Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 79


Usaha tidak akan mengkhianati hasilnya. Setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya, Chacha mampu mengangkat Bastian. Ia pun segera memindahkan Bastian ke atas ranjang.


Namun, saat ia sudah berhasil membantu Bastian berbaring, Bastian malah menarik tubuh Chacha untuk ikut berbaring bersamanya.


Chacha yang tidak mengira kalau Bastian akan melakukan hal itu, tidak mampu menahan tubuhnya untuk tidak terjatuh di atas tubuh Bastian. Bukan hanya terjatuh, bibirnya tanpa sengaja menyentuh bibir Bastian. Tatapan mata mereka beradu dengan bibir yang tanpa sengaja masih dalam keadaan berciuman.


Jantung Chacha benar-benar tidak bisa melewatkan kesempatan itu untuk tidak berdetak dua kali lebih cepat. Begitu juga dengan Bastian. Ia yang tidak menyangka kalau Chacha akan mencium bibirnya, merasakan ada yang aneh dengan jantung yang ia miliki. Berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.


Untuk sesaat, Chacha benar-benar terhanyut dalam suasana. Hatinya terasa hangat, seperti mendapatkan bagian yang telah hilang. Ponsel berbunyi, menyadarkan mereka berdua akan keadaan yang sedang mereka lakukan.


Chacha, dengan cepat bangun dari baringnya. Namun Bastian sekali lagi menahan gerak Chacha. Sehingga, Chacha tidak bisa bangun.


"Bastian. Lepaskan aku! Kamu apa-apaan sih," kata Chacha sambil menahan kesadarannya agar terap tersadar. Juga menahan wajahnya agar tetap seperti biasa dan tidak terlihat grogi. Padahal sebenarnya, saat ini, wajah Chacha sedang merona, bersemu malu.


"Kamu bilang kalo aku berat. Aku buat kita tukeran."


"Maksud kamu? Barusan kamu ngerjain aku? Kamu pura-pura sakit?" tanya Chacha sangat kesal.


"Ya ... nggak juga. Aku .... "


"Bastian!" Chacha berteriak sambil meronta ingin lepas dari Bastian yang sedang memeluknya dengan erat.


"Jangan bergerak seperti itu atau aku akan benar-benar sakit. Bukankah kamu bilang tidak akan meninggalkan aku?"


"Aku bohong soal itu. Sekarang, lepaskan aku!" Kali ini, Chacha tidak lagi meronta, ia hanya berusaha meminta Bastian melepaskannya.


"Aku tidak mau. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melepaskan mu. Jangan bermimpi bisa pergi dari aku, Chacha. Karena aku akan menepati janji yang telah aku ucapkan padamu. Menjadikan kamu sebagai ratu satu-satunya dalam hidupkan. Selagi nyawa ini masih ada, aku akan tetap mengingat janji itu."


"Aku minta padamu, jangan pernah mau pergi dari aku. Karena aku tidak ingin kehilangan kamu, Cha. Selamanya. Kamu akan tetap menjadi milikku. Ratu dalam hidupku. Tolong, pertahankan aku. Jaga aku jangan sampai ada yang mengganggu. Karena aku milikmu," kata Bastian lagi.


Saat itu, bik Maryam tepat sampai di kamar Bastian. Ia yang mendengar teriakan Chacha yang memanggil nama Bastian tadi, segera berlari menuju kamar Bastian. Ia takut kalau-kalau, bos mudanya dalam masalah. Tanpa pikir panjang lagi, bik Maryam langsung saja mendobrak pintu kamar yang sebenarnya memang sedang tidak di kunci.


"Ada apa nona bos?" tanya bik Maryam dengan panik sambil menerobos masuk.


Sontak saja, Chacha dan Bastian kaget dengan kedatangan bik Maryam. Sedangkan bik Maryam, ia merasa sangat bersalah dengan apa yang telah lakukan.


"Maaf-maaf, kayaknya, nona bos dan bos muda sedang tidak ada di kamar," kata bik Maryam sambil bergegas pergi meninggalkan mereka berdua.


Setelah bik Maryam menutup pintu, Chacha menatap Bastian dengan tatapan tajam yang mengerikan. Bukannya takut, Bastian malah tersenyum bahagia. Menikmati momen langka yang belum pernah sama sekali ia rasakan sebelumnya.


"Bastian. Lihat apa yang baru saja kamu lakukan. Lepaskan aku! Aduh, mau ditaruh mana muka aku. Pasti bik Maryam sekarang salah sangka. Itu semua karena. Lepaskan aku!" Chacha berucap dengan sangat kesal.


"Tidak akan. Biarkan saja bik Maryam berpikir apa yang mau dia pikirkan. Karena sebenarnya, memang wajar kita melakukan apa yang ingin kita lakukan. Hubungan kita ini bukan sebatas pasangan yang masih pacaran. Kita ini sudah sepasang suami istri. Jadi .... "


"Bastian. Jangan ngomong yang macam-macam. Lepaskan aku sekarang atau .... "


"Atau apa?"


"Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan. Aku tidak keberatan jika mereka datang untuk melihat apa yang kita lakukan," kata Bastian menantang Chacha.


Chacha terdiam. Hatinya berkata, 'aduh, apa yang aku katakan. Jelas saja Bastian tidak akan keberatan, orang dia tidak akan merasakan apa-apa jika dilihat para pekerjanya. Yang malu itu aku. Aduh .... '


"Kenapa diam? Katanya mau teriak. Kok gak teriak?"


"Bastian ih. Udah, aku mau makan. Lepaskan aku!" kata Chacha beralasan lain.


"Aku akan melepaskan istriku jika dia sudah berjanji padaku."


"Janji apa sih?"


"Jangan pergi selagi aku masih bernyawa."


"Aku tidak akan pergi, jika kamu tidak meminta aku pergi. Jadi tolong, jangan buat aku pergi."


"Benarkah apa yang kamu katakan?"


"Ya. Sekarang lepaskan aku!"


"Aku masih merasa kalo kamu tidak serius dengan kata-kata yang kamu ucapkan barusan."


"Bastian. Aku tidak akan pergi, jika kamu benar-benar tidak ingin aku pergi darimu. Tapi, aku tidak akan bertahan jika memang kamu sudah tidak menginginkan aku lagi."


"Aku benar-benar tidak ingin kamu pergi. Jadi tolong, bersabarlah dengan ujian rumah tangga yang akan kita lalui nantinya. Aku yakin, ujian rumah tangga kita tidak semudah yang kita bayangkan."


"Kamu tenang saja. Aku sudah kebal dengan yang namanya ujian kehidupan yang rasanya sangat pahit. Karena aku sudah bosan merasakan kepahitan dari ujian yang aku lalui selama ini."


"Bantu aku untuk tetap kuat seperti kamu. Karena sejujurnya, aku tidak sekuat yang kamu kira. Aku begitu rapuh dan sangat takut akan kehilangan cinta yang aku miliki saat ini. Aku sangat takut kehilangan kamu, Cha," kata Bastian sambil menarik Chacha semakin kedalam pelukannya.


Chacha membiarkan Bastian melakukan apa yang ia mau. Karena saat ini, ia sedang terhanyut dalam kata-kata yang Bastian katakan.


"Aku cinta kamu. Tolong jaga cinta kita supaya tetap bersemi. Jangan biarkan orang lain merusak taman cinta yang kita miliki." Bisik Bastian ke telinga Chacha.


"Aku tidak mampu menjaga taman itu sendirian. Karena taman itu sangat luas. Tidak bisa dijaga hanya seorang diri."


"Berjanjilah untuk sama-sama menjaga agar tidak ada yang merusaknya. Jika sendiri tidak mampu, maka berdua pasti tidak ada masalah."


"Ya, aku berjanji. Selagi kamu tetap menjaga, maka aku juga akan tetap menjaga," kata Chacha dengan nada mantap penuh keyakinan.


Mereka pun masih terhanyut dalam pelukan. Saling memberi kehangatan pada hati mereka berdua. Berusaha mengisi kekosongan, juga mencari kenyamanan yang pernah hilang.


Berusaha mengumpulkan serpihan hati yang pernah berserakan menjadi utuh kembali.


'Aku akan mempertahankan apa yang aku miliki saat ini. Tidak akan aku biarkan siapapun merusak bahkan mengambil apa yang aku punya. Sudah cukup mengalah selama ini. Sekarang, jangan harap aku akan mengalah lagi,' kata Chacha dalam hati.