
Tanpa ia sadari, perlahan, air mata jatuh dari matanya. Danu yang melihat hal itu menjadi serba salah. Ia tidak tahu apa yang telah membuat Chacha menangis.
"Nona bos, kenapa nona bos menangis?" tanya Danu bingung.
"Tidak ada. Aku juga tidak tahu apa sebabnya air mata ini bisa mengalir," ucap Chacha berbohong sambil menyeka air mata tersebut.
"Mustahil air mata bisa jatuh jika tidak ada alasan nona bos. Katakan padaku apa yang telah melukai hati nona bos. Biar aku .... "
"Sudahlah. Jangan dibahas lagi. Lupakan saja apa yang telah terjadi," kata Chacha sambil berjalan cepat mendahului Danu.
'Aku tahu nona bos, kamu menangis pasti karena bos muda. Maafkan aku yang tidak bisa berbuat banyak untukmu. Karena aku hanyalah orang asing yang cuma bisa melihat apa yang terjadi pada dirimu. Sama sekali tidak bisa membantu,' kata Danu dalam hati sambil melihat Chacha yang semakin menjauh darinya.
___
"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah baik-baik saja sekarang?" tanya Chacha mencoba biasa saja. Padahal, ia sedang kecewa.
"Aku udah semakin baik sayang. Apalagi saat melihat wajahmu. Tambah baik aja sekarang," kata Bastian sambil tersenyum.
"Syukurlah kalo gitu."
"Kamu gak usah cemas lagi, ya. Aku sudah tidak apa-apa sekarang." Bastian memegang tangan Chacha dengan lembut.
"Ya." Chacha berucap sambil memperlihatkan senyum manis yang kelihatan sekali dipaksakan.
"Kamu kenapa Cha? Ada yang tidak kena di hati?" tanya Bastian seakan bisa membaca isi hati Chacha.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku cuma ... maksudku, rasa cemas ku padamu masih ada. Makanya agak canggung gini."
"Kamu yakin tidak menyembunyikan sesuatu dari aku?"
"Ya yakinlah. Memang aku tidak menyembunyikan apa-apa dari kamu. Kamu pikir aku menyembunyikan apa?"
Nada kesal itu terdengar sangat jelas. Bastian yang terlahir dengan kepekaan, tentu saja bisa merasakan kalau ada yang tidak beres dengan Chacha.
"Ya sudah kalo gitu. Sebaiknya, kamu istirahat karena sudah larut malam. Ayo naik ke sini," kata Bastian sambil menepuk sisi ranjang yang sedang ia duduki.
"Naik ke situ? Bastian. Kamu ada-ada saja. Mana muat ranjang itu untuk kita berdua."
"Memang tidak muat untuk kita berdua."
"Lalu?"
"Maksudku, kamu naik dan istirahat di ranjang ini. Biar aku yang tidur di sofa itu," kata Bastian sambil menunjuk sofa yang berada tak jauh dari jendela.
"Apa? Kamu yang benar saja. Yang sakit siapa yang kamu suruh tidur di ranjang siapa. Aku tidak sakit Bastian. Aku yang akan tidur di sofa itu. Kamu sakit, tetap berbaring di sana. Jangan ke mana-mana."
"Tapi Cha .... "
"Tolong dengarkan perkataan ku Bastian. Kali ini saja. Tolong hargai aku," kata Chacha sambil menangis.
Sekarang, Bastian sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Penyebab dari kekesalan Chacha padanya ternyata karena Chacha merasa tidak dihargai.
"Aku minta maaf." Bastian berucap sambil mengangkat tangan Chacha, kemudian mencium tangan itu untuk beberapa saat.
"Maafkan aku yang tidak mendengarkan apa yang kamu katakan. Aku janji, ini tidak akan terulang lagi."
"Aku .... "
"Aku tahu apa yang kamu rasakan. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk tidak menghargai mu. Asal kamu tahu, aku benar-benar menyesal telah membuat kamu kecewa dengan sikapku."
"Bastian."
"Aku tahu kamu sedang kesal padaku. Aku bisa merasakan kekesalan itu dari kata-kata yang kamu ucapkan. Aku minta maaf," kata Bastian dengan nada mengiba.
"Lu--lupakan saja. Aku yang terlalu berlebihan."
"Katakan dulu, apa kamu memaafkan aku."
"Kamu tidak salah. Untuk apa minta maaf?"
"Aku salah. Aku merasa sangat bersalah padamu, karena telah membuat kecewa hatimu."
"Sudah-sudah. Jangan terus mengiba seperti itu. Aku maafkan. Tapi, kamu harus janji padaku, kamu tidak akan mengulangi lagi semua itu."
"Ya, aku janji."
Bastian memeluk Chacha yang duduk di sampingnya. Chacha membalas pelukan itu dengan hangat. Dengan begitu, rasa kecewa dalam hati Chacha telah sirna.
Menyadari Danu juga merasakan hal yang sama dengan yang ia rasakan, Hendra merasa tak percaya. Namun, hatinya yakin kalau Danu juga menyukai Chacha dalam diam.
"Kamu suka dia?" tanya Hendra.
Pertanyaan itu membuat Danu terperanjat karena kaget. Ia dengan cepat memutar tubuhnya untuk menghadap Hendra.
"Apa yang dokter katakan!" tanya Danu dalam keadaan panik.
"Sudahlah, tidak perlu menutupi apa yang kamu rasakan. Katakan saja kalau tebakan ku tadi benar adanya."
"Dokter ini ngomong apa? Tidak mungkin saya suka nona bos. Mau mati di tangan bos muda?"
"Jika dia bukan milik Bastian, apa kamu akan mengakui kalau kamu suka dia?"
"Dokter Hendra. Saya tidak pernah menyukai nona bos. Saya hanya kagum saja sama nona bos. Dia benar-benar wanita luar biasa."
"Pujian mu untuk Chacha terlalu berlebihan. Aku bisa mencium aroma kekaguman yang berubah menjadi suka."
"Sudah saya katakan, saya tidak .... "
"Ada apa sih? Kok kalian ribut-ribut di sini?" tanya Chacha sambil membuka pintu kamar tersebut.
Seketika, Danu dan Hendra terdiam. Mereka saling tatapan untuk beberapa saat.
"Kalian ini kenapa sih? Kok main tatap-tatapan. Awas lho, kalian berdua itu sama-sama cowok. Tatap-tatapan, nanti kalo jatuh cinta bisa gawat." Chacha tersenyum sambil menggoda Danu dan Hendra dengan pura-pura bergidik ngeri.
"Kamu ngomong apa sih, Cha. Amit-amit tahu gak. Najis kali aku suka sama dia," kata Hendra ikut-ikutan ngeri.
"Heh, siapa juga yang mau suka sama dokter. Ampun ya Tuhan, tolong jangan. Dalam mimpi pun aku gak rela." Danu tak mau kalah.
"Sayang, ada apa sih? Kok makin rame aja jadinya," kata Bastian yang merasa penasaran namun tidak bisa ikut melihat karena Chacha tidak mengizinkan ia turun dari ranjang.
"Ini Bas, Danu sama Hendra pacaran."
"Apa!"
"Nona bos (Chacha)." Keduanya berucap serentak.
"Aku bercanda." Chacha tersenyum menyeringai sambil meninggalkan Hendra dan Danu.
"Ini semua karena dokter," ucap Danu dengan nada sangat kesal.
"Aku? Kenapa kamu menyalahkan aku?"
"Ya kalo bukan karena dokter yang berisik, kita tidak akan ketahuan."
"Kita? Enak aja. Kamu! Lagian, kalo bukan karena kamu yang ngomongnya terlalu kencang, kita tidak akan ketahuan Chacha."
"Lho, kok dokter malah menyalahkan aku sih?"
"Habisnya?"
"Ya Tuhan ... kalian kok masih pacaran di depan kamar ini sih?" tanya Chacha sambil membuka pintu kamar itu kembali.
"Nona bos (Chacha)." Mereka kembali berucap serentak. Wajah kaget tergambar dengan jelas di wajah keduanya.
"Duh, kalo udah jodoh ya. Ngomong juga bersamaan. Namakan sehati." Chacha kembali menggoda Danu dan Hendra.
"Cahcha!" Hendra memanggil dengan nada tinggi.
"Woi! Bisa tenang tidak! Ini rumah sakit!" kata salah satu keluarga dari pasien yang merasa terganggu.
"Dokter Hendra. Bisakah tenang sedikit? Pasien yang berada di kamar sebelah merasa terganggu," kata suster yang baru keluar dari kamar belakang mereka.
"Maaf-maaf. Aku minta maaf sudah membuat keributan malam-malam begini," kata Hendra sangat tidak enak hati.
"Nama aja dokter, tapi bikin rusuh," kata keluarga pasien tersebut sambil masuk kembali ke kamar rawat inap keluarganya.
Chacha yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Ternyata, jika sudah kesal, dokter juga bisa bikin rusuh ya," kata Chacha.
"Dokter juga manusia kali Cha," kata Hendra.