Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 59


Setelah Hendra selesai memeriksa keadaan Chacha, ia langsung mendapat pertanyaan dari Bastian.


"Bagaimana keadaannya?"


"Dia kecapean. Dia butuh banyak istirahat karena kesehatannya masih belum pulih total."


"Apa yang kalian bicarakan sebelumnya?"


Hendra terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Bastian, kalau dia meminta Chacha membujuk Bastian agar mau menjalankan operasi.


"Katakan Hendra! Apa yang kalian bicarakan sebelumnya!" Bastian bicara dengan nada tinggi.


"Bas, kamu ini kenapa sih? Tidak perlu teriak-teriak karena ini rumah sakit. Kamu akan ganggu pasien lain jika kamu berteriak seperti itu."


"Jangan buat aku mengulangi kata-kataku Hendra. Katakan padaku apa yang kalian bicarakan. Jangan buat aku kesal dan menutup rumah sakit ini."


"Bastian. Apa yang ada dalam benak kamu sebenarnya? Aku jadi bingung dengan kamu."


"Katakan padaku Hendar! Jangan uji kesabaran ku!" kata Bastian kembali menaikkan nada bicaranya.


"Oke. Aku akan katakan padamu apa yang aku dan Chacha bicarakan. Aku meminta Chacha membujuk mu untuk menerima saran ku! Puas!" ucap Hendra sangat kesal.


Hendra meninggalkan kamar itu dengan wajah kesal. Sedangkan Bastian, ia terdiam saat mendengarkan apa yang Hendra katakan.


'Benarkah itu yang kalian bicarakan berdua? Apakah kalian tidak ada bicara hal-hal lain lagi? 'tanya Bastian dalam hati.


'Ya Tuhan. Aku tidak ingin berprasangka buruk pada istri dan sahabatku. Tapi bagaimana? Hati ini begitu sulit untuk aku cegah. Aku tidak ingin merasakan hal ini. Tapi hatiku melakukan apa yang ia inginkan tanpa memerlukan persetujuan dariku,' kata Bastian lagi.


"Auh." Chacha membuka mata sambil memegang kepalanya.


"Bos muda, nona bos sudah sadar," kata Danu.


"O oh. Kamu bisa keluar sekarang."


"Ba--baik bos muda," kata Danu agak kecewa.


Danu meninggalkan kamar itu dengan langkah berat. Sebenarnya, ia merasa bersalah pada Chacha dan Hendra. Kalau bukan karena mulutnya yang bicara jujur saat Bastian menanyakan di mana Chacha, maka tidak akan ada perdebatan antara Bastian dan Hendra.


Danu juga merasa cemas saat Bastian memintanya keluar dan meninggalkan dia berduaan dengan Chacha saja. Danu takut Bastian akan marah-marah pada Chacha.


Tapi apa boleh buat. Ia tidak bisa menolak perintah Bastian. Sekarang, Bastian sedang kesal. Jika ia salah bicara, maka akan semakin membuat Bastian merasa kesal lagi.


Sementara itu, Bastian mendekati Chacha setelah Danu menutup pintu kamar itu.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Bastian.


"Aku baik-baik saja."


"Apanya yang baik-baik saja. Kamu masih mau bohong padaku?"


"Apa maksudmu? Aku memang sudah baik-baik saja sekarang."


"Kenapa kamu harus bohong padaku?"


"Bohong soal apa?"


"Kamu bilang, kamu bicara soal kesehatanmu dengan Hendra. Taunya .... "


"Aku minta maaf. Aku tidak ingin kamu marah jika tahu apa yang aku bicarakan dengan Hendra," kata Chacha sambil mengambil tangan Bastian yang berada tak jauh darinya.


"Tapi sekarang, aku sudah sangat baik-baik saja. Aku tidak bohong lagi," kata Chacha sambil tersenyum.


Senyum itu bagaikan air yang mampu memadamkan api. Hati Bastian yang kesal tiba-tiba saja berubah tenang.


"Ya sudahlah. Jangan dibahas lagi," kata Bastian melemah.


"Kamu tidak marah?"


"Tidak."


"Mmm ... Bastian. Aku mau ngomong," kata Chacha dengan berat hati.


"Maksud aku ... aku mau ngomong soal kamu."


"Soal aku? Soal apa?"


"Iya. Aku mau ngomong, anu ... Bastian, sebaiknya, kamu terima saja saran Hendra. Itu untuk kebaikan kamu juga. Kalo kamu sembuhkan kamu bisa melakukan apa yang kamu suka. Kamu juga bisa .... "


"Bisa apa?" tanya Bastian agak kesal.


"Bisa ... ya bisa melakukan apa yang kamu mau."


"Memangnya, kalo aku lumpuh, aku tidak bisa melakukan apa yang aku mau?"


"Tidak juga. Maksud aku itu ... aduh, gimana ya?" tanya Chacha bingung.


"Sudahlah, jangan pikirkan tentang aku. Kamu pasti di minta Hendra untuk membujukku bukan? Jangan dengarkan dia. Aku baik-baik saja. Bisa jalan atau tidak, tetap saja, aku tetap aku."


"Tapi Bas .... "


"Sudah. Istirahatlah! Aku akan keluar dulu."


Chacha hanya bisa melihat Bastian yang berjalan semakin menjauh meninggalkan dirinya. Sedangkan Bastian, ia membawa hati jengkelnya menjauhi Chacha.


'Apakah bisa jalan atau tidak menjadi penghalang untuk aku mencintai seseorang?' tanya Bastian dalam hati.


'Sebenarnya, aku juga ingin bisa jalan lagi. Tapi, ruang operasi itu membuat aku merasakan rasa bersalah akan apa yang telah terjadi pada Mona. Maafkan aku Mona. Jika aku tidak memaksa kamu melakukan operasi, mungkin, kamu akan baik-baik saja sekarang,' kata Bastian lagi.


"Bos muda." Danu memanggil Bastian saat ia keluar dari kamar Chacha.


"Aku ingin pulang, Danu. Antarkan aku pulang sekarang!"


"Ke rumah apa mansion bos muda?"


"Rumah saja."


"Baik bos muda."


_____


Di kamar, Bastian membuka pintu menuju balkon. Tiba-tiba ia ingat pertama kali Chacha datang ke rumah ini. Saat itu, ia menemukan Chacha sedang tersenyum di balkon ini. Bastian tiba-tiba merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan.


Sebenarnya, ia ingin sekali minta maaf pada Chacha. Dan, ia ingin mengajak Chacha untuk memulai hubungan mereka dengan membuka lembar baru. Menata kehidupan rumah tangga dengan penuh cinta.


Tapi sayang, ia tidak berani mengungkapkan apa yang ada dalam hati. Ia takut Chacha menolaknya mentah-mentah dengan alasan kecacatan yang ia derita. Rasa takut itu membuat Bastian menyimpan rasa cinta yang ia rasakan.


Meskipun ia sudah membaca pesan singkat yang Chacha kirimkan pada Dimas, tentang Chacha yang mengaku cinta pada dirinya, tapi, tetap saja, Bastian masih belum yakin dengan apa yang Chacha katakan. Ia takut Chacha hanya pura-pura mengatakan hal itu agar bisa lepas dari Dimas.


Saat ia sedang melamun memikirkan tentang hatinya, ponsel berbunyi membuyarkan lamunan Bastian. Tertera nama Chacha di sana. Segera, Bastian mengangkat telpon tersebut.


"Ya," ucap Bastian pelan.


"Kamu di mana?"


"Di rumah. Ada apa?"


"Gak ada. Aku cuma mau bilang kalo aku besok udah bisa pulang. Baru aja Hendra ngomong sama aku kalo aku udah gak papa lagi."


"Ya sudah. Besok aku jemput kamu. Malam ini aku tidur di rumah. Soalnya, aku merasa sangat lelah."


"Ya sudah, gak papa."


Setelah mengucapkan kata itu, Chacha mengakhirkan panggilan. Bastian melihat ponsel untuk sesaat.


"Apakah kamu tidak punya rasa padaku, Cha? Kamu tidak berharap aku datang dan menemani kamu di rumah sakit malam ini. Apa ... apakah kamu suka Hendra?"


Tiba-tiba saja, hati Bastian terpikirkan soal itu, membuat ia merasakan ada yang sakit juga kecewa dalam hatinya. Ia memikirkan apa yang telah terjadi akhir-akhir ini. Semakin ia pikirkan, semakin tidak enak rasa hatinya. Bastian semakin merasa tidak nyaman.


"Agh!" Bastian berucap kesal dengan nada tinggi sambil mengucap kasar wajahnya.


"Aku benci rasa ini. Aku benci prasangka seperti ini!" Bastian berteriak dengan keras. Untungnya, ia sekarang berada di atas balkon sehingga penghuni rumah tidak begitu mendengarkan apa yang ia ucapkan.