
"Eh, kamu malah ngomongin mama."
"Ya udah deh. Di mana Danu?" tanya Bastian tidak ingin berdebat lagi.
"Danu ... mama juga tidak tahu."
"Aduh. Aku perlu Danu sekarang, Ma. Coba lihat di depan, mana tahu ada Danu, atau ... juga ada Cahcha barangkali."
Merlin melakukan apa yang anaknya pinta. Ia membuka pintu kamar untuk melihat Danu dan Chacha.
Saat pintu terbuka, ia tidak melihat adanya Cahcha. Hanya Danu sendirian yang sedang duduk sambil mengutak-atik ponselnya.
"Danu, Bastian ingin kamu masuk ke dalam," kata Merlin.
"Baik nyonya besar," kata Danu langsung beranjak dari tempatnya.
"Ada apa bos muda?" tanya Danu setelah bertemu Bastian.
"Di mana Chacha?"
"Nona bos ... nona bos .... "
"Kamu tidak tahu di mana dia?"
"Maaf bos muda."
"Kamu ini gimana sih, Danu. Bukankah sudah aku katakan, selalu jaga Chacha. Aku takut kalo dia kenapa-napa."
"Bastian, jaga nada bicaramu. Kamu lupa, kamu baru aja selesai operasi, Nak," kata Merlin mengingatkan.
"Aku tahu, Ma. Tapi Chacha lebih penting sekarang. Bagaimana kalo dia hilang di culik orang. Kan bahaya, Ma."
"Ya sudah kalo gitu, biar saya carikan nona bos sekarang juga, bos muda."
"Ya. Memang kamu harus cari dia sekarang. Sebelum itu, berikan aku ponselku."
Merlin memberikan ponsel Bastian. Kebetulan, dia yang menyimpan ponsel Bastian setelah Hendra menyerahkan ponsel itu pada Danu.
"Makasih, Ma."
Bastian melacak keberadaan Chacha melalui ponsel tersebut. Ia kaget ketika menemukan Chacha berada sangat jauh dari rumah sakit ini.
"Ada apa bos muda?" tanya Danu penasaran.
"Chacha tidak berada dalam lingkungan rumah sakit ini, Danu. Dia berada sangat jauh dari rumah sakit ini."
"Maksud bos muda?"
"Lihat ini." Bastian memperlihatkan layar ponselnya pada Danu.
"Cepat Danu, temukan dia! Aku tidak ingin dia kenapa-napa."
"Baik bos muda," kata Danu sambil beranjak.
"Tunggu! Bawa ponsel ini untuk mempermudahkan kamu mencarinya. Lakukan vidio call melalui ponsel mama."
"Baik bos muda."
Danu pun meninggalkan kamar itu. Ia mengikuti petunjuk keberadaan Chacha melalui ponsel Bastian. Ia juga melakukan vidio call dengan Bastian selama ia mencari keberadaan Chacha.
Petunjuk itu membawa Danu ke TPU. Tempat di mana nenek Chacha di makamkan. Danu masih ingat dengan baik tempat itu, karena dia ikut menghadiri pemakaman nenek Chacha waktu itu.
Danu bisa melihat dari kejauhan, Cahcha yang sedang berjongkok di sisi kiri makam sang nenek. Ketika ia mendekat, Danu bisa mendengar dengan jelas apa yang Chacha katakan.
"Nenek, Chacha tidak bisa membohongi hati Chacha. Chacha menyayangi Bastian. Tapi, Chacha takut, Nek," ucap Chacha bicara dengan batu nisan neneknya.
"Nek, sekarang, Bastian sudah bisa jalan. Chacha ikut senang dengan keberhasilan operasinya. Tapi, Chacha takut, setelah Bastian bisa jalan, ia pasti akan mengejar wanita yang ia cintai. Sekarang, jarak antara Chacha dengan Bastian terlalu jauh nenek."
"Chacha kangen sama nenek," kata Chacha sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Bastian meminta Danu meninggalkan Chacha sendirian dengan bahasa isyarat. Ia tidak ingin Danu menganggu Chacha yang sedang berada di makam neneknya.
Danu mengikuti apa yang Bastian isyaratkan. Perlahan, ia meninggalkan makam tersebut. Bastian meminta Danu mengawasi Chacha dari kejauhan saja.
Setelah merasa hatinya sedikit tenang, Chacha pun beranjak dari makam tersebut. Ia melihat ponselnya.
"Ya Tuhan, sudah sangat sore ternyata," kata Chacha sambil berjalan cepat.
Ketika ia keluar dari gerbang pemakaman, Danu muncul atas permintaan Bastian.
"Nona bos." Danu memanggil Chacha sambil membuka pintu mobil untuk keluar.
"Danu. Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Chacha heran.
"Bos muda ... maksud saya, nyonya besar minta saya mencari nona bos," kata Danu berbohong.
Ia diminta Bastian merahasiakan tentang kesadarannya. Bastian ingin memberi kejutan pada Chacha sehingga dia meminta Danu merahasiakan kalau dia sudah sadar.
"O oh. Mama Merlin nyari aku?"
"Iya. Dia cemas karena nona bos tiba-tiba menghilang.
"Maaf ya udah bikin kamu repot. Aku gak enak mau ganggu mama tadi. Aku lihat mama sangat fokus jagain Bastian, makanya, aku gak sempat pamit."
"Oh ya, nyonya besar bilang, kalo saya sudah ketemu nona bos, saya disuruh mengantarkan nona bos pulang ke rumah untuk istirahat."
"Apakah ... apakah saya tidak boleh kembali ke rumah sakit saja?"
"Sebaiknya tidak usah nona bos. Nona bos istirahat di rumah saja."
"Ba-baiklah kalo gitu," kata Chacha melemah.
Chacha mengikuti apa yang Danu katakan. Sebenarnya dia kecewa karena tidak bisa melihat Bastian di rumah sakit, tapi, dia tidak ingin membantah apa yang Merlin katakan.
Setelah mengantar Chacha pulang ke rumah, Danu kembali ke rumah sakit. Ia diminta Bastian menyiapkan sesuatu. Tepatnya, sebuah lamaran untuk seseorang. Danu di suruh membelikan sepasang cincin lengkap dengan bunga dan juga dekor yang membuat kesan romantis.
Malam itu, Danu benar-benar sibuk. Ia dan Merlin menyiapkan sebuah kejutan buat Chacha. Kamar rawat inap Bastian di dekor dengan indah. Mawar merah kesukaan Chacha tidak ketinggalan untuk menghiasi ruangan tersebut.
Sepasang cincin sudah Danu dapatkan dengan susah payah. Maklum, itu adalah acara dadakan. Jadi, agak susah untuk mendapatkan sesuatu yang spesial dalam waktu singkat.
Malam itu juga, Danu diminta menjemput Chacha di rumah. Ketika Danu sampai, Chacha baru saja ingin membaringkan tubuhnya.
"Ada apa, Danu?" tanya Chacha yang mengunakan piyama tidur karena niatnya memang mau istirahat.
"Saya datang untuk menjemput nona bos."
"Jemput saya? Ada apa jemput saya jam segini, Danu? Inikan sudah sangat malam. Udah jam sembilan malam lho."
"Tunggu! Bastian baik-baik saja bukan?" tanya Chacha tiba-tiba ingat kalau Bastian masih di rumah sakit.
"Saya tidak bisa menjelaskannya. Saya harap nona mau ikut saya segera."
"Jangan buat aku cemas Danu. Katakan padaku kalau Bastian baik-baik saja," kata Chacha mulai panik.
"Nona bos, ayo ikut saya jika nona bos ingin tahu." Danu juga memasang wajah panik, yang membuat Chacha semakin panik saja.
"Ba-baiklah. Ayo!" kata Chacha beranjak dari tempatnya tanpa menganti piyama, juga tidak membawa apa-apa. Ponselnya juga ia tinggalkan.