Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 80


"Bik, bos muda sudah pulang?" tanya Danu yang baru saja kembali dari luar.


"Sudah." Bik Maryam menjawab singkat sambil memotong sayuran untuk di masak.


"Di mana bik? Di kamarnya ya?"


"Iya, mas Danu. Tapi, bos muda sedang tidak bisa di ganggu," kata bik Maryam bicara dengan suara kecil.


"Kenapa bik? Apa dia sedang istirahat? Aku gak akan lama kok. Tidak akan mengganggu waktu istirahatnya bos muda. Cuma ingin bertemu sebentar, lalu pergi."


"Aduh ... bukan itu masalahnya. Aduh, gimana ya mau ngomongnya?" Bik Maryam kelihatan bingung sambil memikirkan cara untuk mengatakan pada Danu apa yang terjadi.


"Ada apa, Bik?" tanya Danu ikut bingung.


"Itu ... makanya, mas Danu cepetan nikah biar gampang bibi ngomongnya."


"Maksud bibi?" Danu semakin dibuat bingung dengan kata-kata bik Maryam barusan.


"Apa hubungan nikah dengan aku mau ketemu bos muda, Bik?" tanya Danu lagi.


"Ngapain kamu ketemu aku? Terus, siapa yang mau nikah?" tanya Bastian yang baru keluar dari lift bersama Chacha.


"Bik Maryam." Danu menjawab asal tanpa berpikir apa tanggapan Bastian dan Chacha.


"Apa! Bik Maryam mau nikah?" tanya keduanya serentak.


"Bukan. Maksud saya .... " Danu memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kesalahpahaman yang ia buat barusan.


"Kalian sebenarnya ngomong apa sih?" tanya Chacha penasaran.


"Bibi, bisa jelaskan padaku apa yang Danu katakan barusan? Apa benar bibi mau nikah?"


"Tidak nona bos. Mas Danu ngomong asal-asalan. Saya suruh mas Danu nikah cepat-cepat, biar tahu bagaimana kehidupan setelah menikah. Gitu nona bos, bos muda," kata bik Maryam menjelaskan.


"Oh." Bastian dan Chacha mengangguk secara bersamaan. Kemudian, mereka saling pandang karena tanpa sengaja, mereka sehati dalam menanggapi perkataan bik Maryam.


"Kalau sudah jodoh," kata bik Maryam sambil senyum-senyum melihat Bastian dan Chacha.


Mendengar apa yang bik Maryam katakan, wajah Chacha bersemu malu. Ia ingat kalau bik Maryam telah melihat apa yang terjadi di kamar barusan. Tiba-tiba, hatinya merasa malu.


Bastian yang peka akan perubahan wajah Chacha, tau apa yang sedang Chacha rasakan. Untuk membuat Chacha keluar dari rasa malunya, Bastian segera mengubah topik pembicaraan mereka.


"Cha, katakan nya kamu mau makan tadi. Ayo makan!"


"Oh nona bos mau makan? Kebetulan, bibi baru aja selesai masak ikan sarden goreng kesukaan nona bos. Tapi sayang, sayurnya masih belum masak," kata bik Maryam penuh semangat.


"Gak papa bik. Sarden goreng saja sudah cukup buat melengkapi semuanya," kata Chacha sambil tersenyum bahagia.


"Ayo nona bos, bibi siapkan makanan untuk nona bos," kata bik Maryam sambil beranjak dari tempatnya.


"Ya bik," kata Chacha sambil mengikuti langkah bik Maryam dati belakang.


Sekarang, tinggal Danu dengan Bastian yang masih diam di tempat mereka masing-masing.


Danu merasa agak canggung setelah kepergian bik Maryam dan Chacha. Ia memilih untuk meninggalkan Bastian terlebih dahulu dari pada berhadapan dengan Bastian sekarang.


Bos mudanya ini pasti akan menanyakan tetang pembicaraan dia juga bik Maryam sebelumnya. Karena memang sudah menjadi kebiasaan Bastian untuk mengulangi pertanyaan dan mendengarkan jawaban langsung dari orang yang ia tanyakan.


"Saya permisi dulu bos muda. Ada yang harus saja kerjakan di kamar," kata Danu sambil beranjak ingin pergi.


"Danu, tunggu!"


"Aduh, mati aku," kata Danu pada dirinya sendiri dengan suara pelan, hanya dirinya sendiri yang bisa mendengar apa yang ia katakan.


"Ada apa bos muda?" tanya Danu sambil membalik arah.


"Bisa katakan padaku apa yang kalian bicarakan tadi? Soalnya, kamu tidak menjawab apa yang aku tanyakan tadi."


"Maaf bos muda," kata Danu.


Pada akhirnya, Danu terpaksa menjelaskan apa yang mereka bicarakan. Hal itu membuat Bastian mengukir senyum di sudut bibirnya.


"Jadi gitu ceritanya?" tanya Bastian dengan wajah bahagia.


"Ya bos muda."


"Oh. Lalu, untuk apa kamu mencari aku?"


"Sayangnya, tidak banyak yang bisa saya selidiki bos muda. Karena saya tidak punya mata-mata untuk ke luar negeri."


"Kenapa?" tanya Bastian sambil membulak-balikkan flash disk yang ada di tangannya.


"Karena saya tidak punya kenalan penyelidik yang bisa saya percaya untuk pergi ke luar negeri bos muda. Sedangkan yang kita percaya saat ini, tidak bisa pergi ke mana-mana. Karena dia punya banyak tugas di sini."


"Kalau begitu, seleksi semua mata-mata yang kamu punya untuk dikirim ke luar negeri. Aku tidak ingin kecolongan sedikitpun."


"Baik bos muda."


"Kamu bisa ambil salah satu kartu di ruang kerjaku untuk biaya semua yang kamu butuhkan dalam waktu mencari informasi mereka."


"Baik bos muda. Nanti saya ke ruang kerja bos muda."


"Kamu sudah tahu kode pin-nya bukan?"


"Apakah kode pin-nya sama bos muda?"


"Ya."


"Oke baiklah."


"Oh ya, apa kamu sudah menyelidiki soal Sarah? Apa dia masih ada di rumah sakit jiwa itu atau tidak?"


"Saya belum sempat menyelidiki soal Sarah bos muda. Tapi secepatnya, saya akan memberikan laporan tentang Sarah pada bos muda."


"Ya sudah. Lakukan tugasmu segera. Jangan sampai kita kecolongan nantinya."


"Baik bos muda. Tenang saja, saya akan melakukan dengan baik. Sesuai yang bos muda harapkan."


Setelah bicara panjang lebar, Bastian dan Danu beranjak dari tempat mereka masing-masing. Danu pergi ke ruang kerja Bastian, sedangkan Bastian menghampiri Chacha yang berada di dapur.


"Nona bos harus banyak makan sekarang. Biar cepat isinya."


Chacha yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulut, tersedak akibat kata-kata bik Maryam barusan.


"Uhuk." Ia menepuk pelan dadanya yang terasa sakit.


"Ya ampun nona bos, kok bisa tersedak seperti itu. Ini minumannya," kata bik Maryam sambil memberikan segelas air putih.


Chacha menerima minuman itu, lalu meminumnya sampai habis.


"Pelan-pelan nona bos. Jangan sampai tersedak lagi," kata bik Maryam cemas saat melihat Chacha yang sedang minum seperti kesetanan.


"Gak kok bik. Kali ini gak," kata Chacha sambil memaksakan senyum, padahal hatinya sedang tidak ingin tersenyum.


"Lanjutin lagi nona bos, makannya. Kayaknya, nona bos semangat banget makannya tadi."


"Udah kenyang sekarang bik."


"Lho, kok kenyang sih nona bos? Bukannya nona bos baru aja makan? Nasinya aja masih utuh tuh."


"Tiba-tiba aja aku merasa kenyang bik. Nanti saja makannya."


"Nona bos itu harus banyak makan, biar punya banyak tenaga. Nanti, biar semangat lagi," kata bik Maryam sambil tersenyum menggoda.


Chacha hanya bisa nyengir kuda. Rasanya, ia ingin segera lari meninggalkan bik Maryam yang sok tahu ini. Bicara sesuka hati, seenak jidatnya saja. Tidak tahu apa-apa, malah berkata-kata.


"Bik, Chacha ke kamar dulu ya," kata Chacha sambil bangun dari duduknya.


"Eh, nona bos mau ke mana?" tanya bik Maryam kaget.


"Saya mau ke kamar. Ada yang mau saya kerjakan."


"Ke kamar? Ada yang mau nona bos kerjakan?" tanya bik Maryam sambil tersenyum semakin terlihat kalau dia sedang memikirkan hal-hal aneh.


'Ya Tuhan, salah jawab aku kalo gitu,' kata Chacha dalam hati.


"Bukan ke kamar bik, tapi ke taman," kata Chacha mengubah kata-katanya.


"Udah nona bos, gak perlu malu. Saya juga pernah muda kok. Jadi, apa yang nona bos lewati saat ini, saya sudah pernah melewatinya dulu. Jadi, jangan malu-malu sama bibi."


Sekali lagi, Chacha hanya bisa nyengir kuda. Tidak berdaya untuk membantah apa yang Bik Maryam katakan. Mengingat, dia sudah tua. Tidak enak jika berdebat. Apalagi soal salah sangka nya ini.


"Ya udah bik. Chacha pergi dulu," kata Chacha sambil bergegas beranjak dari duduknya.