Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh

Terpaksa Menikah Bos Muda Lumpuh
*Episode 54


Sarah kini telah sadar dari tidur panjangnya. Ia melihat sekeliling kamar rawat inap dengan pandangan yang masih buram. Di sampingnya, Raditya sedang duduk menyaksikan Sarah yang baru tersadar.


"Di mana aku?" tanya Sarah setelah pandangannya jelas menangkap wajah Raditya.


"Di rumah sakit."


"Rumah sakit?" tanya Sarah sambil memegang kepalanya.


"Apa yang terjadi? Kok aku bisa di sini?" Sarah bertanya lagi.


"Semoga kamu tidak hilang ingatan, Sarah. Kamu kecelakaan," kata Raditya menjawab pertanyaan Sarah.


"Apa!" Sarah mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Seperti memutar rekaman vidio, begitulah ia mengingat semuanya kembali.


"Di mana, Keke?" tanya Sarah setelah ingat semuanya.


"Dia .... "


"Di mama keke?" tanya Sarah dengan suara tinggi.


"Keke meninggal."


"Apa! Tidak mungkin. Kamu jangan main-main dengan aku, Pa. Kamu jangan bercanda," kata Sarah sambil berkaca-kaca.


Ia berusaha bangun dari baringnya. Namun, ia tiba-tiba mengeluh karena tidak bisa menggerakkan kedua kakinya.


"Kaki aku ... ada apa dengan kakiku? Kenapa aku tidak bisa merasakan apa-apa?" tanya Sarah sambil memukul kakinya dengan kedua tangan.


"Ada apa ini, Pa? Kenapa kaki ini tidak bisa aku gerakkan?" tanya Sarah dengan air mata yang tidak tertahankan lagi.


"Sarah, kamu lumpuh."


"Tidak. Ini tidak mungkin. Aku tidak mungkin lumpuh. Keke! Mama ingin ketemu Keke. Di mana dia," kata Sarah.


"Ma."


"Pah, jangan halangi mama. Mama ingin ketemu Keke." Ia terus berusaha mengangkat kakinya namun tetap saja tidak bisa.


"Keke sudah pergi jauh, Ma. Kamu tidak mungkin bisa melihat dia lagi."


"Tidak! Mama tidak percaya kalo dia pergi meninggalkan mama. Mama tidak percaya, Pa."


"Ma, sabar. Anggap ini teguran dari yang maha kuasa buat kita. Keke pergi meninggalkan kita untuk selamanya, karena kesalahan kita."


"Kesalahan kita? Papa bilang kesalahan kita? Ini semua salah papa. Jika papa tidak menikah lagi, Keke tidak akan kecewa dan melakukan semua ini," kata Sarah sambil mengusap kasar air mata yang jatuh ke pipinya.


"Ma, cobalah untuk mengoreksi diri mama sendiri. Jika mama jadi ibu yang baik, tidak mempengaruhi Keke. Semua tidak akan jadi seperti ini."


"Itu semua salah kamu Raditya. Salah kamu. Kamu yang bersalah, tidak memikirkan bagaimana perasaan aku dan Keke. Kamu jahat Raditya. Jahat!" Sarah bicara dengan nada tinggi disertai air mata yang mengalir deras. Ia juga memukul-mukul dada Raditya.


"Ma, sabar."


"Sabar? Ha ha ha ... kamu minta aku sabar? Kamu pecundang! Kamu pembohong!" Sarah tiba-tiba tertawa namun air mata tetap saja mengalir.


"Ya, kamu bohong. Kamu pasti bohong. Kamu itukan suka bohong. Sekarang, kamu juga pasti sedang bohong padaku," kata Sarah sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ma."


"Ya ya ya ya, dia bohong. Dia pasti sedang berbohong padaku. Mana mungkin Keke meninggal. Dia pasti bohong."


"Ma."


"Ma, aku tidak bohong. Keke sudah tidak ada. Kemarin pemakamannya di laksanakan."


"Tidak. Kamu. bohong Raditya. Katakan padaku kalo kamu sedang berbohong padaku. Katakan Raditya! Katakan!" Sarah kini mencengkram baju Raditya dengan kuat.


Suara Sarah yang keras mengundang dokter dan suster untuk masuk ke dalam kamar tersebut. Mereka datang untuk memeriksa keadaan Sarah.


"Ada apa ini, pak Radit?" tanya dokter ketika melihat Sarah mencengkram baju Raditya.


"Sarah tidak bisa terima kalau anak kami sudah tidak ada."


"Dia bohong dokter. Dia bilang Keke anakku sudah meninggal. Aku tahu kalau Keke pasti ada di rumah saat ini."


"Nyonya Sarah. Anda harus kuat. Ini .... "


"Apa kamu juga mau bilang kalo Keke sudah tiada? Kamu juga mau bohong padaku, ya?"


"Bukan. Aku tidak ingin membohongimu, nyonya Sarah. Aku hanya ingin bilang kalo kamu seharusnya istirahat sekarang. Keadaanmu masih belum stabil. Jadi .... "


"Ha ha ha ha ... dokter ini ada ada saja. Aku itu sudah sehat. Mau pulang. Mau ketemu anakku. Aku takut dia cemas karena aku gak pulang-pulang," kata Sarah sambil terus tertawa.


Entah apa yang ada dalam pikiran Sarah saat ini. Ia tidak bisa menerima kabar kematian Keke. Raditya menyesali apa yang baru saja ia lakukan. Tidak seharusnya dia bicara soal kepergian Keke pada Sarah yang baru saja sadar dari komanya.


"Dokter, bagaimana ini?" tanya Raditya yang melihat Sarah terus tertawa, namun, matanya tetap mengeluarkan air mata.


"Kita tidak punya cara lain selain memberikan nyonya Sarah obat penenang."


"Suster, berikan dia obat penenang," kata dokter itu pada susternya.


"Baik, Dok."


Suster itu melakukan tugasnya dengan cepat. Ia menyuntikkan obat penenang ke dalam infus Sarah. Perlahan, Sarah mulai melemah dan beberapa menit kemudian, ia kembali tertidur.


"Jika nyonya Sarah sadar nanti, jangan bahas soal anaknya lagi ya pak."


"Baik dokter."


Setelah dokter pergi, Raditya memegang tangan Sarah dengan lembut. Ia menatap wajah Sarah dalam-dalam.


"Maafkan aku, ini semua salahku. Kamu benar, ini memang salahku," kata Raditya sambil mencium tangan Sarah.


"Aku tidak becus menjadi suami dan papa. Kalian semua menderita karena aku. Akulah penyebab dari penderitaan kalian semua."


Selesai berkata seperti itu, Raditya meninggalkan kamar Sarah. Ia berjalan perlahan membawa rasa sedih dalam hati. Satu persatu kesalahan yang ia buat, kembali memutar dalam benaknya.


'Chacha, maafkan papa. Papa tidak bisa membahagiakan kamu. Papa tidak bisa melindungi kamu, Nak.'


'Keke, semoga kamu tenang di alam sana. Papa minta maaf telah menarik kamu kedalam lingkaran hitam kekecewaan dan kebencian.'


'Sarah. Aku juga minta maaf padamu, karena aku telah merusak pernikahan kita. Aku jugalah yang menoreh kebencian dalam hatimu selama ini. Untuk itu, maafkan aku. Semoga kamu kuat menghadapi semua cobaan ini.'


Langkah kaki Raditya berhenti ketika ia sudah mencapai atap rumah sakit yang tinggi. Ia melihat ke bawah. Banyak orang berlalu lalang.


Perlahan, ia memejamkan matanya. Dalam hatinya berucap, 'selamat tinggal dunia. Selamat tinggal anakku. Selamat tinggal Sarah. Keke, papa datang menemui kamu, Nak.'