
132
Sepuluh bulan kemudian, di depan kamar persalinan di rumah sakit. Merlin, Hendra, Danu, dan Lula, juga bik Maryam. Mereka sedang gelisah menantikan kelahiran anak Chacha dan Bastian.
Penyakit panik mama Merlin tidak bisa di sembunyikan lagi. Ia begitu panik karena cemas menantikan Chacha melahirkan bayinya.
"Ya Tuhan, ya Tuhan. Semoga Chacha dan bayinya baik-baik saja," ucap Merlin yang terus saja berjalan mundar-mandir tak jelas di depan ruangan persalinan.
"Ya ampun, Ma. Bisakah mama duduk diam di sini. Kita semua juga merasakan apa yang mama rasakan. Jadi tolong, jangan seperti itu," kata Herman.
"Papa tau apa soal perempuan yang mau melahirkan. Jadi papa diam saja. Jangan ganggu mama."
Mendengarkan perkataan Merlin barusan, Herman memilih diam. Ia tidak ingin mengajak Merlin berdebat di sini. Ia tahu bagaimana sifat Merlin yang selalu panik berlebihan jika ada hal yang membuat cemas hatinya.
Sementara mereka menanti dengan cemas di luar, Chacha sedang berjuang di dalam sana. Bastian yang menemani istrinya melahirkan, ikut bercucuran keringat saat melihat Chacha yang sedang kesakitan.
Tangan yang Chacha genggam tidak sadar terluka karena cakaran kuku Chacha akibat menahan rasa sakit. Tiga jam waktu yang Chacha habiskan untuk berperang antara hidup dan mati di ruangan persalinan, akhirnya anak yang ia kandung lahir juga. Tidak hanya satu, tapi dua orang bayi perempuan yang sangat cantik jelita.
Air mata bahagia membasahi kedua mata Bastian, saat melihat bayi mungil itu lahir. Ia mencium Chacha berkali-kali sambil menangis.
"Selamat sayang, kamu berhasil. Ini akan menjadi yang pertama juga terakhir buat kamu melewati kesakitan ini. Aku pastikan, aku tidak akan membuat kamu merasakan sakit ini lagi," kata Bastian sambil memeluk Chacha.
Chacha hanya tersenyum lemas. Meskipun lemas, tapi ia merasa bahagia penuh kemenangan. Ia telah berhasil melahirkan dua bayi perempuan sekaligus.
Setelah semuanya beres. Pintu ruang bersalin itu dibuka. Memunculkan Bastian dan dua orang suster yang membawa masing-masing satu bayi dalam gendongan mereka.
"Bastian! Bagaimana?" tanya Merlin terlalu bersemangat.
"Semuanya berjalan lancar, Ma. Dan lihatlah, aku bukan hanya punya satu bayi. Namun dua," kata Bastian sambil melihat kebelakang. Di mana dua orang suster sedang menggendong anaknya.
"Apa! Dua?" tanya Herman sangat bahagia.
"Ya, Pa, Ma. Ternyata, Chacha melahirkan anak kembar."
"Apa jenis kelaminnya?" tanya Merlin.
"Perempuan, Ma."
"Sekarang, di mana Chacha?"
"Dia masih di dalam. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat inap."
"Syukurlah," ucap Merlin sambil memeluk kedua tangannya.
"Selamat bos muda, sudah punya nona junior," ucap Bastian.
"Iya. Selamat buat bos muda, sudah punya nona junior. Gak hanya satu, tapi dua sekaligus," ucap Lula pula.
"Ya Tuhan, senangnya. Rumah akan ramai dengan suara tangisan bayi sekarang. Selamat bos muda, selamat." Bik Maryam tidak ingin ketinggalan.
Setelah kedua bayi kembar itu di bawa suster, kini tinggal giliran Chacha yang dipindahkan ke ruang rawat inap. Mereka mengikuti suster yang memindahkan Chacha sambil terus tersenyum bahagia.
Setelah Chacha berada di ruang rawat inap, barulah Hendra datang. Ia memasang wajah menyesal karena datang terlambat.
"Maafkan aku, aku datang terlambat. Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Hendra.
"Tenang saja. Aku tidak ingin marah padamu saat ini. Karena aku sedang sangat bahagia. Apa kami tahu apa yang aku dapatkan hari ini?" tanya Bastian dengan wajah bahagia.
"Apa?" tanya Hendra penasaran.
"Wuah. Benarkah?" tanya Hendra dengan wajah bahagia.
"Ya." Bastian menjawab sambil mengangguk. Sedangkan Chacha hanya tersenyum bahagia saja.
"Selamat Bastian. Kamu sekarang telah menjadi papa," kata Hendra sambil memeluk erat Bastian.
"Aku turut bahagia atas kebahagiaan yang kalian rasakan sekarang," kata Hendra sambil berpelukan.
"Terima kasih banyak."
Usai berpelukan dengan Bastian, Hendra menuju Chacha yang sedang terbaring lemas di atas ranjangnya.
"Selamat, Cha. Kamu sudah berhasil melewati pertempuran antara hidup dan mati dengan selamat, dan mendapatkan hadiah dua orang gadis kecil."
"Terima kasih banyak, Hend. Semua ini juga berkat bimbingan kamu dan Mery. Kalian sudah sangat banyak bantu aku selama masa kehamilan hingga aku melahirkan."
"Itu sudah tugas kami," kata Hendra sambil tersenyum.
Sementara keluarga Hutama bahagia dengan kelahiran bayi kembar Chacha dan Bastian. Di penjara, Lisa sedang bersedih karena memikirkan nasib anaknya yang harus ia besarkan di penjara.
Ya, Lisa hamil dan melahirkan di penjara. Ia melahirkan anak laki-laki satu bulan yang lalu. Anak itu lahir tanpa ayah, dan harus merasakan penderitaan ibunya dengan cara dibesarkan di penjara karena Lisa di kenakan hukuman penjara seumur hidup.
Awalnya, Lisa sangat membenci kehamilannya itu. Karena ayah dari anak itu adalah orang yang telah membuat hidupnya menderita. Tapi, setelah melihat bayi itu lahir, perasaan Lisa berubah. Ia menyayangi bayi itu dan bertekad akan membesarkan bayi itu dengan cinta.
Meskipun mereka hidup dalam batasan tembok penjara.
____
Chacha kembali ke rumah setelah dua minggu berada di rumah sakit. Ia di sambut dengan meriah saat pulang bersama bayi kembarnya. Bik Maryam menyambut kepulangan Chacha seperti merayakan pesta ulang tahun. Ada banyak balon yang menghiasi rumah.
"Selamat datang kembali, nona bos," ucap bik Maryam sambil membuka pintu.
"Makasih banyak, bik." Chacha berjalan masuk diikuti Bastian di belakang.
Saat Chacha baru saja ingin melintasi ruang keluarga, ia dikagetkan dengan sambutan dari semua kerabat dekatnya. Semua kerabat dekat Chacha ada di sana. Termasuk, Hendra dan Mery juga ada.
"Selamat datang kembali mama muda," ucap semuanya hampir serentak.
Chacha tersenyum bahagia sambil menutup mulutnya. Ia merasa sangat terharu melihat sambutan itu. Tanpa terasa, air mata jatuh perlahan di pipinya.
"Lho sayang, kamu kok nangis sih? Kenapa?" tanya Bastian cemas.
"Aku ... aku bahagia, mas. Sangat bahagia sekali," kata Chacha sambil tersenyum.
Ia menghambur ke dalam pelukan Bastian. Bastian memeluk Chacha. Melihat hal itu, mama Merlin mengambil alih untuk memegang salah satu cucunya. Melihat Merlin yang menggendong cucu mereka, Herman tak ingin kalah. Ia mengambil yang satunya lagi dari Chacha.
"Kalian bisa lanjutkan pelukan kalian berdua. Biar Maura dan Maurel kami yang pegang." Herman berkata sambil mencium cucunya.
Mereka tersenyum bahagia. Kini, keluarga itu terasa sangat lengkap setelah kehadiran si kembar Maura dan Maurel. Bastian dan Chacha sangat bahagia. Mereka yang sudah pernah melewati semua masalah yang berat, kini bisa merasakan apa arti dari sebuah kesabaran juga kerja keras dalam rumah tangga.
Kesabaran dalam suatu hubungan sangat amat penting. Kejujuran adalah kunci paling utama dalan membena rumah tangga bahagia dan harmonis.
***SEKIAN***
________________________________________________