Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 104


Minarti menatap Lisa dengan tatapan tak percaya. Ia melihat Lisa dengan tatapan tajam, mencari kebenaran di balik kata-kata Lisa barusan.


"Kenapa? Kamu pikir aku bohong? Apa kamu lupa? Aku ini adalah mantan pacarnya bos muda kalian itu. Hanya saja, bos muda kalian itu tidak mau mengakui aku di depan kalian semua. Karena dia takut istrinya yang galak itu tahu, kalau dia memperkerjakan aku di kantornya. Dia sengaja memperlakukan aku tidak adil di kantor ini. Hanya untuk menunjukkan pada kalian, kalau dia sudah melupakan aku. Padahal tidak," kata Lisa panjang lebar.


"Aduh, aku kecoplosan," kata Lisa sambil menutup mulutnya.


"Tolong jangan bilang pada siapa-siapa apa yang aku katakan barusan, mbak Minarti. Aku mohon." Lisa mengangkat tangannya sepatas dada. Dengan wajah memohon.


"Sudah. Aku tetap tidak percaya apa yang kamu katakan. Aku tidak bisa kamu tipu, Lisa."


"Ya sudah kalo kamu tidak percaya. Lihat saja ponselmu. Pasti Bastian sudah mengirim pesan pada kamu sebelumnya," kata Lisa sangat santai.


Untuk menghilangkan rasa penasaran dalam hatinya, Minarti melakukan apa yang Lisa katakan. Benar saja, ada pesan singkat dari nomor baru yang mengatakan kalau dia adalah Bastian.


'Aku sudah antisipasi tadi. Aku tahu kalau kamu tidak akan percaya apa yang aku katakan. Untung saja kamu sangat lalai menjaga barang-barang mu. Jadi, dengan mudah aku curi nomor ponsel kamu,' kata Lisa dalam hati, sambil senyum-senyum memikirkan kepintarannya.


"Gimana? Aku gak bohong, bukan?"


"Aku tetap tidak percaya, sebelum aku tahu kalau ini benar-benar nomornya bos muda," kata Minarti masih tetap pada pendiriannya.


"Ya sudah, terserah kamu saja. Jika Bastian gagal dalam pertemuan besok, itu bukan salah aku, tapi salah kamu," kata Lisa santai sambil beranjak dari tempatnya.


Minarti mulai goyah. Ia saat ini berada dalam dilema antara iya atau tidak. Ia sudah mencoba menghubungi nomor itu, tapi tidak diangkat sama sekali. Kecurigaannya pada Lisa tiba-tiba menghilang, karena Lisa terlalu santai sekarang.


"Lisa tunggu!"


Lisa menghentikan langkah kakinya. Sebelum ia berbalik, dia tersenyum penuh kemenangan terlebih dahulu.


"Ada apa?"


"Aku akan ikut kamu masuk ke dalam."


"Terserah kamu," kata Lisa pura-pura biasa saja.


Mereka berdua berjalan mendekati ruangan Bastian. Namun, baru juga beberapa langkah berjalan, seseorang menghentikan langkah mereka berdua.


"Tunggu!"


Keduanya kaget. Mereka sama-sama menghentikan langkah kaki mereka dan segera berbalik melihat kebelakang.


Di sana, seorang laki-laki sedang berdiri tegak. Menatap keduanya dengan tatapan meminta penjelasan.


"Pak Haris." Minarti memanggil laki-laki itu.


"Mau ke mana kalian?"


"Mau ke ruangan bos muda, pak Haris.".


"Ngapain?"


"Mau ngapain terserah kita dong. Kaki-kaki kita," kata Lisa kesal.


"Ya, kaki kalian. Tapi ini kantor Hutama grup, bukan jalan raya yang seenak kamu mau pergi ke mana kamu mau."


"Kamu kurang ajar banget ternyata. Kamu tidak tahu siapa aku? Aku .... "


"Cukup. Siapa kamu tidak penting bagi aku. Selagi kamu berada di kantor Hutama, berarti kamu berada dalam lingkungan yang aku jaga. Apalagi sekarang kamu masih memakai seragam petugas kebersihan milik Hutama grup. Itu tandanya, kamu adalah karyawan Hutama grup yang berada dalam pengawasan aku."


"Kamu itu gak punya kerjaan lain apa selain ngurusin orang lain. Sudah! Jangan coba-coba campuri urusan aku."


"Ee ... pak Haris. Kami mau ke ruangan bos muda bukan tidak ada alasan. Kami mau menggambil file yang bos muda tinggalkan di dalam. Gak lama kok," kata Minarti tidak bisa membiarkan perdebatan itu terus berlanjut.


"Mbak Minar percaya apa yang dia katakan?" tanya Haris pada Minarti.


"Ya .... "


"Kalo ragu, jangan diteruskan mbak. Dari pada mbak dapat masalah nantinya," kata Haris meyakinkan Minarti.


"Tapi pak Haris, bagaimana jika ini benar-benar perintah dari bos muda?"


"Tidak ada perintah dari bos muda untuk mengambil file di ruangannya. Kalaupun ada file yang tertinggal di ruangan bos muda, bukan kita yang disuruh mengambilnya. Tapi pak Danu yang akan datang sendiri buat mengambil file tersebut. Bos muda itu orang yang selalu berhati-hati. Jadi, mbak Minar bisa ambil kesimpulan dari apa yang saya katakan."


Minarti memikirkan apa yang Haris katakan. Benaknya membenarkan perkataan Haris barusan. Ia tahu seperti apa Bastian. Dia orang yang sangat waspada. Apalagi pada file-file perusahaan. Selain Danu, tidak ada tangan kakan yang sangat dia percaya untuk mengurus masalah pekerjaannya.


'Aduh, dasar sial. Hampir aja aku bisa mengambil semua file-file penting perusahaan Hutama grup yang terkenal ini. Dengan begitu, aku bisa mengancam Bastian menggunakan file-file itu. Kalau saja dia tidak datang, rencana ku pasti sudah berhasil,' kata Lisa dalam hati.


"Lisa." Minarti menatap Lisa dengan tatapan tajam.


"Apa!" Lisa membalas tatapan tajam Minarti dengan tatapan tajam pula.


"Sudah mbak Minar. Sebaiknya, segera tinggalkan kantor ini karena sekarang sudah tidak ada jam kerja lagi, bukan?" tanya Haris menjadi penengah.


"Tapi, dia harus di beri pelajaran agar tidak mengulangi kesalahannya lagi, pak Haris."


"Eh, kesalahan apa, hah! Aku gak bikin kesalahan sama sekali," kata Lisa membalas Minarti.


"Kamu!" Minarti sudah bersiap-siap ingin memukul Lisa.


"Tahan mbak Minar!"


"Pak satpam! Pak satpam tolong!"


Dua satpam yang ditugaskan menjaga perusahaan untuk shift malam datang mendengar panggilan Haris.


"Ada apa, pak Haris?"


"Tolong bawa dia keluar dari kantor ini! Jam kerja sudah tidak ada lagi," kata Haris sambil menunjuk Lisa.


Mendengar perintah itu, salah satu satpam dengan cepat menghampiri Lisa.


"Eh-eh, apa-apaan ini. Lepaskan aku! Aku bisa keluar dari kantor ini sendiri," kata Lisa berontak.


Satpam itu tidak mendengarkan apa yang Lisa katakan. Mereka lebih mendengarkan Haris karena Haris punya wewenang lebih tinggi dari mereka di kantor ini.


Setelah Lisa menghilang dari pandangan, Haris mengajak Minarti segera menyusul, untuk meninggalkan kantor Hutama grup. Minarti mengikuti apa yang Haris katakan.


***


Lisa yang pulang membawa rasa kesal juga lelah, tanpa pikir panjang, langsung masuk ke dalam setelah membuka pintu apartemen tanpa berpikir apa yang sedang menanti dirinya di dalam.


"Huh, dasar pengacau. Ada berapa banyak pengacau sih di sisi Bastian. Aku heran melihatnya. Hampir saja aku berhasil, ada saja pengacau yang datang. Sudah si nenek sihir Minarti itu tidak habis-habisnya mengerjai aku.


Sampai tubuhku ini rasanya pegal semua akibat ulah dia," kata Lisa sambil menghempaskan bokongnya ke sofa.


"Jika aku berhasil tadi, bukan hanya Bastian yang aku taklukan. Tapi semuanya," kata Lisa lagi.