Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 85


Suara keributan di depan pintu masuk memancing penjaga gudang itu untuk keluar. Dengan wajah yang menakutkan bagi Dedi, penjaga gudang itu melihat mereka dengan tatapan tajam.


"Siapa kalian? Kenapa ribut-ribut di depan gudang ini?" tanya penjaga gudang tersebut.


"Maaf-maaf, kita gak bermaksud bikin ribut kok. Saya Sarah, saya ingin bertemu dengan mas Toto. Apa dia ada?" tanya Sarah sambil memperlihatkan senyum manisnya.


Seorang laki-laki yang berwajah agak menyeramkan keluar dari dalam gudang tersebut. Ia melihat Sarah dengan tatapan tajam.


"Ada apa cari aku?"


"Mas Toto, masih ingat saya? Saya Sarah yang pernah beli ular sama mas Toto beberapa tahun yang lalu."


"Aku tidak ingat," kata laki-laki itu dengan nada berat menyeramkan.


"Ya sudahlah kalo mas Toto tidak ingat lagi sama saya. Wajar kalo sudah lupa, soalnya kan sudah sangat lama. Maksud kedatangan saya ke sini untuk membeli peliharaan mas Toto. Apakah mas Toto masih memelihara hewan itu?" tanya Sarah.


"Ada. Ayo masuk!" kata Toto sambil beranjak masuk ke dalam.


Sarah ingin mengikuti langkah kaki Toto. Tapi, Dedi mencegahnya dengan cepat


"Tante tunggu!"


"Ada apa lagi?" tanya Sarah sedikit kesal.


"Tante yakin mau masuk ke dalam?"


"Ya yakinlah. Masa gak yakin sih? Kamu yang benar aja. Jangan buang-buang waktu, hari semakin malam. Lisa membutuhkan hewan ini segera," kata Sarah benar-benar di buat kesal oleh keponakannya.


"Tapi tante, aku takut."


"Aku sarankan kamu ganti aja jenis kelamin mu itu. Gak usah jadi laki-laki kalo terlalu penakut."


"Tante .... "


"Ya sudah kalo gitu, biar aku saja yang masuk ke dalam. Kamu tunggu aja di sini," kata Sarah pada akhirnya mengalah. Ia tidak ingin lagi membuang waktu untuk berdebat dengan Dedi.


"Jangan lama-lama tante. Aku gak mau di sini sendirian."


"Bodoh amat. Siapa suruh kamu tunggu di sini," kata Sarah sambil beranjak masuk ke dalam.


Lima belas menit lamanya Dedi menunggu Sarah dengan sangat gelisah. Ia begitu risih berada di tempat kotor seperti gudang ini. Akhirnya, Sarah keluar bersama seorang laki-laki dengan karung di tangannya.


"Gimana tante?" tanya Dedi dengan cepat ketika melihat wajah Sarah muncul.


"Sudah selesai. Ayo pergi!"


"Kok lama banget sih tante di dalam? Gak tahu apa, aku di sini hampir mati di gigit nyamuk malam yang besarnya seperti induk ayam."


"Udah. Jangan banyak omong. Gak usah terlalu berlebihan juga. Siapa suruh kamu nunggu di luar. Sudah pasti jadi santapan lezat nyamuk malam."


Dedi mengikuti langkah besar Sarah yang berjalan cepat meninggalkan gudang itu. Sampai di mobil, Dedi bingung karena hewan yang Sarah beli tidak ada di sana.


"Ularnya mana tante?"


"Ada."


"Di mana?"


"Sama anak buah mas Toto."


"Lho, kok sama mereka sih?"


"Dedi. Kalo gak sama mereka, terus sama siapa dong? Apa kamu mau nganterin ularnya langsung ke tempat tinggal keluarga Hutama? Nggak kan?"


"Ya nggaklah tante. Ih, hewan yang paling menjijikan itu, mana mau aku menyentuhnya. Jangankan menyentuh hewan itu, melihat saja aku gak mau," kata Dedi ngeri sambil membayangkan ular itu berjalan.


"Ya sudah, jangan banyak omong. Ayo pulang sekarang. Tante sudah gak tahan lama-lama di tempat ini. Bau."


"Tante pikir aku tahan?" tanya Dedi sambil menjalankan mobil mereka dengan cepat.


Sementara itu, Lisa sudah sangat kesal menantikan apa yang ia minta tidak sampai juga. Ia sudah menghubungi Sarah berkali-kali, namun Sarah tidak juga membalas pesan ataupun mengangkat panggilan darinya.


"Sialan tante Sarah. Apa dia sudah membohongi aku? Ini sudah hampir jam sembilan malam, tapi belum juga ada." Lisa bicara sambil mundar-mandir gak jelas di kamar sambil melihat ponselnya.


*Paketnya sudah aku kirim. Tunggu di depan agar tidak ada yang curiga.*


Pesan singkat itu datang dari Sarah.


"Huh, untung saja kamu dapat apa yang aku mau. Awas saja kalo tidak sesuai dengan yang aku inginkan," kata Lisa masih bicara sendiri.


Untuk tidak kelihatan kalau ia sudah merencanakan sesuatu yang jahat pada keluarga Hutama, Lisa menghubungi pelayan yang ia percayai akan menjalankan rencana jahatnya ini.


*Tunggu di luar. Hewan yang aku butuhkan sudah di kirim. Ingat, jalankan rencana dengan baik. Jangan sampai gagal apalagi ketahuan.*


Lisa mengirim pesan pada pelayan itu. Pelayan tersebut membalas pesan Lisa dengan cepat.


*Baik nona Lisa. Tunggu saja kabar baiknya.*


"Aku harap kamu tidak mengecewakan aku," kata Lisa sambil tersenyum licik.


Dua puluh menit kemudian, seluruh lampu di mansion tiba-tiba saja mati. Entah bagaimana cara pelayan itu melakukannya, tapi, dia berhasil mematikan listrik di mansion ini.


Chacha yang sedang asik menonton televisi, kaget bukan kepalang. Ia segera berjalan mendekati Bastian yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya di atas ranjang. Dengan berbekalkan senter ponsel masing-masing, mereka berusaha menerangi kamar itu.


"Kok bisa mati lampu sih? Biasanya gak pernah mati lampu di mansion ini. Di mana para penjaganya?" tanya Bastian merasa ada yang aneh.


"Bas, jangan ke mana-mana ya, aku takut." Bisik Chacha pada Bastian sambil memeluk lengan Bastian.


"Aku gak akan ke mana-mana. Kamu lupa, aku harus mencari kursi rodaku jika mau keluar. Inikan gelap, jadi semakin sulit buat aku."


Cahcah diam saja. Dia terlalu takut untuk berkata-kata. Sejak kecil, ia selalu takut dengan kegelapan. Hal-hal buruk selalu muncul dalam benaknya jika ia berada dalam suasana gelap.


"Penjaga! Pelayang! Ke mana sih kalian? Kenapa listriknya mati terlalu lama?" kata Bastian berteriak memanggil para pekerja di mansion mereka.


Salah satu penjaga datang dengan cepat saat mendengarkan teriakan dari Bastian.


"Maaf bos muda, kami sedang berusaha mencari penyebab matinya listrik di mansion ini."


"Apakah kalian tidak bisa menghidupkan jenset terlebih dahulu?" tanya Bastian kesal.


"Maaf bos muda, kita sudah mencoba menghidupkannya tadi, tapi sayang, jenset nya rusak. Sama sekali tidak bisa dihidupkan."


"Rusak? Kok bisa?"


"Saya tidak tahu bos muda."


"Ada yang tidak beres sepertinya. Di mana mama dan papa?"


"Bos besar juga nyonya besar di kamar mereka."


"Ya sudah, cepat temukan masalahnya dan jaga kamar ini dengan ketat. Aku rasa ada yang berniat main-main dengan kita."


"Baik bos muda. Saya permisi dulu."


"Ya."


Penjaga itu meninggalkan kamar Bastian, lalu menempat dua orang penjaga lainnya di depan pintu kamar Bastian. Sementara itu, Lisa sedang berteriak ketakutan di kamarnya, membuat keributan sehingga memecahkan perhatian para penjaga.


"Ada apa itu?" tanya Bastian kaget.


"Jangan pergi. Aku takut," ucap Chacha masih tidak bergeming walau sudah mendengarkan jeritan ketakutan dari Lisa.


"Tenang sayang, aku gak akan pergi. Kamu jangan cemas ya."


"Bas, mengapa listriknya masih belum hidup juga?" tanya Chacha sambil terus memeluk lengan Bastian.


"Sabar. Sebentar lagi pasti akan menyala semua lampu di mansion ini."


"Aku takut."


"Gak perlu takut, kan ada aku," kata Bastian sambil membawa Chacha ke dalam pelukannya.


Sementara itu, pelayan yang di tugaskan Lisa untuk melakukan rencananya, mengambil kesempatan emas ketika melihat dua penjaga menuju kamar Lisa. Ia melepaskan seekor ular berbisa masuk ke dalam kamar. Ular itupun berjalan pelan memasuki kamar Bastian.