Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode112


Sampai di mall, Chacha merasa bingung, ia tidak tahu apa yang mau dia beli. Ia melihat sekeliling, lalu bertanya pada bik Maryam.


"Bik, apa bibi sudah tahu apa yang ingin bibi beli?"


"Belum nona bos. Bibi bingung," ucap bik Maryam sambil terus memperhatikan sekeliling.


"Sama bik, aku juga bingung mau beli apa."


"Kalo masih bingung mau beli apa, sebaiknya jalan-jalan dulu saja," kata Bastian menyarankan.


"Hm ... kamu benar, Mas." Chacha mengangguk membenarkan apa yang Bastian katakan.


"Ayo bik, kita jalan-jalan dulu. Mana tahu apa yang nyangkut di hati nantinya," kata Chacha sambil tersenyum.


"Ya nona bos. Ayo!"


"Ya sudah kalo gitu, bibi, titip Chacha ya, aku mau ke kamar mandi dulu," kata Bastian.


"Iya bos muda."


"Jangan lama-lama ya, mas. Aku sama bibi gak akan jalan jauh-jauh, sebelum kamu keluar dari kamar mandi."


"Ya, sayang."


Bastian meninggalkan Chacha dan bik Maryam. Ia pergi mencari kamar mandi yang ada di mall ini.


"Kita ke situ yuk bik!" kata Chacha sambil mengarahkan telunjuknya ke tempat baju pria.


"Ayo, nona bos."


Chacha begitu bersemnagat ingin melihat baju pria sehingga dia berjalan duluan mendahului bik Maryam. Tiba-tiba, secara tak sengaja, ia menabrak seseorang.


"Aduh!" Orang yang Chacha tabrak berteriak dengan keras.


"Aduh, maaf-maaf. Saya gak sengaja, maaf."


"Kamu bu*ta ya?" tanya orang itu kesal sambil mengangkat wajahnya.


"Tante Sarah!"


Chacha kaget bukan kepalang saat melihat wajah orang yang ia tabrak. Sementara Sarah, ia juga sebenarnya merasa kaget melihat Chacha. Namun, ia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa kagetnya. Karena saat ini, ia sedang memainkan peran sebagai Linda, bukan Sarah.


"Sarah lagi Sarah lagi. Aku bukan Sarah, tapi Linda. Heran deh, kenapa orang-orang di negeri ini semuanya anggap aku Sarah. Siapa sih si Sarah ini? Kenapa dia begitu terkenal sampai semua orang begitu mengingatnya?" tanya Sarah seolah-olah ia merasa iri dengan Sarah.


"Jangan pura-pura tante, aku tau betul siapa tante ini. Tante bukan Linda, tapi Sarah."


"Cih, harus berapa kali aku ngomong sama kamu hah! Aku Linda bukan Sarah. Kamu ini siapa sih?"


"Ha ha ha. Tante sedang memainkan drama apa sekarang? Ini dunia nyata tante, gak perlu bersandiwara. Gak akan ada yang percaya dengan sandiwara tante."


"Heh perempuan! Harus berapa kali aku katakan padamu, aku Linda bukan Sarah. Siapa juga yang sedang bersandiwara hah!"


'Tidak aku sangka, kalau dia sekarang sangat jauh berubah. Dia yang dulunya bisa aku tindas dengan mudahnya, sekarang jadi macan yang punya cakar tajam, yang siap menerkam,' kata Sarah dalam hati.


"Tante Sarah. Kamu mungkin bisa membohongi semua orang dengan merubah namamu. Tapi bagi aku, kamu tetap tante Sarah. Orang yang telah menyebabkan papa bunuh diri."


"Dasar perempuan tidak waras. Kamu nuduh aku yang menyebabkan papamu meninggal. Hei! Aku tidak ada hubungannya dengan papamu," ucap Sarah semakin kesal.


Mereka terus berdebat. Tidak perduli kalau mereka saat ini sedang menjadi pusat perhatian para pengunjung mall yang lainnya. Bastian yang baru saja keluar dari kamar mandi, segera bergegas mencari menuju keramaian yang diakibatkan oleh keributan Chacha dan Sarah.


"Sayang, cukup. Ada apa ini?" tanya Bastian langsung menghampiri Chacha.


"Mas, lihat siapa dia." Chacha bicara sambil mengarahkan telunjuknya pada Sarah. Sedangkan Bastian, ia segera melihat apa yang Chacha tunjukkan.


"Oh, jadi kamu ini istri tuan Bastian?" tanya Sarah sudah mendapat celah untuk mempermalukan Chacha juga Bastian.


"Aku tidak habis pikir dengan kalian berdua, pertama tuan Bastian yang bersikeras mengatakan aku ini adalah Sarah. Sekarang, istrinya. Benar-benar pasangan luar biasa kalian."


"Mas, jangan katakan kalau kamu sudah bertemu dengan perempuan ini duluan," kata Chacha sambil melihat Bastian.


"Apa yang kamu katakan benar, sayang. Aku sudah melihat perempuan ini duluan," ucap Bastian sedikit berbisik.


"Apa! Kenapa kamu tidak ngomong padaku?"


"Sayang, nanti akan aku jelaskan. Sebaiknya, sekarang kita biarkan dia merasa menang dulu. Biarkan dia menganggap kita kalah dengan mengalah saat ini."


"Mas, apa maksud kamu?"


"Sudahi perdebatan ini. Jangan buat kerumunan ini bertambah ramai, sayang."


Saat itu, Cahcha baru ngeh kalo saat ini dia sedang menjadi pusat perhatian semua orang. Ia mendadak merasa malu dengan apa yang ia lakukan barusan.


"Hmm ... aku minta maaf miss Linda. Maafkan istriku yang telah salah mengenal orang," kata Bastian sambil tersenyum.


"Maaf? Kamu pikir apa yang istrimu lakukan hari ini bisa dibayar hanya dengan kata maaf?" tanya Sarah mendapat kesempatan yang lebih besar lagi untuk mempermalukan mereka berdua.


'Kurang ajar kamu Sarah. Kamu ternyata benar-benar memanfaatkan situasi ini untuk mencari keuntungan,' kata Bastian dalam hati.


'Cih, kamu pikir aku akan membiarkan kamu begitu saja, Bastian. Tidak akan! Aku benar-benar akan mempermalukan kamu karena Chacha yang keras kepala ini. Kamu pikir aku akan membuang kesempatan emas ini? Cih, kamu hanya bermimpi di siang bolong,' ucap Sarah dalam hati sambil tersenyum licik.


Sementara mereka saling pandang dengan pikiran masing-masing, para pelanggan mall sibuk membicarakan apa yang terjadi. Mereka sibuk dengan pendapat masing-masing. Ada yang menyalahkan Chacha karena terlalu keras kepala, ada juga yang berpikir kalau Chacha saat ini sedang kurang waras karena menuduh orang lain tanpa memiliki bukti.


"Mas .... " Chacha memanggil Bastian dengan suara pelan.


"Tenang sayang, ada aku." Bisik Bastian.


"Miss Linda, aku benar-benar menyesal atas apa yang terjadi. Semoga kamu memaklumi apa yang kami rasakan saat bertemu dengan orang yang memiliki wajah yang sama persis dengan seseorang yang telah menimbulkan banyak masalah pada keluarga kami. Apalagi, orang itu tiba-tiba menghilang begitu saja."


"Menghilang tanpa jejak? Heh! Kamu pikir jika orang itu menghilang tanpa jejak? Lalu aku boleh disalahkan hanya karena kemiripan wajah kami, begitu?"


"Tidak juga. Yang aku maksudkan bukan itu miss Linda."


"Lalu apa? Kamu juga ingin mengatakan kalau aku ini Sarah! Benar begitu bukan?"


"Ya, kamu benar sekali. Aku juga ingin mengatakan hal yang sama dengan yang istriku katakan. Karena Sarah menghilang tanpa jejak, tidak menutup kemungkinan kalau miss Linda itu benar-benar Sarah bukan?"


Para pengunjung mall kini sebagian membenarkan apa yang Bastian katakan. Sedangkan Sarah, ia merasa sangat kaget dengan apa yang Bastian katakan. Ia tidak habis pikir mengapa Bastian bisa berbicara seperti itu padanya. Bukankah dia telah membuat identitasnya menghilang dengan cara meninggal? Tapi kenapa Bastian mengatakan kalau Sarah itu menghilang tanpa jejak, bukan meninggal?


Bukan Sarah namanya jika menyerah begitu saja. Meski merasa situasi sedang tidak menguntungkan, ia tetap melanjutkan perdebatan dengan harapan bisa tetap membuat malu pasangan itu.


"Kamu tidak bisa menuduh aku begitu saja tanpa bukti. Kamu bisa aku tuntut dengan dalih pencemaran nama baik, tuan Bastian."


"Aku terima tantangan itu dengan lapang dada miss Linda. Kamu bisa melaporkan aku dengan tuduhan pencemaran nama baik. Dengan begitu, polisi akan benar-benar mengungkap siapa kamu sebenarnya," kata Bastian dengan nada sangat meyakinkan.


Wajah Sarah semakin memperlihatkan aroma ketakutan. Wajah tenang itu mendadak pucat saat ini. Ia tidak punya pilihan lain selain mundur secara tidak hormat.


Untuk mundur dari area peperangan, Sarah pura-pura mengangkat telpon tanpa ada bunyi deringan sama sekali di ponselnya.


"Halo."


"Ya, saya akan segera ke sana."


"Oke."


"Jika aku tidak punya urusan yang lebih penting. Aku tidak akan melepaskan kalian. Anggap saja kalian sedang beruntung hari ini," kata Sarah sambil meninggalkan kerumunan.