Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 58


"Benar nona bos. Saya dan bos muda melihat sendiri ke rumah mereka."


"Jadi, di mana tante Sarah?"


"Dia masih di rawat di rumah sakit. Rumah sakit yang sama dengan tempat nona bos di rawat."


"Bagaimana keadaannya?"


"Dengar-dengar sih, dia depresi karena tidak bisa menerima kematian anak dan suaminya. Tapi, saya juga masih belum pasti soal berita itu nona bos. Karena saya tidak melihat langsung kondisinya. Hanya mendengar saja."


"O oh," kata Chacha seperti tak percaya dengan apa yang telah menimpa keluarganya.


Usai mendoakan makam papanya, Chacha juga mendoakan makam Keke. Setelah itu, dia mengajak Danu kembali ke rumah sakit. Ia ingin melihat bagaimana keadaan Sarah.


Meskipun mereka sudah jahat dengan Chacha, tapi Chacha tidak ingin menyimpan dendam. Ia berbesar hati untuk memaafkan semua kesalahan kakak dan mama tirinya.


Sampai ke rumah sakit, Danu segera menanyakan di mana kamar Sarah. Suster pun memberitahu di mana kamar Sarah. Tapi, ketika mereka sampai ke kamar itu, sayangnya tidak ada Sarah di sana. Yang ada hanya seorang suster yang sedang melipat kain.


"Maaf Sus, apakah benar ini kamar pasien yang bernama Sarah?" tanya Danu.


"Iya, Mas. Tapi, pasiennya sudah tidak ada di sini lagi."


"Ke mana? Apa dia sudah pulang ke rumah?" tanya Chacha penasaran.


"Tidak mbak. Pasien atas nama Sarah sudah di pindahkan ke rumah sakit jiwa."


"Apa! Rumah sakit jiwa?" tanya Chacha agak kaget.


Meskipun dia sudah tahu kalau Sarah sedang tidak sehat mental, tapi dia tetap kaget saat suster mengatakan kalau Sarah sudah di pindahkan ke rumah sakit jiwa. Itu tandanya, gangguan mental sarah semakin parah.


"Nona bos." Danu memanggil Chacha sambil melihatnya.


"Boleh saya tahu di mana alamat rumah sakit jiwa itu, Sus?"


Suster itupun menulis alamat rumah sakit jiwa di atas kertas. Lalu menyerahkan kertas tersebut pada Chacha.


"Ini mbak."


"Makasih, Sus."


"Nona bos," kata Danu memanggil lagi.


"Danu, apa kamu bisa mengantarkan aku ke alamat ini?" tanya Chacha sambil menyerahkan kertas itu pada Danu.


"Maaf nona bos, bukan saya tidak mau. Tapi, saya harus tanya bos muda dulu. Saya takut bos muda marah. Karena kondisi nona bos masih belum sembuh total."


"Danu, aku sudah sembuh kok. Kamu gak perlu mencemaskan aku."


"Ya, tapi saya tetap harus bertanya dulu pada bos muda nona bos."


"Bastian pasti tidak akan mengizinkan aku pergi, jika kamu menanyakan padanya."


"Tapi .... "


"Gak papa kalo kamu gak bisa mengantarkan aku Danu. Aku akan cari taksi saja," kata Chacha memotong perkataan Danu.


"Jangan nona bos. Saya akan kena marah bos muda jika membiarkan nona bos pergi sendiri."


"Gak papa Danu. Aku sudah baik-baik saja. Aku sangat ingin melihat tante Sarah. Aku ingin memastikan keadaannya. Apakah dia benar-benar gangguan mental atau hanya pura-pura saja."


Baru saja Chacha ingin melangkahkan kakinya meninggalkan Danu, Hendra memanggil Chacha. Langkah Chacha pun terhenti seketika.


"Hendra. Ada apa?"


"Bisa kita bicara empat mata sekarang?" tanya Hendra dengan wajah serius.


Sebelum menjawab, Chacha melihat wajah Danu terlebih dahulu.


"Bi--bisa. Mau bicara apa yang Hen?"


"Ayo ikut aku!" kata Hendra sambil beranjak dari tempatnya.


"Ada apa, Hend?" tanya Chacha makin penasaran.


"Ada yang mau aku omongin."


"Soal apa?"


"Bastian."


"Bastian?"


"Ya."


"Ada apa dengan Bastian?" tanya Chacha mulai cemas.


"Apa kamu masih ingat dengan permohonan aku waktu itu? Soal membujuk Bastian agar mau melakukan operasi pada kakinya."


"Ya, aku ingat soal itu. Lalu?"


"Apa kamu sudah mencoba apa yang aku minta?"


"Be--belum," kata Chacha dengan wajah bersalah.


"Cha, sakit pada kaki Bastian semakin lama semakin parah. Jika tidak di operasi, maka kemungkinan untuk dia bisa berjalan lagi akan semakin kecil. Dan, rasa sakitnya akan semakin sering kambuh. Juga sakitnya akan terasa semakin menyakitkan."


"Ya Tuhan. Kenapa bisa seperti itu? Ada apa dengan Bastian? Mengapa dia tidak mau di operasi sih?" tanya Chacha kesal.


"Masa lalu Bastian yang membuat dia seperti ini. Kamu tahu, cinta pertamanya meninggal ketika operasi gagal. Makanya, dia sangat membenci hal-hal yang berkaitan dengan operasi," kata Hendra sambil tertunduk.


"Jadi ... Mona meninggal karena operasi gagal?"


"Bisa di katakan seperti itu, Cha."


"Oh, pantas saja dia tidak mau di operasi."


"Cha, aku mohon kamu bantu aku ya. Bujuk Bastian agar mau di operasi. Aku sebagai sahabat merasa tidak berguna, karena tidak bisa membantu sahabatku sendiri. Aku sudah melakukan banyak cara agar dia mau melakukan saran ku. Tapi, tetap saja dia tidak mau mendengarkan aku," kata Hendra frustasi.


"Apa kamu yakin aku mampu membujuk Bastian, Hend? Kamu saja tidak bisa membujuknya, bagaimana dengan aku?"


"Aku yakin kamu bisa. Kamu dengan aku itu jauh berbeda. Aku yakin dia mau mendengarkan apa yang kamu katakan."


"Baiklah kalo gitu. Meskipun aku tidak yakin dengan diriku sendiri, tapi aku akan mencobanya."


"Bagus. Semoga berhasil."


Mereka pun keluar dari ruangan itu. Chacha berjalan menuju ruangan Hendra yang di mana Bastian masih berada di sana. Sedangkan Hendra, ia melanjutkan tugasnya memeriksa pasien.


Sampai di depan ruangan, Cahcha langsung membuka pintu. Di sana susah ada Danu yang sedang berbicara dengan Bastian. Bastian menatap Chacha dengan tatapan tajam yang Chacha sendiri tidak tahu apa arti dari tatapan tersebut.


"Dari mana kamu?" tanya Bastian saat Chacha berjalan mendekat.


"Dari bicara dengan Hendra."


"Soal apa?"


"Soal kesehatanku yang semakin membaik," kata Chacha sambil memegang kepalanya yang masih terlilit perban, tiba-tiba saja berdenyut menciptakan rasa sakit.


'Tidak. Jangan sakit dulu kepala. Aku harus terlihat baik-baik saja sekarang. Aku harus kuat,' kata Chacha dalam hati.


"Benarkah begitu?" tanya Bastian.


Chacha tidak bisa menjawab. Tiba-tiba saja, pandanganya buram, dan sekelilingnya seperti sedang berterbangan tidak beraturan. Ia benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit pada kepalanya lagi. Tidak bisa ia hindari, tiba-tiba saja, Chacha pingsan.


"Chacha (nona bos)!" kata Bastian dan Danu secara bersamaan. Danu bergerak cepat menyambut tubuh Chacha agar tidak jatuh ke lantai.


"Nona bos." Danu memanggil Chacha sambil menepuk pipi Chacha pelan. Bastian hanya bisa menahan rasa jengkel pada Danu. Apa boleh buat, ia tidak bisa menjadi tempat bersandar untuk Chacha.


"Bagaimana ini bos muda? Nona bos pingsan," kata Danu panik.


"Bawa dia ke kamarnya sekarang. Aku akan panggil Hendra," kata Bastian sambil mengeluarkan ponselnya.