Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 124


Lisa tidak menjawab. Hanya matanya yang penuh kebencian terus menatap pak Karto yang berjalan semakin mendekatinya. Ketika pak Karto sudah benar-benar berada di depannya, Lisa tidak ingin membuang kesempatan lagi. Ia segera menusuk pisau yang sedari tadi dia sembunyikan di belakangnya.


Pisau pemotong buah yang ia temukan di dalam laci beberapa saat yang lalu, sukses merobek perut gendut pak Karto. Pak Karto pun meringis kesakitan sambil memegang perutnya yang mengeluarkan darah segar.


"Aggh ... apa yang ka--u laku--kan wanita ***--***?" tanya pak Karto dengan suara terbata-bata.


Lisa tidak menjawab. Ia hanya menatap pak Karto dengan tatapan puas, sambil tersenyum menyeringai penuh kemenangan.


"To--tolong." Pak Karto mencoba berteriak sekuat yang ia bisa. Namun, teriakan orang yang sedang kesakitan tidak akan terdengar kuat. Itu sama seperti sebuah bisikan.


Pada akhirnya, pak Karto roboh juga sambil terus memegang perutnya. Pak Karto jatuh mengenai meja yang di atasnya terdapat lampu tidur. Jatuhan lampu itu menciptakan keributan yang terdengar sangat keras sampai keluar kamar. Dua orang anak buah pak Karto bangun karena kaget.


"Ada apa itu?" tanya salah satunya.


"Ah, palingan si bos sedang bersenang-senang," jawab yang satunya lagi.


"Tidak. Aku yakin tidak. Itu seperti sebuah benda jatuh. Dan .... "


"Ah, ya sudah. Untuk memastikan tidak ada apa-apa di dalam sana, sebaiknya kita pastikan sendiri dengan memanggil juragan dari luar."


"Ya, aku setuju dengan usul mu."


Keduanya pun memanggil pak Karto dari depan pintu kamar. Namun, tidak ada jawaban. Mereka mengulangi beberapa kali memanggil bos mereka, namun tetap saja tidak ada jawaban.


"Ada yang tidak beres kayaknya."


"Ya, kita dobrak saja pintu kamar ini agar kita tahu apa yang terjadi dengan si bos."


"Oke. Satu dua tiga."


Mereka sama-sama mendobrak pintu kamar tersebut. Kebetulan, hotel itu sedang sepi, jadi tidak ada yang melihat apa yang mereka lakukan.


Beberapa kali mereka melakukan pendobrakan, akhirnya, pintu itu terbuka juga. Betapa kagetnya mereka ketika melihat juragan Karto tergeletak di atas lantai dengan perut yang terluka.


"Bos!" Keduanya berteriak kaget.


Ketika mereka melihat ke depan, mereka kaget melihat Lisa yang sedang berdiri sambil memegang pisau di tangannya. Salah satu dari anak buah itu bangun, ia ingin menghampiri Lisa.


"Jangan mendekat atau kamu akan bernasib sama dengan bos kalian itu," kata Lisa sambil mengacungkan pisau ke depan.


"Kau wanita ja*lang. Berani-beraninya melukai bos kami," kata anak buah itu dengan tatapan kesal.


"Diam! Menjauh dari aku atau aku bisa membunuh kalian juga."


Anak buah itu agak takut. Namun, yang satunya lagi tidak kehilangan akal. Dia segera menelpon polisi dengan cara sembunyi-sembunyi.


"Berdiri di sana. Jauhi pintu itu," kata Lisa lagi.


Anak buah itu mendengarkan apa yang Lisa katakan. Ia berjalan pelan menjauhi pintu, sedangkan Lisa, berjalan pelan mendekati pintu.


Saat sudah mendekati pintu keluar, Lisa merasa senang. Ia ingin segera meninggalkan kamar itu untuk melarikan diri. Namun sayang, ia tertangkap.


"Nah lo, mau lari ke mana, hah!" kata anak buah pak Karto yang lainnya.


"Lepaskan aku! Lepaskan!" Lisa berteriak sambil berontak ingin melepaskan diri.


Ternyata, Lisa termakan tipuan anak buah pak Karto. Ia yang mengira kalau tidak ada siapa-siapa lagi, ternyata harus tertipu. Masih ada anak buah pak Karto yang bersembunyi di balik pintu masuk. Itu semua rencana anak buah pak Karto yang sedang memangku pak Karto yang sedang terluka.


Seketika, hotel itu menjadi ramai ketika polisi sampai ke lokasi kejadian. Mereka yang baru tahu kalau ada pembunuhan di kamar hotel, segera mendatangi kamar hotel tersebut.


Pak Karto dilarikan ke rumah sakit, sedangkan Lisa dibawa ke kantor polisi untuk ditindaklanjuti.


"Lepaskan aku! Aku tidak bersalah. Tolong pak polisi, lepaskan aku," kata Lisa terus saja meronta-ronta ingin bebas.


Polisi itu tidak menggubris apa yang Lisa katakan. Mereka tetap membawa Lisa masuk ke dalam untuk di interogasi sebelum dijebloskan ke dalam penjara.


____


Kabar tentang Lisa akhirnya sampai juga ke telinga Danu. Ia pun segera menyampaikan kabar itu pada Bastian yang sedang bersiap-siap ingin melakukan perjalanan bulan madu mereka.


"Maaf bos muda, ada yang ingin saya sampaikan pada bos muda. Ini tentang Lisa."


"Tentang Lisa? Ada apa lagi dengan dia?"


"Lisa sekarang berada di kantor polisi. Karena telah melakukan pembunuhan pada juragan kambing yang telah menikahinya kemarin malam."


"Apa? Dia berada di kantor polisi karena membunuh? Bagaimana dengan juragan kambing itu?"


"Menurut kabar yang saya dapatkan, juragan kambing itu meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Karena luka tusukan yang Lisa berikan, terlalu dalam sehingga juragan kambing itu kehabisan banyak darah."


"Gila. Benar-benar luar biasa itu si Lisa. Bukan cuma keras kepala, ternyata juga terlalu nekad dia," kata Bastian dengan perasaan salut terhadap Lisa.


"Ada apa ini? Kalian sedang bicara apa?" tanya Chacha yang baru kembali dari kamar.


"Tidak ada, sayang. Kita cuma sedang membicarakan soal bulan madu kita saja," kata Bastian sambil memberi kode pada Danu untuk meninggalkan mereka berdua.


Danu yang super peka dengan kode sekecil apapun, segera mengerti apa yang bos mudanya kode kan. Ia pun segera pamit meninggalkan Chacha dengan Bastian.


"E ... nona bos, bos muda, saya permisi dulu. Ada kerjaan lain yang harus saya kerjakan," ucap Danu sambil beranjak.


"Iya." Bastian menjawab singkat sedangkan Chacha hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya saja.


Setelah Danu beranjak meninggalkan mereka berdua. Chacha menatap lekat wajah Bastian. Ia merasa ada yang Bastian sembunyikan darinya. Hal itu yang ingin ia coba cari tahukan sekarang.


"Kenapa, sayang?" tanya Bastian merasa canggung karena diperhatikan istrinya.


"Gak ada. Cuma sedang melihat, apakah kamu masih tampan atau tidak lagi sekarang," kata Chacha bercanda.


"Ya jelas masih tampan lah, sayang. Kamu gak tahu apa, kalo aku itu gak akan pernah kehilangan ketampanan aku, apa lagi di mata kamu. Mungkin," kata Bastian sambil meletakkan tangannya ke kedua pipi.


"Duh, narsis aja kamu, mas. Sebenarnya, aku itu mau lihat, apakah di wajah kamu ada sesuatu yang sedang tersembunyi. Soalnya, aku merasa, ada yang sedang kamu sembunyikan dari aku."


"Aku sedang menyembunyikan sesuatu dari kamu? Kayaknya gak ada deh, sayang."


"Sudah, jangan banyak pikiran. Kamu gak ingat, besok itu kita kau bulan madu. Jadi, harus bahagia."


"Bulan madu? Kayaknya kata-kata udah gak enak di dengar ya mas. Karena, kitakan bukan pengantin baru. Kita udah nikah lama."


"Aku gak peduli sayang. Mau nikah lama atau baru, yang penting, rasanya, kita berdua masih pengantin baru bagi aku."