Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 40


Danu meninggalkan ruangan Bastian segera. Ia tidak membuang waktu lagi, langsung mengerjakan apa yang Bastian perintahkan padanya.


Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Danu kembali keruangan Bastian sambil membawa beberapa file dan laptopnya. Sebelum masuk, Danu tidak lupa mengetuk pintu ruangan tersebut.


"Masuk," ucap Bastian yang sudah menunggu kedatangan Danu.


"Bagaimana?" tanya Bastian terlihat tak sabar lagi ingin tahu apa hasil dari tugas yang ia berikan pada Danu.


"Mayang Indah punya tiga kontrak kerja dengan kita bos muda. Salah satunya, dipimpin oleh Dimas Dirga sendiri."


"Bagus kalo gitu. Putuskan kontrak dengan Mayang Indah sekarang juga."


"Semuanya bos muda?"


"Ya, semuanya. Kalo bisa, beli saham Mayang Indah secepat mungkin."


"Baik bos muda. Akan saya lakukan seperti yang bos muda katakan."


"Ya. Aku tunggu kabar baik dari kamu Danu," kata Bastian sambil tersenyum manis.


Meskipun merasa aneh dengan sikap Bastian, Danu tetap menjalankan perintah yang Bastian berikan padanya. Sedikit yang ia pahami adalah, ini pasti ada hubungannya dengan Chacha. Bastian pasti sudah mulai peduli dengan istrinya sekarang.


Ketika Danu keluar dari ruangan Bastian, ia dikagetkan dengan kedatangan Keke yang tiba-tiba muncul di depan matanya.


"Kamu!"


"Minggir, aku mau masuk," ucap Keke mengabaikan Danu.


"Tidak bisa," ucap Danu menghalangi Keke dengan menarik gagang pintu agar Keke tidak bisa membukanya.


"Hei ... siapa kamu yang berani-beraninya melarang aku masuk ke dalam. Apa kamu lupa .... "


"Apa!" Potong Danu dengan cepat dan keras. Sampai-sampai, seisi kantor melihat ke arah mereka.


"Kalian lanjut kerja!" kata Danu saat mengetahui kalau dirinya dan Keke sekarang jadi pusat perhatian.


Dengan cepat, semua karyawan yang melihat Danu segera melanjutkan pekerjaan mereka. Omongan Danu seperti omongan Bastian yang kedua bagi semua karyawan yang bekerja di kantor ini.


Mereka menghormati Danu, karena Danu adalah tangan kanan kepercayaan Bastian. Tidak ada jabatan yang lebih tinggi di kantor ini melebihi jabatan Danu. Pantas kalau ia dihormati para bawahan.


Melihat Danu yang sibuk dengan karyawan, Keke tidak membuang kesempatan. Dia dengan cepat membuka pintu lalu masuk ke dalam.


"Hei ... tunggu!" kata Danu berusaha mengejar Keke.


"Bastian .... " ucap Keke sambil berlari menghampiri Bastian.


Sayangnya, Danu datang sangat tepat waktu. Ia dengan cepat menahan langkah Keke yang sudah bersiap-siap untuk memeluk Bastian.


"Kamu apa-apaan sih," ucap Keke sangat kesal sambil berusaha melepaskan tangannya.


"Bas, tolong aku. Berani banget dia sama aku," ucap Keke dengan nada manja.


Bastian yang kaget, hanya bisa diam saja. Setelah beberapa saat, baru ia bisa berkata-kata.


"Kok bisa dia lolos sih."


"Buang dia dari hadapanku sekarang juga. Aku tidak ingin melihatnya."


"Baik bos muda."


"Bas ... apa kamu bilang? Kok kamu tega sekali bicara seperti itu padaku." Air mata buaya pun mengalir di pipi Keke.


"Bas, beri aku waktu untuk bicara. Aku hanya ingin minta maaf sama kamu."


"Lepaskan dia," kata Bastian pada Danu.


"Tapi bos muda .... "


"Lakukan saja apa yang aku katakan."


"Baik bos muda," kata Danu dengan kesal.


"Aku ingin bicara empat mata sama kamu, Bas."


"Kamu bisa keluar sekarang, Danu," kata Bastian.


"Tapi bos .... "


Bastian melihat Danu dengan tatapan tajam. Danu paham apa arti dati tatapan tersebut. Dengan berat hati, ia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Bastian.


Melihat Danu yang diusir keluar, Keke tersenyum jahat. Ia merasa kalau dirinya adalah pemenang sekarang.


'Sudah aku duga. Bastian pasti masih menginginkan aku. Terlihat dari dia yang masih mau mendengarkan omongan aku dari pada anak buah kepercayaannya itu. Lihat saja, aku pasti bisa mengambil hati Bastian lagi. Chacha, kamu harus rela hidup susah kembali,' kata Keke dalam hati sambil membayangkan apa yang akan ia lakukan jika ia berhasil membuat Bastian kembali jadi miliknya.


"Katakan apa yang mau kamu katakan. Waktumu tidak banyak," kata Bastian menyadarkan Keke kalau dia masih berkhayal.


"Bas, aku benar-benar minta maaf atas apa yang mama dan papaku lakukan padamu."


"Apa yang mama dan papa kamu lakukan? Aku tidak mengerti."


"Maafkan mereka yang telah menukar aku dengan Chacha. Asal kamu tahu, aku sangat kecewa dan terluka dengan apa yang orang tuaku lakukan. Mereka tidak mengerti bagaimana perasaanku padamu. Aku sangat ... sangat mencintai kamu. Maafkan aku atas kesalahan ini," kata Keke berusaha meyakinkan Bastian dengan bicara panjang lebar sambil mengucurkan air mata yang sangat deras.


"Oh. Bukankah itu semua kamu yang minta?"


"Apa! Siapa bilang aku yang minta? Tidak. Ini semua Chacha yang minta. Ia tidak ingin aku menikah dengan kamu karena ia bilang, aku sakit dan tidak bisa merawat kamu. Katanya, kalo sama-sama sakit, tidak mungkin bisa bersatu."


"Oh ya, aku lupa bertanya tentang sakit mu. Bukankah kamu sakit dan sedang sekarat? Kok kamu masih bisa jalan ke kantorku."


"Itu ... aku sekarang sedang dalam pemulihan. Mama berhasil menemukan dokter yang mampu mengobati sakit ku yang sangat parah ini."


"Oh, bagus kalo gitu."


"Bas, aku sekarang sudah hampir sembuh. Aku berharap kamu memberikan aku kesempatan kedua, karena aku tidak bisa hidup tanpa kamu Bastian."


"Apa? Ha ha ha ... kamu lucu sekali Keke. Kamu tidak bisa hidup tanpa aku, tapi kamu malah membaik saat kamu tidak bersamaku. Itu tandanya, aku dan kamu tidak berjodoh."


"Bas, kamu tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan saat aku tahu mama dan papa telah menikahkan kamu dengan Chacha. Aku begitu rapuh dan sangat sakit hati. Hatiku hancur Bastian."


"Oh, benarkah apa yang kamu katakan ini?"