Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 113


Dengan kepergian Sarah barusan, kerumunan itu juga berakhir. Mereka membubarkan diri mereka sendiri. Chacha yang merasa bersalah pada Bastian, masih berdiri tegak mematung tanpa berniat untuk beranjak dari tempatnya.


"Sayang, kok masih bengong sih? Apa kamu lihat kalau mereka semua sudah bubar? Jangan bilang kamu ingin tetap di sini, ya," kata Bastian sambil menyentuh kedua bahu Chacha dengan lembut, juga tidak lupa tersenyum manis pada Chacha.


"Mas, aku minta maaf udah bikin masalah buat kamu."


"Masalah? Aku tidak merasa dapat masalah hari ini."


"Mas, jangan bercanda lagi."


"Sayang, aku tidak bercanda. Aku memang tidak merasa ada masalah hari ini."


"Mas, aku tidak percaya kalau kamu akan terus bercanda padaku. Ayo pulang, Mas! Aku tidak ingin terus berada di sini."


"Lho, kok pulang sih m, sayang. Kamu gak kasihan sama bik Maryam yang sudah sangat senang saat kamu ajak dia jalan-jalan ke mall ini?"


Chacha melihat bik Maryam yang sedari tadi hanya terdiam di sampingnya. Bik Maryam tersenyum pada Chacha.


"Saya gak keberatan kok bos muda, jika nona bos ingin pulang."


"Maafkan aku bik. Ayo kita belanja!" ucap Chacha sambil tersenyum.


"Nah, gitu dong sayang. Ayo belanja! Lupakan saja apa yang telah terjadi. Anggap aja cuma angin lalu."


Chacha hanya membalas perkataan Bastian dengan senyum. Merekapun melanjutkan jalan-jalan sebelum mereka menemukan apa yang ingin mereka beli.


Sarah pulang ke rumah sambil membawa kekesalannya. Dedi yang melihat hal itu segera menanyakan apa yang telah terjadi sehingga Sarah begitu kesal sekarang.


"Ini semua karena si Bastian yang kurang ajar itu," ucap Sarah dengan sangat kesal.


"Kurang ajar gimana, tante?"


"Ya kurang ajar. Diakan tahu kalau Sarah telah meninggal saat kebakaran rumah sakit jiwa waktu itu, kenapa dia ngomongnya, Sarah hilang tanpa jejak. Gak mungkin kalau dia sedang menyelidiki ini semua, bukan?" Sarah benar-benar memikirkan apa yang baru saja terjadi.


"Sudahlah tante, jangan tante pikirkan lagi apa yang terjadi barusan. Mungkin saja, Bastian ngomong gitu untuk menyelamatkan harga dirinya di depan semua orang."


Sarah terdiam. Benaknya mencoba membenarkan apa yang Dedi katakan.


"Mungkin kamu benar. Tapi, aku merasa tidak aman jika lama-lama berada di negeri ini. Aku harus segera meninggalkan negeri ini agar aku tidak berurusan dengan mereka lagi."


"Tante mau balik keluar negeri?" tanya Dedi.


"Ya."


"Kapan tante? Aku juga ingin segera pulang. Pasti mama sudah sangat kangen sama aku. Aku udah lama di sini," kata Dedi penuh semangat.


"Secepatnya. Kita akan meninggalkan negeri ini. Tapi sebelum pergi, aku akan memastikan bahwa Bastian dan Chacha benar-benar berada dalam masalah."


"Bagaimana caranya?"


"Dengan Lisa. Aku harap, Lisa bisa kita andalkan untuk tetap bergerak di sini."


"Ya sudah. Terserah tante, yang pasti, aku ingin segera kembali ke rumahku."


Lima hari pun telah berlalu. Hari ini adalah hari kepulangan Danu dari luar negeri. Lula sudah menunggu Danu dengan perasaan berbunga-bunga di bandara. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu Danu. Apalagi jika mengingat janji Danu padanya. Semakin bertambah lagi rasa tidak sabar juga rindu yang ada dalam hati Lula.


Setelah menunggu beberapa saat dengan gelisah, akhirnya, Lula melihat sosok orang yang ia tunggu. Danu berjalan di tengah-tengah keramaian dengan senyum manis di bibirnya ketika melihat seseorang yang sedang menunggu dirinya berada di sana.


Lula membalas senyum itu dengan senyum yang tak kalah manis dari gula. Perasaan bahagia menyelimuti hati Lula saat ini. Saat Danu mendekat, Lula tak sabar lagi untuk memeluknya. Dengan begitu, Lula berjalan cepat setengah berlari menyongsong Danu.


"Mas Danu," ucap Lula sambil menghambur ke pelukan Danu.


"La, aku senang bisa melihat kamu lagi," ucap Danu sambil membalas pelukan Lula.


"Aku ka .... " Lula menghentikan kata-katanya. Tiba-tiba, rasa malu datang menyelimuti hati Lula saat ini.


"Tidak ada mas. Ayo pulang!"


"Tidak ingin pulang jika kamu tidak mengatakan apa yang ingin kamu katakan barusan."


"Mas."


"Ayo katakan! Jangan buat aku merasa penasaran."


Dengan paksaan itu, Lula merasa tidak punya pilihan lain selain mengatakan apa yang ingin ia katakan barusan, namun tertahan rasa malu yang tiba-tiba datang. Ia menatap Danu dengan tatapan penuh kasih.


"Aku kangen kamu," ucap Lula sambil menundukkan kepalanya.


"Aku juga," kata Danu sambil mengangkat wajah Lula.


"Ayo pulang sekarang!"


Merekapun meninggalkan bandra setelah berbicara seperti itu. Lula tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang ada dalam hatinya saat ini. Ia benar-benar merasa bahagia dengan wajah berseri-seri juga senyum manis yang tak kunjung bisa ia tahan.


Sampai di rumah Bastian, Danu di sambut hangat oleh Chacha. Sedangkan Bastian, ia masih berada di kantor ketika Danu tiba di rumah.


Selesai makan malam, Danu dan Bastian segera membicarakan soal hasil yang Danu dapatkan dari tugas yang Bastian berikan. Mereka membicarakan hal itu di ruangan Bastian.


"Bagaimana Danu? Apa kamu berhasil melakukan semua itu?"


Danu tersenyum sebelum menjawab apa yang Bastian tanyakan. Bastian paham apa maksud dari senyum itu. Hatinya sedikit terasa lega walau belum menerima penjelasan dari Danu.


"Saya berhasil bos muda. Persis seperti yang bos muda harapkan. Bukan hanya itu, saya juga mendapatkan bonus besar dari perjalan bisnis ini."


"Bonus besar? Maksud kamu?"


"Selain berhasil mendapatkan seluruh saham perusahaan Dedi. Saya juga berhasil bekerja sama dengan perusahaan asing.Yaitu, perusahaan Eagle grup yang sesungguhnya, dan itu atas tawaran Eagle grup sendiri."


"Benarkah?"


"Ya bos muda."


"Bagus. Sepertinya, kamu benar-benar bisa aku handal kan, Danu. Kamu tidak pernah mengecewakan aku selama ini."


Danu hanya bisa tersenyum menanggapi apa yang Bastian katakan. Ia bahagia jika Bastian merasa puas dengan hasil dari usaha yang ia kerjakan.


"Danu, sebaiknya kamu istirahat sekarang. Aku yakin kamu pasti sangat lelah karena perjalan ini."


"Baik bos muda," ucap Danu sambil bangun dari duduknya.


Saat Danu ingin meninggalkan ruangan Bastian, Bastian dengan cepat menghentikan langkah Danu.


"Oh ya, Danu."


"Ada apa bos muda?"


"Terima kasih banyak."


"Sama-sama bos muda. Saya senang kita selalu berhasil."


Bastian dan Danu sama-sama tersenyum karena keberhasilan itu. Kemudian, Danu melanjutkan langkah untuk meninggalkan ruangan Bastian.


_______


Pintu apartemen Sarah diketuk seseorang. Sarah yang sedang duduk manis sambil menikmati segelas jus mangga kesukaannya, dengan malas bangun untuk melihat siapa yang berada di luar sana.


"Biar aku aja yang bukain, tante." Dedi menawarkan diri untuk membantu.


"Ya sudah. Ayo cepat buka, jika tidak, seseorang yang ada di luar sana mungkin akan merusak pintu itu dengan tangannya," ucap Sarah kesal. Karena orang yang ada di luar sana sepertinya sedang tidak sabaran sekali. Orang itu mengetuk pintu dengan keras dan semakin keras saja.