
“Musuh yang hadir jauh lebih banyak dari perkiraan. Tapi itu bukanlah suatu masalah.” Ucapku sambil memandangi peta pertempuran yang digambar secara kasar itu.
“Kurasa kita harus segera menangani pelontar batu itu. Mereka mampu menghujani kita dengan batu raksasa dan membunuh banyak pasukan di pihak kita.” Balas Evan sambil menunjuk di suatu lokasi peta itu.
“Untuk itulah aku membangun lorong bawah tanah yang menghubungkan hingga jauh ke belakang barisan pasukan musuh. Termasuk pemasangan Teleportation Circle di setiap ujung. Apakah Undeadmu telah siap untuk menyergap dari belakang?” Tanyaku kepada Evan.
“Mereka semua sudah berada di dalam posisi. Sekitar 40.000 Undead akan menyergap dari belakang dan disusul bala bantuan lainnya.” Balas Evan.
“Baguslah kalau begitu. Aku akan segera membuka pertempuran ini.” Ucapku sambil mengeluarkan Obsidian Staff milikku. Sebuah tongkat sihir tingkat Epic untuk menggantikan Staff of Enigma.
Alasannya cukup sederhana yaitu mengurangi peluang orang untuk mengetahui identitasku. Mengingat musuhku adalah Inquisitor, setidaknya ada seseorang yang masih ingat dengan diriku yaitu Leo.
‘Jika saja pesanan perlengkapanku kepada Aamori telah selesai…. Tidak. Aku tidak boleh menyesalkan hal yang sudah terjadi.’ Ucapku dalam hati.
Segera, aku berjalan menuju lantai teratas di istana. Aku memandangi ke berbagai arah. Di bagian Barat Daya, nampak pasukan dengan zirah yang memiliki corak merah serta panji-panji dengan lambang api.
‘Arlond ya? Syukurlah kau memahami situasi ini bahkan sebelum aku mengatakannya padamu. Menerima panggilan dari Kerajaan Suci Celestine adalah pilihan yang terbaik. Mereka akan selalu menganggap Kerajaan Farna sebagai Kerajaan yang membenci monster.’ Pikirku dalam hati.
Segera setelah itu, aku mengalihkan pandanganku ke arah Utara hingga Timur.
Di arah tersebut, aku melihat pasukan dengan jumlah yang diluar akal sehat.
‘Menurut perkataan Lucien, jumlah mereka mencapai angka 1 juta. Sialan…. Bagaimana mereka bisa memperoleh pasukan sebanyak itu dalam waktu yang singkat?’
Terlihat pasukan musuh sedang bersiap-siap untuk menyerang. Mereka bahkan belum bergerak maju. Tapi tanpa menunggu lama….
“Amplify….” Ucapku sambil mengarahkan tongkat sihirku ke arah Timur Laut.
Seketika, muncul lingkaran sihir dengan warna merah yang indah.
Aku segera menggunakan [Overdrive] untuk mereset Cooldown dari skill [Amplify].
Tak hanya satu kali, tapi kini aku menggunakan Amplify sebanyak 4 kali. Yang kurasakan?
“Berat…. Tapi tidak seberat yang dulu pernah kurasakan. Mungkin karena status dan levelku yang telah meningkat? Entahlah….” Ucapku pada diriku sendiri.
Segera setelah itu, aku menggunakan skill baruku. Alasan kenapa aku tidak menggunakan Fire Blast adalah untuk menjaga identitasku. Chris dan beberapa anggotanya mengetahui kemampuan Fire Blast milikku.
‘Jika saja Chris akan memihak manusia….’ Pikirku dalam hati. Tapi aku segera menepis hal itu dan bersiap untuk menggunakan skill.
“Ex Acid Rain.”
Keempat lingkaran sihir berwarna merah itu berputar dan melebar dengan cepat. Kini di ujung tongkatku muncul lingkaran sihir baru berwarna hijau gelap. Sebuah skill tingkat Unique [Acid Rain] yang kuperoleh dari Evan. Tapi kini, telah ditingkatkan dengan menggunakan [Enchantment Book] yang sangat mahal.
Efek peningkatannya? Meningkatkan damage sebesar 2x lipat dan radius hujan asam sebesar 40%.
Jika ditingkatkan dengan menggunakan [Amplify] sebanyak 4 kali, maka peningkatan kekuatan skill yang terjadi yaitu sebesar 800%.
Segera setelah aku mengucapkan nama skill itu, muncul awan yang hitam pekat di atas barisan pasukan musuh. Ukurannya mencakup radius ratusan meter. Di balik awan yang gelap itu, terlihat tetesan air hujan yang berwarna kehijauan.
‘Kuharap aku tak terlalu dibenci Player dengan menggunakan skill ini. Yah, meskipun takkan ada yang mengetahui identitasku disini.’ Pikirku dalam hati sambil melihat di atas kepalaku. Kini tak ada nama ‘Eric’ dengan warna merah lagi.
...***...
...Barisan Pasukan Gabungan Kerajaan...
...Sisi Timur Laut...
“Eh? Apa ini?”
“Kenapa tiba-tiba awannya menjadi gelap?”
“Hujan? Bukankah barusan langitnya sangat cerah?”
Nampak terjadi kebingungan didalam barisan pasukan itu. Para kapten pasukan juga dibuat kebingungan.
“Tunggu, aku akan menanyakan ini kepada Komandan Evalina. Kalian….” Ucap seorang Kapten pasukan itu.
Tapi sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, Ia menyadari keanehan dari awan yang gelap ini.
‘Tik…. Tik….”’
Air hujan mulai terjatuh. Tapi….
‘Cessssss….’
Muncul asap tiap kali tetesan air hujan berwarna hijau itu mengenai suatu benda. Sebuah efek yang mengerikan dari hujan asam.
“Arrrrghh!!!”
“Apa-apaan dengan air ini?!”
“Aaahh!! Sialan! Kenapa hujan ini bisa melubangi zirah?!”
Kepanikan mulai terjadi. Termasuk para Player yang tergabung dalam pasukan itu. Mereka semua mengungkapkan kebingungannya.
Ratusan ribu pasukan yang menerima tetesan hujan asam ini segera berlari menjauh. Tapi sayangnya, lingkup hujan asam ini tidaklah kecil. Mereka harus berlari dalam kondisi panik dan berdesak-desakan hingga 200 meter lebih untuk keluar dari zona hujan asam itu.
Seratus…. Seribu….
...***...
...Barisan Belakang...
...Pasukan Gabungan Kerajaan...
‘Klak! Klak!!’
“Eh, apa-apaan ini?!”
“Kenapa mereka bisa berada di belakang kita?!”
“Ka-kalian! Panggil prajurit yang ada di barisan depan!!”
“Kenapa?! Kenapa pada saat hanya sedikit yang berjaga disini….”
Melihat ribuan pasukan Undead jenis Skeleton, regu Trebuchet yang hanya berisi orang-orang yang ahli alat berat perang mulai ketakutan. Hal yang wajar karena mereka dilatih untuk menggunakan alat berat seperti Trebuchet.
Bertarung dengan menggunakan pedang dan perisai?
Itu adalah tugas dari prajurit yang lain!
Sialnya lagi, mereka meninggalkan regu Trebuchet ini dengan sedikit penjagaan karena menganggap musuh telah terkepung di dalam istana. Bahkan regu pengintai mereka juga tidak menemukan adanya tanda-tanda pasukan yang bersembunyi.
‘Klak! Klak! Klak!!’
Pasukan Skeleton itu berlari mendekati regu Trebuchet dengan cepat.
“Menjauh dariku!!!”
“Huwaaaaaa!!”
Semua orang berteriak meminta ampun. Tapi sayang sekali, Skeleton itu sama sekali tidak mendengarkan ampunan mereka.
‘Slaaasshh!!! Jleebbb!!!’
Tebasan demi tebasan, tusukan demi tusukan, semuanya terjadi dalam waktu yang singkat. Ratusan orang dari regu Trebuchet mati dalam seketika.
Beberapa dari Skeleton itu nampak membawa obor. Segera setelah membantai regu Trebuchet, mereka menghancurkan dan membakar seluruh Trebuchet yang ada.
Serangan mendadak ini tidak hanya dari sisi Timur Laut, tapi juga di sisi Utara dan Timur. Semuanya terjadi secara bersamaan.
Tak berhenti disana, pasukan Skeleton itu terus menerus maju dan menyerang dari belakang. Kini, yang menjadi pihak yang bertahan dari serangan bukanlah sang Necromancer bernama Evan. Melainkan pihak Pasukan Gabungan dari Beberapa Kerajaan.
...***...
...Kota Kematian...
...Lesta...
“Hmm…. Kurasa skill ini terlalu kuat. Aku akan berterimakasih kepada Evan nanti.” Ucapku kepada diriku sendiri sambil memandangi hujan asam yang masih terjadi hingga sekarang.
Meskipun, pasukan yang ada di dalam radiusnya telah lama mati atau telah berhasil melarikan diri ke zona aman.
Di hadapanku, muncul notifikasi sistem yang menunjukkan kekejamanku.
[Anda telah membunuh 124.218 Orang!]
[Anda telah membunuh 31.294 Player!]
[Dunia mulai mengecam Anda atas pembantaian ini!]
[Anda telah memperoleh ….]
[Anda telah naik level!]
[Anda telah ….]
"Dunia mulai mengecamku? Hahaha.... Notifikasi yang cukup menarik!" Teriakku sambil tertawa.
Saat aku masih tersenyum puas melihat notifikasi itu, terdengar suara yang telah lama tak kudengar.
“Nampaknya kau cukup bersenang-senang ya, Eric.” Ucap seorang Wanita dengan rambut pirang yang panjang dan mata merah menyala. Ia mengenakan gaun hitam dengan corak merah yang begitu indah. Di tangan kanannya, nampak tongkat sihir dengan cakar monster di ujungnya.
“Deus, lama tak melihatmu. Kenapa kau ada disini?” Tanyaku sambil tersenyum.
“Aku paham kau cukup sibuk, tapi kau tahu? Kau seharusnya mengandalkan diriku untuk urusan seperti ini! Aku selalu terbuka untuk menerima undangan pembantaian manusia!” Teriak Deus sambil tersenyum lebar.
“Maafkan aku, tapi memintamu untuk membantu keinginan pribadiku nampaknya….”
Sebelum menyelesaikan perkataanku, Deus segera memotongnya.
“Apa yang kau katakan? Bukankah kita adalah sahabat yang seharusnya saling membantu? Yah, meskipun…. Kekuatanku belum kembali sepenuhnya. Tapi setidaknya, aku dapat mendukungmu jika terjadi sesuatu hal.”
Dan begitulah, tanpa pihak Pasukan Gabungan sadari….
Musuh mereka telah menerima bantuan yang sangat kuat.