
Sontak, Chacha yang pura-pura tertidur langsung bangun ketika mendengarkan keluhan yang Bastian ucapkan secara sengaja. Chacha mematung ketika ia melihat Bastian yang tersenyum manis padanya.
"Sudah aku duga, kamu pasti belum tidur," kata Bastian masih dengan senyum manis karena merasa geli melihat ekspresi Chacha.
"Senang banget kayaknya kamu berhasil ngerjain aku," kata Chacha dengan wajah kesal.
Chacha kembali duduk dengan wajah kesal karena merasa dipermainkan oleh Bastian.
"Ngapain kesal begitu. Aku kan gak niat buat ngerjain kamu."
"Gak niat tapi ngerjain. Apa bedanya niat dengan gak niat. Ujung-ujungnya kamu ngerjain aku juga."
"Kamu yang ngapain pura-pura tidur di sofa itu? Memangnya, di kamar ini gak ada tempat tidur apa?"
"Apa!? Tidur di kasur?"
"Lho, kok kamu kaget gitu? Apa yang salah sama omongan aku?"
"Gak ada yang salah."
"Terus?"
"Gak ada," kata Chacha tidak tahu mau jawab apa.
"Ayo!"
"Ayo? Ayo ke mana?" tanya Chacha kebingungan.
"Ayo tidurlah. Masa ayo jalan."
"Kamu ... kamu tidur aja duluan. Aku belum ngantuk," kata Chacha berbohong untuk menghindari Bastian.
"Sudah. Tidak perlu buat alasan. Ini sudah larut malam. Sebaiknya kamu istirahat."
"Ya ... ya sudah kalo gitu. Aku tidur di sini saja."
"Tidak. Kamu tidur di ranjang bersamaku."
"Yang bener aja kamu. Gak lagi ngigokan?"
"Kamu jangan banyak mikir deh. Aku ajak kamu tidur satu ranjang itu karena takut mama sama papa tahu kalau aku memperlakukan kamu dengan tidak baik. Nanti, bisa-bisa, aku kena omel sama mama yang sangat sayang sama kamu," kata Bastian beralasan.
"Oh." Chacha menjawab seperti ada rasa kecewa dalam hatinya.
"Lagian, kamu takut apa sih tidur satu ranjang dengan aku? Kitakan .... " Bastian menghentikan kata-katanya.
Chacha menatap laki-laki itu dengan penuh harap. Akhir-akhir ini, ia merasa ada yang aneh dengan hatinya. Begitu berharap pada Bastian. Walau terkadang, ia menguatkan hati agar tidak merasakan apa-apa pada Bastian. Mengingat apa yang telah Bastian lakukan padanya waktu itu.
"Mau sampai kapan kamu diam di situ?" tanya Bastian saat melihat Chacha masih diam mematung di tempatnya.
"Bantuin aku naik."
"Iya," ucap Chacha sambil berjalan mendekat.
Selesai membantu Bastian naik ke ranjang, Chacha mengambil selimut yang ia tinggalkan di sofa. Ia pun menyelimuti Bastian dengan selimut itu.
"Mau ke mana?" tanya Bastian ketika melihat Chacha meninggalkannya.
"Kamar mandi."
"Oh."
Chacha menghabiskan waktu belasan menit di kamar mandi hanya untuk mencuci muka. Sebenarnya, bukan hanya cuci muka yang Chacha lakukan. Ia banyak termenung sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan malam ini. Haruskah dia tidur satu ranjang dengan Bastian? Atau malah menolak ajakan Bastian dan memilih tidur di sofa saja?
Merasa lama berada di kamar mandi, Chacha pun memutuskan untuk keluar. Ketika ia berjalan keluar dari kamar mandi, ia melihat Bastian yang sudah terlelap di atas ranjang.
Chacha memutuskan untuk menerima tawaran Bastian. Ia pun naik ke atas ranjang pelan-pelan agar tidak membangunkan Bastian.
Baru juga Chacha ingin memejamkan matanya, Bastian yang sedang terlelap bergerak memutar tubuh, dari membelakangi Chacha menjadi berhadapan dengan Chacha. Chacha kaget bukan kepalang. Ia merasa detak jantungnya begitu tidak beraturan.
Awalnya, Chacha ingin membelakangi Bastian. Tapi, saat ia sadar kalau Bastian saat ini sedang tidur, Chacha membatalkan niatnya. Ia melihat wajah Bastian yang berjarak hanya beberapa senti saja dari matanya.
Bastian yang sedang terlelap ini begitu tampan. Sampai-sampai, Chacha berulang kali memuji Bastian dalam hati. Chacha mengatakan kalau Bastian adalah pangeran tampan yang datang dari langit.
Ketika asik mengganggumi Bastian, tiba-tiba, tangan Bastian memeluk tubuhnya. Chacha ingin bersuara, namun ia ingat kalau dia melakukan hal itu, maka seisi rumah akan terbangun semuanya. Lagipula, Bastian sedang tidur. Chacha beranggapan kalau Bastian pasti tidak sadar dengan apa yang ia lakukan.
Chacha berusaha melepaskan tangan Bastian yang sedang memeluknya dengan perlahan. Usaha memang tidak akan mengkhianati hasil. Chacha berhasil melakukan itu tanpa membuat Bastian sadar.
Setelah berusaha memejamkan mata berjam-jam, Chacha baru berhasil tidur saat tengah malam tiba. Namun, sebelum adzan subuh berkumandang, dia sudah terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak itu.
Entah bagaimana caranya, dia juga tidak tahu. Saat matanya terbuka, ia begitu kaget dengan apa yang ia lihat. Untung saja dia cepat-cepat mengigit bibir agar tidak keluar suara teriakan akibat kaget.
Wajah Bastian begitu dekat dengan wajahnya. Dan yang paling tidak bisa ia percaya, ternyata, yang ia tiduri semalaman bukan bantal, melainkan, lengan Bastian yang ia jadikan bantal.
Dengan cepat, Chacha berusaha bangun dari tempat tidur tersebut. Sayangnya, satu tangan Bastian sedang memeluk tubuh Chacha dengan erat. Ketika Chacha bangun, maka Bastian juga ikut terbangun.
"Mau ke mana sih pagi-pagi begini?" tanya Bastian sambil melihat Chacha dengan tatapan heran.
"Kamu itu ya. Bisa-bisanya kamu cari kesempatan dalam kesempitan."
"Siapa yang cari kesempatan? Bukannya kamu yang datang padaku. Mana tidur di lenganku lagi. Duh, pegal banget," kata Bastian sambil memegang lengan kirinya.
"Itu ... itu salah kamu."
"Lho, kok salah aku?"
"Ah, terserah kamu," kata Chacha sambil meninggalkan Bastian.
Bastian tersenyum geli dengan apa yang Chacha lakukan. Terlihat sekali wajah malu yang begitu merona saat Chacha melihat wajah Bastian.
Chacha melihat dirinya di kamar mandi. Dia memeriksa bajunya dengan sangat teliti.
"Aku rasa tidak terjadi apa-apa antara aku dan Bastian. Lagipula, mana mungkin terjadi apa-apa. Orang aku dan Bastian sama-sama tidur nyenyak," kata Chacha bicara pada dirinya sendiri.
"Aduh ... apa yang aku lakukan sih sebenarnya? Kok bego banget. Bisa-bisanya aku tidur berbantalkan lengan Bastian. Chacha-Chacha, kamu bikin malu aja sih," kata Chacha masih bicara pada dirinya sendiri.
Chacha menghabiskan waktu satu jam di kamar mandi. Samai-sampai, Bastian harus mengetuk pintu kamar mandi, barulah Chacha keluar dari kamar mandi tersebut.
"Kamu ngapain di dalam sana? Mandi, apa tiduran?" tanya Bastian saat Chacha menampakkan wajahnya.
"Ya mandilah. Mana ada orang tiduran di kamar mandi."
"Habisnya kamu lama banget," kata Bastian sambil menjalankan kursi roda masuk ke dalam.
"Bastian tunggu."
"Apa?"
"Memangnya, kamu bisa mandi sendiri?"
"Ya bisalah. Kenapa? Apa kamu mau bantu aku?"
"Ya nggaklah. Aku minta bantuan pelayan kamu kalo kamu gak bisa. Atau, aku minta bantuan Danu buat bantu kamu."
"Gak perlu," kata Danu sambil menutup pintu kamar mandi.