
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Chacha. Saat itu, dia sedang berada dalam mobil pulang ke rumah Bastian.
*Cha, aku tunggu kamu di cafe biasa. Jam dua siang nanti. Jangan lupa datang.*
Begitulah bunyi pesan singkat yang datang dari nomor baru. Chacha melihat pesan itu dengan seksama. Ia merasa penasaran dengan pengirim pesan tersebut. Dia pun memilih untuk membalas pesan tersebut.
*Siapa ini?*
*Ini aku, Cha.*
*Aku? Aku siapa?*
*Dimas.*
*Masa lupa sama aku.*
*Cepat banget kamu melupakan aku*
Pesan masuk bertubi-tubi. Setelah tahu itu Dimas, Chacha tidak membalas lagi. Ia mengabaikan saja pesan tersebut.
Karena diabaikan Chacha, Dimas memilih untuk menghubungi Chacha. Panggilan pertama, Chacha masih mengabaikan. Tapi, Dimas tidak mudah menyerah. Ia terus menelpon Chacha berulang kali sampai akhirnya, Chacha mau tidak mau harus mengangkat panggilan tersebut.
"Halo."
"Cha, akhirnya, kamu angkat juga."
"Ada apa?" tanya Chacha kesal.
"Aku butuh bicara empat mata sama kamu. Aku tunggu kamu di cafe biasa kita bertemu. Jangan lupa datang, ya."
"Aku gak bisa."
"Lho, kenapa? Apa kamu tidak diizinkan suamimu keluar rumah? Tenang saja, aku akan membantu kamu untuk keluar dari masalahmu."
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Chacha kebingungan.
"Cha, aku itu sudah tahu semuanya. Kamu tidak perlu menyembunyikan tentang kehidupan rumah tanggamu dari aku."
"Apa yang kamu tahu tentang kehidupan rumah tangga aku? Jangan sok tahu kamu ya."
"Cha, jangan pura-pura lagi. Aku tahu kamu menikah karena terpaksa. Aku akan bantu kamu lepas dari pernikahan yang tidak kamu inginkan ini, Chacha. Kamu tenang aja."
"Tahu dari mana kamu?" tanya Chacha sedikit kaget. Tapi pada akhirnya, dia merasa wajar kalo Dimas tahu. Keke pasti sudah bercerita pada Dimas soal pernikahannya.
"Tidak penting aku tahu dari mana Chacha. Yang penting adalah, aku akan terima kamu apa adanya. Aku akan bantu kamu lari dari suami yang tidak kamu cintai itu. Kita akan menata kembali kehidupan kita di tempat yang baru. Jauh dari kota ini," kata Dimas bicara dengan nada mantap.
"Dimas-Dimas. Semakin lama, omongan mu semakin kacau ya. Ya, aku memang menikah karena terpaksa. Menggantikan Keke menikah dengan kekasihnya. Tapi, kamu salah jika kamu mengatakan kalau aku bersedia lari dari Bastian."
"Kenapa? Apa karena dia laki-laki paling kaya? Apa karena dia adalah pewaris tunggal keluarga terkaya di kota ini? Samai-sampai, kamu rela tersiksa hidup bersama laki-laki lumpuh itu?"
"Diam! Kamu tidak berhak menghina suamiku. Asal kamu tahu, aku bertahan dengan Bastian bukan karena hartanya. Tapi karena .... "
"Karena apa?" tanya Dimas dengan cepat.
"Karena kamu bisa menikmati harta laki-laki lumpuh itu?" tanya Dimas lagi.
"Diam kamu Dimas. Aku bertahan karena aku cinta dia."
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas, aku akan tetap bertahan sampai Bastian sendiri yang meminta aku pergi dari hidupnya, baru aku akan pergi."
Selesai bicara seperti itu, Chacha mematikan panggilan tanpa salam lagi. Ia begitu kesal dengan Dimas yang bicara seenaknya saja.
"Apa lagi yang Keke rencanakan sekarang?" tanya Chacha pada dirinya sendiri.
Ia lupa kalau dirinya sedang bersama sopir pribadi mama Merlin. Ia bicara keras karena kesal dengan sesuka hati. Sopir itu menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk ia pahami.
Chacha memaksakan senyum pada sang sopir. Untungnya, sopir itu masih waras. Sopir itu membalas senyum Chacha dan pura-pura kalo dia tidak mendengarkan apa yang Chacha bicarakan barusan.
"Maa--maaf pak Joko. Saya sudah bikin pak Joko merasa gak nyaman."
"Gak papa nona bos. Jangan khawatir. Anggap aja saya gak dengar apa yang nona bos katakan."
"He ... iya." Chacha memaksakan senyum padahal hatinya sedang tidak ingin senyum.
"Jangan dipikirkan nona bos. Lupakan saja apa yang sudah terjadi."
Chacha hanya membalas ucapan pak Joko dengan senyum saja. Senyum tidak enak karena ia terpaksa untuk senyum.
Sementara itu, Bastian sedang berada di ruang kerjanya di kantor. Ia sibuk dengan laptop di depannya. Tapi, bukan untuk bekerja. Melainkan, ia sibuk memantau Chacha dari laptop.
Senyum manis terukir indah di bibir Bastian setelah mendengarkan percakapan Cahcha dengan Dimas. Meskipun ia merasa kesal pada awalnya, namun, akhirnya, Bastian merasa sangat bahagia karena satu kalimat yang Chacha ucapkan. Hati Bastian berbunga-bunga ketika mendengarkan Chacha mengatakan kalau Chacha mencintainya pada Dimas.
Ya, Bastian bisa membaca pesan masuk dan juga bisa mendengarkan pembicaraan Chacha dengan siapapun Chacha bicara di ponselnya. Karena, Bastian sudah menyadap ponsel Chacha sebelumnya. Ia ingin tahu apa saja yang Chacha bicarakan di telpon. Dengan siapapun. Terutama, dengan laki-laki yang bernama Dimas.
"Cari gara-gara kamu Dimas," kata Bastian sambil menutup laptopnya. Lalu, Bastian menghubungi Danu lewat telpon kantor.
"Keruangan ku sekarang!"
"Baik bos muda," kata Danu dari seberang sana.
Tidak butuh waktu lama untuk Danu datang keruangan Bastian. Karena ruang kerja Danu berada di depan ruang kerja Bastian.
"Ada apa bos muda?"
"Benarkah Dimas anak dari Nyonya Mayang? Pemimpin perusahaan Mayang Indah?" tanya Bastian sambil melihat file-file yang ada di atas mejanya.
"Dimas yang mana bos muda?"
"Dimas yang kenal dengan Chacha."
"Iya bos muda. Menurut hasil penyelidikan begitu. Dimas Dirga adalah anak dari Mayang Lestari. Pemimpin perusahaan Mayang Indah."
"Bagus kalo gitu."
"Bagus apanya bos muda?" tanya Danu tak mengerti.
"Periksa kontrak yang berhubungan dengan Mayang Indah," kata Bastian tanpa menjawab pertanyaan Danu.
"Baik bos muda."
Barulah Danu mengerti dengan maksud dari kata bagus yang Bastian katakan tadi. Bastian pasti akan mempersulit perusahaan Mayang Indah karena Dimas berani membuat masalah dengannya.