Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 91


Lula beranjak dari tempatnya. Ia ingin meninggalkan ruangan Bastian secepat mungkin agar Bastian tidak bicara soal ia dan Danu lagi. Namun, baru saja ia berniat untuk pamit pada Bastian, pintu ruangan Bastian di ketuk oleh seseorang dari luar.


"Siapa?" tanya Bastian tanpa berpaling sedikitpun dari laptopnya.


"Saya bos muda, Danu."


"Oh, Danu. Masuk!"


Danu membuka pintu. Ia kaget saat melihat Lula ada di ruangan Bastian. Dengan hati yang di penuhi tanya tanya, ia berjalan mendekat.


"Ada apa, Danu?" tanya Bastian sambil menutup laptopnya.


"Ada hal yang perlu saya bicarakan sama bos muda."


"Ya sudah kalo gitu, saya pamit dulu bos muda," kata Lula dengan cepat berpamitan tanpa menunggu di usir lagi.


"Oke. Kamu mungkin bisa menunggu Danu di luar, Lula. Katanya, kamu ingin bicara hal penting sama Danu," kata Bastian sambil melirik Danu.


"Iy--iya. Saya permisi dulu bos muda, pak Danu." Lula bergegas meninggalkan ruangan Bastian sambil menundukkan wajahnya. Ia merasa malu pada Danu saat ini. Ia tidak ingin Danu salah sangka padanya. Karena memang, dia tidak ada urusan kerjaan dengan Danu. Tapi, ia malah berani menanyakan Danu pada Bastian. Sungguh sangat memalukan jika Lula mengingat-ingat lagi apa yang telah ia lakukan barusan.


Sementara itu, Danu hanya bisa melihat Lula pergi meninggalkan dirinya dengan berbagai pertanyaan. Tapi, ia tidak mungkin mencegah kepergian Lula di depan Bastian, hanya karena ia merasa penasaran dengan kedatangan Lula ke ruangan Bastian. Apalagi untuk urusan pribadi. Lebih tidak mungkin lagi untuk ia berbicara dengan Lula saat berada di depan Bastian.


"Danu." Panggilan itu menyadarkan Danu dari lamunannya yang sedang memikirkan Lula.


"Iy--iya bos muda." Danu menjawab dengan gelagapan akibat kaget.


"Ada apa? Apa yang mau kamu bicarakan padaku?"


"Oh iya, maafkan saya bos muda. Saya datang ke sini untuk menyampaikan laporan saya tentang Sarah juga tentang miss Linda."


"Katakan! Apa yang kamu temukan dari hasil penyelidikan itu."


"Ternyata, Sarah tidak benar-benar meninggal karena kebakaran rumah sakit jiwa itu, bos muda. Kebakaran itu hanya sebagai sandiwara yang Sarah ciptakan agar dia bisa melarikan diri dari rumah sakit jiwa, dan menggantikan identitasnya dengan yang baru. Yaitu, Linda."


"Sudah aku duga kalau Linda dari perusahaan asing itu adalah Sarah. Karena, tidak ada yang benar-benar mirip jika bukan kembar, atau dirinya sendiri yang merubah nama dan memakai identitas orang lain," kata Bastian dengan geram sambil menggenggam tangannya dengan erat.


"Perusahaan asing yang bernama Eagle grup itu sebenarnya nama perusahan induk tempat Dedi dan miss Linda yang asli bekerja, bos muda. Sedangkan perusahaan asing yang bekerja sama dengan kita saat ini, itu sebenarnya hanya perusahaan cabang yang mengharapkan investasi dari Eagle grup supaya tetap berdiri."


"Apa! Jadi, mereka menipu Hutama grup atas nama Eagle grup untuk bekerja sama?"


"Sepertinya begitu, bos muda. Dan, kabar yang lebih mengejutkan lagi adalah, Dedi yang menjadi asisten miss Linda sebenarnya adalah keponakan Sarah. Perusahan cabang yang bekerja sama dengan kita adalah perusahaan keluarga Dedi. Dedi adalah dalang yang tersembunyi di balik semua kejadian yang Sarah alami."


Danu pun menceritakan detail kejadian yang telah Sarah alami menurut hasil penyelidikannya. Dari semua bukti yang ia dapatkan, juga rekaman Cctv yang ada di rumah sakit, sebelum Sarah tersadar dari pingsannya, Dedi sudah ada di sana.


Sarah yang tidak ingin masuk penjara, meminta bantuan dari Dedi agar terlepas dari jeratan hukum yang sedang mengincarnya. Dedi jelas saja tidak ingin tantenya masuk penjara setelah mendengar semua penjelasan yang tantenya katakan.


Merekapun sepakat untuk membuat sebuah sandiwara di depan semua orang. Dengan membayar mahal seorang dokter, rencana merekapun berjalan mulus tanpa ada sedikitpun kecurigaan dari semua orang.


"Jadi, sudah bisa dipastikan kalau Sarah hanya pura-pura sakit jiwa, dan juga lumpuh hanya untuk lolos dari jeratan hukum yang sedang menantinya, bos muda."


"Dasar iblis. Kau bisa menipu aku kemarin. Tapi tidak sekarang. Aku pastikan kamu akan menerima apa yang sepantasnya kamu terima, Sarah," kata Bastian benar-benar geram.


"Semua bukti yang terekam cctv ada di dalam flash disk ini, bos muda. Semua hasil penyelidikan juga ada di dalamnya. Tapi, kita masih perlu bukti yang lain jika ingin menjerat Sarah ke jalur hukum," kata Danu sambil menyerahkan flash disk yang sedari tadi ia pegang.


"Ya, aku tahu apa yang harus kita lakukan untuk menjerat wanita iblis itu ke jalur hukum. Biar aku sendiri yang turun tangan untuk melakukan semua ini. Akan aku pastikan Sarah tidak akan lolos dari jeratan hukum kali ini," kata Bastian dengan sangat geram sambil menggenggam flash disk tersebut dengan erat.


"Satu lagi bos muda, sepertinya, Sarah masih punya satu kaki tangan. Entah itu kaki tangan, atau rekan, yang jelas, masih ada satu orang lagi yang bekerja sama dengan Sarah untuk melawan bos muda."


"Siapa?"


"Namanya Lisa. Seseorang yang saya tugaskan untuk memata-matai Sarah, mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan saat bertemu di cafe yang berada di pinggir kota. Sayangnya, saya belum sempat menyelidiki perempuan yang bernama Lisa itu, bos muda."


"Sudah aku duga, Lisa pasti ada hubungannya dengan Sarah. Kedatangannya begitu mencurigakan jika dipikir dengan pikiran yang tenang," kata Bastian sambil berjalan menuju jendela ruangannya.


"Bos muda kenal siapa Lisa? Apa bos muda sudah bertemu dengan orang yang bernama Lisa itu?" tanya Danu benar-benar penasaran.


"Sudah. Dia sudah datang ke mansion dan mengaku sebagai adik kembar Mona. Dia juga membawa semua bukti yang membenarkan apa yang ia katakan. Lisa juga membawa surat wasiat yang Mona tulis untuk aku."


"Surat wasiat?" tanya Danu agak bingung.


"Ya, surat wasiat yang isinya permintaan terakhir Mona padaku. Ia ingin aku menggantikan posisinya dengan Mona."


"Apa! Apa bos muda menyetujui apa yang tertulis di dalam surat wasiat itu? Jadi bagaimana dengan nona bos?" tanya Danu dengan wajah benar-benar kaget.


"Kamu tidak perlu menangapi apa yang aku katakan seperti itu Danu. Aku tidak akan meninggalkan Chacha hanya karena selembar kertas yang aku sendiri tidak yakin kalau itu benar-benar permintaan Mona. Karena aku tahu, Mona bukan seperti itu orangnya. Dia tidak akan menyerahkan aku seperti barang. Dia sangat pengertian. Dia punya perasaan begitu halus dan hati yang sangat lembut juga tulus." Bastian bicara sambil membayangkan Mona.


"Bos muda merindukannya?" tanya Danu dengan sangat berani.


"Tidak. Aku hanya mengenangnya saja."


'Ya Tuhan, apa bedanya mengenang dengan merindukan?' tanya Danu dalam hati.


"Ya sudah kalo begitu bos muda, saya pamit dulu. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan," kata Danu tidak ingin berlama lagi karena ia teringat dengan Lula.


"Ya."