Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 62


"Hendra tunggu!" Bastian memanggil Hendra yang hampir saja hilang di balik pintu ruangan itu.


"Apa?" tanya Hendra malas.


"Aku terima saran kamu."


"Mak--maksud kamu?" tanya Hendra memastikan apa yang ia dengar.


"Aku terima saran kamu!" Bastian bicara dengan nada tinggi.


"Saran yang mana?" tanya Hendra pura-pura tak mengerti.


"Jangan banyak tanya Hendra. Atur waktu yang tepat untuk melakukan operasi pada kakiku. Jangan buat aku menunggu lama."


"Akan aku laksanakan, bos muda," kata Hendra sambil tersenyum bahagia.


Chacha yang berada di balik pintu, menghentikan langkahnya saat mendengarkan apa yang Bastian dan Hendra katakan. Ia tersenyum, namun tiba-tiba wajahnya berubah murung.


'Aku turut bahagia atas kesanggupan mu untuk di operasi Bastian. Semoga saja, operasi kamu berjalan lancar dan berhasil. Dengan begitu, kamu bisa jalan lagi seperti semula. Dan ... kamu bebas mencari wanita yang kamu sukai,' kata Chacha dalam hati.


_____


Hari ini, jadwal operasi Bastian. Hendra tidak ingin Bastian berubah pikiran lagi, ia siapkan semuanya hanya dalam satu hari.


"Bastian, aku yakin operasinya pasti akan berhasil," ucap Chacha sambil menyentuh pundak Bastian sebelum ia dibawa ke ruang operasi.


Senyum termanis menghiasi bibir Chacha. Meskipun sebenarnya, hati Chacha sedang gundah saat ini. Tapi, sebisa mungkin ia suguhkan senyum manis buat Bastian.


"Anak mama pasti sembuh," kata Merlin juga ikut memberi semangat.


"Ya bos muda. Operasinya pasti akan berhasil," kata bik Maryam.


Bukan hanya Chacha dan Merlin yang ada di sana. Danu, bik Maryam, dan pak Danang juga ada. Mereka datang dengan niat memberikan semangat buat Bastian.


Namun, papanya tidak bisa hadir karena sedang berada di luar negeri. Operasi Bastian terbilang mendadak. Makanya dia tidak bisa pulang. Tapi, sebelum Bastian ke rumah sakit, ia sempatkan untuk berbicara lewat vidio call terlebih dahulu.


Bastian tersenyum melihat orang-orang yang dekat dengannya berada di rumah sakit ini, hanya untuk mememberikan semangat padanya. Yang paling membuat ia bersemangat untuk sembuh adalah, senyum manis yang Chacha perlihatkan barusan. Senyum itu terekam dengan sangat jelas di benaknya.


"Ya sudah semuanya, sekarang sudah waktunya Bastian masuk," kata Hendra.


"Sus, bawakan Bastian masuk sekarang," kata Hendra pada susternya.


"Baik Dok."


Suster itu mendorong kursi roda Bastian masuk ke ruangan operasi. Cahcha sekarang semakin gundah. Ia tetap melihat Bastian yang semakin lama semakin menjauh, hingga hilang dibalik pintu ruangan tersebut.


Penyakit panik Merlin mulai melanda, ketika mereka sudah satu jam di ruang tunggu. Ia mulai mondar-mandir tak jelas sambil terus melihat pintu ruangan tersebut.


"Ya Tuhan, kok lama banget ya?" kata Merlin.


"Sabar, Ma. Kita baru satu jam di sini."


"Aduh, mama gak bisa sabar, Cha. Mama cemas banget. Semoga saja, operasinya berjalan lancar."


"Amin, Ma." Chacha berucap singkat.


"Aduh, kamu gak cemas apa Cha?" tanya Merlin ketika melihat Chacha diam saja.


"Cemas, Ma."


"Cemas kok gitu ekspresinya," kata Merlin tak percaya.


Chacha tidak menjawab. Ia hanya diam saja. Sebenarnya, dia juga sangat cemas pada Bastian saat ini. Hanya saja, dia berusaha sekuat mungkin tidak memperlihatkan rasa cemas yang ia rasakan.


Ketika hampir tiga jam berlalu, Merlin benar-benar tidak bisa diam lagi. Ia begitu merasa cemas. Bukan cemas lagi, rasa itu sudah berganti dengan rasa panik.


Untung saja, di menit berikutnya, pintu ruangan itu terbuka. Jika tidak, mungkin, Merlin akan menerobos masuk ke dalam, ataupun pingsan karena menahan rasa cemasnya.


"Bagaimana Hendra? Apa operasinya berhasil? Apa Bastian baik-baik saja?" tanya Merlin cepat mewakili pertanyaan semuanya.


"Operasinya .... "


"Ayo katakan Hendra! Jangan bikin tante penasaran," kata Merlin dengan wajah cemas.


"Tenang tante. Operasi Bastian berjalan lancar. Dan, kita juga berhasil," ucap Hendra merubah wajah murungnya menjadi wajah gembira.


"Be--benarkah?" tanya Merlin dengan berlinangan air mata.


"Iya, tante. Kapan aku bohong sama tante? Aku kan gak bisa bohong," ucap Hendra sambil menyentuh pundak Merlin.


Merlin yang bahagia tidak bisa menahan air mata harunya lagi. Ia menangis sambil menghambur ke pelukan Hendra. Tangisan bahagia itu pecah dengan sendirinya. Mereka benar-benar merasa bahagia dengan kabar yang Hendra sampaikan.


Chacha menyeka pelan air mata yang tumpah perlahan. Ia ikut bahagia ketika tahu operasi Bastian berhasil. Meskipun ada rasa gundah di sudut hati kecilnya, tapi ia tetap berbahagia atas keberhasilan itu.


"Ya sudah tante, aku akan pindahkan Bastian ke ruang rawat terlebih dahulu. Tante dan yang lainnya bisa datang ke ruang rawat untuk melihat Bastian."


"Iya deh," kata Merlin sambil melepas pelukannya.


"Kapan dia akan sadar?" tanya Merlin.


"Mungkin besok. Tapi, aku tidak bisa memastikan tepat waktunya. Karena, kesadaran itu tergantung orangnya."


"O oh." Merlin berucap sambil menganggukkan kepalanya.


Bastian pun dipindahkan dari ruangan operasi ke ruangan rawat inap. Di sana, Merlin menjaga Bastian dengan sangat bahagia. Ia bahagia, akhirnya, anak satu-satunya kini pulih kembali.


Mendengar apa yang Hendra katakan tentang Bastian yang mungkin akan sadar besok, di tambah Merlin yang menjaga Bastian sekarang, Chacha memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit. Ia merasa benar-benar gundah saat ini. Hati kecilnya selalu berkata tentang kesadaran Bastian. Batinnya mengatakan, kalau Bastian sadar, mungkin tidak membutuhkan dirinya lagi. Ia tahu apa statusnya selama ini.


Perkiraan sadar besok yang Hendra katakan ternyata salah. Bastian malahan sudah sadar dalam hitungan jam. Satu setengah jam setelah operasi, Bastian sudah sadar dari pingsannya.


"Bastian," kata Merlin dengan sangat bahagia saat ia melihat anaknya membuka mata.


"Mama." Suara lemas terdengar dengan sangat jelas.


"Kamu sudah sadar, Nak? Bagaimana? Apa yang sakit sekarang?" tanya Merlin heboh.


"Gak ada, Ma. Gak perlu cemas gitu."


"Kamu ini, Bastian. Wajar dong kalo mama cemas."


"Di mana Chacha?" tanya Bastian sambil melihat sekeliling.


"Eh, iya ya. Di mana Chacha?" tanya Merlin balik.


"Ya Tuhan, Ma. Aku tanya sama mama, kok mama malah balik nanya sama aku sih."


"Ya ... mana mama tahu. Tadi ada lho di .... "


"Di mana?"


"Di depan ruang operasi," kata Merlin melemah.


"Yah, mama sama menantu sendiri aja bisa lupa sih."


"Mama gak lupa kok Bas. Mama itu terlalu cemas dan panik sama keadaan kamu. Makanya, mama gak ingat kiri dan kanan lagi. Hanya fokus sama kamu aja."


"Mama kebiasaan. Cemasnya keterlaluan sehingga efeknya terlalu berlebihan."


"Habisnya, mama tadi lihat, Chacha kayak gak cemas aja sama keadaan kamu waktu kamu di operasi."


"Ma, mana mama tahu dia cemas atau tidak. Diakan gak sama kayak mama. Cemas yang keterlaluan. Berlebihan."