Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 49


Mereka sampai ke rumah sakit. Hendra sudah menunggu di depan pintu masuk rumah sakit bersama dengan susternya.Mereka langsung membawa Chacha ke ruangan yang sudah Hendra siapkan sebelumnya.


"Kalian tunggu di luar," kata Hendra saat mereka sampai di depan pintu masuk.


Tidak ada jawaban. Yang ada hanya wajah panik yang sangat jelas terukir di wajah Bastian dan Danu. Tapi, saat Hendra ingin masuk ke dalam ruangan, Bastian memegang tangannya. Langkah Hendra pun terhenti.


"Tolong, selamatkan dia. Lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawanya," kata Bastian dengan nada sedih.


"Kamu tenang saja. Aku akan berusaha sebaik mungkin," kata Hendra sambil menepuk pelan tangan Bastian.


Pintu ruangan itu tertutup. Bastian dan Danu menunggu di depan dengan gelisah. Dari jauh, mama Merlin terlihat sedang mendekati mereka dengan langkah cepat.


"Ada apa ini, Bastian? Apa yang terjadi?" tanya Merlin cemas.


"Chacha jatuh, Ma."


"Jatuh? Kok bisa? Jatuh dari mana sih?"


"Dari tangga."


"Kok bisa Bastian? Gimana ceritanya?"


"Panjang, Ma."


"Katakan pada mama gimana ceritanya?"


"Nanti aja. Ceritanya panjang."


"Bastian."


"Ma, ini rumah sakit."


"Ya, mama tahu ini rumah sakit. Sekarang, di mana Chacha?"


"Di dalam."


"Aduh ... kok bisa jatuh sih. Gimana keadaannya Chacha sekarang?" Merlin terlihat cemas sambil berjalan mondar-mandir di depan ruangan itu.


"Duduk dulu, nyonya bos," kata Danu menawarkan.


"Gak ah. Gak bisa duduk. Lagi cemas ini," kata Merlin masih tetap mondar-mandir.


Sambil berjalan mondar-mandir, mata Merlin terus tertuju pada pintu ruangan yang di dalamnya terdapat Chacha yang sedang ditangani para medis.


"Aduh, kok lama banget, ya," kata Merlin mengeluh kesal.


"Ma, duduk dulu. Bawa sabar," kata Bastian.


"Kamu enak aja ngomong sabar. Mama ini gak bisa tenang sebelum tahu bagaimana kabar Chacha."


"Kita juga cemas, Ma. Tapi masih bisa tenang, duduk diam sambil nunggu Hendra keluar."


"Mama gak bisa duduk tenang. Mama cemas ini."


"Aku juga cemas, Ma. Tapi masih bisa duduk tenang."


Merlin melihat wajah Bastian. Awalnya, ia tidak yakin kalau Bastian merasa khawatir dengan keadaan Chacha. Tapi, setelah ia melihat wajah anaknya, ia baru yakin dengan apa yang anaknya katakan.


Merlin duduk di samping Danu yang sedari tadi diam. Ia juga memperlihatkan wajah cemas saat ini.


"Danu, katakan padaku apa yang terjadi!"


"Nona bos jatuh, Nyonya besar."


"Ya, aku tahu dia jatuh. Bastian sudah mengatakan hal itu tadi. Katakan yang detail apa yang terjadi."


"Apa!? Jadi, ini semua ulah Sarah dan Keke?"


"Ya, nyonya besar."


"Kurang ajar benar mereka berdua itu."


"Ma, sudah. Jangan dibahas dulu. Ini rumah sakit. Gak enak dilihat orang."


"Gak bisa Bastian. Mereka gak bisa didiamin. Kamu jangan diam aja, Bastian."


"Tunggu. Kamu gak belain Keke, kan? Kamu ...."


"Mama, jangan ngomong yang nggak-nggak deh. Aku sedang cemas ini," kata Bastian kesal.


"Kamu yakin, kamu sekarang sedang cemas mikirin Chacha?" tanya Merlin memastikan.


"Mama, tolong. Aku sedang tidak ingin bercanda, Ma."


"Gak, bukan gitu. Mama juga tidak bercanda. Mama hanya ingin memastikan, kamu sedang tidak mencemaskan Keke. Mama gak mau kamu itu memikirkan Keke."


"Mama, harus berapa kali aku katakan sama mama. Aku menyukai Keke waktu itu hanya karena dia mirip Mona. Gak lebih dari itu. Gak ada rasa cinta selain karena dia mirip Mona, mama."


"Lalu sekarang, dia masih tetap mirip Mona lho Bastian. Apa rasa cinta kamu padanya masih sama? Karena wajahnya gak berubah tuh, masih mirip Mona kok."


"Mama .... "


Bastian dan mamanya harus menghentikan perdebatan karena Hendra membuka pintu ruangan tersebut. Perhatian mereka teralihkan dengan munculnya Hendra dari ruangan tersebut.


"Gimana keadaan Chacha?" tanya mereka hampir bersamaan.


"Dia sudah melewati masa kritisnya. Namun, dia butuh waktu yang agak lama untuk sadar. Benturan keras di kepala Chacha mengakibatkan pendarahan hebat di bagian dalam kepala. Kita sama-sama berharap, semoga saja ingatan Chacha tidak hilang. Sekarang, kami akan memindahkan Chacha keruang rawat inap."


"Baiklah," kata Merlin dan Bastian dengan lemas.


Sementara itu, di kantor Hutama grup, Dimas sedang berusaha masuk ke dalam. Dia di cegat oleh satpam penunggu pintu.


"Pak, saya mohon. Izinkan saya masuk."


"Maaf mas, saya gak bisa."


"Pak, tolong. Saya ingin masuk ke dalam. Izinkan saya masuk. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Bastian."


"Bos muda sedang tidak ada di kantor, mas. Maaf."


"Gak ada di kantor?"


"Iya."


"Lho, kok jam segini dia gak ada di kantor sih? Ke mana dia?"


"Maaf mas, saya gak tahu. Bos muda orang yang sibuk. Jadi, kami tidak tahu pasti ke mana dia."


"Mmm ... boleh minta alamat rumahnya gak pak?"


"Wuah, maaf mas. Saya gak bisa memberikan alamat rumah bos muda."


"Kenapa pak? Saya gak akan macam-macam kok. Ini urusan kerja, bukan untuk kejahatan."


"Maaf mas, kami tidak diizinkan memberitahu pada siapapun alamat rumah bos muda. Harap mas mengerti dengan peraturan kantor kami."


"Ya ya sudah kalo gitu," kata Dimas pada akhirnya menyerah.