Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 74


"Bastian?"


Perkataan mama Merlin tiba-tiba terputus karena panggilan tersebut. Dari lantai dua mansion, seorang gadis turun dengan gaya begitu anggun juga elegan. Dia adalah Lisa.


Bastian yang melihat hal itu, kaget bukan kepalang. Ia yang awalnya duduk di kursi roda, tiba-tiba bangun secara perlahan.


"Mama, mengapa dia ada di rumah ini?" tanya Bastian yang tiba-tiba merasakan amarahnya naik secara perlahan.


"Bas, dengarin dulu apa yang ingin mama katakan."


"Tidak. Aku akan seret dia ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya pada Chacha," ucap Bastian sambil berjalan mendekat.


"Apa sih yang kamu bicarakan?" tanya Lisa dengan sangat manja. Persis Mona sewaktu bersama Bastian.


"Oh ya, kenalin, aku Lisa," kata Lisa sambil mengulurkan tangan juga mempersembahkan senyum termanis yang ia miliki.


"Li--Lisa?" Bastian heran sekaligus tak percaya dengan apa yang ia hadapi saat ini.


Bastian menarik mama Merlin ke sudut untuk bicara kecil dengan sang mama.


"Ada apa ini, Ma? Siapa dia? Mengapa aku merasakan kehadiran Mona. Tidak mungkin dia Mona kan?"


"Ya memang dia bukan Mona. Apa kamu gak dengar kalo dia udah nyebutin namanya. Dia Lisa."


"Siapa Lisa?"


"Lisa .... "


"Siapa dia sebenarnya?" tanya Bastian tak sabaran.


"Eh, ini mama mau jelasin siapa dia. Kamu diam dulu dong," kata mama sambil senyum tidak enak pada Lisa yang sedang melihat mereka dengan tatapan canggung.


"Dia Lisa, adik kembar Mona."


"Tidak mungkin."


"Gimana gak mungkin. Tuh, orangnya ada di sana."


"Tapi .... "


"Ya awalnya mama juga tak percaya. Tapi, dia punya semua bukti yang membenarkan apa yang dia katakan."


"Mana buktinya, aku mau lihat."


"Ya tanya langsung pada orangnya."


Bastian berjalan mendekati Lisa yang melihat mereka sedari tadi. Tatapan mereka beradu.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Bastian dengan nada tegas.


"Aku Lisa. Kamu Bastian kan?" Sebisa mungkin Lisa berperilaku sangat manis, juga tidak lupa bernada manja sama seperti Mona.


"Bukan namamu yang aku tanyakan, tapi, identitas juga motif kamu mendatangi keluarga Hutama itu apa!"


"Kamu kok ngomong kasar gitu. Aku Lisa, adik kembar Mona. Aku datang ke sini karena permintaan mama. Mama ingin aku meluluskan wasiat kak Mona," kata Lisa dengan nada sedih tapi masih mempertahankan nada manjanya.


"Jangan banyak omong. Berikan aku bukti agar aku tidak mengusir dirimu dari mansion ini, juga dari muka bumi ini."


"Kasar. Aku tidak suka laki-laki kasar. Kenapa kak Mona bisa punya pacar sekasar kamu? Kenapa kak Mona bisa sangat mencintai kamu?"


"Berhenti ngomong yang tidak-tidak. Berikan aku bukti segera!"


"Ya Tuhan. Lisa tidak suka laki-laki seperti ini. Lisa pamit pulang saja kalo gitu," kata Lisa dengan air mata yang sudah tumpah.


"Bastian! Kamu ini gimana sih? Ngomong yang baik-baik kan bisa. Ngomong lembut sedikit." Mama Merlin memarahi Bastian.


"Lisa. Maafkan Bastian. Dia seperti itu karena dia tidak ingin tertipu saja. Ayo, berikan bukti yang kamu bawa."


"Tante, Lisa salah datang ke mansion ini. Lisa mau pulang saja," kata Lisa sambil merenggek manja, layaknya anak kecil yang minta di belikan sesuatu sama orang tuanya.


"Lisa. Kamu tidak salah. Tante percaya dengan kamu. Tunjukkan bukti yang bisa membuat Bastian percaya kalau kamu adalah adik kembar Mona, datang ke sini hanya untuk menjalankan wasiat Mona."


Melihat Lisa yang tidak bisa ia bujuk. Mama Merlin menghampiri Bastian. Ia mencubit Bastian.


"Lihat apa yang udah kamu lakukan. Dia nangis gara-gara kamu kasar padanya. Bujuk dia Bastian. Apa kamu tidak lihat, dia itu benar-benar adik Mona. Lihat bagaimana sikap dan caranya bicara, dia sama persis kayak Mona."


"Tapi, Ma .... "


"Bastian. Apa kamu lupa dengan apa yang telah terjadi antara kamu dengan Mona? Apa kamu tidak ingin mengetahui apa wasiat yang Mona tinggalkan?" tanya Merlin.


Pertanyaan itu membuat Bastian merasakan rasa bersalahnya kembali atas kematian Mona. Ia pun memutuskan untuk bersikap baik pada gadis yang mengaku adik kembar Mona ini.


"Aku minta maaf," ucap Bastian dengan rasa enggan.


Lisa tetap tidak bicara. Ia terus menundukkan kepalanya dengan sedih. Persis seperti Mona, ketika ia merasa sedih atau dalam suasana hati yang tidak baik, dia tidak akan melihat orang yang membuatnya merasa sedih itu, dia memilih menundukkan pandangannya dari orang tersebut.


Bayangan tentang Mona, kini tergambar jelas di benak Bastian. Hatinya tiba-tiba merasa rindu akan masa lalu bersama cinta pertamanya itu. Namun, seketika, bayangan wajah Keke juga muncul. Merusak suasana rindu yang ada dalam hati Bastian. Memberikan rasa benci akan wajah yang sama persis itu.


Kemudian, ia tersadar dari lamunan masa lalu yang memberikan dirinya dua rasa sekaligus. Ia melihat Lisa dengan tatapan tajam. Mencari kebenaran dari dua sosok yang sama persis.


"Aku percaya kamu adiknya Mona. Tapi, berikan aku bukti biar aku makin percaya lagi," kata Bastian sambil terus menatap tajam Lisa.


"Benarkah kamu akan percaya padaku jika aku tunjukkan buktinya?" tanya Lisa masih tidak melihat Bastian.


"Ya."


"Baiklah, tunggu sebenar. Aku akan ambilkan semua buktinya. Tadi aku tinggalkan di kamar."


"Permisi," kata Lisa sambil beranjak meninggalkan tempatnya.


Lisa berjalan cepat menaiki anak tangga. Dalam hati ia tersenyum bahagia karena rencana pertamanya sudah lolos. Kini, tinggal rencana kedua. Yaitu, membuat Bastian yakin dan menerima apa yang ia katakan.


'Ternyata, Bastian terlalu tampan jika aku melihatnya dari jarak dekat. Lebih tampan dari yang aku lihat di foto Mona,' kata Lisa dalam hati.


'Kalau begini, tidak salah jika aku menjadi pasangan Bastian yang sebenarnya. Pasti kami akan menjadi pasangan yang sangat serasi,' kata Lisa sambil tersenyum membayangkan dirinya yang selalu berada di sisi Bastian.


Sementara itu, di bawah, Bastian dan Merlin sedang menunggu Lisa mengambil bukti ke kamar tamu.


"Apa sebelumnya mama sudah melihat bukti yang dia maksud?" tanya Bastian.


"Sudah. Dan mama sangat yakin kalau dia memang benar-benar adik kembar Mona."


"Apa buktinya, Ma?"


"Kamu lihat saja sendiri. Bukannya dia sedang mengambil bukti itu untuk ia tunjukkan padamu."


"Mmm. Oh ya, apa mama sudah melihat wasiat dari Mona yang ia katakan itu?"


"Sudah."


"Apa, Ma? Katakan padaku apa wasiatnya!"


"Sudah mama katakan sebelumnya, kamu lihat saja sendiri apa wasiatnya. Nanti kamu juga akan tahu."


"Ma, bagaimana kalau dia bukan adik, Mona?"


"Maksud kamu?"


"Bagaimana kalau dia Keke?"


"Kamu ngomong apa sih Bastian. Keke itu sudah meninggal. Kamu lihat sendiri kan, saat jenazahnya di bawa pulang? Juga saat dia di makamkan. Bagaimana bisa dia itu Keke? Kamu ada-ada saja. Orang sudah meninggal tidak mungkin bisa bangun lagi, Bastian."


"Wajah mereka terlalu mirip, Ma. Aku tidak ingin jatuh untuk yang kedua kali di tempat yang sama."


"Mama yakin seratus persen kalau dia memang benar-benar adiknya Mona."


"Bagaimana kalau dia datang hanya ingin merusak keutuhan keluarga kita?"


"Maksud kamu apa sih? Bicara yang jelas Bastian."


Pembicaraan antara Bastian dan mama harus terhenti karena kedatangan Lisa yang membawa map di tangannya.


"Ini semua bukti yang menunjukkan kalau aku ini Lisa, adik kembar Mona," kata Lisa sambil menyerahkan map itu ke tangan Bastian.