The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 31 - Kelahiran Sang Legenda


"A-apa ini?!"


"Legendaris? Apa maksudnya ini?"


Notifikasi yang sama dibagikan kepada seluruh pemain yang ada.


...【Pandai Besi Legendaris telah terlahir!】...


Aku yang sedang mengulurkan tanganku untuk menggunakan skill pemanggilan terkejut mengenai notifikasi ini.


Semua orang menghentikan kegiatan mereka.


"Terlahir?" Tanya Elin dengan bingung.


Notifikasi yang umumnya mereka dengar adalah kejadian-kejadia besar yang menghebohkan dunia seperti runtuhnya kerajaan atau pembacaan buku kuno.


Ya, bahkan notifikasi pembacaan buku kuno hanya menyebutkan seseorang telah membacanya. Tanpa menyebutkan siapa orangnya dan skillnya.


Itu saja sudah membuat heboh seluruh dunia.


Tapi ini?


Pandai besi legendaris?


Bahkan saat ini pandai besi biasa sudah mampu menghasilkan banyak kekayaan dengan menghasilkan perlengkapan tingkat tinggi.


Lalu bagaimana dengan ini?


Inilah pertama kalinya kata legendaris pernah terdengar di dunia. Meskipun tingkatan rarity dapat mencapai legendary, belum ada satupun yang pernah di temukan. Item terkuat yang ada hanya mencapai tingkat Unique, sama halnya dengan skill.


Pemikiran semua orang saat itu sama.


'Aku harus mendapatkan pandai besi itu untuk bekerja denganku!'


Bisa dibayangkan item seperti apa yang dapat tercipta dari seorang pandai besi legendaris.


Tak ingin fokusku dalam pekerjaan yang baru saja ku terima goyah, aku kembali mengencangkan kepalan tanganku dan memulai sihir pemanggilan.


Dengan jumlah mana gabungan milik Elin, aku mampu memanggil 20 goblin secara bersamaan saat ini. Ya, itulah batasanku dengan skill milikku saat ini.


Animasi setiap pemanggilan mencapai 10 detik. Di sebelah kiriku terdapat tumpukan full mana potion yang siap digunakan.


Meski begitu, aku masih resah dengan notifikasi sistem barusan.


"Eric maafkan aku. Aku ingin mencari keberadaan orang yang baru saja disebutkan. Bisakah aku menyerahkan sisa pekerjaan peperangan ini padamu? Tenang saja aku akan menambah bayaranmu." Ucap Chris dengan serius.


Barusan saja Chris sangat mengkhawatirkan mengenai kerajaannya yang menghabiskan 5 juta keping emas.


Sekarang Ia meninggalkannya begitu saja?


Chris dengan cepat memerintahkan seluruh bawahannya untuk menggali informasi mengenai keberadaan pandai besi ini. Termasuk Neo.


Alice yang sudah menyiapkan banyak lingkaran sihir mengirimkan setiap orang ke lokasi yang berbeda untuk menggali sebanyak mungkin informasi.


'Sialan, kembalikan semangat perangku!' Teriakku dalam hati.


Jujur saja aku merasa bersemangat karena baru saja aku seperti tokoh utama suatu film.


Seorang pemanggil menyelamatkan suatu kerajaan.


Seperti itulah bayanganku.


Tapi nampaknya keberadaan pandai besi itu jauh lebih penting.


Aku tidak menyalahkannya, pasalnya kata legendaris baru pertama kali ini diucapkan oleh sistem. Potensi kekayaan tak terbatas akan mendatangi siapapun yang beraliansi dengan pandai besi ini.


Maka dari itu 5 juta koin emas bukanlah hal besar jika kau bisa menguasai pasar dunia perlengkapan kedepannya.


Aku terus memikirkan mengenai pandai besi ini sambil memanggil goblin.


Tanpa kusadari jumlahnya telah mencapai ratusan. Mereka berbaris rapi di sebuah lapangan di luar tembok kota Reinard. Elin yang duduk santai di belakangku nampaknya telah menghabiskan 3 botol full mana potion.


'Yah, seberapa cepat regenerasi mana masih akan kalah dengan full mana potion yang mengembalikan 100% mana pengguna.' Pikirku dalam hati.


"Hei Eric."


"Ada apa?"


"Bagaimana menurutmu mengenai pandai besi legendaris itu?"


Pada awalnya aku bingung dengan pertanyaan Elin.


Tapi seketika aku tersadar. Elin bekerjasama denganku karena berpikir aku adalah lahan penghasil uang. Jika ada yang mampu menghasilkan uang lebih baik dariku tentu saja....


Aku telah terbayang Elin yang pergi meninggalkanku untuk mencari pandai besi itu. Dengan Skill Observer miliknya, mencari pandai besi itu pasti adalah hal yang mudah. Meskipun tanpa sihir teleportasi akan menyusahkannya selama perjalanan, tapi aku yakin....


"Haha, tumben sekali kau memahami pikiranku. Kurasa kebodohanmu sudah sedikit berkurang ya?" Jawab Elin.


Aku yang masih terus melakukan pemanggilan menjawabnya.


"Ya kau tahu, aku teringat mengenai alasanmu mendatangiku. Jika ada sumber uang yang lebih besar kau pasti akan mencarinya kan?"


Hatiku terasa begitu sesak. Jika dihitung dari waktu dunia nyata, sudah sebulan lebih kami bersama. Di dalam Re:Life mungkin sudah mencapai 10 bulan.


Aku takut membayangkan sosok Elin yang selalu mendukungku tiba-tiba menghilang.


Apakah aku bisa menangani semuanya? Bisakah aku mengembangkan Dungeon tanpa dirinya? Aku bahkan belum pernah menjual item yang dihasilkan oleh pengrajin goblinku.


Ya, semua telah ditangani oleh Elin.


Jika Elin menghilang....


"Jangan memasang wajah yang menyedihkan seperti itu Eric. Jika kebodohanmu sudah berkurang, kau pasti bisa mengatasi semuanya tanpaku." Jawab Elin dengan senyuman.


"Aku...."


Aku mulai menyadarinya. Aku tidak bisa kehilangan Elin... bukan. Aku tidak ingin kehilangan dirinya. Apa jadinya aku hidup di dalam gua dengan puluhan ribu goblin bermuka mengerikan itu? Bisa saja aku ikut-ikutan menjadi mengerikan seperti mereka.


Terlebih lagi, perasaan apa ini?


Apakah aku... menyukai keseharianku dengan Elin?


Tanpa kusadari air mata mulai mengalir di pipiku.


Elin yang melihatnya mulai mendekatiku dan memelukku.


Lagi.


Tapi kini aku paham mengenai perasaan ini. Aku tidak ingin kehilangan semua ini.


"Nampaknya kau masih bodoh ya? Jadi kurasa aku akan tetap menemanimu hingga kau menjadi sepintar diriku, Eric. Lagipula, aku menyukai perjuangan kita berdua. Aku penasaran akan seperti apa jadinya nanti. Masa bodoh dengan potensi kekayaan pandai besi itu. Semua yang aku butuhkan sudah ada disini." Jawab Elin sambil memelukku dari belakang.


Padang rumput yang luas dan hijau, serta pepohonan yang rimbun menghiasi suasana senja ini.


Hanya saja, tatapan ratusan goblin yang masih berbaris didepanku sungguh mengganggu.


'Goblin sialan, tak bisakah mereka membaca situasi?' Teriakku dalam hati.


"Kalian semua, berjagalah di area sebelah sana!" Perintahku sambil menunjuk arah hutan di kejauhan.


"Apa kau malu jika dilihat para goblin?" Tanya Elin dengan nada yang sedikit mengesalkan. Tapi bukan berarti aku membenci nada itu.


"Aku hanyalah seorang bocah yang baru saja menginjak usia 19 tahun, Elin."


"Memangnya ada masalah? Akupun juga seorang bocah yang baru menginjak usia 21 tahun." Jawab Elin dengan senyuman yang kini nampak begitu manis.


Senyuman yang ingin kulihat terus mulai saat ini. Senyuman yang ingin kujaga.


Aku melepaskan lengan Elin dan membalikkan tubuhku. Dengan segera aku memeluk erat tubuh kecil Elin.


"Apakah kau mau terus bersamaku?" Tanyaku pada Elin.


Ia pun membalas dengan memelukku kembali dan berkata.


"Dasar bodoh, jika aku tidak mau maka sudah kupukul kau dari tadi."


Dan begitulah, hubunganku dengan Elin resmi berjalan. Meskipun sudah sering bertukar pesan maupun vidio call di dunia nyata, aku masih tidak bisa mempercayai keadaan ini.


Seorang pecundang yang bahkan pernah diusir dari rumah demi sebuah game yang dianggap tidak berguna, berjuang demi adiknya yang sedang dirawat dan kini... aku akhirnya bisa menemukan seseorang yang selalu membuatku merasa nyaman.


'Uh, sepertinya aku harus berterimakasih pada pandai besi itu. Kurasa situasi ini dapat tercipta karenanya. Ya! Sudah kuputuskan aku akan berterimakasih padanya!'


...___________________________________...


...[Sebelum lanjut membaca]...


...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...


...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...


...[Tak ada ruginya bagi kalian]...


...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...