
"Halo, bos muda," ucap seseorang yang berada di seberang sana.
"Lula. Apa kamu sibuk sekarang?"
"Tidak bos muda. Saya hanya sedang memeriksa file-file saja. Ada apa ya, bos muda?"
"Bisa bantu aku menyiapkan sesuatu, Lula?"
"Bisa bos muda. Katakan saja apa yang perlu saya lakukan."
Bastian pun mengatakan apa yang ia inginkan pada Lula. Lula mendengarkan dengan seksama semua perkataan Bastian lewat telepon tersebut.
"Baik bos muda. Serahkan semuanya pada saya. Saya akan menyiapkan semuanya. Sesuai dengan apa yang bos muda harapkan."
Dengan begitu, Bastian pun mengakhiri panggilannya dengan Lula. Ia tersenyum memikirkan rencana makan malam dengan Chacha di tempat romantis, penuh dengan kehangatan.
Sementara itu, Lula yang berada di kantor cabang Hutama, bergegas meninggalkan ruangannya untuk mengerjakan apa yang Bastian inginkan.
"Karena ini adalah sebuah kejutan, aku hanya bisa mencari tahu secara diam-diam saja apa yang nona bos itu sukai. Hmm ... gimana ya, cara mencari tahu apa yang nona Chcaha sukai? Aku kan tidak dekat dengan dia. Jangankan dekat, ketemu saja baru sekali," kata Lula sambil terus memikirkan apa yang akan dia lakukan.
"Oke, mulai dengan baju," kata Lula sambil memarkirkan mobilnya di salah satu butik.
Lula masuk ke dalam butik tersebut. Penjaga butik menyambutnya dengan sangat ramah. Ia di antar ke tempat baju wanita yang bermerek. Semuanya terlihat begitu bagus di mata Lula. Ia sampai bingung mau pilih yang mana.
"Karena ini makan malam sepasang suami istri, bajunya juga harus terlihat menarik di mata bos muda. Tapi, aku harus pilih yang mana, ya? Aku tidak tahu apa selera nona Chacha itu. Takutnya, bukan malah bikin dia senang. Eh, malah bikin dia risih lagi," kata Lula sambil memilih-milih baju tersebut.
"Ah, iya. Aku harus tanya mas Danu. Mungkin dia tahu apa yang nona Chacha sukai. Diakan tinggal satu rumah dengan nona Chacha. Barangkali aja dia pernah lihat atau bahkan tahu apa selera nona Chacha ini."
Ia menghubungi Danu. Kebetulan, saat itu Danu sedang mengutak-atik ponselnya sehingga saat Lula menelpon, langsung Danu angkat.
"Halo mas Danu," kata Lula sedikit grogi.
"Ada apa, La?"
"Aku cuma mau tanya, apa mas Danu tahu baju seperti apa yang nona Chacha sukai? Dari segi warna, juga merek atau apa sajalah. Yang penting kesukaan nona Chacha gitu."
"Kamu ngapain nanya baju kesukaan nona bos?" tanya Danu merasa aneh.
"Katakan saja kalo mas Danu tahu. Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan. Karena aku masih punya banyak pekerjaan yang harus aku urus."
"Bilang dulu alasannya baru aku kasih tahu."
"Aku dapat tugas dari bos muda. Jangan tanyakan tugas apa. Karena aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya," kata Lula dengan nada kesal.
"Baiklah. Setahu aku, nona bos suka sesuatu yang sederhana. Tapi, aku juga tidak tahu pasti apa yang dia sukai. Nah, kalo warna, dia suka warna hijau. Terserah kamu mau warna hijau apa. Yang penting warna hijau."
"Oke," kata Lula sambil memutuskan sambungan teleponnya.
"Hei .... "
"Dasar kamu Lula," kata Danu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalo bertanya aja cepat. Udah punya jawaban, ngomong makasih aja nggak." Danu kembali menatap layar ponselnya sambil tersenyum memikirkan Lula.
Bastian yang kebetulan lewat, mendengarkan apa yang Danu katakan. Ia juga melihat dengan jelas ekspresi wajah bahagia yang Danu perlihatkan setelah usai berbicara dengan Lula.
Bastian tersenyum. Niat menggoda Danu tiba-tiba saja muncul dalam benaknya.
Danu kaget bukan kepalang. Ia yang awalnya duduk, tiba-tiba terbangun sambil salah tingkah ketika tahu kalau dirinya sedang di perhatikan oleh Bastian.
"Bos--bos muda. Kapan bos muda ada di sana?"
"Sejak tadi."
"Apa ... apa yang bos muda lakukan? Maksud saya, bos muda .... "
'Aduh, apa yang mau aku katakan pada bos muda? Semoga saja dia tidak mendengarkan apa yang aku bicarakan dengan Lula. Kalo nggak, dia pasti terus-terusan menggoda aku,' kata Danu dalam hati sambil menahan wajah malu.
"Aku hanya lewat. Kamu kenapa jadi panik begitu? Memangnya, kamu bikin kesalahan apa? Perasaan, barusan kamu bahagia banget senyam-senyum senyam-senyum sambil melihat layar ponselmu," kata Bastian sambil berjalan mendekat.
"Itu .... "
"Sudah. Tidak perlu mencari alasan. Kalo suka, langsung bilang aja. Nanti kalo nunggu lama-lama, dia di rebut orang lain, baru tahu kamu," kata Bastian sambil beranjak meninggalkan Danu.
Danu tidak punya kata-kata untuk menjawab. Ia hanya bisa nyengir kuda sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Tapi, perlahan, benaknya memikirkan apa yang Bastian katakan. Ia membenarkan perkataan Bastian tersebut. Tapi, nyalinya masih kecil untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Lula. Soalnya, ia masih belum yakin dengan apa yang ia rasakan sekarang.
Masih ada banyak hal yang harus ia pertimbangkan sebelum ia mengungkapkan perasaannya pada Lula. Yang jelas, bukan sekarang.
Sementara itu, Lula yang sudah tahu kesukaan Chacha seperti apa. Ia segera memilih sebuah dress hijau dengan renda di dada. Dress ini memang terlihat sederhana, namun, terlihat sangat menarik juga elegan di pandang.
"Dress yang cantik. Aku yakin kalau nona Chacha yang memakai dress ini, pasti semakin cantik nantinya. Semoga saja dia menyukai apa yang aku pilih," kata Lula sambil menyerahkan dress itu pada pelayan butik.
Ketika dia menoleh ke kiri. Ia melihat sepasang gaun pengantin yang sangat indah. Lula terpesona saat melihat gaun itu. Rasa ingin memiliki pun timbul dalam hatinya.
Tiba-tiba, ia membayangkan dirinya yang sedang menggenakan gaun pengantin tersebut. Dan mempelai laki-lakinya adalah Danu.
"Ah, apa yang aku pikirkan," kata Lula cepat-cepat menyadarkan dirinya sendiri dengan mengetuk dahinya dengan pelan.
"Kenapa mbak? Ada yang salah?" tanya pelayan butik yang sedari tadi berada di sampingnya.
"Tidak ada," ucap Lula sambil nyengir tidak enak.
"Ini gaun terbaru di butik ini mbak. Gaun yang di jahit sendiri oleh pemilik butik ini." Pelayan itu menjelaskan pada Lula, seakan tahu apa yang Lula pikirkan saat ini.
"Oh, berapa harganya?" tanya Lula hanya iseng saja.
Pelayan itu menyebutkan harga yang terbilang nol nya sangat banyak bagi Lula. Yang membuat Lula mengubur niatnya untuk memakai gaun tersebut.
"Wuah, bisa buat makan lima adik panti selama setahun harga satu gaun ini ternyata," kata Lula sambil melihat gaun itu.
"Apa, mbak?" tanya pelayan itu dengan wajah tak mengerti.
"Eh, tidak ada," kata Lula sambil nyengir kuda dengan wajah sedikit canggung.
"Oh. Apakah tidak ada yang lain lagi, mbak?" tanya pelayan itu dengan sopan.
"Tidak. Saya hanya mau dress ini saja."
"Baiklah. Tunggu sebentar," pelayan itu membawa dress bersamanya. Sedangkan Lula, menunggu di tak jauh dari pintu masuk.