Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 60


Seperti yang sudah ia katakan pada Bastian kemarin malam, Chacha pagi ini akan keluar dari rumah sakit. Pagi-pagi lagi, dia sudah siap menganti baju rumah sakit dengan bajunya.


"Wah-wah-wah ... kayaknya gak sabar banget mau keluar dari rumah sakit ya," kata Hendra menggoda.


"Ya iyalah. Siapa yang betah tinggal di rumah sakit sih?" kata Chacha.


"Ada."


"Siapa coba?"


"Aku," kata Hendra.


"Ih, kamu itu dokter, bukan pasien."


"Kamu tanya siapa yang betah. Gak bilang tuh pengecualiannya," kata Hendra sambil mencibir.


"Kamu." Chacha berucap kesal namun ia senang dengan candaan yang Hendra buat.


Ia berusaha memukul Hendra sebagai balasan atas cibiran yang Hendra berikan. Saat itu, Bastian sampai di depan pintu kamar. Ia melihat apa yang Chacha dan Hendra lakukan.


Chacha yang menyadari ada orang di depan pintu, segera melihat. Ternyata, Bastian di sana. Ia tidak merasa kaget atau canggung. Chacha merasa biasa saja. Lain halnya dengan Hendra. Ia sedikit cemas saat tahu Bastian berada di sana. Ia takut Bastian salah sangka.


"Bas--Bastian," ucap Hendra dengan gelagapan.


"Teruskan. Maaf, aku tidak sengaja mengganggu kalian," kata Bastian dengan raut wajah kesal dan kecewa.


"Apa yang mau kami lanjutkan? Itu hanya sekedar bercanda." Hendra berusaha menjelaskan. Dia tahu saat ini sahabatnya sedang marah.


"Maka lanjutkan bercanda kalian," kata Bastian sambil memberi syarat pada Danu untuk mendorong kursi rodanya meninggalkan kamar itu.


"Bastian. Tunggu!" Chacha angkat bicara setelah diam menyaksikan Bastian dan Hendra adu mulut.


"Ada apa? Bukannya kamu sedang bercanda dengan dia?"


"Iya, tadi. Sekarang, kamu mau ke mana? Tinggalin aku di rumah sakit ini?" tanya Chacha agak bingung.


"Jika kamu ingin tinggal lebih lama. Ya, silahkan."


"Kamu ngomong apa sih, Bastian?"


Bastian tidak menjawab. Ia malah memerintahkan Danu untuk mendorong kursi rodanya.


"Bastian, tunggu!" Chacha berusaha mengejar.


"Hei ... tunggu."


Walaupun Chacha memanggil mereka, Bastian dan Danu tidak jiga berhenti. Mereka terus saja bergerak dengan cepat, hingga sampai ke mobil.


Bastian dibantu Danu masuk ke dalam mobil. Chacha awalnya hanya jadi penonton. Setelah Bastian masuk barulah ia membuka pintu bagian belakang mobil.


"Sebaiknya kamu duduk di depan. Aku sedang ingin duduk sendiri," kata Bastian menghentikan niat Chacha.


"Ya ... yasudah kalo gitu," ucap Chacha sambil menutup kembali pintu mobil tersebut.


Chacha merasa ada yang salah dengan Bastian. Namun, ia tidak berani menanyakan pada Bastian apa yang salah tersebut. Ia takut kalo Bastian akan marah padanya.


"Mmm ... bisakah kalian mengantarkan aku ke rumah sakit jiwa Cendana?" tanya Chacha memecahkan keheningan.


"Terserah Danu," kata Bastian tanpa bertanya apa tujuan Chacha ingin ke rumah sakit jiwa tersebut.


"Saya ikut saya, nona bos. Jika bos muda setuju, maka saya juga akan setuju."


"Ya sudah, kalo gak bisa gak papa," ucap Chacha.


"Sudah aku katakan, terserah padamu," kata Bastian dengan nada kesal.


"Ya sudah kalo gitu, saya akan antarkan nona bos ke mana saja yang nona bos mau," kata Danu.


"Gak perlu Danu. Gak papa, nanti turunkan saja aku di persimpangan jalan ini. Biar aku naik taksi saja."


"Kamu ingin naik taksi, atau ingin minta bantuan Hendra?" tanya Bastian semakin terdengar nada kesalnya.


"Ya sudah. Mending aku yang antarkan nona bos sampai ke rumah sakit jiwa. Aku juga yang akan temani nona bos selama nona bos melihat nyonya Sarah. Biar sama-sama enak. Gimana?" tanya Danu menjadi penengah.


"Terserah!" ucap Bastian dan Chacha secara bersamaan.


"Aduh ... kok aku yang kena imbasnya?" tanya Danu pelan.


"Diam!" kata Bastian.


Suasana kembali hening hingga mereka sampai ke depan rumah sakit jiwa. Chacha dengan cepat turun, lalu berjalan meninggalkan mobil Bastian.


"Gimana bos muda?" tanya Danu bingung.


"Ikuti dia! Aku takut kalau ada apa-apa dengannya. Dia itu baru saja keluar dari rumah sakit. Kesehatannya masih belum stabil. Apalagi yang ingin ia temui Sarah."


"Ya sudah. Saya pergi dulu."


"Tunggu!"


"Ada apa bos muda?"


"Aku ikut."


Akhirnya, Bastian dan Danu mengikuti Chacha masuk ke dalam rumah sakit jiwa. Tempat aneh yang pertama kali Bastian kunjungi. Meskipun merasa sangat risih, namun ia tetap menguatkan hati untuk maju menyusul Chacha.


Tidak membutuhkan waktu lama, mereka bisa menemui Chacha. Chacha sedang mengajak Sarah ngobrol. Bastian memberi syarat untuk Danu menghentikan kursi rodanya. Ia tidak ingin Danu membawanya terlalu dekat dengan Chacha. Ia hanya ingin mengawasi Chacha dari jauh saja.


Beberapa saat kemudian, Bastian melihat ada yang tidak beres dengan Sarah. Sepertinya, Sarah ingin mengusir Chacha. Ia tidak ingin Chacha mengajaknya bicara terlalu lama.


Sarah mendorong Chacha hingga terjatuh. Saat itulah, Bastian tanpa bisa mencegah mulutnya untuk berteriak membuat Chacha melihat dirinya.


"Chacha!"


Sontak, Chacha langsung melihat Bastian. Dengan posisi yang masih terduduk di lantai.


"Bastian awas!"


Chacha bangun dengan cepat, lalu berlari mendekati Bastian yang tinggal sendiri karena Danu sedang pergi. Ia memeluk tubuh Bastian dari depan. Karena saat itu, ada seorang pasien sakit jiwa yang ingin memukul Bastian dengan vas bunga.


Prakk ....


Bunyi vas bunga pecah mengenai bahu Chacha.


"Aghh." Chacha mengerang kesakitan.


"Chacha!" Bastian memanggil Chacha dengan panik. Ia berusaha membangunkan Chacha dari pangkuannya.


"Ha ha ha ... kena, kena, kena," kata pasien sakit jiwa itu kegirangan.


"Apa yang kau lakukan!" Bastian berteriak pada orang gila yang sedang bersorak kegirangan.


"Suster! Suster!"


"Aku gak papa Bastian," kata Chacha baru bisa mengangkat kepalanya.


"Cha, jangan bohong. Itu pasti sangat sakit. Aku tahu. Wajahmu tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang kamu rasakan."


"Aku gak papa." Chacha berusaha kuat. Namun, ia masih tidak bisa mengangkat bahu kirinya yang terkena pukulan vas bunga.


"Dasar orang gila. Awas kau!" Bastian berucap dengan sangat kesal.


"Biarkan Bastian. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan," kata Chacha.


"Ada apa mas, mbak? Apa yang terjadi?" tanya suster yang baru saja datang.


"Kalian lihat ini apa yang pasien gila kalian lakukan. Apa saja kerjaan kalian? Sampai-sampai membiarkan pasien gila kalian berbuat sesuka hatinya. Aku akan tuntut rumah sakit ini!" kata Bastian sangat marah.


"Udah Bastian. Aku gak papa."