Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 95


Bastian pulang dengan wajah bahagia karena puas bisa mengerjai Lisa habis-habisan. Melihat Lisa yang melakukan pekerjaan yang tidak pernah ia lakukan sama sekali, Bastian merasa senang karena Lisa kelihatannya benar-benar tersiksa.


"Ada apa sih, Bas? Tumben pulang kerja wajahmu bahagia begitu?" tanya Chacha merasa ada yang beda dengan Bastian hari ini. Ia yang menyambut Bastian tiap hari, tentu saja tahu apakah Bastian ada perbedaan atau tidak setiap harinya.


"Aku bahagia banget hari ini, Cha."


"Bahagia? Kenapa?" tanya Chacha agak bingung sambil meletakkan gelas teh, ia melihat Bastian dengan tatapan penuh selidik.


"Kamu tahu gak, hari ini Lisa datang ke kantor."


"Oh, jadi kedatangan Lisa ke kantor yang membuat kamu bahagia sampai pulang ke rumah?" tanya Chacha dengan wajah cemburu.


"Eh, aku belum selesai bicara, kamu udah narik kesimpulan aja. Gak kok sayang, bukan itu yang buat aku bahagia," kata Bastian sambil menarik hidung Chacha dengan perasaan gemes.


"Lalu?"


"Aku bahagia karena bisa ngerjain Lisa habis-habisan. Biar dia kapok sekalian datang ke kantor."


"Kamu ngerjain Lisa? Kok bisa? Gimana caranya?"


Bastian menceritakan semua kejadian di kantor tadi siang. Semuanya ia ceritakan tanpa ada yang terlewatkan.


"Gitu ceritanya," kata Bastian sambil terus tersenyum.


"Berani juga dia datang ke kantor kamu, Bas. Tapi, apakah apa yang kamu lakukan itu tidak keterlaluan, Bas?" tanya Chacha agak kasihan. Maklum, hati baik Chacha terlalu besar. Meskipun ia tahu kalau orang itu musuhnya, tapi ia bukanlah orang yang terlalu untuk menyakiti hati seseorang. Jika tidak benar-benar berbuat jahat padanya.


"Keterlaluan apanya, Cha? Tidak ada yang keterlaluan. Apalagi jika mengingat apa yang telah ia lakukan."


"Maksud kamu?"


"Ular yang ada di mansion malam itu, pasti ulah Lisa. Aku sangat yakin dengan firasat ku tentang kejadian malam itu. Lisa adalah dalang di balik kejadian di mansion. Tunggu saja sampai aku berhasil menemukan buktinya, dia pasti akan celaka jika dia benar-benar dalang di balik semua kejadian malam itu."


"Sudah. Jangan dibahas lagi soal itu. Untuk saat ini, lupakan saja dulu apa yang telah terjadi malam itu. Aku tidak ingin mengingatnya lagi."


"Kamu marah aku menyelidiki apa yang terjadi di mansion malam itu, Cha?" tanya Bastian dengan wajah serius.


"Marah? Tidak. Siapa bilang aku marah. Aku hanya tidak ingin mengingat apa yang terjadi malam itu karena aku sangat geli dengan hewan itu. Membicarakan apa yang terjadi malam itu membuat aku ingat dengan hewan yang menjijikan itu. Ah, aku jadi merinding," kata Chacha sambil bergidik ngeri.


"Aku pikir kamu marah. Ya sudah, aku tidak akan membahas hal itu lagi padamu. Sekarang, bagaimana jika kita bahas soal bulan madu kita yang sudah kita rencanakan kemarin."


"Bu--bulan madu?"


"Ya, bulan madu kita yang sempat tertunda. Kita bahas sekarang saja, ya."


"Apa yang perlu di bahas sih, Bas?" tanya Chacha sambil menahan malu.


"Kamu tidak ingin kita pergi bulan madu ya? Jika kamu tidak ingin, aku tidak akan memaksa."


"Aku .... "


"Jangan dipaksakan. Jujur saja, aku tidak ingin kamu merasa tidak nyaman dengan apa yang ingin aku lakukan."


"Kamu yakin tidak ingin memaksakan aku untuk pergi bulan madu?" tanya Chacha dengan nada menggoda.


"Aku tidak menggoda kamu Bastian Hutama. Aku hanya bicara dengan nada yang baik dan benar. Soal kamu yang berusaha bertahan, itu kamu yang tidak mau. Aku tidak pernah melarang."


Chacha menutup mulutnya karena ia sudah mengucapkan kata-kata itu tanpa bisa ia sadari akibatnya. Lampu hijau sudah ia nyalakan. Kini tinggal sopirnya saja bisa melanjutkan perjalanan dengan baik atau malah menunggu lampu hijau berubah warna.


"Kamu memberikan aku sebuah sinyal, Chacha," ucap Bastian yang bergerak semakin mendekati wajahnya ke wajah Chacha.


Chacha terus menghindar sehingga ia yang awalnya duduk tegak, kini jadi miring setengah berbaring di sofa.


"Bastian, ini ruang keluarga, bukan kamar. Kamu jangan lupa hal itu," kata Chacha bicara dengan nada pelan karena dia sedang menahan napasnya agar tetap bisa berhembus dengan normal.


"Kenapa kalau ini bukan kamar? Tidak masalah bukan untuk pemanasan?"


"Jangan main-main kamu, Bastian. Jangan bercanda."


"Aku tidak bercanda. Jika lampu hijau sudah dinyalakan, maka gas harus segera diinjak agar yang belakang tidak terganggu. Apa kamu paham apa yang aku maksudkan? Jalan seterusnya, kita lanjutkan di kamar."


"Bastian. Jangan macam-macam kamu di sini. Apa kamu lupa? Kita tidak tinggal berdua saja. Ada bik Maryam, pak Danang, juga Danu yang kapan saja bisa lewat dari ruang keluarga ini," ucap Chacha setelah berhasil mengumpulkan semua kesadarannya.


"Aku tidak peduli. Biar saja mereka melihat. Aku yakin, mereka pasti akan mengerti."


"Ya Tuhan .... " Chacha benar-benar tidak punya kata-kata lagi untuk menghentikan Bastian yang semakin lama semakin terasa benar-benar mirip singa yang siap menerkamnya. Chacha juga tidak punya tempat untuk menghindar lagi sekarang. Ia hanya bisa pasrah karena ia sudah benar-benar terbaring di sofa dengan Bastian yang berada di batas.


Tinggal beberapa detik saja lagi, bibir Bastian menyentuh bibir Chacha. Sebuah panggilan dari Danu merusak suasana panas yang hampir saja tercipta. Suasana romantis yang rasanya sangat langka bagi Bastian. Tapi Danu dengan mudah merusak suasana langka itu.


"Bos muda, saya .... " Danu menghentikan kata-katanya. Ia yang datang dengan tergesa-gesa, melihat apa yang tidak seharusnya ia lihat.


"Maaf, aku tidak melihatnya," kata Danu segera beranjak dengan cepat meninggalkan ruang keluarga tersebut.


Bastian benar-benar kesal. Momen hangat yang paling berharga, yang selama ini ia nantikan, kembali dirusak oleh orang lain. Rasa kesal membuat suasana tidak nyaman lagi.


"Kurang ajar kamu Danu. Cari mati kamu rupanya," kata Bastian mengutuk Danu.


"Apa yang kamu katakan?" tanya Chacha memastikan apa yang dia dengar barusan.


"Tidak ada. Lupakan saja. Sepertinya, kita memang harus bulan madu agar tidak ada monster yang menganggu, seperti yang ada barusan," kata Bastian sambil mencicipi teh yang ada di atas meja.


"Sudah aku katakan, jangan macam-macam. Kamu nakal, tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan. Inikan ruang keluarga, jelas saja ada yang datang," kata Chacha dengan perasaan yang sangat lega.


"Bilang aja kamu bahagia karena aku gagal mejadikan kamu ratuku untuk selamanya."


"Lah, kamu yang bilang begitu ya, bukan aku," kata Chacha sambil tersenyum bahagia penuh rasa menggoda Bastian.


"Bilang aja kalau kamu benar-benar lega, gak usah pakai acara menggoda seperti itu," kata Bastian sambil mencubit hidung Chacha.


"Ih, apa-apaan sih. Sakit tahu," kata Chacha kesal.


"Itu balasan karena menertawai kekesalanku."


Mereka pun melanjutkan candaan mereka di sana.