Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 123


Saat matahari bersinar masuk melewati jendela, cahayanya mengenai Lisa yang masih terbaring di atas ranjang hotel yang berjarak satu kilometer dari hotel tempat pesta ulang tahun yang diadakan oleh Hutama grup. Ia membuka mata dengan rasa malas. Karena sisa obat kemarin malam, masih bisa ia rasakan.


Tubuh Lisa terasa sakit-sakit juga lelah. Ia memperhatikan sekeliling dengan malas. Ia tersenyum. Lisa tahu ini adalah kamar hotel. Lisa berpikir, rencana yang ia jalankan telah berhasil. Lisa pun berbalik untuk menemukan Bastian di sampingnya.


"Aaaggghhh!" Teriakan keras memenuhi kamar hotel tersebut.


Bagaimana tidak. Apa yang Lisa harapkan ternyata tidak ada. Bukannya Bastian yang sedang berbaring di sampingnya, melainkan seorang pria tua dengan janggut dan minsai tebal di sampingnya.


Karena teriakan Lisa yang keras. Laki-laki itu terbangun dari tidur nyenyak nya. Ia menatap Lisa dengan tatapan kesal karena telah membuat ia terbangun dari tidur.


"Kamu kenapa sih? Berisik tau," kata pak Karto dengan nada kesal.


"Siapa kamu! Apa yang telah kamu lakukan padaku?" Lisa bertanya sambil menangis.


"Jangan banyak tanya. Aku melakukan apa yang harus aku lakukan pada istriku."


"Apa! Istri? Siapa istri kamu, hah!"


"Hei manis. Kamu istriku. Apa kamu lupa apa yang kita lewati tadi malam? Bagaimana kita menikah di hotel ini? Lalu, kamu memaksa aku untuk menjadikan kamu satu-satunya bidadari milikku?" tanya pak Karto dengan senyum manis yang terkesan sangat menjijikkan bagi Lisa.


"Tidak! Aku bukan istrimu. Laki-laki tua bangka. Jangan mimpi kamu," kata Lisa sambil berusaha bangun dari ranjang dengan susah payah.


Mendengar apa yang Lisa katakan, pak Karto menjadi sangat emosi. Ia bangun dengan cepat, lalu menampar Lisa dengan keras.


Plakk ... bunyi tamparan itu terdengar. Lisa meringis kesakitan sambil memegang pipinya.


"Jaga bicara kamu. Seharusnya kamu bersyukur aku nikahi karena aku adalah juragan kambing yang terkenal sangat kaya di desa ku."


"Cih. Aku tidak pernah berharap kamu nikahi tua bangka," ucap Lisa masih tetap melawan meskipun ia sudah dapat peringatan.


Mendengar kata-kata Lisa, pak Karto semakin kesal. Ia menatap Lisa dengan tatapan tajam. Kemudian, ia menarik Lisa. Memaksa Lisa melakukan apa yang ingin ia lakukan.


"Lepaskan aku! Lepaskan! Tolong!" Lisa berteriak keras. Namun, jelas saja tidak akan ada yang menolongnya.


"Kamu akan aku berikan pelajaran yang berarti agar kamu tahu bagaimana menjadi istri yang baik buat mas Karto mu ini," ucap pak Karto dengan senyum menakutkan seperti harimau yang siap memakan mangsanya.


Sementara itu, di tempat lain, Sarah sedang berada di ruang persidangan. Hari ini adalah hari di mana Sarah akan diputuskan hukuman.


"Nyonya Sarah, menurut saksi-saksi dan juga semua bukti yang memberatkan. Dengan ini, pengadilan memutuskan hukuman seumur hidup pada nyonya Sarah. Dengan denda yang telah di tetapkan."


Begitulah keputusan hakim pada Sarah. Ia ditetapkan dengan hukuman penjara seumur hidup, juga denda yang harus ia bayar pada miss Linda yang sesungguhnya. Karena telah merugikan miss Linda yang datang jauh-jauh dari luar negeri.


Dengan langkah berat, ia harus kembali mengikuti polisi yang akan membawa dirinya kembali ke penjaga. Dia akan tinggal selamanya di sana. Tanpa ada jaminan agar ia bisa bebas. Jangankan jaminan bebas, jaminan untuk mengurangi masa tahanannya saja tidak ada.


Setelah Sarah di bawa pergi, Bastian dan Danu juga ikut meninggalkan ruangan persidangan. Ia keluar bersama semua saksi yang ia bawakan.


"Terima kasih atas kerja samanya, Miss Linda, Beti dan dokter Fahri. Tanpa bantuan kalian, semua ini tidak akan bisa berjalan seperti yang diinginkan," ucap Bastian sambil bersalaman dengan semuanya satu persatu.


"Tidak tuan Bastian, seharusnya kamilah yang berterima kasih pada tuan Bastian, teruma saya. Saya sangat berterima kasih banyak pada Tuan Bastian karena telah menolong saya," kata miss Linda dengan senyum bahagia dan juga perasaan lega yang tergambar jelas di wajahnya.


"Saya juga berterima kasih pada bos muda, karena bantuan bos muda, adik-adik saya sekarang bisa menikmati kehidupan yang tenang dan nyaman. Saya juga mau minta maaf yang sebesar-besarnya pada bos muda, karena kesalahan yang telah saya perbuat," kata Beti sambil tertunduk penuh sesal.


"Saya juga minta maaf bos muda. Karena saya telah menolong orang dalam hal tipu-menipu," kata Fahri.


"Sudah-sudah, sekarang semuanya sudah selesai. Lupakan saja apa yang telah terjadi. Yang penting, masalah yang sedang kita hadapi sudah beres. Jadikan saja masalah ini sebagai pelajaran agar hidup kedepannya lebih baik. Dan, yang terpenting, jangan sampai salah langkah dengan mengulangi kesalahan yang kalian perbuat di kemudian hari."


"Baik bos muda," kata Fahri dan Beti secara bersamaan. Sedangkan miss Linda, ia hanya tersenyum saja sambil mengangguk tanda setuju.


"Tuan Bastian, sekali lagi terima kasih banyak. Semoga kita bisa bertemu lagi nantinya. Sekarang, saya pamit dulu," kata Miss Linda sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman sekali lagi dengan Bastian.


"Miss Linda mau .... "


"Saya mau kembali ke luar negeri. Semoga kerja sama Eagle grup dengan Hutama grup akan mempertemukan kita kembali."


"Ya, semoga saja," kata Bastian sambil menyambut uluran tangan dari miss Linda.


Setelah miss Linda pergi, Bastian juga ikut meninggalkan tempat itu bersama Danu. Beti dan dokter Fahri menyusul kepergian Bastian dari belakang. Tentunya dengan arah yang berbeda.


Bastian tidak sabar lagi untuk segera pulang ke rumah. Ia ingin mengatakan pada Chacha, kalau ia ingin membawa Chacha bulan madu besok.


Karena semua masalah sudah hampir beres. Ia ingin menikmati waktu berdua dengan Chacha di luar negeri. Tentunya tanpa ada gangguan dari siapapun, juga masalah apapun.


Sementara Bastian sangat bahagia dengan masalah yang sudah beres, Lisa sedang menderita di kamar hotel. Ia meringkuk sedih di sudut kamar sambil menangis dengan memeluk kedua lututnya.


Lisa merasa sangat jijik dengan tubuhnya karena telah dinik*mati oleh seorang laki-laki hidung belang yang sangat jelek di mata Lisa. Ia kesal, ia marah, ia sedih, juga kecewa. Semuanya bercampur jadi satu dalam hati Lisa.


"Kurang ajar kalian semua! Aku akan melenyapkan kalian!" teriak Lisa sambil bangun dari duduknya lalu membuang semua bantal juga seprai yang ada di ranjang.


Mendengar teriakan itu, pak Karto yang sedang menikmati rokok di kamar mandi, segera keluar untuk melihat apa yang Lisa lakukan. Lisa menatap pak Karto yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan tatapan tajam.


"Ada apa sih? Ngapain kamu teriak-teriak, hah? Ini bukan hutan! Ini kamar hotel," kata pak Karto berjalan mendekati Lisa dengan tatapan kesal.