
Pembicaraan para karyawan itu didengar oleh Dimas. Dia yang baru saja datang, merasa kaget dengan apa yang ia dengar barusan.
"Kalian ngomong apa barusan?" tanya Dimas pada karyawannya.
"Maaf pak bos. Apa pak bos tidak tahu kalau Hutama grup telah membatalkan kontrak kerjasama dengan perusahaan kita?"
"Apa!? Kok bisa?" tanya Dimas sangat kaget dan cemas.
"Kami juga tidak tahu pak bos. Hutama grup tiba-tiba saja membatalkan kontrak secara sepihak tanpa ada perundingan terlebih dahulu."
"Tidak mungkin. Ini pasti ada yang tidak beres. Di mana mama?"
"Buk bos pergi, pak bos."
"Pergi ke mana? Apa mama sudah tahu soal ini?"
"Sudah pak bos. Buk bos sekarang sedang menuju kantor Hutama grup. Mungkin ingin bertanya tentang apa penyebab mereka membatalkan kontrak kerjasama dengan kita."
"Ya sudah kalo gitu. Kalian lanjut kerja lagi. Jangan pikirkan masalah perusahaan. Masalah perusahaan biar aku dan mama yang memikirkannya."
"Baik pak bos."
Dimas masuk keruangan nya. Ia berharap mamanya bisa menyelesaikan masalah besar yang baru saja terjadi.
Sementara itu, Mayang dan Lula baru saja sampai di kantor Bastian. Mereka di sambut oleh satpam yang sedang berjaga di depan pintu.
"Maaf buk, ada perlu apa? Mau bertemu siapa?"
"Saya Mayang. Saya ingin bertemu dengan bos muda kalian. Biarkan saya masuk."
"Apa sudah bikin janji buk Mayang?"
"Belum. Saya datang mendadak, tidak sempat buat janji dengan bos muda kalian."
"Maaf buk Mayang. Jika tidak bikin janji, saya tidak bisa mengizinkan kalian masuk."
"Apa!? Saya .... "
Dengan cepat Lula menenangkan Mayang. Ia tahu jika Mayang marah dengan satpam ini, maka, peluang mereka bertemu Bastian dan membicarakan soal kontrak itu pasti tambah sulit dan rumit.
"Buk bos tenang dulu. Jangan marah-marah. Ingat, kita datang ke sini ada perlunya," ucap Lula bicara kecil pada Mayang.
"Tidak bisa. Apa kamu tahu aku sangat emosi saat ini? Kepala ini rasanya mau meledak. Di tambah apa yang baru saja satpam itu katakan. Omongannya membuat darahku semakin mendidih saja."
"Kalo gitu, biar aku yang bicara dengan satpam itu. Buk bos tunggu di sini dan bersabar saja."
"Aku harap kamu berhasil dan tidak akan mengecewakan aku. Sudah cukup apa yang aku dapatkan hari ini. Aku tidak siap untuk dapat masalah lagi."
"Buk bos tenang saja. Doakan saja aku berhasil. Aku pergi dulu," kata Lula sambil berjalan menjauhi Mayang.
Lula pun menemui satpam itu lagi. Ia bicara sangat lembut dan sopan. Ia berusaha membujuk satpam agar mengizinkan mereka masuk ke dalam.
"Maaf mbak, kantor ini punya prosedur. Saya tidak berani melanggar aturan kantor ini. Apalagi yang ingin kalian temui itu bos muda. Lebih tidak berani lagi saya, mbak."
"Tolong dong mas. Saya benar-benar harus bertemu dengan bos muda kalian. Ada hal yang sangat penting yang harus saya bicarakan dengan bos kuda kalian soalnya."
Satpam itu tetap pada pendiriannya. Tidak membiarkan Lula dan Mayang masuk ke dalam karena mereka tidak membuat janji dengan Bastian.
"Ada apa ini?" tanya Danu yang sedari tadi sudah melihat Lula memelas agar diizinkan masuk ke dalam.
"Ini mas, mbak ini minta diizinkan masuk. Dia ingin bertemu bos muda katanya."
"Lalu?" tanya Danu lagi.
"Dia belum buat janji dengan bos muda. Saya terpaksa menahannya di sini."
"Mas tolong izinkan saya masuk ya. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan bos muda kalian," kata Lula sambil memelas pada Danu.
"Dari perusaan mana?"
"Mayang Indah. Itu bos saya, buk Mayang," kata Lula sambil melihat Mayang yang sedang menunggu di depan mobil.
"Oh. Saya tanya bos muda dulu. Mau bertemu atau tidak. Tunggu sebentar," kata Danu sambil mengeluarkan ponselnya.
"Iya mas. Tolong ya, saya mas. Saya sangat ingin ketemu bos muda kalian."
Danu pun menghubungi Bastian dengan ponselnya. Tidak menunggu waktu lama, Bastian menjawab panggilan Danu tersebut.
"Ada apa, Danu?"
"Bos muda, di depan ada buk Mayang bersama asistennya. Mereka sangat ingin bertemu dengan bos muda. Izinkan masuk atau abaikan saja?"
"Biarkan mereka masuk. Karena aku memang sedang menunggu kedatangan mereka."
"Baik bos muda."
Panggilan itu pun berakhir. Lula yang menunggu dengan tak sabar, dengan cepat bertanya pada Bastian.
"Bagaimana mas? Apa kami boleh masuk?"
"Boleh. Bos muda mengizinkan kalian masuk. Bos muda sedang menunggu di ruangannya."
"Baik mas. Terima kasih banyak atas bantuannya."
"Sama-sama."
Danu pun meninggalkan Lula. Ia masuk ke dalam duluan. Sedangkan Lula, ia menemui Mayang yang sedang menunggunya sejak tadi.
"Bagaimana?" tanya Mayang harap-harap cemas.
"Kita diizinkan masuk buk bos."
"Kalau gitu, ayo!"
"Baik buk bos."
Lula dan Mayang berjalan beriringan masuk ke dalam. Mereka di antar salah satu pegawai Bastian menuju ruangan Bastian.