Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 121


Makan siang berakhir dengan kebahagiaan. Meskipun keluarga Hutama selaku pemilik perusahaan duduk di meja yang terpisah, namun semuanya tetap bahagia. Karena, meski terpisah, namun mereka tetap berada di ruangan yang sama.


Setelah makan siang, Herman langsung membagikan bonus berupa uang tambahan gaji pada semua karyawan. Ini adalah tradisi perusahaan Hutama setiap tahunnya. Selalu membagi-bagikan bonus agar karyawan merasa bahagia telah bekerja sama dengan Hutama Grup.


Setelah selesai membagikan bonus, juga mengucapkan kata terima kasih pada semua yang telah bekerja sama dengan Hutama Grup. Acara makan siang pun usai. Merekapun meninggalkan ruangan itu.


Lisa yang kesal berusaha kembali mencari cara agar bisa mendekati Bastian. Saat melihat Bastian berjalan menuju pintu ruangan sendirian, ia berjalan cepat, lalu ia berpura-pura terjatuh. Lisa berharap, Bastian menyambutnya.


"Mas."


"Aduh!"


Sayangnya, bukan Bastian yang menyabut Lisa, melainkan, lantai keramik yang keras. Lisa terduduk di atas lantai tersebut.


"Ada apa sayang?" tanya Bastian pada Chacha.


"Nggak. Aku cuma mau nanya, lihat ponsel aku gak?"


"Mungkin dalam tas kamu, Yank," ucap Bastian sambil berjalan mendekati Chacha. Sedangkan Lisa, ia abaikan begitu saja.


"Aduh! Aduh, sakitnya!" kata Lisa berteriak sangat kesal.


"Lisa. Kamu ngapain duduk di situ? Apa kamu terlalu capek? Sehingga harus duduk di atas lantai?" tanya Merlin dengan senyum mengejek.


"Aku jatuh tante. Bukan sengaja duduk. Ini ... aduh, pergelangan kaki aku rasanya terkilir, sakit sekali," kata Lisa sambil memegang kakinya.


"Sayang, pinggang aku sakit sekali rasanya. Apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Chacha dengan nada sangat manja.


"Ayok! Apa perlu aku gendong kamu ke mobilnya?" tanya Bastian.


"Gak usah. Aku masih bisa jalan kok, sayang."


"Kamu yakin, yank? Aku takut kalo kamu kenapa-napa. Aku gendong aja, ya."


"Gak usah. Malu, ada mama."


"Aduh, gak perlu malu sama mama. Anggap aja mama gak tahu," kata Merlin.


"Gak ah, Ma. Ini di kantor. Nanti dikira lebai lagi sama orang-orang," kata Chacha.


"Hei! Mau sampai kapan kalian reunian, hah! Kalian gak punya hati nurani sama sekali apa? Gak lihat aku jatuh. Gak bisa jalan. Apa gak ada niat sedikitpun buat bantuin aku?" tanya Lisa sangat kesal.


"Aduh, kasihan nya. Kok bisa jatuh sih, Lisa? Apa kamu jalannya gak pakai mata?" tanya mama Merlin.


"Tante cukup! Aku jatoh bukannya kalian bantuin, malah kalian tertawakan. Kalian benar-benar gak punya hati."


"Oh ya. Kalo gitu, sebaiknya kami tinggalkan saja kamu sendiri di sini. Itu baru gak punya hati yang sesungguh. Ayo Cha, kita keluar dari sini."


"Bastian, kamu gak kasihan sama istrimu. Ayo cepat bawa dia keluar. Biar dia bisa istirahat segera. Nanti malam, kita punya acara lain lagi soalnya. Gak mungkin dong kalo menantuku gak datang."


"Ya, Ma."


"Ayo sayang, kita pulang sekarang."


Mereka benar-benar keluar tanpa memperdulikan Lisa. Lisa yang melihat hal itu, bagaikan gunung merapi yang sedang meletus, begitulah amarahnya saat ini. Ia sangat-sangat kesal juga tidak percaya dengan hal yang baru saja terjadi.


"Aaaa .... " Lisa mengertakkan giginya keras karena menahan amarah itu. Tangannya ia genggam kuat-kuat karena terlalu sakit hati.


"Awas kalian semua. Akan aku buat kalian membayar apa yang telah kalian lakukan padaku hari ini. Lihat saja bagaimana aku membalas kalian semua. Terutama, kamu Chacha."


"Kamu ingin membalas aku?" tanya Chacha yang tiba-tiba berada di depan pintu.


"Kamu yakin mampu?" tanya Chacha lagi sambil mendekat.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Lisa sedikit kaget.


"Aku ke sini hanya untuk memperingatkan kamu, kalo kamu manjat, jangan tinggi-tinggi. Soalnya, kalo jatuh terasa sangat sakit. Apalagi di bawah banyak tunggul. Lebih sakit lagi jika kamu jatuh, Lisa."


"Cih, kamu lihat saja apa yang akan aku lakukan pada keluargamu. Tunggu sama pembalasanku."


"Akan aku tunggu. Kita lihat, sedahsyat apa pembalasan yang kamu janjikan itu," kata Chacha sambil tersenyum lalu beranjak dari jongkoknya.


Chacha meninggalkan ruangan itu. Lisa menatap punggung Chacha dengan tatapan penuh amarah juga kebencian. Ia benar-benar bertekad akan membuat perempuan itu merasa sakit yang ia rasakan saat ini.


Sambil meninggalkan ruangan itu, Chacha tersenyum memikirkan apa yang baru saja terjadi. Ia sudah mencium gelagat mencurigakan dari Lisa saat mereka ingin meninggalkan ruangan tersebut. Makanya, dia memanggil Bastian saat melihat Lisa akan menjatuhkan tubuhnya. Dengan begitu, Lisa tidak bisa menjatuhkan diri pada Bastian, melainkan, pada lantai yang keras.


'Aku sudah banyak makan asam garam seperti itu, Lisa. Aku sudah melewati masa-masa sulit saat tersakiti sebelum aku menikah dengan Bastian. Jadi, jangan salahkan aku jika kamu harus menderita karena rasa kecewa akibat rencana mu yang gagal,' kata dalam hati sambil terus tersenyum.


"Bahagia banget kayaknya. Habis ngapain?" tanya Bastian saat melihat Chacha yang baru saja kembali dengan senyum manis.


"Rahasia. Mas gak boleh tahu."


"Ih, kok gitu sih. Bagi-bagi dong, kan mas juga ingin merasakan kebahagiaan itu."


"Mas gak boleh tahu karena ini kebahagiaan untuk aku sendiri, gak boleh bagi-bagi."


"Ya udah deh kalo gitu. Apa kata permaisuri ku sajalah. Yang penting, permaisuri ku bahagia," kata Bastian pasrah tak ingin memaksa.


Merekapun meninggalkan kantor segera. Sementara Lisa, ia bangun dari jatuhnya dengan perasaan yang masih sangat amat kesal. Namun, bukan Lisa namanya kalau dia menyerah. Kini, ia membangkitkan semangatnya lagi.


Lisa berusaha menyusun rencana untuk acara nanti malam. Tekadnya sudah sangat bulat. Bagaimanapun caranya, nanti malam dia harus berhasil menjebak Bastian. Dengan begitu, dialah yang akan jadi pemenangnya. Bukan Chacha atau keluarga Hutama.


Lisa benar-benar mempersiapkan semuanya dengan baik. Ia berdandan dengan dandanan terbaik. Ia menggunakan make-up terbaik dari salon terkenal. Baju yang sangat mahal agar terlihat cantik.


"Jika ini tidak berhasil. Maka aku akan gunakan rencana kedua," kata Lisa sebelum ia meninggalkan apartemennya.


Lisa pun menjalankan mobil dengan senyum manis. Berharap, malam ini akan jadi malam terbaik untuk dirinya. Berdoa semoga keberuntungan segera memihak padanya.


Saat ia sampai di hotel tempat di mana acara ulang tahun akan di adakan, Bastian juga keluarga Hutama yang lainnya masih belum datang. Ia keluar dari mobil dengan langkah sangat anggun.


Usahanya untuk membuat mata terkagum padanya, ternyata tidak sia-sia. Banyak orang yang memuji kecantikan Lisa malam ini. Banyak laki-laki menatapnya dengan tatapan kagum.


Hal itu mampu membuat Lisa merasa terbang, melayang di udara karena usahanya membuat mata laki-laki tidak menoleh darinya ternyata berhasil. Kini, yang ia harus lakukan sekarang hanyalah, menunggu kedatangan Bastian dan membuat Bastian merasa terpesona dengan penampilannya malam ini.