
...Kerajaan Farna...
...Kota Forgia...
"Apa kau bilang? Meminta perdamaian? Kenapa? Jika dengan bantuan Luna, maka kita bisa saja mengambil alih seluruh wilayah Salvation itu!" Teriak Angie keheranan.
"Itu benar. Aku bisa mengirim ribuan prajurit dengan mudah. Meski tak seefisien kekuatan Alice seperti yang kau ceritakan itu, tapi setidaknya aku bisa melakukannya dengan perlahan." Sambung Luna.
"Ambisimu terlalu kecil sebagai seorang Raja. Dengar, kami akan membantumu untuk menaklukkan Kerajaan itu dan...." Jelas Ilham.
Mendengar berbagai ocehan dari beberapa Anggota Rebellion, Arlond hanya diam mendengarkan.
Setelah suasana di meja ini menjadi sedikit lebih tenang, akhirnya Arlond mulai berbicara.
"Ada beberapa alasan aku tak ingin mengambil alih wilayah Kerajaan Salvation. Yang pertama dan yang paling jelas, wilayah kami terpaut begitu jauh sehingga manajemen akan sedikit lebih sulit.
Kedua, bekas peperangan akan menyisakan Salvation dengan keadaan yang hancur dan terpuruk. Memperbaiki semua itu hanya akan menghabis-habiskan uang.
Ketiga, rakyat Kerajaan Salvation belum tentu mau menerima Raja Baru mereka yang bahkan lebih sering tinggal di Forgia.
Keempat dan yang terakhir. Tindakan perdamaian ini akan menjaga citra baikku di dunia sekaligus mengumumkan betapa kejam dan mengerikannya Raja Salvation Chris.
Setelah perdamaian dibentuk, aku akan mengirim ratusan pedagang dan juga mata-mata dari prajurit elit dan juga para pahlawan ke Salvation. Tujuannya adalah untuk menggiring opini negatif kepada seluruh penduduk dan rakyat sehingga mereka akan meninggalkan Kerajaan itu dan harapannya, sebagian akan pindah ke Kerajaan Farna."
Penjelasan yang begitu panjang dan lebar dari Arlond diakhiri dengan sebuah kalimat sederhana yang menyadarkan semua orang.
"Intinya, perdamaian itu justru lebih menguntungkan bagi kami."
Mendengar penjelasan yang begitu panjang dan lebar namun begitu jelas dan rinci itu, membuat semua anggota Rebellion menganga kecuali Angie. Ia justru tersenyum tipis akan perkataan Arlond.
"A-ah.... Ja-jadi begitu ya?"
"Haha.... Aku tak pernah menyangka manajemen Kerajaan begitu rumit."
"Terlalu merepotkan untukku. Aku lebih suka bersantai dan menikmati game ini."
"Jadi intinya kita hanya perlu meratakan Reinard dan kau akan mengurus sisanya kan?"
Ocehan semua anggota Rebellion kembali terdengar diiringi dengan canda dan tawa yang ringan.
Akhirnya rapat pembahasan pun berlanjut mengenai strategi penyerangan yang akan mereka semua lakukan.
Setelah beberapa jam melakukan pembahasan rencana yang cukup alot, rapat pun selesai dan semua anggota Rebellion dipersilahkan untuk menginap dan bersantai di Istana Forgia untuk menunggu esok hari.
Di sebuah balkoni di istana itu, terlihat sosok Arlond yang sedang bersandar sambil memperhatikan kondisi Kota Forgia di malam hari.
Ia masih memikirkan banyak sekali hal yang belum terselesaikan.
Meskipun kini Kerajaan Farna telah berhenti menerima serangan dadakan dari skill milik Alice, Arlond tetap belum bisa tenang.
"Keuangan masih terpuruk, ditambah lagi aku belum membuka Mercenary Guild untuk para prajuritku yang terlalu banyak ini.... Hah...." Keluh Arlond pada dirinya sendiri.
'Tap! Tap!'
Suara langkah kaki yang ringan terdengar mendekati Arlond.
"Ada apa, Angie?" Tanya Arlond bahkan tanpa melirik sedikitpun ke belakang.
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa ini aku?" Tanya Angie keheranan.
Mendengar hal itu, Arlond hanya tersenyum tipis sambil berbicara.
"Dalam rapat tadi, kau yang paling tenang seakan paling memahaminya. Aku yakin cepat atau lambat kau pasti akan menemuiku untuk membahas hal yang lain, mengingat betapa cerdiknya dirimu."
"Hahaha.... Tolong, aku bukanlah orang yang sehebat itu. Tapi kau memang benar. Aku kemari karena ingin membahas suatu hal yang sangat penting."
"Jangan bertele-tele. Segera katakan apa maumu." Balas Arlond singkat.
"Dasar Pria yang membosankan. Baiklah.... Katakan, apakah kau mau menjalin kontrak yang lebih dalam dengan kelompokku?"
"Contohnya?" Tanya Arlond sambil sedikit melirik ke arah Angie dengan keheranan.
"Jika kau mau menjelaskan hubunganmu dengan penyihir agung bernama...."
"Ditolak." Balas Arlond memotong perkataan Angie.
"Ah.... Jadi begitu ya? Baiklah, jawaban itu juga sudah cukup memuaskan bagiku. Tapi apakah kau yakin tidak ingin tahu imbalan dari kelompokku?"
Mendengar jawaban itu, Angie hanya tersenyum sambil segera meninggalkan Arlond tanpa memberikan balasan.
'Arlond jauh lebih cerdik dari penampilannya.... Yah, bukan masalah besar. Lagipula aku hanya ingin mengujinya saja.'
Angie terus berjalan semakin menjauh dan masuk dalam gelapnya ruangan di malah hari.
Dalam hatinya, timbul suatu pertanyaan yang membuatnya sedikit kesal hingga sekarang.
'Erik.... Sebenarnya siapa dirimu? Seberapa kuat pengaruhmu yang sebenarnya di dunia virtual ini? Meski aku ingin percaya bahwa kau memiliki koneksi yang sangat kuat dengan Raja Kerajaan Farna, tapi penampilanmu yang seakan seperti orang bodoh dan membuat banyak sekali celah itu seakan menentang kemungkinan ini.'
Angie terus larut dalam pikirannya sendiri dan kini telah berbaring di kamarnya untuk beristirahat.
...***...
...Kerajaan Salvation...
...Kota Reinard...
"Apakaha kalian masih belum bisa menemukan Alice" Tanya seorang Pria berbadan kekar dan berambut pirang, Chris.
"Ma-maaf, tapi kami masih berusaha untuk mencarinya." Balas beberapa orang yang ada di hadapannya.
"Segera temukan!"
"Baik!"
Chris nampak duduk lemas di atas singgasana emasnya. Ia terlihat memegang kepalanya sendiri seakan pusing dan dipenuhi oleh banyak pikiran.
Setelah beberapa saat berdiam diri, Chris bertanya kepada wakilnya yang paling bisa dipercaya.
"Neo, apakah kau sudah menemukan keberadaan Alice?"
"Sayang sekali. Sebaik apapun aku berusaha mencari baik di dunia virtual maupun di dunia nyata, aku tak bisa menemukan keberadaannya." Balas Neo sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Aku masih tidak bisa mengerti, kenapa dia meninggalkan Salvation seperti itu. Apakah aku tidak memperlakukannya dengan baik? Aku telah memberikannya banyak uang bukan?" Tanya Chris pada dirinya sendiri.
Tapi Neo yang mengetahui kebenaran di balik semua itu hanya terdiam.
Ia tak ingin mengatakan apapun kepada Pria yang saat ini sangat dibencinya karena mengekangnya dengan rantai kontrak itu.
Pada akhirnya, Kerajaan Salvation pun hanya bisa fokus untuk mencari hilangnya kunci perang terbaik mereka. Melupakan perang yang saat ini masih berlangsung.
Bahkan mereka tak menyadari sedikitpun, bahwa Farna telah bersiap untuk menyerang tepat malam hari ini.
...***...
...Kerajaan Farna...
...Kota Forgia...
Di tengah lapangan barak pasukan ini....
Nampak barisan yang sangat rapi dari 2.000 prajurit elit. Mereka semua telah menempuh dan bertahan hidup dari pelatihan neraka yang dijalani di Dungeon Treasure.
Dengan bantuan keenam Pahlawan Farna, semua pasukan Elit ini telah mencapai level yang sangat mengerikan yaitu level 200 lebih.
Sebuah angka yang seharusnya sangat sulit untuk diperoleh NPC itu, telah berhasil mereka raih hanya dalam waktu 20 bulan di dunia Virtual ini.
Semua prajurit elit itu mengenakan perlengkapan yang minimal merupakan tingkat Epic. Semuanya merupakan hasil tempaan dari Dungeon Origin dan juga Kota Pandai Besi, Forgia.
Di barisan terdepan terlihat lagi 19 orang. Enam diantaranya merupakan pahlawan Farna, dua belas merupakan anggota Rebellion milik Angie, dan satu lagi tentu saja....
"Apakah kalian semua sudah siap?!" Tanya Arlond dengan suara yang begitu lantang.
"Siap! Yang Mulia!" Balas mereka semua serempak.
Bersamaan dengan hal itu, Luna dari Rebellion segera membuka portal yang berjumlah sekitar 100 portal.
Semuanya menuku tepat di tengah Kota Reinard dengan posisi yang berbeda-beda.
Tujuannya? Tentu saja untuk memberi kehancuran secara merata dan mendadak.
Seluruh prajurit termasuk Arlond, Pahlawan Farna dan juga Rebellion segera berlari melewati portal itu.
Dengan itulah, peperangan babak kedua pun segera dimulai.