
Hari ini, Chacha sudah di nyatakan sembuh total oleh Hendra. Ya, sebelumnya juga Hendra sudah mengatakan kalau Chacha sebenarnya baik-baik saja. Tapi, Bastian yang keras kepala sama sekali tidak percaya.
"Bagaimana, Cha? Sekarang, sudah tidak ada keluhan apa-apa lagi, bukan?" tanya Bastian memastikan.
"Ya Tuhan. Kenapa kamu menanyakan itu lagi padanya, Bastian? Aku kira, kamu sudah menanyakan hal itu berulang kali pada Chacha," kata Hendra menjawab dengan nada kesal.
"Kamu diam! Aku sedang bicara dengan istriku, dokter Hendra."
"Jika kamu ingat aku seorang dokter, harusnya kamu percaya dengan apa yang aku katakan," kata Hendra.
"Hendra. Kamu .... "
"Sudah-sudah. Kalian ngapain malah berdebat sih? Bastian, apa yang Hendra katakan itu benar. Aku sudah tidak apa-apa sejak kemarin. Kamu aja yang terlalu cemas," kata Chacha menjadi penengah.
"Tuh, dengerin apa kata istrimu."
"Dia terlalu keras kepala, sih Cha," kata Hendra memancing emosi Bastian.
"Hendra. Kamu ya .... "
"Cukup! Aku katakan sudah cukup! Kalian ini seperti anak kecil yang sedang berebut permen. Terus saja bertengkar karena hal-hal yang sangat sepele." Chacha berucap dengan nada tinggi karena dia benar-benar kesal dengan perdebatan kedua laki-laki ini.
"Sayang, kamu marahin aku?" tanya Bastian seperti anak kecil yang takut sama mama mereka.
"Tidak. Aku hanya tidak ingin mendengarkan perdebatan kalian yang tidak selesai-selesai."
"Itu bukan salah aku, sayang. Dia yang mulai," kata Bastian sambil menunjuk Hendra.
"Lho kok aku? Bukannya kamu yang mulai duluan," kata Hendra tak terima dengan tuduhan itu.
"Ya sudah, kalo kalian mau terus berdebat silahkan. Aku mau pergi dulu," kata Chacha sambil beranjak dari duduknya.
"Sayang, jangan ngambek dong. Udah, aku minta maaf. Yuk, pulang," kata Bastian sambil merangkul bahu Chacha dengan lembut.
"Hendra, kami pulang dulu. Terima kasih banyak udah selalu ada saat kami membutuhkanmu," kata Chacha sebelum meninggalkan kamar itu.
"Sama-sama. Aku senang bisa bantu kamu," kata Hendra sambil memberikan tatapan penuh kasih sayang pada Chacha.
Bastian sebagai laki-laki paham betul maksud dari tatapan Hendra pada Chacha saat ini. Ia merasa kesal. Hatinya di penuhi kecemburuan. Dengan cepat, dia memeluk tubuh Chacha.
"Dia istriku," kata Bastian sambil menatap Hendra dengan tatapan kesal.
"Bastian." Chacha merasa malu sekaligus risih dengan sikap Bastian yang ia kira sangat berlebihan.
"Ya Tuhan, aku tahu dia istrimu. Tidak bolehkah aku melihatnya?"
"Tidak. Yang boleh melihat istriku hanya aku."
"Bastian. Tolong jangan permalukan dirimu di depan semua orang. Malu tahu gak. Mereka pasti mengira kamu terlalu berlebihan," kata Chacha dengan suara kecil lebih mirip sebuah bisikan, namun Hendra masih bisa mendengarkannya.
"Suami kamu memang suka berlebihan alias lebai, Cha. Maklum, sudah sangat amat bucin dia," kata Hendra menggoda, membuat amarah Bastian semakin naik.
"Hendra!"
"Bastian ayo pulang! Jangan berdebat lagi. Sudah cukup untuk hari ini kalian berdebat nya. Hendra, kami pulang dulu," kata Chacha sambil beranjak dari tempatnya.
Bastian mengikuti langkah Chacha dengan cepat. Sedangkan Hendra hanya bisa menatap kepergian Chacha dan Bastian, hingga keduanya hilang dari pandangan.
"Ternyata, cinta mampu mengubah seseorang jauh dari yang aku bayangkan. Sangat mengerikan," kata Hendra bicara pada dirinya sendiri.
"Itulah cinta, Dok. Sebuah rasa yang punya banyak pengaruh. Mampu mengubah yang jahat jadi baik, juga sebaliknya. Mampu mengubah banyak hal lah pokonya," kata suster Hendra.
"Tidak rumit jika kita memiliki hati yang sama."
"Maksud kamu?" tanya Hendra sambil mengalihkan pandangannya.
"Ya, seperti kita sama-sama jatuh cinta contohnya. Kita pasti punya pemikiran yang sama untuk mempertahankan hubungan yang kita jalani. Kita juga pasti melupakan sifat ego yang ada dalam hati."
"Ah, itu rumit bagiku. Aku tidak bisa memahami apa yang kamu katakan. Tapi, sepertinya, kamu punya banyak pengalaman tentang cinta, Mery."
"Tidak juga dokter. Saya hanya pernah jatuh cinta beberapa kali saja. Namun, tidak pernah mempunyai pasangan." Suster Mery menjawab dengan jujur.
"Kenapa?" tanya Hendra mulai terbawa suasana.
"Karena saya seorang suster. Saya sibuk dengan pekerjaan saya. Saya takut kalau pasangan saya nanti tidak bisa mengerti dengan kesibukan saya."
"Lalu? Kamu tahu dari mana soal cinta? Pasangan saja tidak punya. Gimana bisa kamu mengartikan soal cinta. Ada-ada saja kamu ini," kata Hendra sambil tersenyum.
"Dari novel yang saya baca, dong dokter. Tahu tentang cinta itukan gak harus punya pasangan. Baca novel banyak-banyak, tahu deh semua tentang kehidupan percintaan itu bagaimana," kata Mery sambil membalas senyum Hendra.
"Sok tahu kamu ini. Novel itu cuma cerita karangan. Gak akan sama kayak kehidupan nyata," kata Hendra sambil beranjak dari tempatnya.
"Yah, dokter. Tunggu!"
"Apa lagi? Mau ajak saya baca novel biar tahu semua tentang cinta? Maaf sebelumnya, saya gak punya waktu karena saya banyak kerjaan," kata Hendra meledek suster Mery.
"Ih, nggaklah dokter. Saya itu cuma mau menawarkan makan siang bareng nanti. Saya yang traktir."
"Kamu yang traktir?" tanya Hendra sambil menaikan satu alisnya. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Ada cewek ngajak makan, terus dia yang mau bayarin. Kan aneh banget bagi Hendra.
"Iya, saya yang traktir dokter. Kenapa? Ada yang salah ya?"
"Tidak."
"Oh. Jadi bagaimana? Mau nggak? Mau ya, ya, ya," kata Mery sedikit memaksa dengan senyum manis di bibirnya.
"Lihat saja nanti," kata Hendra sambil beranjak.
"Dokter tunggu." Mery mengejar Hendra, lalu menahan langkah Hendra dengan memegang lengan Hendra.
"Dokter kok bilangnya gitu sih? Jika mau bilang mau, jika nggak, ya langsung saja bilang nggak. Jangan buat saya berharap, terus dokternya nanti gak bisa. Kan bikin hati saya kecewa jadinya."
"Ya sudah, nggak."
"Lho, kok nggak sih?"
"Lalu kamu mau aku jawab apa? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalo aku gak boleh buat hatimu berharap?"
"Ya, maksud saya bukan begitu dokter."
"Sudah Mery. Sebaiknya kamu lanjutkan pekerjaan kamu. Jangan ganggu saya karena saya sangat sibuk. Ada banyak pekerjaan yang perlu saya selesaikan," kata Hendra kembali melangkah meninggalkan Mery.
Kali ini, Mery tidak berusaha mengejar. Ia membiarkan Hendra meninggalkannya.
"Ya sudah, Mery. Kali ini kamu gagal, lain kali kamu pasti berhasil. Ayo semangat! Jangan menyerah. Cinta butuh perjuangan yang pastinya akan melelahkan buat hatimu," kata Mery pada dirinya sendiri sambil tersenyum manis.
"Itukan kata-kata dalam novel yang aku baca," kata Mery lagi.
"Ah, masa bodoh lah dengan kata-kata itu. Mau dalam novel kek, dari dunia nyata kek, yang penting aku tidak boleh menyerah. Harus tetap semangat mengejar cintanya dokter Hendra."
"Tapi ... tapi ... aku sakit hati karena langsung di tolak," kata Mery pura-pura mewek.