Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 41


"Apa kamu pikir aku berbohong? Lihat mataku, Bastian. Aku sangat berharap kamu merasakan apa yang aku rasakan. Aku sangat sayang dan cinta padamu. Rasa itu tidak sedikitpun berubah."


"Sayangnya, aku tidak bisa merasakan apa yang kamu rasakan, Keke. Rasa sayang dan cinta yang aku miliki telah hilang untuk mu. Semua sudah lenyap ketika kamu meninggalkan aku saat aku berada dalam keterpurukan."


"Bastian. Kamu bercanda, kan?"


"Heh, bercanda? Kamu pikir aku bodoh. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah aku mengalami kecelakaan, aku jadi lebih tahu siapa dirimu sebenarnya. Kamu tidak perlu bersandiwara lagi di depanku sekarang."


"Bas, kamu pasti salah sangka sama aku. Kamu .... "


"Cukup! Keluar dari ruangan ku sekarang juga atau kamu mau aku membuat kamu dan orang tuamu mati kelaparan."


"Bastian."


"Asal kamu tahu, perusahaan papamu masih bertahan itu karena aku melihat Chacha. Jika tidak mengingat kalau Chacha adalah anak papamu, aku mungkin sudah menghancurkan satu-satunya mata pencarian keluargamu."


"Apa? Karena Chacha? Aku gak salah dengar?" tanya Keke mulai memperlihatkan wujud aslinya.


"Ya. Karena Chacha adalah istriku dan aku tidak ingin dia merasa sedih ketika tahu papanya sudah tidak punya apa-apa lagi."


"Kamu tidak tahu siapa Chacha sebenarnya? Chacha .... "


"Cukup! Aku tahu siapa istriku sebenarnya. Jangan pernah kamu menjelekkan istriku di depan maupun di belakangku. Karena aku tidak akan tinggal diam."


"Danu, datang keruangan ku bersama satpam," kata Bastian memanggil Danu melalui telpon.


"Tidak perlu. Aku bisa keluar sendiri dari kantor ini." Selesai berkata seperti itu, Keke benar-benar beranjak meninggalkan Bastian.


'Dasar laki-laki cacat. Masih cacat aja belagu. Dia pikir kalau bukan karena hartanya, aku mau datang ke kantor ini untuk bertemu dengannya. Dasar sampah. Tidak akan pernah mau aku datang ke sini,' kata Keke dalam hati.


Bastian meletakkan telpon ketempat nya kembali. Sebenarnya, dia tidak beneran menelpon Danu. Dia hanya pura-pura menelpon saja. Dia tidak ingin melihat Keke lebih lama lagi.


"Kamu pikir aku mau sama kamu kalo bukan karena wajahmu mirip Mona? Aku tidak akan mau sama wanita matre seperti kamu. Wanita jahat dan bermuka dua seperti kamu tidak pantas di cintai," kata Bastian bicara sendiri.


Setelah melihat Keke keluar dengan wajah yang tidak enak dilihat. Danu sedikit merasa lega. Ia bergegas masuk keruangan Bastian.


"Maaf bos muda. Apa yang terjadi?" tanya Danu setelah masuk ke dalam, membuat Bastian agak kaget karena Danu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


"Bos muda tidak menerima wanita itu, kan?" tanya Danu lagi.


"Aku jadi heran sekarang. Kamu bos atau aku bos sih sebenarnya?" tanya Bastian kesal.


"Maaf bos muda. Saya hanya agak cemas dengan bos muda. Saya takut kalo bos muda salah langkah."


"Danu-Danu, lama-lama, kamu mirip kayak mama ya. Selalu kepo dan sok tahu."


"Maaf bos muda."


"Aku tahu kalo kamu sedang perhatian padaku. Kamu tenang saja, aku tahu apa yang harus aku lakukan."


"Oh ya, bagaimana dengan tugas yang aku berikan padamu? Apakah sudah kamu selesaikan?"


"Sudah bos muda. Semuanya sudah beres."


"Bagus."


Sementara itu, di perusahaan Mayang Indah, sekretaris nyonya Mayang sedang panik akibat pembatalan kontrak kerja mereka.


"Tidak tau mbak Lula. Beberapa menit yang lalu, staf dari kantor Hutama grup membatalkan kontrak dengan tiba-tiba."


"Gawat. Ini adalah bencana besar buat Mayang Indah."


"Lanjutkan kerja kalian. Aku akan keruangan Bos Mayang sekarang."


"Baik mbak."


Lula mengetuk pintu ruangan Mayang dengan tak sabar.


"Masuk."


Lula masuk dengan cepat sambil memperlihatkan wajah panik pada Mayang. Ia juga membawa laptop di tangannya.


"Ada apa, Lula?"


"Gawat, Buk bos."


"Gawat apanya?"


"Hutama grup membatalkan kontrak kerjasama mereka dengan kita."


"Apa!?" Mayang yang awalnya santai duduk di kursi, kini bangun dengan wajah panik.


"Kok bisa?" tanya Mayang lagi masih dengan wajah panik.


"Saya juga tidak mengerti Buk bos. Mereka tiba-tiba saja membatalkan kontrak dengan kita secara sepihak."


"Gila. Ada berapa kontrak yang mereka batalkan."


"Semuanya buk bos."


"Apa!? Semuanya?"


"Iya. Semuanya."


"Ini tidak benar. Pasti ada yang tidak beres. Hutama grup tidak pernah membatalkan kontrak kerjasama secara sepihak jika tidak ada kesalahan."


"Ya buk bos. Apa yang buk bos katakan itu menang benar. Kita sudah bertahun-tahun menjalin kerjasama dengan mereka. Kenapa baru sekarang mereka membatalkan kontrak kerjasama. Ini pasti ada kesalahan," kata Lula.


"Lula. Periksa semua staf. Mungkin ada kesalahan yang mereka lakukan."


"Sudah saya periksa tadi buk bos, sebelum saya datang keruangan buk bos. Tidak ada yang salah dengan staf, bahkan tidak ada kesalahan dengan perusahaan kita."


"Tidak benar. Ini memang benar-benar tidak masuk akal. Ayo Lula, kita harus datang langsung ke Hutama grup biar tahu apa masalah sebenarnya," kata Mayang sambil beranjak dari tempatnya.


"Baik buk bos." Lula mengikuti Mayang dari belakang.


Sementara itu, di ruang kerja para karyawan sedang bergosip. Mereka sibuk membicarakan pembatalan kontrak kerjasama tersebut.


"Gawat. Jika Hutama membatalkan kontrak kerjasama, maka perusahaan ini sedang berada di ambang kebangkrutan," ucap salah satu karyawan.


"Benar apa yang kamu katakan. Menurut gosip yang aku dengar, Hutama grup adalah investor terbesar di perusahaan ini. Kamu tahu apa maksudnya bukan?" kata karyawan yang lain pula.


"Gawat. Kita juga dalam masalah besar kalo gitu," ucap yang lain pula.