Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 78


Bastian sampai ke rumah. Bik Maryam menyambut Bastian dengan hangat. Walaupun sudah ada yang menyambutnya, Bastian tetap merasa ada yang kurang. Karena yang menyambut kedatangannya bukan Chacha.


Mata Bastian menyapu seluruh sudut rumah. Ia tetap tidak menemukan Cahcha di mana-mana. Hal itu membuat hatinya sedikit kecewa.


"Di mana Chacha bik?" tanya Bastian penasaran.


"Nona bos di kamar mungkin, bos muda. Soalnya, setelah pulang dari rumah sakit tadi, dia langsung masuk kamar, sampai saat ini, saya masih belum melihat nona bos keluar," kata bik Maryam menjelaskan.


"Oh. Mungkin ia sedang istirahat di kamar. Aku tahu kalau dia memang sangat kelelahan menjagaku saat di rumah sakit kemarin."


"Kalo Danu, di mana dia? Kenapa dia juga tidak ada? Apa dia juga sedang istirahat di kamar?" tanya Bastian saat ia juga tidak menemukan Danu. Biasanya, dua orang ini adalah orang yang paling sering ia lihat di mana pun ia berada.


"Tidak bos muda. Mas Danu tidak ada di rumah. Dia keluar beberapa menit yang lalu."


"Keluar? Ke mana dia?"


"Bibi tidak tahu bos muda. Soalnya, mas Danu tidak pamit sama bibi."


"Ya udah bik. Bibi lanjut lagi pekerjaan bibi. Saya mau naik dulu."


"Baik bos muda."


Bastian pun menggerakkan kursi rodanya menuju lift untuk membawa dia naik ke lantai dua. Sepanjang perjalan menuju lantai dua, ia terus memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi. Ia benar-benar takut dalam melangkah. Ia takut jika dirinya salah dalam melangkah dan merusak semua yang telah ia miliki saat ini.


Tidak terasa, ia sudah sampai ke lantai dua. Pintu lift pun terbuka dengan sendirinya. Bastian meninggalkan lift itu bergegas menuju kamar mereka.


Ketika ingin membuka kamar, ia berpas-pasan dengan Chacha yang juga sedang membuka pintu kamar. Cahcha ingin keluar dari kamar tersebut, sedangkan Bastian ingin masuk. Mereka sama-sama membuka pintu itu dari dua sisi yang berbeda.


"Bastian." Chacha kaget karena melihat Bastian tepat saat pintu terbuka.


"Cha. Mau ke mana?" tanya Bastian sekedar basa-basi untuk memulai obrolan.


"Turun ke bawah. Kamu baru pulang?"


"Ya."


"Udah lama nyampainya?"


"Belum. Baru aja sampai."


"Oh. Ya sudah, aku turun dulu," kata Chacha sambil beranjak dari tempatnya.


"Cha, tunggu!" Bastian menahan tangan Chacha yang hendak pergi.


"Ada apa?" tanya Chacha berbalik melihat Bastian.


"Ada yang ingin aku bicarakan. Bisakah kamu tetap tinggal di kamar ini untuk mendengarkan apa yang ingin aku katakan?"


"Sepertinya ada hal serius yang mau kamu katakan. Kenapa tidak? Aku akan mendengarkan apa yang ingin kamu bicarakan."


"Baiklah. Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Yang jelas, aku diminta mama datang ke mansion karena sebuah masalah besar."


"Masalah besar? Sebenar apa? Maksudku, masalah apa?"


"Mona punya adik. Dan adiknya itu sangat amat mirip dengannya. Mereka kembar. Adiknya bernama Lisa. Wajah mereka itu benar-benar mirip."


"Lalu?" tanya Chacha santai.


Sebenarnya, hati Chacha tidak sesantai kata yang ia ucapkan barusan. Namun, ia berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan kalau dia sedang kaget pada Bastian. Singkat kata, ia tidak ingin memperlihatkan apa yang ia rasakan pada Bastian.


"Kamu kok bisa santai begitu, Cha?" tanya Bastian bingung.


"Jadi, aku harus apa. Kalau dia punya adik itukan wajar, Bastian. Tidak ada yang perlu dikagetkan."


"Masalahnya bukan itu Chacha. Adik Mona datang ke keluarga Hutama dengan membawa sebuah surat wasiat."


"Surat wasiat?"


"Ya. Surat wasiat yang isinya permintaan Mona untuk menggantikan dirinya dengan Lisa. Adik kembar Mona."


"A--apa?" tanya Chacha gelagapan. Saat ini, ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan lagi apa yang ia rasakan. Ia kaget, benar-benar kaget dengan apa yang ia dengar barusan.


"Menurut kamu?"


"Ya ... ya mana aku tahu. Semua keputusan ada di tangan kamu, Bastian."


"Kamu benar, semua keputusan ada di tangan aku. Kalo gitu, aku akan terima permintaan terakhir Mona untuk menikahi adiknya. Aku akan jadikan adiknya Mona sebagai istri keduaku."


"Tidak!"


Wajah Chacha benar-benar kaget saat Bastian mengatakan hal itu. Ia tak percaya kalau Bastian akan berpikir untuk menikah lagi.


"Kenapa tidak? Bukankah kamu bilang semua keputusan ada di tangan aku?"


"Jangan serakah Bastian. Aku tidak ingin memiliki madu. Aku tidak sudi berbagi suami. Aku .... "


"Kenapa kamu tidak katakan kalo kamu tidak ingin berbagi aku dengan siapapun karena kamu cinta padaku. Itu akan lebih indah untuk aku dengar Cha."


"Jangan main-main dengan hati Bastian. Karena hati tidak untuk di permainkan. Ceraikan aku!"


"Chacha."


"Apa perkataan ku belum jelas?"


"Cha, apa tidak ada kata lain untuk kamu ucapkan padaku? Setidaknya, cegah aku menerima permintaan terakhir Mona. Atau ... pertahankan aku demi keutuhan rumah tangga kita."


"Aku tidak mungkin melakukan itu."


"Kenapa? Kenapa tidak mungkin, Chacha?" tanya Bastian dengan nada tinggi.


"Karena ... karena aku tahu satu hal. Jika kamu benar-benar sayang padaku, maka kamu tidak akan melakukan hal yang bisa menyakiti aku," ucap Chacha dengan tatapan tajam.


"Cha." Bastian bagun dari kursi rodanya. Berjalan perlahan mendekati Chacha yang sedari tadi duduk di atas ranjang.


"Apa segitu yakinnya kamu padaku?" tanya Bastian semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Chacha. Chacha terus mengelak sehingga dari duduk menjadi berbaring saat ini.


Jarak antara wajah Chacha dengan wajah Bastian hanya beberapa senti saja. Tatapan mereka saling beradu. Mata tajam milik Bastian, begitu indah ketika menatap mata Chacha. Membuat Chacha hampir melupakan siapa dirinya saat ini.


Namun, tiba-tiba saja, kata-kata Bastian barusan merusak momen indah yang hampir saja terjadi. Chacha mendorong Bastian hingga laki-laki itu terjatuh ke lantai.


"Aduh." Bastian mengeluh kesakitan.


"Bastian." Mendengar Bastian mengeluh karena kesakitan, Chacha segera menghampiri Bastian dengan cepat.


"Kamu kok tega banget sih, Cha. Gak ingat apa kalo aku lagi sakit?" Bastian bicara dengan wajah kesal.


"Maaf, aku tidak sengaja. Habisnya, kamu berat. Main tindih-tindih aja."


"Agh. Kakiku ... kakiku sakit sekali." Bastian berucap dengan nada berat sambil memegang kakinya.


"Ya Tuhan! Bastian! Aduh, bagaimana ini?" Chacha benar-benar panik sehingga ia kalang kabut tak tentu arah.


"Bertahanlah Bastian. Aku akan panggil Danu. Kita akan kembali ke rumah sakit," ucap Chacha sambil bangun dari duduknya.


"Tidak! Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku tidak ingin sendiri," kata Bastian sambil menahan tangan Chacha.


"Bastian, aku gak akan lama. Kamu harus kuat. Sabar ya."


"Tidak! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendiri."


"Bastian. Aku gak akan pernah ninggalin kamu. Tapi sekarang, biar aku panggil Danu dulu. Aku gak akan lama."


"Tidak perlu panggil Danu, karena dia sedang tidak ada di rumah."


"Apa? Ke mana dia. Aduh, bagaimana ini?" tanya Chacha masih dalam keadaan panik.


"Bantu aku naik ke ranjang."


"Ba--baiklah. Ayo!" kata Chacha sambil berusaha mengangkat tubuh Bastian.