
Dari kejauhan, sepasang mata sedang melihat mereka dengan tatapan sakit hati, kecewa, juga benci. Sambil menggenggam erat tangganya, Sarah menatap Bastian juga Chacha dari seberang kamar yang terbuka lebar.
"Tertawa lah! Tertawa lah sepuas kalian sekarang. Karena, aku pastikan kalian akan bersedih sebentar lagi. Aku akan buat kalian merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling kalian sayangi. Terutama kamu Bastian!" kata Sarah dengan amarah yang disertai kebencian.
Danu yang menarik Lula untuk bicara, tanpa sengaja melihat keberadaan Sarah. Ia mencoba memastikan apa yang matanya lihat barusan.
"Ada apa mas Danu?" tanya Lula penasaran.
"Aku melihat seseorang yang aku kenal. Sepertinya."
"Siapa? Di mana? Kok gak ada?" tanya Lula sambil celingukan mencari.
"Seseorang di .... " Danu menghentikan kata-katanya ketika ia tidak melihat satu orang pun lagi di tempat Sarah berada sebelumnya.
Ia juga melihat sekeliling yang bisa matanya tangkap. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana.
"Mas Danu berhalusinasi kali. Ih, jangan banyak berkhayal mas, ini rumah sakit. Udah larut malam lagi," kata Lula sambil bergidik ngeri.
'Apa benar aku cuma berhalusinasi tadi? Tapi, kayaknya aku benar-benar melihat nyonya Sarah. Haruskah aku ngomong sama bos muda apa yang aku lihat? Tapi ... kalau itu tidak benar bagaimana? Bagaimana kalo aku benar-benar hanya berhalusinasi saja?' Danu bicara dalam hati sambil terus melihat tempat di mana Sarah berdiri.
"Mas Danu. Hei, mas Danu!" Lula bicara sambil menepuk pelan bahu Danu.
"Ada apa?"
"Lho, kok tanya aku ada apa sih mas? Aku kan sudah bilang sama mas Danu, jangan bengong. Ini rumah sakit, udah larut malam lagi. Nanti bisa .... "
"Ah, udah. Jangan ngomong yang tidak-tidak. Kamu ngapain ke sini? Dari mana kamu tahu aku ada di sini?" tanya Danu baru ingat apa tujuannya membawa Lula menjauh dari mereka semua.
"Mas Danu ngomong mau datang ke panti. Udah janji tapi malah gak datang. Aku lacak keberadaan mas Danu, eh malah ke rumah sakit. Awalnya aku cemas dengan kondisinya mas Danu, tapi, setelah melihat mas Danu baik-baik aja, rasa cemas itu hilang, berganti dengan rasa kesal."
"Maaf. Aku sibuk banget hari ini. Sampai gak sempat ngasi tau kamu kalo aku beluk bisa datang."
"Sibuk bantuin si Bos muda lamaran ya, mas?"
"Ya gitu deh."
"Jadi, itu pacarnya bos muda? Eh, ngomong-ngomong, aku kaget banget saat lihat bos muda berdiri. Udah sembuh ya bos mudanya?"
"Kamu itu kebiasaan deh, La. Nanya kok gak satu-satu."
"Ya habisnya, aku penasaran," kata Lula sambil tersenyum.
"Dia bukan pacar bos muda, tapi istri. Kalo .... "
"Istri! Jadi ... bos muda udah nikah. Terus, ngapain harus lamaran lagi? Kan udah nikah."
"Jangan ikut campur urusan bos muda jika kamu masih ingin kerja dengan bos muda," kata Danu kesal sambil berjalan meninggalkan Lula dengan pikirannya sendiri.
"Mas Danu tunggu! Kok tinggalin aku sendirian sih." Lula berusaha mengejar Danu.
Danu dan Lula kembali ke kamar di mana Bastian dan yang lainnya berada. Di sana, mereka sedang membicarakan tentang bulan madu yang telah mama Merlin siapkan untuk Chacha dan Bastian.
"Bagaimana? Apa kalian berdua setuju?" tanya mama Merlin antusias.
"Aku terserah Chacha aja, Ma. Ke mana dia mau, aku ikut saja," ucap Danu sambil melirik Chacha.
"Aku juga terserah pada kamu, Bas. Ke mana pun aku ikut aja."
"Ini nih yang gak enak. Main terserah-terserahan," kata mama Merlin kesal.
"Ya udah deh, Ma. Biarkan mereka berdua yang putuskan ke mana mereka ingin pergi bulan madu. Orang yang mau bulan madu mereka berdua. Ya biarkan mereka berunding memilih tempat yang cocok buat mereka datangi," kata papa.
"Ya mama kan cuma kasih saran aja Pa. Mana tahu mereka tertarik buat pergi ke Korea. Di sana kan tempatnya sangat bagus."
"Itukan menurut mama. Belum tahu apa menurut mereka. Pendapat masing-masing kan berbeda-beda."
"Iya deh. Mama gak ikut campur. Ih, papa bikin kesal mama terus," kata mama kesal sambil manyun.
"Ya udah, Ma nanti kita pikirkan pendapat mama itu ya," kata Bastian.
"Iya, Ma. Sekarang, aku masih beluk bisa memutuskan untuk pergi ke mana. Soalnya, Bastian masih belum sembuh."
"Ya udah deh. Kalian benar. Sekarang bukan waktu yang tepat buat ngomong soal itu. Kamu fokus sama kesembuhan kamu dulu aja ya, Nak. Jangan pikirkan apa yang mama katakan soal bulan madu."
"Iya, Ma."
Setelah pembicaraan itu selesai, Bastian kembali ke ranjangnya untuk istirahat. Karena memang, ia belum bisa menggunakan kakinya terlalu lama. Ia masih butuh waktu yang lumayan lama untuk sembuh total dan berjalan lagi dengan menggunakan kakinya.
Sedangkan Danu, ia ditugaskan untuk mengantar Lula kembali ke rumahnya. Mengingat hari yang sudah sangat larut malam, tidak mungkin membiarkan Lula pulang sendirian, dan tidak mungkin juga untuk Lula menginap di rumah sakit.
Setelah merasa tidak ada yang melihat dirinya lagi, Sarah pun keluar dari tempat persembunyiannya. Ketika ia menyadari ada Danu di sana, Sarah segera bersembunyi di balik pintu kamar yang berada tak jauh darinya. Ia tidak ingin Danu melihat dan mengatakan pada Bastian, kalau dia sekarang sudah bebas.
Jika itu terjadi, Bastian pasti akan memburunya.
_____
Hari ini, Bastian di nyatakan sudah boleh pulang ke rumah oleh Hendra. Sebenarnya, bukan Hendra yang mengatakan itu, tapi Bastian yang menginginkannya. Bastian yang tidak suka berada di rumah sakit, jelas saja ingin pulang secepat mungkin ke rumah.
"Kamu harus ingat ya Bas, tidak boleh terlalu banyak gerak dahulu atau kakimu akan cedera lagi," kata Hendra berpesan.
"Iya aku tahu."
"Satu lagi, jangan bebankan kakimu terlalu berat atau .... "
"Atau kakiku akan cedera lagi," kata Bastian menyambung perkataan Hendra dengan cepat.
"Tepat sekali."
"Harus berapa kali kamu bicarakan kata-kata itu padaku, Hendra? Aku ini bukan anak kecil lagi. Kamu tidak perlu mengulangi semua perkataan mu secara terus-menerus."
"Kamu memang bukan anak kecil, tapi lebih bandel dari pada anak kecil. Jika aku tidak benar-benar mengingatkanmu berulang kali, maka kamu tidak akan mendengarkan aku."
"Kamu tenang aja, Hendra. Sekarang, dia tidak sendirian lagi. Kan ada aku yang akan selalu menjadi pengingat nya setiap waktu," kata Chacha sambil tersenyum ke arah Bastian.
"Tuh, kamu dengar sendiri kan, aku tidak sendiri, tidak seperti kamu," kata Bastian sambil membalas senyum Chacha.
"Wuah-wuah-wuah, gak usah bawa-bawa pasangan juga dong. Mentang-mentang udah resmi tunangan."
"Siapa yang tunangan? Dia sudah aku nikahi. Sudah sah di mata hukum juga agama."
Saat perdebatan itu berlangsung, tiba-tiba, Danu datang sebagai penengah. Perdebatan itu pun terhenti seketika.
"Bos muda, mobilnya sudah siap."
"Baiklah. Ayo jalan sekarang!"
"Hendra, kami pulang dulu," kata Chacha sambil mendorong kursi roda Bastian.
"Hati-hati!"
"Iya," kata Chacha sambil tersenyum manis pada Hendra.
Hendra membalas senyum itu dengan enggan. Ada rasa perih dalam hatinya ketika senyum manis itu ia lihat. Hatinya sakit ketika ingat kalau dia benar-benar sudah jatuh cinta pada Chacha. Namun, cinta itu harus ia kubur karena tidak mungkin baginya untuk merebut apa yang menjadi milik Bastian yang jelas-jelas adalah sahabatnya sejak kecil.
"Ya Tuhan. Mengapa hati ini terasa sangat perih padahal aku sudah berusaha membuang rasa ini," ucap Hendra sambil terus melihat Chacha yang berjalan semakin menjauh meninggalkannya.
"Itu namanya belum ikhlas dokter," kata susternya yang ternyata mendengarkan apa yang Hendra ucapkan.
"Kamu! Ya Tuhan ... kenapa kamu bisa mendengarkan kata hatiku?" tanya Hendra kaget bercampur frustasi.
"Dokter gak ngomong dalam hati lho Dok. Dokter ngomong lewat lisan dokter. Udah gitu, ngomongnya keras lagi. Jelas saja saya bisa dengar."
"Masa sih aku ngomongnya keras?" tanya Hendra agak bingung.
"Iya." Suster itu bicara sambil mengangguk.
"Ah, lupakan saja. Anggap saja kamu tidak mendengarkan apa yang aku katakan."
"Gimana caranya? Orang saya sudah mendengarkan apa yang dokter katakan."
"Ah, terserah kamu aja," kata Hendra pasrah sambil beranjak pergi meninggalkan suster tersebut.