
...Ruang Developer...
"Selamat atas kemenangannya, Tuan Eric." Ucap seorang Pria dengan kacamata yang cukup tebal itu.
Dia adalah salah satu eksekutif penyelenggara acara kompetisi internasional ini.
Eric yang saat ini sedang duduk santai ditemani oleh Lisa dan juga Rendy itu menjabat tangannya dengan tenang.
"Sebuah kemenangan yang sangat tipis hingga aku tak bisa menerimanya." Balas Eric dengan senyuman yang tipis.
"Jangan terlalu merendah, Tuan Eric."
Percakapan yang ringan pun mengiringi pertemuan mereka. Pada akhirnya, hal yang paling ditunggu oleh Eric telah tiba.
"Untuk hadiahnya, Anda akan menerima 700 juta US Dollar. Setelah pemotongan pajak dan beberapa hal lainnya, Anda akan memperoleh hadiah bersih sebesar 548 juta US Dollar. Semuanya sudah kami transfer ke dalam 5 rekening yang Anda sebutkan." Jelas Pria berkacamata itu dengan rinci.
Setelah meminta Eric menandatangani beberapa berkas yang diserahkan kepadanya, Pria berkacamata itu mengalihkan perhatiannya kepada Lisa.
"Kemudian untuk Nona Lisa. Anda memiliki nilai dukungan sebesar 99.6% sehingga membuat Anda menerima hadiah bersih sebesar 544 juta US Dollar. Alamat rekeningnya sudah sesuai pada tiga rekening itu kan?" Tanya Pria itu sambil memastikan.
Lisa yang mendengar hal itu hanya mengangguk ringan tanpa sedikitpun ekspresi di wajahnya.
Sementara itu Rendy hanya bisa menganga dengan sangat lebar dan membelalakkan matanya selebar mungkin.
Ia pun membisikkan hal yang menurut Eric sendiri sangat aneh.
"Masbro. Uang sebanyak itu.... Bisa membeli berapa banyak daging asap? Nanti aku minta traktir ya."
Mendengar hal itu, Eric hanya tersenyum tipis sambil menepuk pundak Rendy.
"Untuk apa mentraktir dirimu. Aku sudah memasukkan sekitar 10% pendapatan hadiah ini ke dalam rekeningmu."
Rendy yang memang lambat untuk memahami hal itu hanya bisa berterimakasih tanpa mengetahui seberapa besar jumlah uang yang dikirimkan kepadanya. Yaitu sebesar 500 milyar rupiah lebih. Uang yang bahkan sudah cukup untuk membuat nya pensiun dan hidup mewah seumur hidupnya.
Berita kemenangan Eric dalam FFA PvP ini cukup menghebohkan dunia karena bukan hanya mengharumkan nama Indonesia, tapi juga membuktikan bahwa pemain biasa sepertinya bisa menang dengan latihan yang keras.
Sebagian besar pemuda yang berumur 14 hingga 35 tahun pun mulai terinspirasi dan menjadikan Eric sebagai idolanya. Mereka bahkan mulai memuja Eric sebagai top player dari Indonesia.
Akan tetapi, kehebohan yang sebenarnya terjadi karena tiga anak SMA yang kaya mendadak karena mengeluarkan sekitar 100.000 rupiah per orang untuk mendukung Eric.
Beberapa video wawancara ketiga anak SMA itu pun telah ditonton sebanyak ratusan juta kali di MeTube. Sebagian besar turut berbahagia kepada mereka. Tapi sebagian lagi merasa iri dan kesal karena tidak ikut mendukung Eric karena prediksi para ahli yang mengatakan bahwa Eric tidak mungkin menang dengan awalan yang buruk seperti itu.
Dalam video itu, terlihat tiga pemuda yang masih mengenakan seragam putih abu-abu itu di pinggir jalan.
"Jadi bagaimana perasaan kalian saat ini? Mengetahui bahwa hanya kalian bertiga lah orang yang cukup gila untuk mendukung Eric yang sudah dipastikan kalah itu selain perwakilan dari perusahaannya?" Tanya seorang wanita berambut hitam pendek dengan setelan hitam itu. Ia adalah seorang wartawan pemula yang memulai debutnya dengan berita sebesar ini.
Salah seorang dari ketiga bocah SMA itu pun maju dan mengambil micnya dengan gugup.
"Ju-jujur saja ka-kami hanya iseng. Tuan Eric adalah idola kami sejak dulu. Mungkin Tuan Eric tak menyadarinya tapi dia lah yang membuat kami fokus bermain Re:Life dan bekerja keras di Kerajaan Farna demi mendukungnya. Itu semua terjadi semenjak kami melihat secara langsung aksi Tuan Eric menyelamatkan pelabuhan Tortuga.
Maka dari itu mengabaikan semua perkataan dari orang-orang yang mengaku bahwa dirinya adalah ahli, kami tetap memasukkan dukungan kepada Tuan Eric. Yah, walaupun hanya bisa uang kecil saja." Jelas bocah itu dengan penjelasan yang sangat rinci.
Pertanyaan demi pertanyaan pun dilontarkan oleh wartawan itu tanpa henti. Ketiga bocah SMA itu pun menjawab semuanya dengan jelas.
Sedikit demi sedikit, keramaian orang pun mulai mengerubungi tiga bocah SMA itu. Para petugas dari stasiun televisi itu pun segera menghadang semua orang yang mendekat.
Hingga akhirnya, pertanyaan yang paling kontroversial dan yang paling dinanti oleh semua orang pun tiba.
"Jadi, apa yang akan masing-masing dari kalian lakukan dengan 7 milyar rupiah yang kalian peroleh secara 'tidak sengaja' ini?"
Bocah pertama yang memiliki rambut dicat agak kuning itu menjawab.
"Aku akan memberikan semuanya kecuali 200 juta rupiah kepada orangtuaku. Itu karena aku bodoh dan pasti akan segera menghabiskan semua uang yang ku miliki untuk game."
"Aku akan menggunakannya untuk mengobati ibu sahabatku dari penyakit aneh. Sisanya entahlah, akan ku pikirkan nanti."
Dan terakhir, bocah dengan rambut hitam agak panjang yang mengenakan kacamata itu mulai menjawab.
"Aku akan mengikuti jejak Tuan Eric dan menginvestasikan 80% uangnya ke beberapa tempat. Lalu aku akan membuka bisnis sama seperti Tuan Eric sehingga bisa kaya sepertinya. Lalu sisanya aku akan memberikannya pada kakakku yang merawatku selama ini."
Jawaban mereka semua meskipun bermacam-macam memiliki satu kesamaan yaitu tidak mengambil semuanya untuk diri mereka sendiri meskipun mereka lah yang memenangkan hal itu.
Tentu saja, Eric yang menyadari mengenai keberadaan tiga bocah SMA yang tanpa sengaja memenangkan hadiah itu segera mengirim beberapa pegawainya. Tujuannya sangat sederhana yaitu untuk melindungi mereka dari hal-hal buruk yang mungkin akan mengancam.
Bahkan Eric telah mengirimkan peluang bisnis kepada mereka semua.
...***...
...Ruang Tunggu Kompetisi...
...Tim Indonesia...
"Buahahahaa! Kau benar-benar luarbiasa, Eric! Tak ku sangka kau bisa mengalahkan Angie itu di pertandingan barusan!" Teriak Ilham sambil tertawa keras sesuai dengan ciri khasnya.
"Hentikan itu. Kemenangan ku hanya ada dua kemungkinan yaitu Angie yang mengalah atau aku yang beruntung saja." Balas Eric dengan wajah datar sambil meminum soda gembira itu.
Lisa yang ada di sampingnya juga duduk dengan tenang. Sedangkan Rendy nampak menikmati semua makanan yang dipesan oleh Eric untuk merayakan kemenangannya.
Di sisi meja yang sebelahnya, terlihat sosok Angie yang sedang meminum minuman berwarna keunguan yang agak gelap itu dengan barbar.
Ia meneguknya langsung dari botol tanpa memindahkannya ke dalam gelas terlebih dahulu.
"Fuaaaah! Eric! Aku tidak menerima kekalahan ku! Segera setelah kita kembali ke Indonesia, bertanding lah dengan diriku sekali lagi! Tidak, tiga kali lagi!" Teriak Angie dengan wajah yang terlihat sedikit mabuk itu.
Mendengar perkataan Angie, Eric yang sebelumnya cukup tenang kini mulai sedikit melebarkan matanya. Ia seakan tak bisa mempercayai apa yang baru saja di dengarnya.
"Tunggu dulu. Kita? Kembali ke Indonesia? Bukankah kau tinggal di Amerika? Los Angeles?" Tanya Eric untuk memastikan perkataan Angie.
"Huh?! Apa-apaan itu?! Aku telah memutuskan untuk membeli salah satu unit apartemen milikmu dan tinggal dekat denganmu!"
Lisa yang mendengar hal itu sedikit menyipitkan matanya.
'Nona Elin, kenapa kau belum membalas pesanku?! Keadaan ini sangat berbahaya!' Pikir Lisa dalam hatinya.
Pesta pun berlanjut dengan sangat meriah hingga larut malam. Atau lebih tepat jika disebut pagi karena jam dinding menunjukkan angka 03.29.
"Masbro. Kau mau pulang?" Tanya Rendy yang melihat Eric berdiri dari kursinya.
Hampir semua orang telah tepar dan tertidur di atas meja. Beberapa bahkan tidur di sofa maupun di lantai dengan alas seadanya.
Yang saat ini masih terjaga hanyalah Eric, Rendy dan juga Lisa.
Itu semua karena mereka bertiga telah terbiasa hidup dalam kondisi 'Overworked' atau kerja berlebihan. Tidur 2 jam sehari? Itu sudah lebih dari cukup bagi Eric.
"Tidak. Aku hanya ingin mencari udara segar. Lisa, Rendy. Ikutlah denganku."
Mereka bertiga pun memutuskan untuk keluar ruangan.
Tapi apa yang menanti mereka diluar ruangan itu....
"Jadi kau Eric? Ikut dengan kami. Ada masalah bisnis yang ingin kami bicarakan denganmu."
Mereka semua adalah pemain dari Eropa yang sejak sebelumnya telah mengincar Eric.