Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 73


Dua hari sudah berlalu. Kini tiba waktunya Bastian untuk pulang ke rumah kembali.


"Ingat Bas, dengarkan apa yang aku katakan. Jangan gunakan kakimu terlalu sering sampai waktu yang telah aku tetapkan," ucap Hendra tak bosan-bosan mengingatkan Bastian.


"Iya-iya. Aku sudah tahu. Kamu tidak perlu mengingatkan aku lagi."


"Awas kalo kamu keras kepala lagi. Jika terjadi apa-apa, aku tidak akan merawat mu lagi," kata Hendra kesal.


"Iya-iya."


"Jangan iya-iya aja. Ujung-ujungnya, kamu masih keras kepala juga, sama aja dengan nggak."


"Cha, kalo Bastian masih keras kepala, kamu biarkan aja dia menderita kesakitan sendiri. Jangan kamu pedulikan rintihannya. Biarkan saja dia sengsara, menikmati hasil dari keras kepalanya itu," kata Hendra pada Chacha.


"Wah-wah-wah, sabahat macam apa kamu ini Hen? Di depan aku aja kamu berani mengutukku. Bagaimana kalo di belakang aku? Bisa-bisa, kamu bunuh aku secara perlahan."


"Uh, tidak juga. Aku ini sahabat terbaik. Mana mungkin melakukan hal itu."


"Siapa bilang kamu sahabat terbaik? Yang ada, kamu sahabat terburuk. Bisa-bisanya kamu ngajarin istriku yang tidak-tidak. Di depan aku lagi."


"Sudah-sudah. Hari sudah semakin siang. Kita harus pulang sekarang. Bukannya kamu bilang mau jemput papa di bandara kan Bas?"


"Oh iya, aku hampir lupa soal itu. Ayo sayang!" ucap Bastian sambil memegang tangan Chacha.


"Selamat tinggal dokter jomblo. Nikmatilah kesendirian kamu sekarang," kata Bastian sambil melambaikan tangannya.


"Uh, dasar kamu."


Hendra mengukir senyum manis di bibir sambil melihat Bastian dan Chacha yang semakin menjauh meninggalkan dirinya. Terlalu banyak perubahan yang Bastian perlihatkan saat ia menikah dengan Chacha. Sekarang, Bastian bukan laki-laki dingin lagi. Ia lebih sering bercanda juga terlalu banyak bicara.


Hendra merasa seperti bukan Bastian yang ia kenali dulu. Sekarang, ia seperti menemukan Bastian yang baru. Entah harus bahagia, ataukah sebaliknya, Hendra juga tidak tahu apa yang harus ia rasakan.


Di tengah perjalanan menuju bandara, ponsel milik Bastian berbunyi. Di layar ponsel tersebut, tertera tulis mama. Bastian mengangkat panggilan tersebut.


"Ya, Ma."


"Kamu di mana, Bas?" tanya mama di seberang sana.


"Di jalan, Ma. Ada apa ya?"


"Ke rumah sebentar. Ada hal penting yang sedang menunggumu."


"Hal penting? Hal penting apa, Ma? Kenapa minta aku datang? Kenapa gak ngomong langsung aja?"


"Mama tidak bisa ngomong lewat telepon. Mama minta, kamu datang sekarang. Kalo bisa, jangan bawa Chacha."


"Lho, kenapa, Ma? Ada apa sih sebenarnya?"


"Dengarkan saja apa yang mama katakan. Datang ke rumah jika kamu ingin tahu."


"Ya ... ya sudah. Bastian ke sana sekarang."


"Cepat! Mama tunggu di rumah."


"Ya, Ma."


Panggilan pun terputus. Chacha yang melihat wajah Bastian berubah setelah panggilan itu berakhir, merasa penasaran. Karena dia tidak bisa mendengarkan apa yang telah Bastian bicarakan dengan mamanya barusan.


"Ada masalah apa, Bas?"


"Mama meminta aku datang ke rumah sekarang. Aku juga tidak tahu ada perlu apa. Mama tidak mengatakan apa alasannya."


"Ya sudah kalo gitu, ayo kita ke sana!"


"Biar aku saja yang pergi. Kamu dan Danu sebaiknya langsung pulang saja."


"Kenapa?" Chacha merasa sedikit kecewa.


"Kamu kelihatan kecapean. Kasihan kalo kamu ikut aku ke mansion. Jarak antara mansion dengan jalan yang kita tempuh saat ini sangat jauh. Aku takut kamu kecapean."


"Bastian, aku gak papa. Udah ya, jangan cemaskan aku," kata Chacha sambil tersenyum manis.


"Cha, dengarkan aku ya, sebaiknya kamu pulang bersama Danu. Biar aku sendiri saja yang ke mansion mama."


Melihat wajah Bastian yang tidak menginginkan ia ikut ke rumah mamanya, Chacha akhirnya mengalah. Ia memutuskan untuk mengikuti apa yang Bastian katakan.


"Baiklah." Nada kecewa terdengar jelas dari kata yang Chacha ucapkan.


"Jangan kecewa gitu dong. Kan aku jadi gak enak hati," kata Bastian sambil mencubit hidung Chacha.


"Kamu lupa? Aku ini adalah malaikat kepekaan untuk Chacha. Jadi, aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan."


"Ih, percaya dirimu terlalu tinggi Bastian. Sudah, jangan banyak omong. Katanya kamu mau pergi ke mansion orang tuamu, biar aku cari taksi online dulu," kata Chacha sambil mengeluarkan ponsel dari tasnya.


"Untuk siapa taksi online itu?"


"Untuk siapa lagi? Untuk akulah. Masa untuk kamu," ucap Chacha tanpa berpaling dari ponselnya.


"Nggak-nggak. Kamu pulang dengan Danu. Aku udah minta sopir mama buat jemput."


"Danu, berhenti di depan sana. Pas di depan taman, ya."


"Baik bos muda."


"Bastian. Ngapain minta jemput, bareng Danu aja perginya. Biar saja aku pulang dengan taksi online."


"Cha, aku gak tenang nanti, jika kamu harus nunggu taksi online mu datang baru pulang."


"Tapi kamu ...."


"Sopir mama udah ada di depan sana. Tidak perlu nunggu lagi. Kamu jangan cemas."


"Ya sudah kalo gitu." Chacha tidak punya cara lagi selain mengikuti apa yang Bastian katakan.


Mobil berhenti tepat di depan taman kota. Sama seperti yang Bastian katakan, di sana, sopir pribadi mama Merlin sudah menunggu kedatangan Bastian.


Setelah menurunkan Bastian di sana, Danu diperintahkan untuk menjalankan mobil kembali. Sedangkan Bastian, ia naik ke mobil yang sudah menunggunya.


Chacha terdiam tanpa kata, benaknya sedang memikirkan apakah yang sebenarnya terjadi sampai mama Merlin meminta Bastian datang sendiri ke sana. Apa ada hal yang terlalu serius? Sampai Bastian tidak mau membawa dirinya ikut serta?


"Nona bos." Danu memanggil Chacha. Yang dipanggil bukannya menjawab, bergeming saja tidak.


"Nona bos." Danu mengulangi panggilannya sambil menyentuh pundak Chacha.


"Eh, iya, ada apa Danu?" tanya Chacha kaget.


"Kita sudah sampai nona bos. Apa nona bos mau tetap diam di mobil ini?" tanya Danu.


Mendengar apa yang Danu katakan, Chacha seketika memperhatikan sekeliling. Melihat rumah yang biasa ia tempati ada di depan mata, wajahnya mendadak malu.


"Maaf-maaf," kata Chacha menahan malu sambil bergegas keluar dari mobil.


"Tidak masalah nona bos. Sebaiknya, nona bos langsung istirahat saja biar nona bos semangat lagi."


"Ya, kamu benar. Aku terlalu kecapean. Sampai-sampai, mobil berhenti saja aku tidak sadar."


"Ya sudah, kalo gitu, aku masuk dulu," kata Chacha sambil menahan rasa tidak enaknya.


"Selamat istirahat nona bos."


"Ya," ucap Chacha sambil bergegas masuk.


Danu tersenyum sambil menatap punggung Chacha yang semakin lama semakin menjauh hingga hilang di balik pintu masuk rumah.


Sementara itu, di mansion keluarga Hutama, Merlin sedang gelisah menanti kedatangan Bastian. Ia mondar-mandir berdiri duduk sambil melihat pintu masuk mansion tersebut.


Saat pintu mansion terbuka, wajah Bastian pun muncul. Merlin bergegas menyambut kedatangan Bastian yang sedari tadi ia tunggu.


"Kok lama banget kamu baru datang, Bas? Mama udah nunggu dari lho."


"Ada apa sih, Ma? Kok kayaknya panik banget?"


"Gimana gak panik coba? Ini hal yang paling besar. Masalah besar lho, Bas."


"Masalah besar apa?" tanya Bastian masih santai. Ia tahu, kalau mamanya memang berbeda dari yang lain. Paniknya keterlaluan. Jadi, dia sudah tidak kaget lagi.


"Ih, kamu ya, santai aja wajahnya. Kamu belum tahu apa yang membuat mama sepanik ini. Jika kamu tahu, mungkin kamu akan lebih panik dari mama," ucap Merlin kesal.


"Mama belum ngasih tahu aku, ya mana aku tahu. Sebenarnya ada apa sih?"


"Ada masalah."


"Ya masalah apa? Katakan sama aku biar aku tahu."


"Ada .... "


"Bastian?"