Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 52


Saat keluar dari ruangan Chacha, Bastian bertemu Dimas tanpa sengaja. Dimas yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat, kini harus mengulang apa yang ia rasakan.


"Bas--Bastian," ucap Dimas gelagapan.


Bastian tidak menanggapi keberadaan Dimas. Ia mengajak Danu untuk tidak menghiraukan keberadaan Dimas. Namun, Dimas yang sangat berharap bisa bertemu dengannya, tidak ingin membuang waktu.


"Bastian tunggu! Beri aku sedikit waktu untuk bicara."


"Aku tidak punya waktu untuk bicara sekarang. Aku ada urusan penting yang harus aku selesaikan terlebih dahulu."


"Bastian, aku mohon. Sebentar saja. Aku sudah mendatangi kantormu, tapi kamu tidak ada di sana. Aku mohon," kata Dimas memelas.


"Sudah aku katakan, aku tidak punya waktu untuk bicara sekarang. Aku ada hal penting yang harus aku selesaikan."


"Apa soal Keke? Kakaknya Chacha yang barusan dibawa para suster?"


"Kemana suster membawa Keke?"


"Ke sana," kata Dimas sambil menunjuk pintu samping rumah sakit.


"Danu, ayo!" ucap Bastian tak sabar lagi.


"Tunggu." Dimas memegang pundak Bastian.


Bastian merasa sangat kesal. Ia menatap Dimas dengan tatapan tajam.


"Lepaskan tanganmu dari pundak ku!"


"Maaf. Aku hanya ingin bertanya, di mana Chacha?"


"Bukan urusan kamu."


"Danu, ayo."


Danu menuruti perintah Bastian, sedangkan Dimas, ia hanya bisa terdiam sambil menatap punggung mereka yang semakin menjauh.


"Hush, sekarang aku harus apa?" tanya Dimas pada dirinya sendiri.


"Apakah aku harus mengikuti Bastian agar bisa bicara dengannya?"


"Tidak. Sepertinya itu adalah ide yang sangat buruk. Jika aku mengikutinya, dia pasti akan semakin marah padaku. Aku harus menemuinya lagi nanti," kata Dimas masih tetap bicara sendiri seperti orang gila.


Ketika Bastian dan Danu sampai ke pintu samping rumah sakit, mobil ambulan baru saja berangkat. Mereka berdua sedikit terlambat. Jasat Keke sudah dibawa pulang oleh Radit menggunakan ambulan.


"Maaf suster, apakah ada pasien yang meninggal atas nama Keke?" tanya Danu pada salah satu suster yang berjalan melewati mereka.


"Ada mas. Jasat nya baru aja dibawa pulang oleh keluarganya."


"Oh, gitu ya. Makasih ya Sus."


Suster itu hanya membalas ucapan terima kasih yang Danu ucapkan dengan sebuah senyum.


"Kita terlambat bos muda. Sekarang, kita harus apa?"


"Susul ambulan itu."


"Ya, aku yakin. Aku tidak bisa percaya jika tidak melihat langsung. Kamu kan tahu bagaimana Keke dan mamanya. Aku takut kalau ini cuma sandiwara untuk menghindari jeratan hukum yang akan dia terima."


"Ya sudah kalo gitu, kita berangkat sekarang," kata Danu sambil membawa Bastian menuju mobil.


Danu berusaha mengejar ambulan yang telah jauh meninggalkan rumah sakit. Tapi, karena ketinggalan terlalu jauh, mereka kehilangan jejak.


"Gimana ini bos muda, kita gak bisa mengejar ambulan nya. Kita kehilangan jejak."


"Langsung ke rumah Raditya saja. Jika benar Keke sudah meninggal, pasti Raditya sedang menyiapkan pemakaman untuk Keke."


"Benar juga. Baik bos, kita langsung ke sana," kata Danu.


Ia menepuk kepalanya. Karena apa yang ia alami baru-baru ini, membuat ia tidak memahami situasi dan sulit untuk berpikir jernih.


Sampai di depan rumah Raditya, mereka melihat ada banyak tetangga yang berdatangan. Hampir semua dari tetangga yang datang menggenakan pakaian hitam. Di pintu masuk terpasang bendera kuning, tanda berduka.


"Bos muda .... "


"Sepertinya benar apa yang kamu katakan, Danu. Dia benar-benar meninggal," kata Bastian memotong perkataan Danu.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang, bos muda? Apakah kita turun dan masuk ke dalam? Atau, kita pulang saja?"


Belum juga Bastian menjawab apa yang Danu katakan, ponsel Bastian tiba-tiba saja berdering. Bastian melihat ponselnya dengan cepat. Ia mencemaskan Chacha ketika ada panggilan masuk ke ponselnya.


Di layar ponsel terpajang nama Hendra dengan jelas. Hati Bastian semakin dilanda kecemasan saat ini. Dengan cepat, ia mengangkat telpon tersebut.


"Ada apa?" tanya Bastian tanpa basa-basi lagi setelah ia menggeser kan bulatan berwarna hijau di layar ponselnya.


"Kamu di mana? Ke rumah sakit sekarang! Chacha udah sadar," kata Hendar langsung pada pokok tujuan ia menelpon Bastian.


"Apa! Benarkah apa yang kamu katakan?"


"Ya benarlah. Mana mungkin aku bercanda soal ini."


"Ya sudah kalo gitu, aku ke sana sekarang."


"Oke."


"Ada apa bos muda?" tanya Danu tak mampu menahan rasa penasaran.


"Kembali ke rumah sakit sekarang. Chacha sudah sadar."


"Benarkah?"


"Ya."


Mendengar apa yang Bastian katakan, Danu segera memutar arah kembali ke rumah sakit. Kebetulan, jalanan yang mereka lewati tidak terlalu ramai sehingga memudahkan Danu menyetir mobil dengan kecepatan lumayan tinggi.


Tidak memakan waktu setengah jam, mereka berdua sudah sampai di depan kamar Chacha. Bastian segera masuk untuk melihat bagaimana keadaan Chacha saat ini.


Ketika ia membuka pintu kamar, ada rasa takut bercampur bahagia, yang membuat Bastian merasakan sesuatu akan jatuh dari pelupuk matanya. Di sana, ia melihat Chacha sedang berbicara dengan Hendra.


"Cha, apa kamu ingat aku?" Pertanyaan pertama yang Bastian tanyakan pada Chacha. Karena, selama Chacha koma, hanya pertanyaan itulah yang selalu muncul dalam benaknya.