Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 96


Selesai makan malam, Bastian meminta Danu untuk ke ruang kerjanya. Danu yang merasa bersalah atas apa yang terjadi tadi sore, sebenarnya sangat engan untuk pergi, tapi dia tidak bisa menolak. Jika ia menolak, Bastian pasti akan merasa lebih kesal lagi padanya.


Danu sampai ke depan pintu ruangan. Tangannya sangat berat untuk mengetuk pintu ruangan tersebut. Bik Maryam yang tidak sengaja melihat Danu terdiam di depan pintu ruang kerja bos muda mereka, langsung menegur Danu.


"Mas Danu kok malah diam saja di sini?" tanya Bik Maryam. Pertanyaan itu membuat Danu kaget.


"Ya Tuhan, bik Maryam. Bikin kaget aja," kata Danu sambil mengelus dadanya.


"Kenapa gak langsung di ketuk aja pintunya. Bibi lihat, bos muda udah masuk ke dalam tadi."


"Benar bik. Lagi mikir sesuatu soalnya," kata Danu beralasan.


"Ada yang mas Danu lupakan?" tanya bik Maryam antusias.


"Kayaknya sih iya."


"Coba diingat pelan-pelan. Mana tahu teringat kembali apa yang mas Danu lupakan."


"Ya bik. Ini lagi berusaha mengingat."


"Ya sudah kalo gitu, bibi permisi dulu ya. Ada yang masih belum selesai bibi kerjakan," kata bik Maryam sambil beranjak.


"Ya, bik."


Belum juga rasa kaget Danu menghilang, Bastian sudah memanggil Danu dari dalam ruangan. Panggilan itu membuat darah panik Danu tiba-tiba naik.


"Danu, masuk!"


"Ya ... ya bos muda," kata Danu sambil berusaha menenangkan hatinya.


Danu masuk dengan langkah kaki yang seperti diseret-seret. Ia berpikir kalau Bastian pasti akan memarahinya karena sudah merusak momen berharga yang hampir saja Bastian dapatkan tadi sore.


"Ad--ada apa bos muda memanggil saya?" tanya Danu sedikit gelagapan.


"Kamu kenapa? Apa ada masalah sampai kelihatannya begitu takut untuk masuk ke ruangan ini?"


"Tidak. Saya tidak ada masalah apa-apa kok bos muda."


"Lalu? Mengapa kamu terdiam di sana tadi? Mengapa tidak langsung masuk saja?"


"Saya ... saya .... "


"Ah, sudahlah. Lupakan saja. Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Tapi, bukan itu yang ingin aku bahas sekarang. Aku minta kamu datang ke sini untuk menanyakan sesuatu padamu."


"Menanyakan sesuatu bos muda? Tentang apa?" tanya Danu dengan perasaan yang sangat lega.


"Tentang kamu yang mencari aku tadi sore. Semoga kamu tidak membuat aku kecewa dengan memberikan alasan yang tepat, menyangkut panggilan mu tadi sore itu," kata Bastian sambil memperlihatkan wajah galak untuk menakut-nakuti Danu.


"Itu ... saya hanya ingin menanyakan soal perempuan yang bernama Lisa, yang datang ke kantor tadi siang bos muda. Maafkan saya sudah menganggu waktu bos muda bersama nona bos," ucap Danu dengan nada sangat menyesal.


"Oh, cuma itu?"


"Iy--iya bos muda. Cuma itu saja."


"Aku pikir ada hal yang sangat penting apa sampai kamu mencari aku."


"Belum ada bos muda. Hanya itu yang ingin saya bicarakan pada bos muda tadi sore."


'Ternyata cuma ingin menanyakan apa perlu aku mencarinya tadi sore. Aku pikir dia akan memarahi aku karena merusak waktu berharganya bersama nona bos. Huh, ternyata, bos muda memang benar-benar berubah setelah menikah dengan nona bos. Jadi lebih sabaran, juga tidak suka marah-marah. Bagus deh kalo bos muda seperti ini. Dia jadi tidak menakutkan seperti sebelumnya,' kata Danu dalam hati sambil beranjak pergi.


________


"Danu, kita ke rumah sakit terlebih dahulu baru ke kantor," kata Bastian saat mereka akan keluar dari gerbang rumah mereka.


"Rumah sakit bos muda? Ada perlu apa ke rumah sakit?" tanya Danu agak rempong karena penasaran.


"Ada yang perlu aku bicarakan dengan Hendra."


"Oh, baiklah bos muda."


Beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya, mobil mereka berhenti di depan rumah sakit. Danu turun untuk membuka pintu mobil Bastian.


"Danu, sudah aku katakan kalo kamu jangan buka pintu mobilku lagi. Aku bisa buka sendiri. Lagian, aku ini tidak lumpuh seperti kemarin lagi. Jadi, tidak perlu merepotkan kamu."


"Maaf bos muda, saya tidak merasa direpotkan


oleh bos muda. Sebaliknya, saya sudah terbiasa melakukan hal ini selama bertahun-tahun. Jadi, selalu merasa ada yang kurang jika saya tidak melakukannya."


"Ya sudah terserah kamu saja. Ayo masuk!" Bastian tidak ingin berdebat. Ia langsung beranjak meninggalkan parkiran menuju ruangan Hendra.


Sampai di depan pintu masuk ruangan Hendra, Bastia dan Danu berpas-pasan dengan suster Mery yang kebetulan juga ingin bertemu dengan Hendra. Melihat Bastian yang semakin mendekat, suster Mery membatalkan niatnya buat masuk ke dalam.


"Bos muda, cari dokter Hendra?" tanya Mery sekedar basa-basi karena sudah bertemu pemilik rumah sakit.


"Ya. Apa dia ada di dalam?"


"Ada bos muda. Dokter Hendra baru aja sampai barusan."


"Oh."


Bastian langsung membuka pintu ruangan tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Kebetulan, Hendra yang sedang ganti baju, terlihat jelas dari depan pintu ketika Bastian membuka pintu tersebut.


"Woy, kamu apa-apaan sih?" tanya Hendra sangat kesal sambil bersembunyi di kolong mejanya.


"Kamu yang apa-apaan. Ngapain buka kemeja mu di sini. Memangnya di rumah kamu gak mandi apa? Sampai-sampai di sini baru mau ganti baju," kata Bastian sambil masuk ke dalam.


Danu yang berada di belakang Bastian segera menutup pintu setelah mereka masuk. Suster Mery tersenyum manis melihat orang yang ia sukai untuk pertama kali tidak memakai kemeja. Ia juga merasa lucu saat melihat wajah panik Hendra yang melihatnya malu ketika Bastian membuka pintu tadi.


Mery juga jarang mendengarkan Hendra bicara santai, lepas seperti barusan. Biasanya, ia selalu bicara serius dan juga terdengar sangat kaku dan tidak bersahabat.


Mery tidak ingin kehilangan momen langka yang sangat jarang ia dengar. Mery memilih tetap diam di depan pintu masuk untuk mendengarkan pembicaraan Bastian dan Hendra. Selagi telinganya masih bisa mendengar pembicaraan mereka, ia tidak ingin beranjak.


"Itu bukan urusanmu. Ini semua karena mama yang tidak mengizinkan aku mandi hanya gara-gara sepele. Lagian, kamu masuk gak bisa apa, ketuk pintu terlebih dahulu," kata Hendra kesal sambil bangun dari persembunyiannya di bawah kolong meja.


"Terserah aku, dong. Mau ketuk pintu kek, gak ketuk pintu kek. Itu hak aku. Lagian, kamu itu aneh. Masa punya mama gak ngizinin anaknya mandi di rumah. Kesalahan apa yang sudah kamu perbuat sehingga mamamu bisa melarang kamu mandi?"


"Ini semua karena sepupuku yang sok ganteng itu. Sudah tahu aku belum punya pacar, bisa-bisanya dia bawa tunangan ke rumah. Apalagi, mama langsung nuntut aku buat bawa pacar pulang ke rumah juga. Ya aku nolak lah. Pacar yang mana yang harus aku bawa pulang? Orang aku gak punya pacar sama sekali," kata Hendra bicara panjang lebar dengan nada kesal yang masih sangat kuat.


"Ha ha ha ... kasihan sekali kamu Hend. Makanya, jadi laki-laki itu gak perlu terlalu pilih-pilih wanita buat dijadikan kekasih. Sekarang, lihat akibatnya, kamu jomblo sampai tua," kata Bastian sambil tertawa lepas.


"Enak sekali kamu ngomong. Ini bukan soal aku yang pilih-pilih wanita, bos muda Bastian Hutama. Tapi ini soal hati. Gak bisa dipaksakan jika hati gak mau."


"Ngomong-ngomong, kalian ngapain ke sini? Datang pagi-pagi begini pasti ada hal penting yang ingin kamu bicarakan, bukan?" tanya Hendra mengubah topik pembicaraan mereka.