Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 47


Di perjalanan pulang, Bastian tiba-tiba ingat apa yang Danu katakan. Ia mempertimbangkan perkataan Danu dengan matang. Hatinya membenarkan apa yang Danu katakan.


Tiba-tiba, ia melihat bunga mawar merah di toko pinggir jalan yang mereka lewati. Ia kembali teringat saat mereka bersama di taman waktu itu. Chacha mengatakan kalau dia sangat suka mawar merah. Karena mawar merah adalah mawar yang paling cerah.


"Danu, berhenti sebentar!"


Danu pun menghentikan mobil setelah Bastian memerintahkan untuk berhenti.


"Ada apa bos muda?" tanya Danu ketika mobil sudah ia hentikan.


"Kamu lihat toko itu." Bastian mengarahkan telunjuknya kearah toko yang telah mereka lewati. Danu mengikuti arah telunjuk Bastian.


"Ya bos muda, saya melihatnya. Ada apa dengan toko itu? Bukannya itu toko bunga?"


"Ya, itu memang toko bunga. Saya ingin kamu membelikan satu ikat bunga mawar untuk saya."


"Mawar putih bos muda?" tanya Danu. Ia tahu kalo Bastian sangat suka dengan mawar putih.


"Bukan. Saya mau mawar merah."


"Bukankah bos muda suka mawar putih, ya?"


"Danu, lakukan saja apa yang saya katakan. Kapan sih kamu ini melakukan tugas tanpa protes," kata Bastian kesal.


"Ya bos muda. Maaf. Saya akan belikan bunganya sekarang."


"Ya."


Danu bergegas meninggalkan Bastian untuk membeli mawar merah yang Bastian inginkan. Meskipun ada tanda tanya yang tidak terjawab di hatinya, tapi ia tidak bisa menanyakan pada Bastian. Karena saat ini, Bastian sedang tidak ingin bercanda dengannya.


Beberapa menit kemudian, Danu kembali dengan membawa seikat mawar merah yang sangat indah di tangannya. Bau harum bunga itu sangat menenangkan hati.


"Bos muda, ini bunganya," kata Danu sambil menyerahkan bunga tersebut.


Bastian menerima bunga tersebut dengan wajah berseri-seri. Ia memikirkan wajah Chacha ketika ia menyerahkan bunga itu pada Chacha nantinya.


"Jalan sekarang!" kata Bastian sambil terus melihat mawar itu.


"Baik bos muda."


'Punya siapa bunga itu? Apakah punya nona bos? Apa benar bos muda akan menyerahkan bunga itu pada nona bos? Kalau dipikir-pikir .... ah, sudahlah. Apa hubungannya dengan aku?' kata Danu bicara dalam hatinya.


Sementara itu, Cahcha sedang menyiapkan makanan di meja makan. Ia dan bik Maryam sedang menunggu kepulangan Danu dan Bastian.


Tiba-tiba, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Ia melihat pesan itu dengan cepat. Tertulis nama Keke di sana. Ia awalnya tidak ingin membuka, tapi setelah pesan datang untuk yang kedua kali, ia pun membuka dengan malas.


*Cha, papa sakit. Badannya sangat panas. Dia gak mau makan juga gak mau dibawa ke dokter. Kami sudah membujuknya untuk berobat, tapi dia tidak mau. Dia terus memanggil-manggil nama kamu. Hanya nama kamu yang ia ingat.*


Begitulah pesan singkat yang Keke kirimkan. Pesan itu membuat Chacha sangat kaget. Tangannya terasa bergetar saat tahu kalau papanya sedang sakit.


Walaupun papa tidak bisa membela nasibnya selama ini, tapi tetap saja, dia adalah orang tua Chacha. Orang tua satu-satunya yang Chacha punya sekarang. Yang harus Chacha hormati dan sayangi meski tidak bisa melindunginya.


"Ada apa, nona bos?" tanya bik Maryam ketika melihat ekspresi wajah Chacha yang tiba-tiba berubah cemas.


"Papa, bik. Papa sakit," ucap Chacha sambil menahan air mata.


"Sakit? Sakit apa nona bos?"


"Nona bos gak nunggu bos muda pulang dulu? Biar sekalian bos muda bisa nemanin nona bos pergi."


"Gak bisa bik. Aku harus pergi sekarang. Kasihan papa jika harus menunggu aku terlalu lama."


"Tapi nona bos, apa yang akan saya katakan pada bos muda kalo dia pulang dan nanya, di mana nona bos?"


"Katakan saja yang sebenarnya," kata Chacha sambil masuk ke kamar.


Bik Maryam tidak bisa menjawab lagi, ia hanya melihat apa yang Chacha lakukan. Cahcha mengambil tasnya dan segera berjalan dengan cepat.


"Aku pergi dulu bik."


"Iya nona bos. Hati-hati."


"Ya bik."


Untung saja, gojek yang ia pesan datang dengan cepat, membuat Cahacha tidak perlu menunggu lama lagi. Ia segera berangkat bersama bang ojol yang sudah ada di depan gerbang rumah.


"Ke mana mbak?" tanya bang ojol tersebut.


"Aduh, tunggu sebentar ya mas."


"Ya mbak."


Chacha lupa menanyakan di mana papanya saat ini. Ia dengan cepat mengirim pesan kepada Keke untuk menanyakan keberadaan papanya.


*Di mana papa sekarang?*


Keke membalas pesan Chacha dengan cepat. Agaknya, pesan dari Chacha lah yang Keke tunggu sedari tadi.


*Di rumah. Kapan kamu datang?*


*Oh. Aku datang sekarang.*


Chacha pun mengatakan di mana alamat yang harus mereka tuju pada bang ojol tersebut.


Di rumah, Keke dan Sarah sedang tertawa bahagia ketika mengetahui kalau Chacha akan datang sekarang.


"Jadi, dia benar-benar akan datang sekarang, Ke?" tanya Sarah memastikan.


"Ya dong, Ma. Mama lihat pesan yang ia kirimkan barusan. Kayaknya, rencana kita akan berjalan dengan lancar deh, Ma."


"Ya dong. Rencana kita harus berhasil. Kalo perlu, jangan bikin dia celaka aja. Bikin dia tewas sekalian."


"Mama benar. Biar gak ada lagi kutu busuk yang membuat kita risih."


"Bukan hanya itu, kamu juga bisa kembali mengatur rencana mencuri hati Bastian lagi."


"Iyah, mama benar banget."


"Udah-udah, ayok! Kita harus siap-siap sekarang. Jangan sampai rencana kita gagal."


"Ya, Ma. Ayok!"