
Saat Hendra sampai ke rumah Bastian. Bastian benar-benar sudah bermandikan keringat dingin. Ia masih berada di ruang keluarga bersama Chacha juga yang lainnya. Singkat kata, semua penghuni rumah sedang berada di ruang keluarga, menantikan kedatangan Hendra.
Chacha yang melihat Hendra datang, dengan cepat menyongsong Hendra. Dengan wajah panik, ia mengatakan apa yang telah terjadi pada Hendra.
"Sudah aku katakan sebelumnya, jangan gunakan kakimu terlalu sering jika belum sampai dua minggu. Kamu terlalu keras kepala," kata Hendra kesal sambil memeriksa keadaan Bastian.
Bastian tidak menjawab ocehan Hendra. Sekarang, dia benar-benar sakit. Jika dia tidak dalam keadaan terlalu sakit, dia pasti sudah menceramahi Hendra balik.
"Sepertinya, kita harus membawa dia ke rumah sakit untuk di periksa lebih lanjut."
"Apa! Apa yang sebenarnya terjadi pada kaki Bastian?" tanya Chacha semakin panik.
"Kakinya mengalami infeksi karena terlalu sering ia gunakan. Harus di lakukan penanganan lebih lanjut di rumah sakit. Tidak bisa di lakukan di rumah karena peralatan tidak memadai."
"Ya Tuhan, Bastian." Chacha berucap sambil memegang kedua tangannya dengan erat.
"Danu, siapkan mobil. Kita berangkat sekarang," kata Chacha lagi.
"Tidak perlu. Pakai mobil aku saja berangkatnya," kata Hendra.
"Tapi, kamu yang bawa mobilnya Danu," kata Hendra pada Danu.
"Baik dokter."
Danu berjalan cepat menuju mobil Hendra. Ketika ingin membuka mobil tersebut, dia baru ingat kalau dia tidak memegang kunci mobil Hendra. Danu harus kembali untuk meminta kunci.
"Mana kuncinya dokter?"
"Ya Tuhan. Kuncinya ada padaku. Aku lupa memberikannya padamu," kata Hendra sambil mengeluarkan kunci dari saku celananya.
Mereka semua berada dalam kepanikan. Yang paling panik di antara semuanya adalah Chacha. Melihat kondisi Bastian yang semakin lama semakin melemah, Chacha menjadi semakin panik. Air mata pun tidak bisa ia bendung lagi.
"Bastian, bersabarlah. Aku yakin, kamu pasti bisa melawan rasa sakit itu," ucap Chacha sambil membelai wajah Bastian.
Hendra yang melihat hal itu, merasa sedih, karena rasa cemburu yang ada dalam hatinya kini kembali kambuh.
'Andai saja aku yang sakit, apakah kamu juga akan sepanik ini Cha? Aku rasa tidak,' kata Hendra dalam hati.
'Huh, apa yang aku pikirkan sih sebenarnya? Jelas tidak akan seperti itu. Orang aku ini bukan siapa-siapanya dia. Aku cuma orang asing yang ketika ia perlu, ia panggil. Jika tidak perlu, tidak akan dia ingat.'
'Aduh, kenapa aku jadi berpikir yang tidak-tidak seperti ini di tengah kepanikan seperti ini. Hendra-Hendra, kok kamu mendadak bego ya,' kata Hendra masih bicara dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
Danu yang berada di samping Hendra melihat apa yang ia lakukan. Ia merasa aneh dengan tingkah Hendra yang menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.
"Dokter Hendra kenapa? Apa dokter baik-baik saja?" tanya Danu mengangetkan Hendra.
"Hah, apa? Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja," kata Hendra sambil bertingkah serba salah.
Akhirnya, mobil mereka pun sampai di depan rumah sakit. Hendra membantu Danu mengeluarkan Bastian dari dalan mobil. Di depan pintu masuk, suster sudah menunggu kedatangan mereka. Karena memang, Hendra sudah memberitahukan kepada suster kalau dia akan membawa pasien datang ke rumah sakit malam ini.
Dengan gerak cepat, mereka membawa Bastian ke ruangan khusus untuk di tangani kembali. Chacha dan Danu menunggu kabar dati Hendra di depan pintu ruangan tersebut dengan cemas.
Chacha ingin mengabarkan mama Merlin tentang kondisi Bastin. Namun, Danu melarangnya.
"Jangan nona bos. Jika nyonya besar tahu apa yang terjadi, nyonya besar pasti akan sangat panik."
"Nona bos lupa bagaimana nyonya besar jika dia sedang cemas? Kepanikannya terlalu berlebihan."
Chacha mengingat kembali saat Bastian sedang melakukan operasi waktu itu. Merlin memang benar-benar panik. Dan kepanikannya memang sangat berlebihan. Tidak seperti orang pada umumnya.
"Baiklah kalo gitu, aku tidak akan memberitahu mama Merlin apa yang sedang terjadi pada Bastian sekarang."
Dua jam lamanya mereka menunggu Hendra keluar dari ruangan itu. Akhirnya, Hendra keluar juga dengan memperlihatkan wajah lega tanpa beban. Chacha dan Danu segera menghampiri Hendra untuk menanyakan keadaan Bastian.
"Bagaimana Hendra? Apa Bastian baik-baik aja sekarang?" tanya Chacha.
"Iya, Bastian sudah baik-baik aja. Dia juga sudah sadar dari pingsannya. Jika kamu ingin melihatnya, nanti, setelah dia aku pindahkan ke kamar rawat inap."
"Kamar rawat inap? Apakah Bastian perlu dirawat inap lagi?"
"Ya, Bastian harus menjalankan rawat inap setidaknya dua hari di sini, baru dia boleh pulang."
"Ba--baiklah." Chacha terlihat sedikit kecewa dan sedih.
"Hei, mengapa kamu terlihat sedih dan kecewa?" tanya Hendra penasaran.
"Tidak ada. Aku hanya merasa sedih dengan apa yang terjadi pada Bastian. Jika ia harus dirawat inap, itu tandanya, sakit pada kakinya terlalu serius," ucap Chacha sambil menundukkan kepalanya.
"Itu karena dia terlalu keras kepala, Cha. Tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan. Sudah berulang kali aku katakan padanya sebelum dia keluar dari rumah sakit ini waktu itu, kalau dia tidak boleh menggunakan kakinya terlalu sering, juga tidak boleh terlalu membebani kakinya, sebelum dua minggu. Tapi dia tidak mau mendengarkan aku. Dia gunakan juga kakinya. Yang paling parah, dia terlalu membebani kakinya untuk berjalan terlalu jauh." Hendra bicara panjang lebar, sampai-sampai, Chacha tidak punya kesempatan untuk menyela.
"Maksud kamu? Bastian kesakitan karena dia menggunakan kakinya untuk berjalan jauh?"
"Yap. Dia berjalan tanpa bantuan kursi roda terlalu lama. Makanya dia merasa kesakitan. Karena urat-urat kaki itu menjadi tegang."
"Kapan dia berjalan terlalu lama?" tanya Chacha bingung.
"Entahlah, aku tidak tahu kalo soal itu," kata Hendra sambil mengangkat kedua bahunya.
Suster muncul dengan membawa Bastian. Mereka sedang memindahkan Bastian ke kamar rawat inap untuk di rawat selama dua hari di rumah sakit ini. Chacha dan Danu mengikuti dari belakang.
"Danu, apa kamu tahu, kapan Bastian berjalan tanpa kursi rodanya terlalu lama?" tanya Chacha.
"Itu .... " Danu merasa saat ini dia sedang berada dalam dilema. Antara mengatakan yang sebenarnya, atau malah berbohong pada Chacha.
Melihat Danu menggantungkan kata-katanya. Chacha merasa kalau Danu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Chacha menebak dalam hati, kalau Danu tahu kapan Bastian terlalu lama berjalan tanpa kursi roda.
"Danu. Katakan padaku yang sebenarnya!"
"Maaf nona bos. Tadi sore, saat ingin bertemu wakil perusahaan asing, bos muda tidak menggunakan kursi rodanya. Ia berjalan dan berdiri terlalu lama di cafe itu."
"Apa! Kenapa dia tidak memakai kursi rodanya? Apa dia malu bertemu wakil perusahaan asing dengan memakai kursi roda?"
"Maaf nona bos, saya tidak tahu soal itu."
"Maafkan aku sudah berkata dengan nada tinggi. Aku hanya kaget saja," kata Chacha.
Ia sedang menahan hatinya yang terasa sangat kecewa. Chacha berpikir kalau Bastian tidak mau mendengarkan apa yang ia katakan. Bastian malu menggunakan kursi roda untuk bertemu wakil perusahaan asing itu. Hal itu membuat perasaan Chacha tidak nyaman. Ia juga merasa sedih. Ia menganggap, Bastian tidak menghargai kata-kata yang ia ucapkan, juga tidak menghargai dirinya.