
Mereka saling pandang, juga saling tanya satu sama lain. Belum ada yang mengingat siapa yang tidak ada di sana. Tapi tiba-tiba, salah satu pelayan maju ke depan.
"Saya ingat siapa yang tidak ada di sini nyonya besar," kata pelayan itu.
"Siapa dia?" tanya Merlin penasaran.
'Dasar sial. Mengapa pelayan itu begitu bodoh? Sudah aku katakan padanya untuk bersikap seperti biasa. Mengapa dia malah membuat kecurigaan? Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi,' kata Lisa kesal dalam hati.
'Tidak. Aku tidak boleh ikut campur dan memancing rasa curiga pada mereka semua. Aku harus diam dan bersikap seperti orang yang tidak tahu apa-apa,' kata Lisa dalam hati membatalkan niat awalanya untuk membantu pelayan itu.
"Katakan siapa dia!" kata papa pula.
Pelayan itu melihat semua temanya. Ia memastikan kalau apa yang ingin ia katakan tidak akan salah.
"Namanya Beti nyonya besar. Dia pelayan baru di mansion ini. Ia baru saja dua minggu bekerja di sini," kata pelayan itu menjelaskan.
"Ya, aku baru ingat dengan pelayan baru itu. Namanya Beti," kata yang lain pula membenarkan.
"Betul, aku juga baru ingat," jawab yang lain pula.
"Beti?" tanya mama sambil berusaha mengingat pelayan itu.
"Bagaimana, Ma? Apa kamu ingat kalau ada pelayan yang bernama Beti di mansion kita?" tanya papa.
"Ya, mama baru ingat kalau dua minggu yang lalu ada seorang perempuan yang menjadi pelayan di mansion ini. Dia bertugas menggantikan satu pelayan kita yang sudah pensiun karena tua."
"Menggantikan? Mama terima begitu saja pelayan untuk bekerja di mansion kita?" tanya papa tidak percaya.
"Ya jelas nggaklah, Pa. Mama terima dari tempat biasa kita cari pelayan. Biasanya, mereka sudah lulus seleksi baru berani mengirim pekerja pada kita."
"Mama yakin?"
"Ya yakinlah, Pa. Orang mama sama pak Andi sendiri yang pergi ke sana."
"Pak Andi, cari pelayan itu sampai dapat. Lalu, selidiki dalang di balik kejadian malam ini. Selidiki sampai tuntas semuanya," kata papa pada kepala pelayan atau lebih tepatnya, tangan kanan mereka di mansion itu.
"Baik bos besar. Saya akan lakukan apa yang bos besar perintahkan."
"Baik kalo begitu, semuanya boleh kembali ke kamar masing-masing. Maaf sudah menganggu waktu istirahat kalian semua. Sebagai gantinya, kalian bisa bangun dua jam lebih lambat dari waktu bangun kalian yang biasanya."
"Terima kasih bos besar," kata semuanya sambil beranjak dari tempat mereka.
"Ma, sekarang giliran kita. Papa mau istirahat sekarang karena sangat lelah. Baru saja kembali dari luar negeri, langsung ditimpa begitu banyak masalah."
"Tidak bisa, Pa. Mama mencemaskan keadaan Chacha. Mama ingin ke rumah sakit. Kalo papa mau istirahat, papa istirahat sendiri saja."
"Ya Tuhan, papa melupakan masalah kita yang paling berat," kata papa sambil menepuk jidatnya.
"Ayo berangkat sekarang!" kata papa lagi.
"Papa yakin mau ikut? Katanya capek."
"Ya yakinlah. Papa juga mencemaskan keadaan Chacha. Ayo!"
Papa dan mama beranjak segera tanpa memperdulikan Lisa yang masih diam di tempatnya. Mereka pergi setelah berpamitan pada pak Andi.
"Apa sudah ada kabar dari Bastian, Ma?" tanya papa.
"Belum, Pa. Mama sudah berkali-kali menghubungi Bastian, tapi tidak diangkatnya." Mama sibuk mengutak-atik ponselnya.
"Apa jangan-jangan Bastian tidak membawa ponselnya karena panik tadi?"
"Oh iya, papa benar. Bastian pasti tidak membawa ponselnya karena panik."
Sementara itu, di rumah sakit, Bastian sedang bicara dengan Hendra.
"Dia baik-baik saja sekarang. Dia akan sadar jika efek obat yang aku berikan sudah habis."
"Syukurlah kalo gitu," kata Bastian dengan lega.
"Tidak ada. Jika ada, aku pasti tidak akan menggunakan ikat pinggang untuk mengikatnya," kata Bastian dengan raut sangat kesal karena Hendra sudah mengejeknya.
"Untung kamu belum mengganti bajumu dengan piyama ya Bas, jika sudah, aku yakin, kamu pasti akan membuka piyama itu untuk mengikat kaki Chacha," kata Hendra semakin menjadi-jadi.
"Tutup mulutmu. Jika kamu berani bicara lagi, aku akan menutup rumah sakit ini sekarang juga."
"Ya Tuhan. Gitu aja ngambek. Ngancam. Aku cuma bercanda."
"Bercanda mu tidak lucu."
"Kamu bisa pergi dari sini sekarang. Aku mau berduaan dengan istriku," kata Bastian mengusir Hendra.
"Kamu ngusir aku?" tanya Hendra kesal.
"Ya. Kurang jelas semua kata yang aku ucapakan barusan itu?"
"Cih, giliran ada perlu aja tau kamu nyari aku. Udah gak butuh, aku diusir gitu aja. Benar-benar tidak tahu terima kasih."
"Terima kasih atas apa yang telah kamu lakukan. Sudah, sekarang kamu bisa pergi," kata Bastian sambil beranjak menuju Chacha yang masih terbaring di ranjang.
"Bastian. Ah, dasar kamu," kata Hendra tidak punya pilihan lain selain pergi meninggalkan Bastian dan Chacha berdua saja di kamar itu.
"Cha, untung saja kamu tidak kenapa-napa," kata Bastian sambil membelai rambut Chcaha dengan lembut.
"Aku sangat mencemaskan kamu tadi. Cepat bangun dong sayang. Aku rindu suaramu," kata Bastian sambil memegang tangan Chacha dengan lembut, lalu menciumnya.
"Aku akan cari tahu siapa dalang dibalik kejadian ini. Berani-beraninya dia menyakiti istriku. Cari mati orang itu. Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada mereka yang berani menyakiti istriku." Bastian berucap dengan nada geram.
Chacha membuka matanya perlahan. Langit-langit rumah sakit yang berbeda dengan kamar di mansion mereka membuat ia tersadar kalau saat ini dia sedang berada di tempat lain.
"Aku di mana?" tanya Chacha.
"Bastian." Chacha memanggil Bastian saat ia melihat Bastian yang duduk sambil meletakkan tangan Chacha ke pipinya.
"Kamu sudah bangun, sayang? Sekarang kita ada di rumah sakit," kata Bastian dengan bahagia. Raut bahagia itu tergambar dengan sangat jelas di wajah Bastian.
"Di rumah sakit?"
"Iya. Apa kamu lupa apa yang telah terjadi?"
Chacha berusaha mengingat kejadian sebelum ia pingsan. Perlahan, ingatan itu muncul ke dalan benaknya.
"Ya, aku ingat sekarang. Dari mana datangnya ular itu? Mengapa di mansion ada ular?"
"Aku akan selidiki semuanya. Kamu tidak perlu memikirkan soal itu. Yang penting, kamu sudah selamat dari gigitan ular itu sekarang. Siapa yang cari masalah dengan kita, tidak akan bisa lolos dari aku."
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Chacha merasa cemas pada Bastian.
"Aku? Aku baik-baik saja, Cha."
"Syukurlah kalo gitu. Aku takut ular itu juga melukai kamu."
Saat itu, mama dan papa masuk ke dalam kamar rawat Chacha dengan wajah panik. Mereka langsung menerobos masuk tanpa memikirkan apa yang sedang terjadi di dalam kamar tersebut.
"Bastian! Bagaimana keadaan Chacha?" tanya papa.
"Ya, apa dia baik-baik saja?" tanya mama pula.
"Chacha sudah baik-baik saja, Ma, Pa. Kalian tidak perlu cemas."
"Ya, Ma, Pa, aku udah gak papa kok," kata Chacha pula.
"Syukurlah kalo gitu. Papa sama mama sangat cemas dengan keadaan kamu, Cha. Dan, maaf juga karena kita datang terlambat. Akibat terlalu banyak masalah, kami sampai melupakan satu masalah yang paling besar, yaitu keselamatan kamu," ucap papa dengan wajah menyesal.
"Gak papa, Pa. Tidak perlu dipikirkan soal itu. Aku sekarang sudah baik-baik saja."