Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 84


Lisa berpikir sejenak. Benaknya membenarkan apa yang pelayan itu katakan.


"Kamu benar juga. Kalo gitu, kita ganti rencana sekarang," kata Lisa sambil tersenyum.


"Ganti rencana gimana nona Lisa?" tanya pelayan itu bingung.


"Sini." Lisa menarik pelayan itu dengan kasar untuk membisikkan rencana kedua yang ia punya.


"Bagaimana?" tanya Lisa sambil tersenyum licik.


"Saya .... " Pelayan itu kelihatannya masih merasa takut walau ia tidak perlu mencari hewan yang Lisa butuhkan untuk menjalankan rencana mereka.


"Sudah! Jangan banyak mikir. Kamu mau uang nggak? Semua yang aku minta kamu kerjakan, pasti aku beri imbalannya. Jadi, jangan banyak mikir jika kamu ingin cepat kaya. Bukankah kamu ingin cepat kaya?"


"Iya. Ba--baik nona Lisa. Saya akan kerjakan rencana nona Lisa dengan baik," kata pelayan itu dengan sedikit keberanian setelah mendengar iming-iming uang sebagai imbalan dari apa yang ia lakukan.


"Bagus," kata Lisa sambil tersenyum licik.


'Dasar orang miskin. Jika di iming-iming kan dengan uang sedikit saja sudah mulai goyah. Sudah tidak punya rasa takut atau bahkan rela mengorbankan nyawanya demi uang. Heh, dasar.' Lisa berkata dalam hatinya sambil tersenyum melihat pelayan itu.


Lisa mengirim pesan singkat pada Sarah. Ia meminta Sarah untuk mencarikan seekor ular secepat mungkin.


*Carikan aku ular sekarang. Kalo bisa, ular yang paling berbisa yang ada di kota ini. Aku butuh sekarang juga.*


Itulah bunyi pesan singkat yang Lisa kirimkan pada Sarah. Sarah yang sedang duduk sambil menikmati secangkir teh panas, terkaget ketika membaca pesan yang Lisa kirimkan. Minuman yang ia minum ia semburkan ke depan.


"Uhuk-uhuk. Ini cewek gila atau apa sih? Mana bisa aku nyari apa yang dia minta malam-malam begini," kata Sarah begitu tak percaya.


"Apa yang dia inginkan?" tanya Dedi penasaran.


"Dia minta aku kirimkan seekor ular untuknya malam ini."


"Apa? Ular? Buat apa dia minta tante carikan dia ular malam-malam begini?" tanya Dedi tak kalah kaget.


"Ya itu dia, yang aku tidak habis pikir dengan si Lisa ini. Untung aja dia mirip Keke, juga punya banyak kekayaan, jika tidak, aku tidak ingin mendengarkan apa yang ia katakan."


"Jadi, tante ingin memenuhi apa yang dia minta?"


"Ya mau bagaimana lagi?" tanya Sarah pasrah.


"Tapi tante?"


"Sudah, turuti saja apa yang dia inginkan. Kamu tolong carikan apa yang ia mau."


"Aku tante?"


"Ya kamu, siapa lagi coba?"


"Mau cari di mana semalam-malam begini. Lagipula, aku juga tidak tahu seluk beluk kota ini. Apa tante lupa di mana aku selama ini?"


"Benar juga," kata Sarah baru ingat kalau Dedi sudah lama tidak tinggal di kota ini.


"Ya sudah. Kita berdua pergi cari. Tante tahu tempat di mana hewan itu berada," kata Sarah sambil beranjak dari tempatnya.


"Eh, tapi tunggu!" Sarah menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi tante?" tanya Dedi agak kesal.


"Ada yang harus tante lakukan terlebih dahulu." Sarah tersenyum sambil memegang ponselnya. Jari tangan Sarah mengetik sebuah pesan dengan cepat, lalu mengirimkan pesan tersebut ke nomor Lisa.


Lisa yang sedari tadi menunggu balasan pesan yang ia kirimkan pada Sarah, dengan cepat mengambil ponsel saat notifikasi pesan masuk berbunyi di ponselnya.


*Kirimkan aku uang untuk membeli hewan yang kamu butuhkan.*


"Uang? Dasar mata duitan. Dikit-dikit minta uang, dikit-dikit minta uang. Apa tidak ada kerjaan lain selain minta uang padaku?" tanya Lisa pada dirinya sendiri dengan kesal setelah membaca pesan singkat dari Sarah.


*Berapa?*


Lisa membalas pesan Sarah dengan malas.


*Apa? Dua juta? Aku suruh kamu beli satu ekor ular saja kamu minta uang dua juta? Apa kamu tidak kebanyakan berkhayal minta uang sebayak itu padaku?*


*Kirimkan saja jika kamu benar-benar membutuhkan hewan itu. Kamu pikir gampang nyari hewan itu malam-malam begini. Lagipula, aku butuh orang untuk mengirimkan hewan itu padamu. Tidak mungkinkan aku yang datang ke mansion keluarga Hutama?*


"Dia benar juga," kata Lisa sambil berpikir apa yang Sarah katakan.


*Baiklah.*


Lisa langsung mengirimkan uang dua juta seperti yang Sarah inginkan. Ia dengan cepat mentransfer uang itu agar Sarah melakukan apa yang ia minta dengan cepat.


*Uangnya sudah aku kirim. Cepat lakukan apa yang aku minta. Jangan sampai terlambat karena aku tidak ingin rencana ku malam ini gagal.*


*Oke.*


"Yes," kata Sarah dengan sangat bahagia.


"Ada apa sih tante? Kapan kita perginya sih ini?" tanya Dedi kebingungan.


"Ayo berangkat sekarang!" Sarah berucap sambil tersenyum lebar.


"Senang banget kayaknya."


"Ya dong."


"Bagi-bagi kesenangan dong, tante."


"Nanti, aku akan bagi-bagi sama kamu. Sekarang, kita harus melakukan apa yang Lisa minta terlebih dahulu."


Mereka pun meninggalkan apartemen Sarah dengan cepat. Mobil melaju melintasi jalan raya yang tidak pernah sepi dengan kendaraan berlalu lalang, menuju sebuah gudang yang tidak terlalu besar. Gudang itu terlihat agak kotor karena tidak terawat.


"Ngapain kita ke sini, tante?" tanya Dedi agak jijik dengan tempat itu. Maklum, namanya juga manja. Mana pernah dia ke tempat yang menjijikan seperti gudang ini.


"Cari hewan yang Lisa inginkan," jawab Sarah sambil membuka pintu mobil.


"Tante yakin? Hewan yang kita cari ada di sini?"


"Ya yakinlah. Dulu, saat tante membutuhkan hewan itu untuk mengerjai seseorang, tante belinya di sini."


"Tante beli?" tanya Dedi tak percaya kalau gudang kotor itu adalah tempat peternak ular ilegal.


"Ya iyalah. Masa mungut. Kamu yang benar aja kalo mikir. Masa kita datang ke sini buat cari ular malam-malam begini. Ularnya gak dapat, kita tamat kena patok ular."


"Ya ... ya udah deh kalo gitu, tante pergi sendiri aja. Biar aku tunggu di sini. Tante gak papakan?"


"Gak papa apanya? Enak aja kamu kalo ngomong. Keponakan apaan kamu ini? Tega-teganya nyuruh tante pergi sendirian. Inikan malam. Kamu gak takut tante kenapa-napa jika pergi sendirian ke sana?"


"Bukan gitu tante. Tante kan tahu kalo aku alergi dengan tempat kotor kayak gitu. Ya, gimana aku mau ikut tante kalo aku sendiri aja gak bisa pergi ke tempat kayak gitu," kata Dedi sambil memaksakan senyum terpaksa.


"Udah, tante gak mau tahu ya, mau alergi atau nggak. Malam ini, kamu tetap harus temani tante buat masuk ke dalam," kata Sarah sambil menari Dedi keluar dari mobil.


"Tapi tante .... "


"Gak ada tapi-tapian. Ayo!" Sarah benar-benar harus memaksa Dedi dengan menarik lengan kiri laki-laki itu.


Sampai di depan pintu gudang, Dedi menghentikan langkahnya yang memang sedari tadi terpaksa ia langkahkan. Ia menatap pintu gudang yang rasanya sangat menyeramkan untuk ia lihat.


"Tante yakin mau masuk ke dalam?" tanya Dedi dengan nada ngeri.


"Ya yakinlah. Kenapa gak yakin? Kalo nggak yakin, kita gak akan datang ke sini, Dedi."


"Tante yakin, aku nggak," kata Dedi sambil menahan langkahnya.


"Jangan banyak omong kamu Dedi. Ayok!"


"Tapi tante .... "


"Ayok!"