
"Gimana caranya aku tahu di mana rumah Bastian? Chacha juga gak balas-balas lagi pesan dari aku. Jangankan balas, baca aja nggak," kata Dimas bicara pada dirinya sendiri.
"Mama tahu gak ya, di mana rumah Bastian?"
"Tapi, mama kan sedang marahan sama aku. Ah, aku gak peduli. Yang penting aku tanya mama dahulu," kata Dimas sambil melajukan mobil menuju kantor Mayang Indah.
Sampai depan kantor, ia bertemu dengan salah satu karyawannya yang baru saja pulang dari rumah sakit.
"Pak bos."
"Ya, mama ada di dalam?" tanya Dimas langsung.
"Gak ada pak bos."
"Ke mana?"
"Pak bos gak tahu ya, buk bos masuk rumah sakit tadi."
"Apa!? Kenapa bisa masuk rumah sakit?"
"Maaf pak bos, saya juga gak tahu. Mungkin, buk bos terlalu syok dan tidak bisa menahan diri lagi."
"Kok gak ada yang ngabarin aku kalo mama masuk rumah sakit?"
"Maaf pak bos. Semuanya sedang panik. Mungkin lupa. Termasuk saya."
"Ya sudah, gak papa. Di rumah sakit mana mama sekarang?"
"Hendarso."
Dengan cepat, Dimas meninggalkan Matang Indah. Tujuannya adalah rumah sakit Hendarso, tempat di mana mamanya sedang berada sekarang.
______
Sarah dan Keke sedang berada dalam kecemasan. Mereka begitu gelisah memikirkan apa yang harus mereka lakukan sekarang.
Tiba-tiba, dua mobil datang ke rumah mereka. Itu adalah mobil Bastian. Ia datang bersama beberapa polisi.
Semakin gelisah lah Sarah dan Keke saat melihat polisi datang bersama Bastian. Ia yang mengintip dari jendela kamar, langsung kaget bukan kepalang.
"Ma, polisi!" kata Keke sambil sedikit berteriak.
"Diam! Jangan berisik."
"Itu polisi, Ma."
"Mama juga tahu itu polisi. Tapi kamu harus diam. Jangan bikin keributan atau kita langsung ditangkap dan di penjarakan. Apa kamu mau?"
"Ya jelas gak mau lah, Ma. Mama ini gimana sih?"
"Makanya diam."
Polisi itu mengetuk pintu rumah Raditya. Kebetulan, papa Chacha sedang berada di ruang tamu, yang letaknya tak jauh dari pintu masuk.
"Pa--pak polisi? Bastian? Ada apa ini?"
"Di mana Keke dan Sarah?" tanya Bastian dengan emosi.
"Maaf pak Bastian. Tolong jangan emosi. Biarkan kami yang menyelesaikan semua ini," kata salah satu polisi tersebut.
"Ada apa ini pak polisi? Apa yang terjadi?"
"Apakah benar ini rumah pak Raditya? Suami dari Sarah dan papa dari Keke?"
"Ya, benar. Saya Raditya."
"Pak Raditya, kami dapat laporan dari saudara Bastian, kalau istri dan anak anda telah melakukan percobaan pembunuhan dengan korban yang sedang berada di rumah sakit saat ini."
"Apa!? Tidak mungkin. Siapa yang sudah Sarah dan Keke coba bunuh?" tanya Raditya dengan wajah memerah.
"Saudari Chacha."
"Apa!?" Kali ini, Radit benar-benar kaget.
"Bastian, jelaskan padaku apa benar yang polisi katakan? Apa yang terjadi dengan anakku Chacha sekarang? Bagaimana bisa Sarah dan Keke mencoba membunuhnya? Aku tahu Sarah dan Keke membenci Chacha, tapi mereka tidak mungkin melakukan percobaan pembunuhan seperti yang dituduhkan."
"Chacha bukan anak anda. Makanya anda tidak yakin kalau anak dan istri anda telah mencelakai anak kandung anda sendiri," kata Bastian sangat-sangat kesal.
"Apa yang kamu katakan Bastian. Chacha itu anakku. Meskipun aku tidak menjaganya, tapi tetap saja, dia adalah anakku."
"Apa gunanya Chacha punya papa seperti kamu Raditya? Tidak tahu bagaimana anakmu menderita dan tersiksa. Tidak bisa melindunginya dari bahaya. Kau hanya bisa terdiam ketika anakmu di sakiti orang lain. Kau selalu berlindung dengan rasa penyesalan yang kau buat sendiri. Rasa penyesalan yang tak harus kau sesalkan. Sungguh naif kau jadi seorang laki-laki," kata Bastian bicara panjang lebar.
Raditya tidak bisa berkata apa-apa. Ia tidak punya muka untuk menjawab semua perkataan Bastian. Ia malu sekarang. Sangat malu. Bastian benar dengan semua ucapannya. Ia terlalu naif. Hanya karena rasa bersalah yang seharusnya tidak perlu ia rasakan, ia korbankan anaknya sendiri. Anak dari wanita yang ia cintai. Buah cinta mereka.
Mereka sibuk berdebat, tanpa mereka sadari, Keke dan Sarah sudah berada di dalam mobil. Mereka berniat untuk melarikan diri dengan membawa mobil dan juga semua uang mereka. Rencananya, Keke dan Sarah akan menghilang untuk beberapa lama. Sampai kasus percobaan pembunuhan mereka ditutup atau dilupakan.
Sayangnya, bunyi mesin mobil yang Sarah nyalakan terdengar oleh mereka semua yang ada di depan pintu. Sontak saja, perdebatan terhenti dan mereka kini jadi pusat perhatian.
"Pak Bambang, tersangka mencoba melarikan diri," kata salah satu polisi.
"Kejar mereka."
Sarah melajukan mobil dengan kencang. Dua orang polisi sedang mengikuti mereka dari belakang. Sedangkan Bastian, ia semakin kesal dengan Raditya.
"Tangkap dia pak. Dia telah mencoba membuat polisi lalai dan mencoba membantu tersangka untuk kabur," kata Bastian.
"Bastian."
"Sebaiknya, bapak Radit ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan."
"Tapi pak .... "
Mau tidak mau, Raditya harus ikut ke kantor polisi. Ia tidak punya pilihan lain selain menuruti apa yang polisi katakan. Sebenarnya, ia sangat ingin ke rumah sakit untuk melihat Chacha. Tapi, ia yakin, Chacha pasti akan baik-baik saja bersama Bastian.