
Tak lama setelah Bastian keluar dari lift dan menunggu Danu di ruang tamu, Danu pun muncul. Ia berjalan setengah berlari menuju ruang tamu.
"Kita berangkat sekarang bos muda?" tanya Danu ketika sampai.
"Ya." Bastian menjawab singkat.
"Ingat, jangan kasar-kasar," kata Chacha berbisik ke telinga Bastian.
"Nggak," kata Bastian sambil memaksa tersenyum.
"Senyum yang ikhlas dong." Chacha menggoda lagi.
"Jangan pancing aku buat cium kamu sekarang," kata Bastian sambil menatap tajam Chacha.
Mendengar hal itu, Chacha dengan cepat menjauhkan wajahnya dari Bastian. Ia takut kalau-kalau Bastian benar-benar akan melakukan apa yang ia katakan barusan.
"Kenapa? Takut?" tanya Bastian. Kini giliran Bastian pula yang menggoda Chacha.
"Ngg--nggak. Siapa yang takut?"
'Ya Tuhan, tidak pengertian banget bos muda dan nona bos ini. Gak tahu apa, darah jomblo ku tiba-tiba mendidih saat melihat mereka bermesraan di hadapanku,' kata Danu.
"Saya tunggu di mobil bos muda," kata Danu yang sudah tidak kuat melihat kedua bosnya bermesraan di hadapannya.
"Eh, siapa yang suruh kamu tunggu di mobil?" tanya Bastian kesal.
"Lalu?"
"Kita berangkat sekarang."
"Baik bos muda."
"Permisi nona bos," kata Danu sambil mengambil alih mendorong kursi roda Bastian.
"Hati-hati Danu bawa mobilnya. Ingatkan Bastian kalau dia jangan terlalu capek. Laporkan padaku jika Bastian tidak menggunakan kursi rodanya saat ia berada di luar rumah," ucap Chacha berpesan panjang lebar.
"Baik nona bos. Perintah akan saya laksanakan."
"Hush, memangnya kamu berani melaporkan aku pada Chacha? Aku rasa tidak," kata Bastian.
"Kita ... berangkat sekarang bos muda?" tanya Danu dengan wajah tidak enaknya.
"Ya."
Danu pun menjalankan mobil menuju cafe yang berada tak jauh dari kantornya. Wakil dari perusahaan asing ingin pertemuan diadakan di luar kantor. Alasannya, biar lebih santai saat membicarakan masalah pekerjaan.
Dua puluh lima menit, mereka baru tiba di cafe yang mereka tuju. Karena jalan macet membuat mereka sedikit terlambat dari waktu yang telah Lula katakan.
"Kita terlambat lima menit bos muda," kata Danu sambil melihat jam tangannya.
"Ya aku tahu. Maka dari itu, kita harus cepat," ucap Bastian sambil membuka pintu mobil lalu keluar.
"Tunggu bos muda." Danu menghentikan langkah Bastian yang berjalan mendahului dia.
"Ada apa lagi? Bukankah kita sudah terlambat?"
"Maaf bos muda. Bos muda tidak menggunakan kursi roda?"
"Danu, sudah tidak ada waktu lagi untuk aku menggunakan kursi roda. Kita akan terlambat jika aku masih memakai kursi rodaku."
"Tapi bos muda, nona bos .... "
"Jangan banyak omong Danu. Aku sudah sembuh. Ayo jalan sekarang! Urusan Chacha, kamu jangan bicarakan apa yang telah aku lakukan sekarang padanya. Dengan begitu, dia tidak akan tahu kalau aku tidak menggunakan kursi rodaku."
"Ba--baik bos muda." Danu tidak bisa berkata apa-apa selain mengikuti apa yang Bastian perintahkan. Bagaimanapun, dia tidak punya hak untuk mengatur Bastian. Yang bos itu Bastian. Yang jalan dengan kaki itu Bastian. Yang akan menerima akibat jika keras kepala, juga Bastian.
Saat mereka masuk ke dalam ruang cafe yang dikhususkan untuk tamu VIP, Lula sudah menunggu mereka dengan wajah gelisah. Dua orang wakil dari perusahaan asing juga ada di sana. Mereka terus menanyakan Bastian pada Lula. Hal itu membuat Lula semakin tidak renang.
"Bos muda, mas Danu, kalian akhirnya datang juga. Mereka sudah ada di sana sejak lima belas menit yang lalu. Katanya, ingin mempercepat pertemuan dengan bos muda," kata Lula menjelaskan.
"Lalu?" tanya Bastian agak dingin.
"Saya sudah menghubungi bos muda atau mas Danu, tapi, kalian tidak menjawab panggilan dari saya. Saya terpaksa ajak mereka ngobrol soal kerjaan yang mungkin tidak sama dengan yang bos muda inginkan."
"Maksud kamu?"
"Aduh, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan. Saya cuma bicara soal perusahaan cabang yang saya pegang saja bos muda. Maafkan saya jika tidak sesuai dengan harap bos muda."
"Sudah, jangan cemas. Kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik. Sekarang, mari kita temui mereka dan lanjutkan pembicaraan," kata Bastian sambil berjalan masuk.
"Saya minta maaf sudah membuat kalian menunggu. Saya Bastian, pemilik Hutama grup," kata Bastian langsung menyapa mereka.
Mendengar sapaan itu, kedua wakil dari perusahaan asing tersebut bangun untuk melihat Bastian. Betapa terkejutnya Bastian saat melihat salah satu dari wakil tersebut. Ia sampai tidak bisa berkata-kata untuk sesaat.
"Sarah!" kata Bastian memanggil salah satu wakil perusahaan asing dengan nama Sarah.
"Sarah? Siapa Sarah?" tanya wakil tersebut dengan wajah kebingungan.
"Kamu Sarah! Siapa yang membiarkan kamu lepas, hah!" Bastian benar-benar kesal sampai ingin memukul wakil tersebut.
"Hei, aku ini bukan Sarah! Siapa Sarah itu? Kenapa kamu bilang aku ini Sarah, hah!" Wakil dari perusahaan asing itu membentak Bastian dengan keras.
"Maaf bos muda, ada apa ini?" tanya Lula kebingungan. Sedangkan Danu, ia hanya bisa melihat tanpa bisa berkata apa-apa.
"Maaf bos Bastian. Kami ini adalah dua wakil yang perusahaan Eagle Grup kirimkan. Nama dia bukan Sarah, tapi Linda," kata wakil yang satu lagi menjelaskan.
"Tidak. Dia sangat mirip sekali dengan Sarah. Aku tidak mungkin salah dalam mengenal orang. Jangan coba-coba menipu aku Sarah. Aku tahu itu kau!" kata Bastian tetap yakin dengan apa yang ia lihat juga rasakan.
"Kerja sama macam apa yang bos inginkan dengan orang aneh ini? Sudah jelas aku bukan Sarah, tapi dia tetap saja ngomong kalau aku ini Sarah. Katakan saja pada bos kita kalau bos Hutama Grup tidak ingin menjalani kerja sama dengan kita," kata Linda pada asistennya.
"Baik miss Linda."
"Bos muda, jangan biarkan mereka membatalkan kerja sama dengan kita. Perusahaan itu akan mempengaruhi nama baik perusahaan kita di luar negeri, bos muda," kata Lula.
"Lula benar bos muda. Jika mereka mengatakan kita yang membatalkan kerja sama dengan mereka, maka mereka juga pasti akan mengatakan hal-hal yang tidak baik tentang Hutama Grup pada perusahaan lainnya di luar negeri sana." Danu ikut membenarkan apa yang Lula katakan.
"Lalu, kalian ingin aku melakukan apa?" tanya Bastian masih santai saja.
"Jangan buat mereka membatalkan kerja sama ini bos muda. Dengan begitu, perusahaan kita akan tetap punya muka di depan semua perusahaan asing yang ikut bekerja sama dengan perusahaan kita," kata Lula.
"Benar bos muda."
"Kamu tahu benar saja, Danu. Baiklah, aku akan melakukan apa yang kalian katakan."
"Tunggu!"
Bastian bangun dari duduknya. Ia berjalan menghampiri kedua wakil perusahaan asing yang hampir saja meninggalkan ruangan tersebut.
"Ada apa lagi?" tanya Linda kesal.
"Apa benar kalian ini wakil dari perusahaan asing yang ingin bekerja sama dengan Hutama Grup? Dan kamu, benarkah nama kamu Linda, bukan Sarah?"
"Bos Bastian, seperti yang sudah saya katakan, kami datang dari luar negeri. Saya dan miss Linda memang berasal dari negeri ini, tapi bekerja di luar negeri. Kami di tugaskan untuk mewakili perusahaan karena kami anak asli negeri ini. Dengan menugaskan kami, bos berharap pekerjaan kita bisa lancar karena kita berasal dari negara yang sama," kata asisten Linda menjelaskan.
"Untuk nama miss Linda, ya, namanya memang Linda. Dia sudah lama bekerja di perusahaan Eagle sebagai manajer pemasaran. Sedangkan saya, Dedi. Saya juga sudah lumayan lama bekerja di Eagle Grup, menjabat sebagai asisten miss Linda. Kita partner yang baik selama ini," kata asisten itu menjelaskan lagi dengan sabar.
"Tapi wajahnya .... "
"Mungkin hanya mirip dengan orang yang bos Bastian katakan. Ada banyak orang yang punya wajah hampir sama persis di dunia ini bos Bastian. Jadi, kalau hampir mirip atau benar-benar mirip, itu sangat wajar menurut saya. Yang pasti berbeda adalah, sifat seseorang. Karena sifat tidak akan pernah sama."
Saat asisten itu menjelaskan soal manusia banyak yang mirip, ingatan Bastian tiba-tiba mengembara. Ia teringat akan kemiripan Mona dengan Keke. Sangat amat mirip antara Mona dan Keke, ia hampir tidak bisa membedakan yang mana Mona, dan yang mana Keke. Yang bisa membedakan mereka berdua adalah, sifat mereka. Sama seperti yang asisten itu katakan barusan.
Bastian membenarkan apa yang asisten itu katakan. Karena kalau diingat-ingat lagi, sifat wakil yang bernama Linda ini sangat jauh berbeda dari Sarah mamanya Keke. Jika Sarah lebih ke bermuka manis namun palsu, Linda ini justru sebaliknya. Bermuka masam, tidak sabaran, juga tidak ada mirip seperti penjilat yang bermuka dua.