Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 37


Makan malam yang penuh kehangatan bisa Chacha rasakan saat makan bersama keluarga Bastian. Ia merasa seperti punya sebuah keluarga yang lengkap saat makan bersama. Hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya selama ia hidup.


Tiba-tiba, buliran bening jatuh perlahan saat ia mengingat kehidupan yang selama ini ia jalani. Tak pernah makan malam bersama mama dan papa sekaligus. Tak pernah melihat mama dan papa bercanda seperti ia melihat mama dan papa Bastian sekarang.


Air mata itu jatuh. Saat itulah, Bastian menyadari kalau Chacha sedang menangis. Bastian yang ingin menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, tiba-tiba berhenti.


"Cha, ada apa?"


Pertanyaan itu membuat mama dan papa juga menghentikan kegiatan makan mereka. Chacha menjadi pusat perhatian sekarang.


"Ng--nggak kok. Gak ada apa-apa," ucap Chacha sambil menghapus air matanya dengan cepat.


"Nak, kamu gak ada papa kok nangis? Kasi tau kami kalau kamu ada masalah," kata papa.


"Iya, Cha. Kamu kenapa sih? Seingat mama, tadi kamu baik-baik aja saat pertama kita mulai makan. Bahkan, kamu kelihatan begitu bahagia," kata mama pula.


"Gak papa kok, Ma, Pa. Aku gak papa kok. Hanya bahagia aja."


"Bahagia kenapa?" tanya Bastian tak percaya.


"Bahagia bisa makan sama kalian semua."


"Ah, masa sih, Cha? Kalo gitu, kamu tinggal di sini aja seterusnya. Kan bisa makan bersama tiap malam," kata papa.


"Ah, nggak. Kitakan punya rumah, Pa," kata Bastian menjawab dengan cepat.


"Mama setuju dengan papa. Tinggal aja di sini. Orang mansion ini sangat besar kok."


"Ya, biar pun besar, aku punya rumah sendiri, Ma, Pa. Gak mungkin aku biarkan rumahku tinggal gak ada penghuninya."


"Bastian, ih. Ngeselin banget. Kok kamu mulu sih yang jawab," kata mama memperlihatkan wajah kesalnya.


"Ya habisnya, mama sama papa ngomong yang nggak-nggak dari tadi."


"Siapa yang ngomong yang nggak-nggak? Mama sama papa itu ngomong yang benar, tau," kata mama semakin kesal.


"Udah-udah. Lanjutin makan kita lagi. Kasihan Chacha tuh. Baru aja ngerasain bahagia makan bersama kita, eh, udah merasa nyesel ngomong bahagia," kata papa.


Chacha hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka semua. Begitu hangat dan sangat senang bercanda. Terasa sekali kehangatan keluarga saat bersama mereka.


______


"Ini semua tentang Dimas yang bos muda ingin aku cari tahu," kata Danu sambil menyerahkan amplop berwarna abu-abu pada Bastian.


Bastian menerima amplop itu dengan cepat. Rasa penasaran sudah memenuhi hatinya. Membuat ia tidak sabar lagi untuk tahu apa isi dari amplop tersebut. Dengan cepat, Bastian membuka isi amplop tersebut.


Selembar kertas dan selembar foto, itulah isi dari amplop tersebut. Bastian memperhatikan foto tersebut dengan seksama. Ia mencoba mengingat di mana ia pernah melihat laki-laki yang berada dalam foto tersebut.


"Aku seperti pernah melihat laki-laki ini. Tapi di mana?" tanya Bastian pada dirinya sendiri.


"Mungkin bos muda pernah melihat dia di dunia maya," kata Danu.


"Dunia maya?" Bastian berusaha mengingat kembali. Karena, dia sepertinya tidak asing dengan laki-laki ini.


"Oh ya, aku pernah melihat dia bersama Keke. Maksudku, fotonya bersama Keke."


"Bos muda masih mengharapkan nona Keke?" Tanpa sadar, pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari mulut Danu. Rasa penasaran yang sulit untuk ia tahan, membuat Danu lupa akan akibat dari pertanyaannya.


"Tidak. Siapa bilang aku masih mengharapkannya?"


"Itu .... "


"Aku tidak sengaja melihatnya," kata Bastian memotong perkataan Danu dengan cepat.


Sebenarnya, ada sedikit rasa lega dalam hati Danu. Akhir-akhir ini, Bastian tidak terlalu galak dan tidak terlalu dingin. Entah apa sebabnya, Bastian sedikit bersahabat sekarang.


"Kamu bisa pergi sekarang," kata Bastian sambil membuka kertas yang terlipat rapi yang baru ia keluarkan dari dalam amplop.


"Bos muda tidak ada pertanyaan lagi?"


"Tidak."


"Baiklah. Saya permisi dulu, bos muda."


"Ya."


Bastian sibuk membaca tulisan yang tertulis di atas kertas putih tersebut. Ada sedikit rasa lega dalam hatinya ketika ia mengetahui apa yang tertulis dalam kertas itu. Rasa penasaran Bastian sekarang telah terobati dengan semua penjelasan yang ada dalam kertas itu.


Sementara itu, Danu yang berjalan menuju kamarnya bertemu Chacha yang terlihat sedang cemas. Chacha sepertinya sedang menunggu seseorang. Dia munda mandir di depan pintu kamar.


"Nona bos," kata Danu pelan.


"Danu."


"Ada apa nona bos? Kelihatannya, nona bos sedang cemas."


"Ngg--nggak kok."


"Oh, ya sudah. Saya permisi mau ke kamar dulu," kata Danu sambil melanjutkan langkah menuju kamarnya.


"Danu." Chacha memanggil membuat langkah Danu terhenti.


"Ya, nona bos."


"Kamu tahu di mana Bastian?"


"Tahu, nona bos."


"Di mana dia?"


"Di ruang kerjanya."


"O--oh."


"Ada apa nona bos?"


"Tidak ada. Aku permisi dulu," kata Chacha sambil buru-buru masuk ke kamarnya.


Chacha merasa malu dengan apa yang ia lakukan barusan. Entah mengapa, dia bisa menanyakan keberadaan Bastian pada Danu. Padahal, inikan rumah Bastian, Bastian tidak akan kenapa-napa. Bastian akan baik-baik saja meskipun dirinya tidak bersama Bastian.


Chacha berbaring di atas sofa yang ada dalam kamar itu. Ia masih memikirkan apa yang baru saja terjadi. Ia merasa begitu malu pada Danu dan juga pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia mencemaskan Bastian ketika Bastian tidak berada di dekatnya.


"Semoga Danu tidak bicara pada Bastian, kalau aku sedang mencemaskan dia."


"Aduh ... mau di taruh mana muka aku kalau Bastian tahu aku sedang mencemaskan nya," kata Chacha sambil mengetuk pelan dahinya.


Chacha masih gugup dan resah. Apalagi saat pintu kamar terbuka, ia begitu deg-degkan. Tidak ada cara lain buat Chacha untuk menghindar selain pura-pura tertidur pulas di atas sofa.


Ketika Bastian melihat Chacha tertidur. Dia tidak membangunkannya. Ia mengambil selimut yang ada di ranjang, lalu menyelimutkan selimut tersebut pada Chacha.


Bastian menatap wajah Chacha untuk beberapa saat lamanya. Ia tersenyum ketika melihat Chacha yang sebenarnya hanya pura-pura tidur untuk menghindari dirinya. Bastian meninggalkan Chacha, lalu berusaha naik ke atas ranjang dengan susah payah.


"Aduh .... "


"Bastian!"