Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 102


Beberapa menit kemudian, pelayan itu datang dengan membawakan paper bag di tangannya. Lalu menyerahkan paper bag pada Lula. Setelah mengucapkan kata terima kasih, Lula pun meninggalkan butik tersebut.


"Dress-nya sudah aku dapatkan. Sekarang, tinggal minta pak sopir untuk mengantarkan dress ini pada nona Chacha," kata Lula sambil mengangkat paper bag itu setinggi kepala.


"Huh, jangan senang dulu, Lula. Masih banyak lagi yang harus kamu kerjakan," kata Lula pada dirinya sendiri.


Lula melanjutkan perjalanan untuk menyiapkan tempat makan malam romantis seperti yang Bastian inginkan. Sementara itu, dress yang ia belikan, ia serahkan pada sopirnya untuk diantar pada Cahcah.


____


Hendra sedang menatap satu persatu dokter yang ada di depannya. Ia sudah tahu siapa yang ia cari, namun, sengaja ingin membuat semuanya merasakan betapa ia kesal saat ini.


"Maaf dokter Hendra, ada perlu apa dokter meminta kami berkumpul di ruangan dokter? Apa kita sedang mengalami hal buruk untuk di selesaikan?" tanya dokter Fahri itu sendiri.


"Bukan sekedar hal buruk. Tapi sangat amat buruk yang harus aku selesaikan. Itu sebabnya aku kumpulkan kalian di sini."


"Hal buruk apa, Dok?" tanya yang lainnya.


"Ini menyangkut harga diri kita sebagai dokter. Rumah sakit ini mempekerjakan dokter secara profesional. Dengan gaji yang, ya lumayan tinggilah kalo aku pikir-pikir. Tapi, masih ada yang merasa tidak cukup juga dengan gaji setinggi itu," kata Hendra memulai sasaran kata-kata untuk dokter Fahri.


"Maksud dokter Hendra?"


"Ada yang menyalah gunakan jabatannya sebagai dokter untuk membohongi orang lain. Tentunya karena ia merasa tidak cukup dengan gajinya yang tinggi itu."


Ruangan itu seketika ramai. Dokter-dokter sibuk berbisik-bisik satu dengan yang lain. Mereka menebak siapa orang yang sudah berani menipu dengan jabatan dokter yang ia miliki.


Sementara dokter lain pada sibuk menebak, dokter Fahri hanya bisa diam menahan rasa gelisah dalam hati. Ia benar-benar merasa takut akan apa yang telah ia perbuatkan.


Uang memang banyak, tapi, tidak bisa ia nilai dengan rasa tidak tenang yang selama ini ia tangung. Ia hidup dalam ketakutan akhir-akhir ini. Dan, hari ini, apa yang ia takutkan ternyata terjadi juga. Ia tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri dari situasi sulit ini. Keringat dingin membasahi tubuh dokter Fahri.


"Sekarang, aku akan temukan orang itu, lalu aku serahkan ke pihak berwajib untuk mempertangungjawabkan apa yang telah ia perbuat. Aku tidak main-main dengan apa yang aku katakan."


Mendengar ancaman itu, dokter Fahri semakin ketakutan. Ia tidak bisa menahan diri lagi. Ide jahat tiba-tiba melintas dalam otaknya.


'Aku tidak ingin di tangkap polisi. Aku tidak ingin di penjara,' kata dokter Fahri dalam hati.


"Ee ... dokter Hendra. Saya permisi dulu. Saya mau ke kamar mandi, saya sudah tidak tahan lagi," kata Fahri sambil bangun dari duduknya.


"Dokter Fahri mau ke kamar mandi?" tanya Hendra.


"Ya, Dok." Fahri menjawab cepat.


Hendra berjalan mendekati Fahri. Ia memperhatikan Fahri dengan seksama. Semakin Hendra memperhatikan dirinya, Fahri semakin merasa gugup. Ketakutan pun tergambar dengan sangat jelas di wajah Fahri.


"Dokter Fahri kenapa? Sakit?"


"Ng--nggak kok, dok. Saya nggak sakit."


"Gak sakit kok keringatan?"


"Itu ... itu karena saya sedang sakit perut," kata Fahri beralasan.


"Katanya gak sakit? Tapi, ini kok sakit?


"Itu ... anu .... "


Fahri benar-benar tidak tahu apa yang ingin ia katakan. Ia bingung. Tiba-tiba saja, ia kehabisan kata-kata untuk diucapkan. Karena ketakutan sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Semuanya boleh pergi. Sedangkan dokter Fahri, tetap tinggal karena ada yang mau saya bicarakan."


"Sa--saya?" tanya Fahri semakin takut.


"Ya. Dokter Fahri. Memangnya ada dokter yang namanya Fahri lagi di sini?" tanya Hendra agak kesal.


"Nanti juga dokter Fahri akan tahu."


Setelah semua dokter meninggalkan ruangan Hendra, dokter Fahri semakin merasa gugup saja. Ia takut untuk mempertangungjawabkan kesalahan yang telah ia buat.


"Duduk, dokter Fahri!"


"Ba--baik, Dok," kata Fahri sambil melakukan apa yang Hendra katakan.


"Dokter pasti sudah tahu apa alasan saya meminta dokter tinggal, bukan?"


"Saya tidak tahu dokter." Fahri berusaha untuk tenang.


"Jangan pura-pura tidak tahu dokter Fahri. Rumah sakit ini dilengkapi dengan cctv. Apa yang dokter di sini lakukan, semua akan terekam. Aku harap, dokter Fahri tidak melupakan beberapa kamera cctv yang di pasang di tempat tersembunyi di rumah sakit ini."


"Tapi, saya tidak melakukan kesalahan apa-apa, Dok. Saya tidak merasa melakukan kesalahan."


"Oh, begitu kah? Apa berbohong dan menerima suap itu tidak salah? Saya sudah tahu semuanya dokter Fahri. Tidak perlu berpura-pura lagi. Saya kumpulkan semua dokter di rumah sakit ini karena saya ingin mereka tahu, kalau saya tidak ingin dokter yang bekerja di rumah sakit ini melakukan hal serupa di kemudian hari."


"Saya .... " Dokter Fahri tertunduk. Wajahnya terlihat sangat pucat akibat rasa takut yang ada dalam hatinya. Keringat dingin semakin mengucur deras.


"Dokter Fahri tidak perlu takut seperti itu. Saya tidak akan menyerahkan dokter Fahri pada pihak yang berwajib, jika dokter Fahri mau memperbaiki kesalahan yang dokter buat."


"Maksud dokter?" tanya Fahri dengan wajah cerah penuh semangat. Ia seperti sedang mendapatkan sebuah cahaya di tengah-tengah kegelapan.


"Lakukan apa yang saya katakan!"


"Apa itu dokter?"


Hendra mengatakan sesuatu pada Fahri, dan Fahri menyetujui apa yang Hendra katakan. Setelah sepakat untuk menjalankan rencana yang Hendra katakan, Fahri pun meninggalkan ruangan Hendra dengan wajah cerah penuh kelegaan.


___


Sopir yang Lula perintahkan mengantar dress pada Chacha telah pun sampai ke rumah. Kebetulan, Chacha sedang berada di taman saat sopir itu mengantarkan dress yang sudah Lula paketkan dengan rapi.


"Apakah ini rumah bos muda Bastian?" tanya sopir itu pada Chacha.


"Ya. Saya istrinya."


"Oh, kebetulan sekali. Saya ingin mengantarkan sebuah paket untuk istri bos muda Bastian. Ini dia," kata sopir itu sambil menyerahkan box yang ia bawa.


"Apa ini? Eh, maksud saya, dari siapa?" tanya Chacha sambil menerima paket tersebut.


"Dari bos muda Bastian nona."


"Dari Bastian? Tumben dia kirimkan aku paket seperti ini. Mimpi apa Bastian tadi malam, ya?" tanya Chacha agak membuat sopir itu bingung dengan apa yang Chacha tanyakan.


"Ya sudah. Saya pamit dulu nona. Karena saya masih ada tugas lain."


"Ya, terima kasih," ucap Chacha sambil terus memperhatikan box itu.


Bik Maryam yang datang dari dalam rumah, bingung melihat nona bosnya sedang memperhatikan sebuah box. Kebingungan itu menimbulkan hasrat untuk bertanya.


"Ada apa nona bos? Apa itu?"


"Entahlah, aku juga tidak tau. Kata pengirim tadi, ini, Bastian yang mengirimkannya untuk aku. Tapi aku tidak tahu apa maksudnya."


"Buka saja nona bos. Barangkali, bos muda ingin memberikan kejutan untuk nona bos."


"Iya juga ya bik. Aku kok jadi bego gini. Cuma memperhatikan box terus dari tadi," kata Chacha sambil menepuk kepalanya pelan.