Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 99


Pembicaraan mereka harus terhenti karena deringan ponsel milik Bastian. Bastian segera menjawab panggilan itu dengan cepat. Sedang Danu, ia duduk diam mendengarkan apa yang Bastian bicarakan.


"Halo."


"Halo bos muda. Saya sudah menemukan pelayan yang bos muda cari."


"Di mana dia sekarang?"


"Dia berada di rumah kosong. Saya menyekapnya di sana. Apa bos muda ingin saya membawa pelayan itu pada bos muda?"


"Tidak perlu. Saya sendiri yang akan datang ke sana."


"Baik bos muda. Alamatnya akan saya kirim nanti."


"Ya."


Telepon itupun terputus. Bastian pun bangun dari duduknya. Danu yang mendengarkan obrolan singkat Bastian dengan seseorang barusan, merasa penasaran dengan apa yang terjadi. Ia melupakan sopan santunnya karena terlalu penasaran.


"Ada apa bos muda? Apa yang terjadi?"


"Aku meminta seseorang untuk menemukan pelayan yang menghilang di malam kejadian Chacha digigit ular. Dan sekarang, orang itu telah menemukan pelayan tersebut. Aku akan segera ke sana untuk menanyakan siapa dalang dibalik kejadian malam itu."


"Saya ikut, bos muda."


"Ya."


Merekapun meninggalkan ruangan itu segera. Pergi menuju alamat yang tertera di layar ponsel Bastian.


Tidak sulit untuk menemukan rumah kosong yang orang suruhan itu maksudkan. Karena rumah kosong itu letaknya di tengah-tengah pusat kota.


"Apakah ini rumahnya, bos muda?" tanya Danu sambil memarkirkan mobil tepat di depan rumah kosong itu.


"Ia barang kali. Menurut alamat yang dia kirimkan, inilah rumahnya," kata Bastian sambil mencocokkan alamat yang ada di rumah dengan yang ada di ponselnya.


Belum sempat mereka keluar dari mobil, seorang laki-laki keluar dari rumah tersebut.


Laki-laki itu berjalan menghampiri mobil Bastian.


"Bos muda, katanya rumah kosong. Tapi kok berpenghuni," kata Danu heran.


"Mereka terlalu pintar untuk mengelabui masyarakat agar mereka tidak di curigai."


"Bos muda, silahkan. Orangnya sudah menunggu di dalam," kata laki-laki itu pada Bastian.


"Baik." Bastian berucap sambil membuka pintu mobilnya. Danu yang masih tidak paham dengan keadaan yang ia alami, hanya bisa mengikuti apa yang Bastian lakukan.


Mereka masuk ke dalam, layaknya pemilik rumah yang sah. Masuk tanpa ada halangan, juga tidak sedikitpun menimbulkan kecurigaan pada siapapun yang melihatnya.


Mereka berjalan menuju lantai dua. Di sana, laki-laki itu membawa mereka menuju sebuah kamar yang tertutup rapat.


Saat pintu kamar di buka, seorang perempuan sedang duduk di atas kursi dengan kaki tangan yang terikat. Sedangkan mulut perempuan itu, tertutup rapat dengan mengunakan kain hitam.


"Benar bukan? Ini pelayan yang bos muda cari?" tanya laki-laki itu.


"Ya. Menurut foto yang pak Andi kirimkan, dialah orangnya."


"Buka mulutnya!" kata laki-laki itu pada anak buah yang sedari tadi berjaga di sana.


Anak buah itu melakukan apa yang bos mereka katakan. Dengan cepat membuka kain penutup mulut pelayan tersebut.


"Lepaskan aku!" kata perempuan itu setelah penutup mulut dibuka.


"Apa kamu ingat dengan aku?" tanya Bastian dengan tenang.


Pelayan itu diam saja sambil menatap Bastian dengan tatapan tajam. Bukan dia tidak ingat dengan Bastian, tapi, dia hanya tidak ingin berbicara dengan Bastian.


"Bagus. Sepertinya, diam adalah pilihan terbaik yang kamu pilih."


"Baik bos muda." Danu segera melakukan apa yang Bastian katakan tanpa banyak tanya.


"Buka file yang aku beri nama pelayan."


Danu melakukan apa yang Bastian katakan. Di sana, ada banyak foto keluarga. Danu baru mengerti dengan apa yang akan Bastian lakukan pada pelayan tersebut setelah melihat foto pelayan itu ada di tengah-tengah foto keluarga tersebut.


"Kamu kenal mereka? Aku yakin kamu mengenali mereka. Dia anak yang sangat manis," kata Bastian sambil menunjuk seorang bocah perempuan yang sedang tertawa.


"Jangan ganggu mereka, bos muda. Aku mohon. Jangan ganggu adik-adikku. Aku yang salah. Tolong, lepaskan mereka," kata pelayan itu dengan sangat amat takut.


"Siapa bilang aku akan mengganggu mereka? Aku tidak akan mengganggu adik-adikmu. Tapi dengan satu syarat."


"Apa syaratnya bos muda? Katakan saja. Asal jangan ganggu keluargaku."


"Ceritakan padaku detail kejadian malam itu! Siapa dalang di balik kejadian di mansion malam itu. Maka aku akan melepaskan adik-adikmu."


"Tidak! Tidak ada dalang. Aku. Aku sendiri yang ingin melakukannya," kata Beti dengan keras.


"Kamu tidak sayang adik-adikmu? Kalau begitu, aku akan buat mereka menderita. Jangan salahkan aku jika adik-adikmu menderita akibat ulah kamu."


"Bos muda. Ambil saja nyawaku karena aku tidak bisa mengatakan siapa dalangnya. Mereka sama seperti bos muda. Menjadikan keluargaku sebagai ancaman agar aku tutup mulut selamanya," kata Beti bicara sambil menangis.


"Mereka? Siapa? Katakan padaku. Jika kamu bicara siapa dalangnya, dan kamu bersedia membantu aku untuk membuat dalang itu mengakui kesalahannya. Aku jamin, adik-adikmu akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang bisa menyakiti adik-adikmu selama mereka berada dalam perlindunganku. Percaya apa yang aku katakan," kata Bastian meyakinkan Beti. Karena memang, Bastian tidak berniat menyakiti sama sekali. Dia hanya menggunakan keluarga Beti sebagai alat untuk mengancam Beti saja.


"Apakah ... apakah kata-kata bos muda bisa saya percaya?"


"Kamu tidak perlu ragu dengan apa yang aku katakan. Aku janji akan menepati setiap kata yang aku ucapkan."


"Benarkah aku bisa mempercayai bos muda?"


"Kamu pikir aku bohong. Aku tidak akan bohong. Kamu lupa siapa aku?"


Beti tertegun sejenak. Ia memikirkan apa yang Bastian katakan. Benaknya membenarkan setiap perkataan Bastian. Meskipun ada sedikit keraguan dalam hati, namun, itu tidak memberikan pengaruh pada keinginan yang ia miliki.


"Baiklah. Saya percaya dengan bos muda. Dalang dari kejadian malam itu adalah nona Lisa. Tapi, saya tidak tahu siapa lagi yang berada dibalik nona Lisa. Karena saya hanya tahu nona Lisa yang menyuruh saya melakukan hal bodoh yang sampai saat ini sangat saya sesali." Beti tertunduk kesal.


"Sudah aku duga. Dia adalah dalang dari semua ini. Dia benar-benar pintar memainkan peran."


"Bebaskan dia!" kata Bastian pada laki-laki itu.


"Bebaskan bos muda?" tanya laki-laki itu bingung.


"Ya. Bebaskan. Aku sudah selesai."


Meskipun merasa bingung. Laki-laki itu tetap menuruti apa yang Bastian katakan. Ia membuka ikatan tangan dan kaki Beti.


"Terima kasih bos muda," ucap Beti sangat senang.


"Sekarang, kamu sudah aku bebaskan. Lakukan apa yang aku perintahkan padamu. Ingat, jangan sampai kamu mengkhianati aku. Jika aku tahu kamu mengkhianati aku, bukan kamu saja yang akan celaka. Tapi, adik-adikmu juga akan menerima akibat dari perbuatan kamu," kata Bastian mengancam Beti.


"Ba--baik bos muda. Saya tidak akan mengecewakan bos muda," kata Beti sangat takut.


"Tugas kamu sekarang adalah, memata-matai Sarah, yang sekarang menjadi miss Linda. Kamu harus bisa masuk ke dalam rumahnya dan menjadi orang terdekat miss Linda. Cari tahu semua yang ia lakukan. Kerjain dia. Buat dia tidak tenang tinggal di rumahnya," kata Bastian pada Beti.


"Baik. Saya akan lakukan apa yang bos muda inginkan."


"Kamu akan di antar oleh Danu ke apartemen Linda. Seterusnya, terserah padamu. Bagaimana cara kamu masuk tanpa harus membuat Linda curiga. Itu terserah kamu."


"Ya, saya tahu apa yang akan saya lakukan nanti."


"Danu. Antarkan dia!"


"Baik bos muda."