau seharusnya bisa meninggalkan rumah sakit ini beberapa hari lagi.” Jelas dokter itu sambil tersenyum. Ia lalu meninggalkan ruangan Akemi.
Sedangkan sang perawat masih tinggal di ruangan ini untuk menjaganya.
Setelah beberapa saat mengobrol mengenai hal ringan, beberapa orang terlihat memasuki ruangan itu.
“Kakak!” Teriak seorang gadis kecil sambil berlari kegirangan.
“Ba-bagaimana bisa…. Kau….”
Akemi nampak terheran-heran dengan situasi ini. Hanya dalam sesaat, Ia mulai mengalirkan air mata dengan sangat deras.
“A-aku…. Aku….”
Lisa yang ada di ujung ruangan itu nampak terdiam dan mengisyaratkan seluruh bawahannya untuk pergi.
Suasana ruangan ini berubah drastis seketika setelah Akemi bertemu dengan adiknya. Isak tangis memenuhi ruangan ini.
Beberapa saat berlalu….
Akemi pada akhirnya mengucapkan sebuah kata yang telah lama tak pernah keluar dari mulutnya.
“Terimakasih…. Siapapun dirimu…. Aku mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya…. Aku tak menyangka…. Aku….”
Lisa yang mendengar hal itu nampak tersenyum tipis. Ia kemudian berjalan mendekati ranjang Akemi dan duduk di pinggiran ranjang itu.
“Tenang saja.” Ucapnya singkat sambil membelai rambut Akemi.
“Tapi…. Bagaimana bisa?” Tanya Akemi kebingungan.
Setelah menunjukkan ekspresi yang sedikit kebingungan, Lisa kembali tersenyum lebar.
“Eric. Bukankah dia bilang akan menyelamatkanmu? Aku adalah asistennya. Maafkan aku karena terlambat menyelamatkanmu dari Ayahmu yang busuk itu.”
Bersamaan dengan penjelasan itu, Lisa segera menceritakan mengenai bagaimana Ia bisa mengeluarkan Akemi dan adiknya dari rumah mengerikan itu.
...***...
...Malam Hari ketika Akemi Keluar Rumah...
...Di Kediaman Takahashi...
‘Dok! Dok! Dok!’
“Huh? Siapa disana?!” Teriak Pria tua itu dari dalam rumah. Ia berjalan untuk membukakan pintu.
Sedangkan di balik pintu itu, terlihat 3 orang wanita yang berdiri dengan postur tegap.
“Perkenalkan. Namaku Lisa. Aku melihat bakat yang besar dari Akemi dalam bermain Re:Life dan berencana untuk merekrutnya. Bisakah aku bertemu dengannya?” Tanya Lisa singkat dengan bahasa jepang yang begitu fasih.
Dua orang di belakangnya yang merupakan bodyguard itu nampak bersiaga mengenai apapun yang mungkin dilakukan Pria tua ini.
“Hah? Bocah sialan itu? Tidak! Tidak akan kuizinkan dia pergi! Dia masih harus bekerja untuk….”
‘Bruk!’
Sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, sebuah tas kecil dilempar oleh Lisa ke lantai. Bersamaan dengan itu, Ia menjelaskan apa maksudnya itu.
“Ini hanyalah uang muka untuk merekrut Akemi.”
Tanpa menunggu lama, Pria tua itu pun mengambil tas kecil itu dan membukanya. Pada saat Ia melihat isinya….
“I-ini?! Uang asli kan?! Bagaimana bisa?! Sepuluh ribu…. Dua puluh ribu….” Teriaknya kebingungan sambil menghitung uang yang ada di dalam tas itu.
“Totalnya adalah 500.000 Yen. Ngomong-ngomong siapa gadis kecil itu?” Tanya Lisa sambil mengalihkan pembicaraan. Wajahnya tetap datar bahkan hingga detik ini.
Mendengar jumlah uang yang diberikan, Pria tua itu nampak menelan air liurnya. Ia pun segera menjawab pertanyaan Lisa.
“Ju-jumlah yang cukup besar ya…. Ah, gadis itu? Dia adalah adik Lisa. Dia hanya….”
“Aku akan menambahkan uang muka nya sebesar 500.000 lagi jika gadis itu juga ikut dengan kakaknya. Bagaimana?” Ucap Lisa memotong perkataan Pria tua itu.
“Ta-tambahan 500.000 hanya membiarkan bocah ini ikut?!”
Pria tua itu terdiam sejenak karena mendengar jumlah uang yang cukup besar itu. Ia kemudian nampak ingin menanyakan sesuatu.
“Ngomong-ngomong…. Apakah kau juga akan menggaji gadis itu jika dia ikut?”
“Tentu saja.” Balas Lisa singkat.
“Be-berapa bayarannya?” Tanya Pria tua itu sekali lagi.
“Untuk awalan, mungkin aku akan menggajinya sebesar 1.2 juta Yen perbulan. Jika gadis itu ikut, total bayaran mereka berdua akan menjadi 2.4 hmm mungkin akan ku bulatkan menjadi 2.5 juta Yen per bulannya. Yah, meskipun mereka harus meninggalkan rumah ini.” Jelas Lisa dengan rinci.
2.5 Juta Yen pada saat ini setara dengan 200 juta rupiah. Bukan hal yang besar bagi Eric.
Tanpa jeda, pria tua itu nampak mengeluarkan suatu kunci dengan bentuk yang aneh dari kantongnya. Ia dengan segera nampak akan melepaskan kalung besi yang ada di leher gadis kecil itu. Tapi sebelum memasukkan kunci itu, Ia menanyakan hal terakhir yang menurutnya sangatlah penting.
“Bi-bisakah uang itu dikirim kepadaku? Te-tentu saja aku….”
Memahami apa yang dimaksud oleh Pria tua itu, Lisa dengan segera membalasnya.
“Tentu saja. Kami dapat mengirimkan seluruh uangnya ke rekening Anda.” Balas Lisa dengan wajah yang datar.
‘Klik!’
Kalung besi itu pun terlepas. Pria tua itu nampak memberikan isyarat kepada gadis kecil itu untuk mengikuti Lisa. Tanpa ragu, gadis kecil itu segera berlari dan memeluk Lisa dengan erat.
“Baiklah. Ini uang tambahanmu. Kemudian untuk nomor rekeningmu?”
‘Tap! Tap!’
Lisa dengan segera mengirimkan 1/3 gaji bulanannya ke rekening Pria tua itu.
“Ahahaha! Aku kaya! Aku kaya! Memperoleh 800.000 Yen setiap 10 hari! Aku kaya! Hahaha!!!”
Pria tua itu nampak tertawa puas sambil melihat layar ponselnya yang kuno itu.
“Kalau begitu…. Kami pergi dulu.” Ucap Lisa sambil menggendong gadis kecil itu.
“Ya! Pekerjakan saja kedua anakku itu sesukamu! Yang terpenting adalah kalian harus terus menggajinya! Hahaha!”
Lisa dan bawahannya segera meninggalkan rumah itu.
Tapi kini….
Wajah Lisa nampak melukiskan suatu ekspresi yang cukup rumit.
‘Menjijikkan sekali….’
...***...
...Rumah Sakit...
“Aah…. Jadi begitu….” Ucap Akemi dengan wajah yang dipenuhi dengan air mata. Adiknya nampak terus menerus memeluk tangannya.
Setelah beberapa saat, Akemi melontarkan sebuah pertanyaan yang bisa dibilang cukup wajar.
“Jadi…. Aku harus bekerja di bawah Eric setelah ini?”
“Tuan Eric hanya ingin membantumu. Selain itu…. Ini.” Ucap Lisa sambil memberikan isyarat kepada bawahannya.
Ia nampak membawakan 3 buah koper berwarna perak yang cukup besar. Setelah membuka koper itu, terlihat tumpukan uang dalam jumlah yang begitu banyak.
“Aku mengisi masing-masing koper dengan mata uang yang berbeda. Dollar sebanyak 325.000 USD, Yen sebanyak 400 juta JPY, kemudian Rupiah sebanyak 2 miliyar IDR. Termasuk juga rekening yang berisi uang senilai 3.000.000 USD ini.” Ucap Lisa sambil memperlihatkan isi koper dan kartu beserta buku rekening itu.
Akemi hanya terdiam selama beberapa saat dengan ekspresi yang penuh kebingungan.
“Apakah ini juga merupakan bantuannya?” Tanya Akemi dengan suara yang lemas.
“Tidak. Ini adalah untuk membeli Unique Skill : Imitator milikmu. Tuan Eric tidak menerima penolakan darimu.” Jelas Lisa dengan tatapan yang tajam.
“Hahaha.... Masih membahas hal itu? Padahal aku telah melakukan hal seburuk itu, kenapa dia masih ingin membayar skill yang telah diambilnya itu?" Ucap Akemi sambil tersenyum dan meneteskan air matanya kembali.
Lisa hanya diam mendengarkan perkataan Akemi.
Setelah mengusap air matanya, Ia melanjutkan perkataannya.
"Lalu…. Apa yang sebaiknya ku lakukan setelah ini? Apakah aku harus pergi dan bekerja dibawahnya?” Lisa bertanya pertanyaan yang sama sekali lagi.
Akan tetapi….
Jawaban dari Lisa tak begitu memuaskan baginya.
“Itu semua terserah dirimu. Kau bisa pergi dan tinggal di tempat mewah bersama adikmu. Kau juga bisa kembali ke rumah busukmu itu jika memang itu maumu. Tapi jika kau memang tidak memiliki tujuan….
Kau bisa ikut bersamaku ke Indonesia. Soal bekerja di bawah Tuan Eric atau tidak, itu terserah dirimu.”