
Menurut Hendra, Chacha sebenarnya sudah boleh pulang sehari setelah ia dirawat di rumah sakit. Namun, karena Bastian takut Chacha kenapa-napa di rumah, ia meminta Chacha di rawat sampai sembuh total di rumah sakit ini.
Mau tidak mau, Chacha terpaksa mengikuti apa yang Bastian katakan. Rasa cemas yang Bastian tunjukkan membuat Chacha tidak ingin membatah semua perkataannya.
Danu yang baru tahu kalau nona bosnya di patok ular dan di bawa ke rumah sakit, bergegas mendatangi rumah sakit untuk melihat keadaan Chacha. Raut cemas tergambar dengan sangat jelas dari wajah Danu.
"Bagaimana keadaan nona bos, bos muda?" tanya Danu saat ia sampai di depan pintu kamar rawat Chacha dan ia bertemu Bastian di sana.
"Chacha baik-baik aja sekarang. Kamu ke mana saja? Kok baru muncul sekarang?"
"Maaf bos muda, saya sibuk menyelidiki soal Sarah."
"Bagaimana? Apa yang kamu temukan dari penyelidikan itu?"
"Rumah sakit jiwa tempat Sarah dirawat mengalami kebakaran. Ada belasan pasien rumah sakit itu meninggal dalam kecelakaan tersebut. Salah satunya Sarah. Tapi .... "
"Tapi apa, Danu? Apa ada yang mengganjal dari hasil penyelidikan itu?"
"Tidak ada bos muda. Hanya saja, hasil penyelidikan miss Linda dari luar negeri yang memiliki beberapa kejanggalan."
"Maksud kamu?"
"Sebenarnya, miss Linda yang menjadi wakil perusahaan Eagle Grup itu wajahnya tidak seperti Sarah, bos muda. Tapi, wajahnya seperti ini," kata Danu sambil memperlihatkan foto yang terpajang di layar ponselnya.
"Apa! Mengapa yang bertemu dengan kita waktu itu wajahnya sama persis dengan Sarah?"
"Itu yang masih saya selidiki saat ini, bos muda."
"Bagus. Cari tahu semuanya tentang miss Linda juga semua tentang perusahaan Eagle grup. Untuk sementara, kerja sama dengan perusahaan Eagle grup kita tunda terlebih dahulu."
"Baik bos muda."
"Satu lagi, usus semua kejadian yang menimpa Sarah. Cari tahu apa penyebab kebakaran rumah sakit itu juga cari tahu, apakah Sarah benar-benar jadi korban kebakaran atau ini cuma sandiwaranya saja. Aku yakin, jika Sarah masih hidup dan ini cuma sandiwara. Pasti ada dalang dibalik Sarah saat ini."
"Baik bos muda. Saya akan kerjakan sesuai keinginan bos muda. Tunggu saja kabar baiknya dari saya juga semua penyidik handal yang saya kerahkan."
"Bagus. Aku yakin kamu bisa diandalkan. Jangan kecewakan aku," kata Bastian sambil menepuk bahu Danu.
Saat itu, Danu baru ingat dengan Bastian yang tidak menggunakan kursi roda lagi, juga sebab kejadian yang menimpa nona bosnya sampai harus masuk rumah sakit. Karena sibuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Sarah juga siapa miss Linda. Ia jadi lupa memperhatikan nona bos yang ia sayangi.
Bagi Danu, menyayangi tidak perlu memiliki. Melihat orang yang di sayangi bahagia, itu sudah sangat amat cukup baginya.
"Oh ya, bos muda sudah dibolehkan tidak memakai kursi roda lagi?"
"Ya, seperti yang kamu lihat," kata Bastian sedikit mengukir senyum di bibir manisnya.
"Syukurlah kalau begitu. Nona bos pasti sangat senang sekarang."
"Ada seseorang yang sedang cari mati dengan keluarga Hutama terutama aku. Sepertinya dia sudah bosan hidup."
"Apa bos muda mencurigai seseorang? Apa bos muda mau aku menyelidiki orang itu?" tanya Danu antusias.
"Tidak. Kamu fokus saja dengan apa yang aku tugaskan padamu sekarang. Soal orang yang sudah berani buat masalah dengan keluarga Hutama, aku sendiri yang akan turun tangan. Orang itu terlalu berani melukai orang yang paling aku sayang. Dia sudah terlalu bosan hidup." Bastian berucap dengan nada sangat kesal. Sampai-sampai, Danu merasa ngeri melihat wajah marah Bastian itu.
"Ba--baiklah bos muda kalau begitu."
'Aku yakin, orang yang sudah berani melukai nona bos saat ini sedang dalam masalah besar. Benar-benar berani dia mencari masalah dengan bos muda,' kata Danu dalam hati.
____
Karena kabar Chacha masuk rumah sakit terdengar oleh Sarah. Ia segera mengajak Lisa bertemu untuk berbicara. Lisa menerima ajakan pertemuan Sarah tersebut. Merekapun bertemu di salah satu cafe yang letaknya agak jauh dari keramaian kota.
"Mau apa sih tante ajak aku ketemu?" tanya Lisa saat ia sampai ke tempat mereka janjian.
"Aku mau ngomong satu hal sama kamu."
"Ngomong apa? Kenapa mau ketemu segala kalo cuma ngomong satu hal. Tante kan bisa ngomong lewat telpon saja," kata Lisa sok cuek dan sedikit malas untuk bicara.
"Aku mau katakan kalau kamu, bo ... doh." Sarah berucap dengan nada penuh penekanan.
"Apa! Tante kurang ajar banget ngatain aku bodoh. Berani-beraninya tante bicara begitu padaku."
"Kenapa aku harus takut bicara sama kamu. Karena kenyataannya, kamu itu memang bodoh , Lisa. Kamu tidak sepintar Keke ku. Wajah saja yang mirip, tapi otaknya gak sama."
"Heh! Jangan samakan aku dengan anakmu yang sudah mati itu. Jika kamu dan anakmu pintar, kalian pasti sudah menikmati kebahagiaan kalian saat ini," kata Lisa sangat kesal dengan apa yang Sarah katakan.
"Jangan samakan kesialan kami dengan apa yang kamu lakukan saat ini. Aku meminta kamu mendatangi kediaman keluarga Hutama bukan untuk merusak rencana ku dengan kebodohanmu."
"Aku sudah datang ke sana, ya terserah aku mau ngapain. Memangnya salah apa yang aku lakukan? Toh, aku sudah mencelakai wanita yang sangat kalian benci. Seharusnya, kamu berterima kasih padaku," kata Lisa sedikit bangga dengan keberhasilannya menyakiti Chacha.
"Bodoh. Itu namanya kamu sedang menggali kuburan mu sendiri. Aku minta kamu ke sana untuk menggoda Bastian dan membuat dia jatuh cinta padamu. Aku ingin dia melupakan Chacha dan mengingat kakakmu sebagai cinta pertama dengan kehadiran kamu. Tapi apa yang kamu lakukan, kamu malah melukai Chacha sekarang. Kamu pikir, Bastian akan tinggal diam dengan apa yang kamu lakukan saat ini?"
"Dia tidak akan bisa melukai atau menyakiti aku. Kamu lihat saja bagaimana aku akan memainkan peranku dengan sangat baik."
"Baiklah. Kalau kamu memang sagat yakin dengan dirimu sendiri. Semoga saja kamu tidak kecewa dan tidak akan merusak rencana yang aku miliki," kata Sarah sambil bangun dari duduknya, kemudian meninggalkan Lisa di sana sendirian tanpa pamitan terlebih dahulu.
"Huh. Aku tahu apa yang aku lakukan. Kamu yang seharusnya jangan kacau rencana yang aku punya. Lihat saja, siapa yang nantinya akan berhasil. Kamu lihat saja, aku akan taklukkan ayah dan anak itu sekalian," kata Lisa kesal sambil terus menatap punggung Sarah yang semakin lama semakin menjauh.
Cafe itu terlihat sangat sepi, namun sebenarnya, seorang mata-mata sedang bersembunyi di sana. Mengikuti orang yang mengaku sebagai miss Linda untuk mencari tahu siapa sebenarnya dia.
Pembicaraan Sarah dan Lisa yang sangat keras semuanya di dengar oleh mata-mata itu. Hanya saja, mereka sama sekali tidak menyadari kalau mereka sedang diikuti mata-mata.